
Sesuai janji Dewa, sepulang Mala sekolah ia akan membelikan sesuatu sebagai hadiah untuk Mala. Mereka pergi ke pusat perbelanjaan. Mala terus menggandeng tangan kak Dewa-nya, sesekali Dewa mengusap rambut Mala yang tergerai.
"Kamu nggak gerah? Diikat aja rambutnya, Sayang."
"Iya gerah sih, tapi Mala lupa bawa ikat rambut," jawab Mala sambil mengerucutkan bibir.
Dewa menarik tangan Mala membawanya ke sebuah toko aksesoris yang ada di Mall tersebut. Sambil mengedarkan pandangan, mencari kira-kira ada ikat rambut yang cocok untuk Mala atau tidak.
"Kak kamu mau apa?" tanya Mala, bingung.
"Coba kamu lihat ini, bagus nggak?" tanya Dewa sambil menunjuk pada pilihan ikat rambut yang ada di dalam rak khusus.
Mala menyentuhnya dan pilihannya jatuh pada salah satunya. "Yang ini aja Kak." Mala tersenyum sambil menunjuk pilihannya.
"Oke, aku bayar dulu deh. Biar bisa langsung dipakai." Dewa berjalan ke meja kasir. Mala masih berjalan di sekitar tempat itu, melihat-lihat sekeliling.
"Ganteng banget." Mala menggerakkan telinganya yang seolah dapat mendengar sekalipun dalam jarak beberapa meter. Dia berbalik dan kaget ketika melihat Dewa sedang dikelilingi gadis-gadis termasuk kasir yang sedang melayani.
"Astaga." Mala melebarkan matanya sambil menghentakkan kaki, ia berjalan menyusul Dewa.
"Kak, kok lama sih." Sambil menajamkan matanya, tentu Dewa kaget, kanapa Mala terlihat marah.
"Ada apa, Mala? Ini lagi dibayar dulu," balas Dewa.
"Wah, ini adiknya Kakak ya. Imut banget, liat deh pipinya, ih gemes banget," ucap salah satu gadis yang hendak membayar juga.
"Iya manis juga adiknya, Kak. Sesuai sama abangnya juga ganteng." Gadis lainnya turut berkomentar, sedangkan Dewa langsung menepuk jidatnya. "Dia bukan-"
Mala tambah kesal. "Siapa yang kalian bilang adiknya? Mba nya juga lama banget sih hitung ikat rambut doang, cepetan udah belum?" ketusnya.
"Eh, ini Dek, udah kok." Kasir itu segera memberikan bungkusan paper pada mala.
"Makasih," jawab Mala dengan senyum kecut.
"Sayang, pakaikan dong." Mala menyerahkan ikat rambut itu pada Dewa. Saat itu dewa kaget, kenapa juga harus memakaikannya di depan orang. Tapi sepertinya dia paham apa yang diinginkan Mala saat ini.
"Oke Sayang." Dewa mengambilnya dan langsung mengikatkan rambut Mala dengan ikat rambut itu. Gadis-gadis yang melihatnya sampai syok, tapi mereka masih belum yakin. Mana mungkin sih, gadis kecil itu kekasih cowok ganteng itu, batin mereka.
"Makasih Sayang, kita jalan lagi yuk. Aku nggak suka di sini mereka genitin kamu, kamu kan cuma milik aku." Mala menekankan kata "milik" di depan gadis-gadis itu. Sontak mereka bertambah iri mengetahuinya. Dewa ingin tertawa tapi dia tahan sekuat tenaga. "Oke, Sayang, yuk," ajak Dewa sambil menggandeng tangan Mala.
Mala masih mengerucutkan bibirnya, padahal keduanya sudah pergi dari toko tadi. Dewa terus memperhatikan wajah gadisnya, dia ingin sekali mencium bibir Mala saat ini juga, kenapa bahkan bibir Mala bisa dia ikat menggunakan ikatan rambut tadi rasanya.
"Sayang. Kenapa cemberut, hm?"
Mala menghentikan kakinya. "Makasih ikat rambutnya Kakak, tapi Mala tadi liat mereka terlalu gitu, genit sama Kakak. Mala nggak suka!" tekannya pada Dewa.
Akhirnya setelah menahan diri untuk tidak tertawa. Dewa pun tertawa juga pada akhirnya, Mala sampai mengerutkan kening karena bingung kenapa Dewa malah tertawa.
"Apanya yang lucu sih Kak?" tanya Mala.
"Kamu, kamu yang lucu Sayangku." Dewa mengecup sekilas pipi Mala yang chubby. "Aku?" tunjuk Mala pada dirinya. "Aku lagi kesel, kenapa Kakak malah ketawa sih!"
"Habisnya kamu cemburu tapi mukanya tuh nggak ada seremnya sama sekali."
"Ih Kakak, aku tadi udah kesel. Jadi Kakak seneng ya di godain cewek-cewek itu. Padahal kan cantikan Mala juga!" ketus Mala lagi. "Sebel sama Kakak."
__ADS_1
Mala berjalan cepat meninggalkan Dewa. Tapi, seketika Dewa menarik Mala membawanya ke sebuah koridor yang sepi.
"Kakak, mau ngapain?" tanya Mala sambil membulatkan mata.
Dewa tidak menjawabnya, dia hanya langsung mencium bibir Mala. Tentu saja Mala kaget, tapi setelahnya ia memejamkan mata. Dewa melepaskan ciumannya, dia janji pada dirinya sendiri tidak akan bertindak lebih dari sekedar ciuman. Itupun tadinya Dewa berusaha keras agar tidak melakukannya, tapi sikap Mala terlalu menggemaskan buatnya.
"Kamu masih sebel sama kakak?"
Mala diam dengan pipinya yang merah. Tangannya menutupi bibir yang tadi baru saja dicium oleh Dewa. "Kakak ngagetin."
"Jangan sebel. Kamu boleh cemburu, tapi jangan pernah berpikir Kakak sengaja mau di godain cewek-cewek tadi. Mana mungkin sih," tegas Dewa.
Mala hanya mengangguk. Dewa mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu memberikannya pada Mala. "Ini hadiah kejutan buat kamu," ucapnya dengan senyuman lebar.
"Kok? Katanya Kakak belum beli?"
"Itukan cuma trik biar bisa jalan-jalan sama kamu. Mami yang bilang kalau mau ajak kamu jalan harus punya tujuan, bukan cuma sekedar jalan, jadi Kakak bilang aja mau beliin kamu hadiah."
"Padahal?" Senyum Mala melingkar manis di bibirnya.
"Padahal hadiahnya udah Kakak beli. Itu Kakak beli waktu kemarin jalan sama Rosy."
"Apa? Kakak jalan sama Rosy?"
Dewa mengangguk. "Sama Zaki juga, waktu itu Zaki nemenin Rosy buat cari hadiah ulang tahun mamanya. Kakak ikut aja, pengen juga kasih kamu hadiah."
Mala menghela napas lega. Untuk sejenak tadi Mala berpikiran bahwa Dewa berkencan dengan Rosy.
"Oh. Aku kira kamu jalan dengan Kak Rosy."
"Ciuman," bisik Dewa di telinga Mala.
Gadis berumur 16 tahun itu hanya merona sambil menutupi wajahnya. "Gimana caranya halalin aku?"
Entahlah saat itu Mala pura-pura tidak tahu, atau pura-pura lupa seperti judul lagu yang sering ia dengarkan di jajaran MP3 handphonenya.
"Caranya nikahin kamu. Tapi, kamu masih kecil." Dewa mengusap rambut Mala. "Seenggaknya nunggu kamu lulus kuliah S1, masih tiga tahun lagi."
"Kok lama sih? Memangnya nggak boleh nikah lulus SMA ?"
Sungguh Mala adalah gadis yang memiliki tingkat keingintahuan sangat besar. "Boleh aja, tapi kamu nggak akan siap menanggung semuanya nanti. Udah, jangan mikirin itu. Intinya kakak akan selalu sabar nunggu kamu, sampai kamu dewasa, Sayang."
Tidak ada yang bisa Mala lakukan selain mengangguk nurut. "Iya deh, Kak."
"Buka dong, apa kamu mau buka di rumah?" tanya Dewa sambil menyerahkan lagi kotak kecil darinya.
"Bukanya jangan di sini, aku capek berdiri terus. Gimana kalau sambil makan. Aku laper."
"Oke deh sayangnya Kakak. Apa sih yang enggak buat Mala."
Keduanya pun saling melempar senyum dan berlaru mencari tempat makan.
...******...
...Cafe pelangi cinta...
__ADS_1
"Mau pesan apa?" tanya Dewa.
"Hm, milkshake coklat sama cheese cake aja deh." Mala tersenyum terus sambil memegangi kotak di tangannya, tidak sabar ingin tahu apa isinya. Dewa mengangguk dan langsung memesankan pesanan Mala.
"Kak, aku buka ya?"
"Buka aja, itu kan buat kamu." Dewa mengusap poni Mala, gadis itu hanya mengangguk cepat dan langsung membuka kotak kecil dari Dewa.
Saat Mala membukanya, ia langsung terkejut karena ternyata isinya adalah seutas kalung yang sangat cantik. "Waah, bagus banget Kak. Aku mau pake langsung." Mala menggoyangkan lengan Dewa meminta Dewa memakaikannya di lehernya.
Dewa tertawa kecil lalu mengambil kalung itu dan memasangkannya di leher gadisnya.
"Cantik banget, Kak." Mala mengecup liontin kalung tersebut, lalu tak hentinya tersenyum bahagia. "Makasih banget Kakak, aku suka."
"Sama-sama Sayang, kamu bintangnya, sedangkan aku bulan sabit yang selalu ada melindungi kamu. Kita tetap satu, seperti kalung itu." Dewa.
Mala bahagia dan langsung memeluk Dewa. Pelukan keduanya makin erat, sampai orang-orang tersenyum malu melihatnya. Saat itu seseorang tiba-tiba muncul membuat pelukan keduanya terlepas.
"Dewa!"
"Astaga, Daddy!"
Mala melepas tangannya yang masih melingkar di leher Dewa. Saat itu wajah Max merah padam, sampai-sampai Mala meringsut menjauh dari pria paruh baya itu.
"Mala pulang sama Om ya. Dewa kamu juga pulang!"
"Tapi Dad-"
"Nggak ada tapi-tapian." Max menggandeng tangan Mala, saat itu cheesecake dan milkshake pesanan Mala baru saja datang.
"Ini uangnya." Dewa membayarnya tanpa menyentuh pesanan tersebut, membuat pelayan merasa bingung.
Dewa buru-buru ke parkiran, dia tahu pasti daddy-nya berpikir yang tidak-tidak. Padahal tadi itukan hanya pelukan.
"Oh tidak! Ini pasti karena di depan umum. Mampus lo Dewa!" Entah kali ini apa yang akan dilakukan Max padanya, tapi sepertinya Maxime benar-benar Marah padanya.
Dewa hanya bisa pasrah. Jelas sekali kemarahan Max sudah tidak terhindarkan lagi kali ini. Ini bukan masalah Dewa. Tapi ini lebih ke Nirmala. Max menyayangi Nirmala dan tidak mau kalau Dewa merusak masa depan Nirmala. Max tau, bahwa Nirmala hanyalah gadis polos yang terjerat cinta tetangga playboy insaf yang tidak lain putranya sendiri.
"Om Max maafin Mala ya."
"Mala nggak salah kok." Max tersenyum pada Nirmala kemudian berganti lirikan tajam ke arah Dewa. "Kamu yang salah, Dewa Adrian Nichole!"
Maxime Nichole adalah laki-laki yang sangat menghargai wanita. Dia tidak suka jika ada laki-laki yang merusak wanita dan dia tidak mau Dewa merusak Nirmala.
"Iya, Daddy." Dewa mengkerut, padahal dia bukan lagi anak kecil.
"Om Max..."
"Mala jangan bela Dewa ya."
"Daddy, mobil Dewa?"
"Supir yang akan bawa mobil kamu nanti. Kamu diam jangan banyak bicara!" tegas Max membuat Dewa makin tidak bisa berkutik. Dia boleh melawan siapa saja, dan dia tidak takut. Tapi tidak dengan daddy dan mommy nya.
"Maaf, Dad."
__ADS_1