Mala Dewa Love Story

Mala Dewa Love Story
24 : Kita Putus Aja


__ADS_3

Terdiam. Mala menatap jauh ke gedung-gedung yang berbaris dengan gemerlap lampu layaknya bintang kecil jika dipandangi dari atas gedung dimana Mala berpijak saat ini.


Helaan napas panjangnya, pertanda ia lelah.


Tak kuasa menahan sesak di dadanya. Satu nama yang terpatri di hatinya. Masihkah akan tetap sama?


Mala mem-block nomor ponsel Dewa dengan hati teriris pedih.


"Ini udah berakhir. Lupakan dia, Mala."


Air mata turun membasahi pipinya. Tapi Mala langsung menghapusnya.


"Gwenchana," lirihnya sambil berbalik, pergi.


****


Hari ini Mala kembali ke kampusnya. Dia duduk di kelas dengan senyuman lebar melingkar di bibirnya. "Semangat!"


"Mala!"


"Lyra?" sahut Mala. Lyra langsung memeluknya. "Udah sembuh?"


Mala mengangguk. "Ne."


Lyra tersenyum. "Okay. Syukurlah."


"Kemarin aku ke rumah sakit. Terus kata dokternya kamu udah semingguan lalu pulang ke rumah. Ternyata kamu udah ngampus hari ini," kata Lyra dibalas anggukan lagi dari Mala. "Iya,"


"Oh iya. Waktu itu pas aku baru sadar, pacarku lihat kamu di depan ruangan ku. Kenapa kamu nggak masuk?" tanya Mala, seketika membuat Lyra tersentak.


"Pacar?"


"Aku belum cerita ya. Pacarku dari Indo datang, dia jenguk aku." Mala berseri-seri saat memberitahukan itu pada Lyra. Gadis itu hanya terdiam, rupanya benar Mala adalah kekasih Dewa yang baru.


"Dewa?" sebut Lyra. Mala kaget, dari mana Lyra tahu nama pacarnya?


"Kamu tahu dari mana?"


Lyra tersenyum kaku. "Tau. Aku dan dia berpapasan waktu itu. Mendadak aku tidak enak kalau masuk ke ruangan kamu."


Lyra meremas kedua telapak tangannya. Matanya masih menatap Mala, gadis itu ternyata adalah kekasih Dewa. Apa yang harus dia katakan pada Mala. Lyra ingin jujur. Ya, Lyra akan memberitahu Mala semuanya.


Mala sendiri masih bingung bercampur kaget. "Tapi dari mana kamu tahu dia? Kalian teman? Kok Dewa nggak cerita ke aku ya."

__ADS_1


"Dewa Adrian. Dia mantan pacar aku Mala."


Deg


"Hah?" Kedua mata Mala membulat kaget.


"Man-tan?"


Lyra mengangguk. "Ck. Ternyata kamu pacar baru dia," ringisnya.


"Kamu pasti becanda kan? Dewa nggak pernah cerita dia punya pacar dulu." Mala bukan sekedar kaget, tapi dia sangat kecewa jika Dewa benar menutupi hal itu darinya.


"Benarkah? Pasti karena Dewa terlalu sakit hati. Maaf Mala, bisakah kamu sampaikan ke dia. Dia sudah salah paham," tutur Lyra.


Mala menyentuh dadanya. "Salah paham?"


"Setidaknya aku nggak mau dia memusuhi aku, Mala." Lyra menggenggam telapak tangan Mala. "Aku nggak selingkuh, dia salah paham."


"Selingkuh!" Mala tidak tahu bahwa dulu Dewa pernah berpacaran dan putus karena kekasihnya berselingkuh. Rupanya begitu, lalu kenapa Dewa tidak pernah cerita padanya?


"Dulu hubunganku dan Dewa sangat harmonis. Sampai temanku yang bernama Brian datang dan menghancurkan semuanya. Dewa salah paham, aku nggak seperti yang dia kira. Maaf Mala, aku ngasih tahu kamu. Aku juga kaget, Dewa udah punya pacar baru. Aku sendiri sampai sekarang belum sanggup buka hati aku untuk orang lain. Dewa pernah janji, dia akan jadikan aku satu-satunya di hati dia," jelas Lyra.


Mala heran. Dia menghempas genggaman tangan Lyra. "Terus maksud kamu apa cerita ini ke aku? Itu cuma masa lalu. Sekarang Dewa cuma sayang sama aku."


Mala berdecih. "Aku nggak sangka kamu gini ya Lyra. Mau dia cinta sama kamu di masa lalu sekalipun itu tetap masa lalu. Kamu ngomong gini apa karena kamu masih cinta sama dia?"


Lyra mengangguk. "Ya, aku masih cinta dan akan selalu cinta dia, Mala." Bibir Lyra bergetar, kedua matanya berkaca-kaca. "Akan selalu cinta." Kedua tangannya masih mengepal erat. "Maaf, Mala."


Mala menggeleng. Ini semua mustahil. Lyra pasti sengaja ingin membuat dia membenci Dewa. Itu cuma masa lalu, batinnya.


"Dewa nggak cinta kamu lagi, Lyra!"


"Aku yakin dia masih simpan perasaan itu meski sedikit! Kamu cuma dijadikan pelarian dia, Mala!" Lyra masih bersikukuh dengan ucapannya.


Mala menutupi kuat kedua telinganya.


"Enggak!" Mala berteriak. "Cukup!"


Mala beranjak dari duduknya. Teman-teman lainnya terkejut karena teriakan Mala barusan. Mereka bertengkar di dalam kelas, tentu itu sangat menarik perhatian.


Lyra juga berdiri sambil menarik tangan Mala, mencegah gadis itu pergi. "Hubunganku dan Dewa udah jauh, Mala. Aku mohon kamu tinggalin Dewa, please."


Mala masih memaku di tempat. "Apa?" hatinya hancur saat mendengar Lyra mengatakan hubungan keduanya cukup jauh dulu.

__ADS_1


"Sejauh apa?" tanya Mala dengan mata yang basah. "Katakan!" tekannya.


Lyra meraih ponselnya. "Kamu buka chat dari aku. Itu foto-foto aku dulu dengan Dewa. Waktu kemarin apa dia cerita ke kamu kalau dia kenal aku? Enggak, kan? Itu karena apa? Dia masih memiliki perasaan terhadap aku, kalau udah nggak ada, dia pasti jujur dan cerita ke kamu, Mala."


Sesaat sebelumnya Lyra merasa ragu. Pada satu sisi dia ragu untuk mengutarakan semuanya, menceritakan hal itu pada Mala. Tapi, dia begitu tidak terima saat Mala mengatakan Dewa adalah pacarnya, seolah Dewa hanya milik Mala. Perasaan Lyra masih utuh, dia masih mencintai Dewa. Hingga hal itu yang membuat dia memutuskan menjadi jahat sekarang.


"Aku memang jahat, Mala. Aku jahat karena ceritain semuanya ke kamu. Tapi aku ingin Dewa tahu, kalau aku masih sangat mencintai dia. Aku sayang sama dia, aku nggak terima di putusin karena sebuah kesalahpahaman. Terus, semudah itu dia lupain aku, karena kehadiran kamu."


Mala gemetar dengan air mata yang tak bisa berhenti menetes di pipinya. Kenyataan ini amat mengejutkan. Mala tidak mungkin mendengarkan begitu saja ucapan Lyra. Dia harus mendengar semuanya dari mulut Dewa langsung.


"Kamu jahat, Lyra. Aku kira kamu baik, kamu mau berteman tulus denganku."


"Ya, aku memang senang berteman dengan kamu. Sebelum aku tahu, kamu pacar Dewa. Orang yang selama ini aku cari-cari. Hanya demi menjelaskan sebuah kesalahpahaman."


"Tetap aja kamu jahat! Kamu tahu ini bukan tentang masa lalu! Kamu dan dia udah nggak ada hubungan apa-apa lagi."


"Karena kehadiran kamu, Mala! Seharusnya aku dan dia masih bisa bersama!"


Mendengar Lyra yang tak mau kalah membuat Mala geram. Tapi dia tidak mungkin bertengkar di lingkungan kampus.


"Kita bukan teman lagi mulai sekarang!"


Mala pun pergi keluar dari kelas. Padahal sebentar lagi jam pelajaran pertama akan dimulai. Tapi, saat ini Mala tidak mood untuk belajar, dia lebih ingin menyendiri, menjauh dari keramaian.


"Maafin aku Mala," ucap Lyra sambil mengusap air matanya. "Aku terpaksa, aku masih mencintai Dewa, pacar kamu."


Sebenarnya Lyra melihat pemandangan yang sangat tidak dia inginkan di Bandara kemarin. Ya, Lyra berada di bandara. Lyra menyusul Mala ke bandara setelah bertanya pada orang tua Mala, bunda Mala yang memberitahunya bahwa Mala mengantar pacarnya ke bandara. Lyra melihat semuanya. Tepat dimana Mala dan Dewa saling berpelukan bahkan berciuman di depan matanya. Rupanya perasaan sakit yang dirasakan Dewa, seperti itu rasanya.


Mala menangis di dalam taksi. Saat ini dia tidak ingin pulang ke rumah. Tapi juga dia tidak ingin kuliah. Telpon masuk dari Dewa. Hal itu membuat Mala meringis merasakan sakit yang begitu dalam di hatinya. "Kamu tega, Kak. Benarkah yang dikatakan Lyra? Rupanya kamu dulu sangat intim dengan Lyra. Aku kira kamu hanya begitu ketika sama aku," ringisnya. "Aku sakit, Kak."


Perasaannya saat itu amat kacau. Semua kata-kata Lyra, juga foto-foto kebersamaan Dewa dengan mantan pacarnya itu membuat Mala cemburu, marah, ingin mengakhiri hubungannya. Tapi, Mala sangat mencintai Dewa.


"Apa kita harus pisah sekarang!" Mala menangis terisak-isak. Supir taksi yang melihat Mala menangis pun ikut kaget dan heran.


Semua bayangan kebersamaannya dulu bersama Dewa tergambar jelas di pelupuk matanya sekarang. Matanya masih menatap nama yang tertera pada layar ponselnya.


Mala menggeser layar tersebut. "Hallo, Kak. Sebaiknya kita putus."


"Apa?" sahut Dewa dari balik panggilan telepon. Ia mendengar jelas suara Mala meski gadis itu sambil menangis.


"Kita putus aja."


_______

__ADS_1


__ADS_2