
Dewa dan Alyra dulunya berpacaran kurang lebih tiga tahun. Mereka menjalin hubungan dekat sejak Alyra duduk di bangku SMA sedangkan Dewa baru memulai kuliah.
Hubungan mereka cukup harmonis. Alyra bukan hanya pacar, tapi juga seperti saudara perempuan bagi Dewa. Sampai saatnya semuanya harus berakhir karena sebuah insiden.
Alyra berciuman dengan lelaki lain tepat di depan Dewa yang tidak sengaja memergoki mereka. Bukan sekali Dewa merasa Alyra mendustai hubungan mereka. Sebelumnya Dewa juga pernah melihat Alyra di antar oleh lelaki tersebut. Lelaki yang mencium bibir Alyra di hadapan Dewa.
"Dewa. Seandainya kamu mau denger penjelasan ku. Itu sama sekali nggak bener. Aku nggak selingkuh, aku cuma sayang kamu." Lyra menangis sambil menatap foto dirinya dan Dewa dahulu. Alyra masih dan akan selalu menyimpan foto kenangan itu.
"Kamu udah punya pacar, Wa." Alyra berucap lirih sambil mengusap ujung matanya yang basah. "Mala pacar kamu?" tanyanya pada foto Dewa yang sedang dia pandangi sekarang.
Alyra ingin sekali menjelaskan semuanya pada Dewa. Tapi saat itu Dewa sangat marah padanya. Dewa bahkan tidak mau mengangkat panggilan darinya, juga memblokir nomor teleponnya.
Penyesalan selalu datang terlambat. Lyra menyesal karena tidak mencegah teman lelakinya untuk menciumnya secara paksa. Lelaki itu sangat mencintai Lyra, tapi Lyra hanya mencintai Dewa.
Kesalahan yang diperbuat Alyra membuat Dewa berubah menjadi pria yang suka bergonta-ganti pacaran, dia tidak pernah serius lagi terhadap wanita lain. Itu yang Alyra tau tentang Dewa.
***
Dewa baru saja membantu Mala membereskan barang-barangnya dari rumah sakit. Sore ini Mala sudah boleh pulang ke rumah. Tentu saja Mala sangat senang karena Dewa juga akan tinggal di rumahnya sampai Mala benar-benar sembuh.
"Kak. Aku kangen kayak dulu. Waktu kita masih tetanggaan." Mala mengambil boneka bunny pemberian Dewa lalu memasukkannya ke dalam koper.
Dewa hanya tersenyum sambil mengusap rambut Mala.
Sejak tadi Dewa lebih banyak diam seperti sedang memikirkan sesuatu. Hal itu membuat Mala penasaran, sebenarnya apa yang sedang di pikirkan Dewa saat ini?
"Kak. Kok kamu diem aja sih, aku dari tadi ngomong. Kamu cuekin aku!"
Dewa langsung fokus kepada Mala. Pikirannya tadi sempat terpecah karena sosok Alyra yang membuatnya kaget.
"Maaf Sayang. Tadi kakak hanya sedang memikirkan sesuatu. Jangan ngambek dong. Atau mau Kakak cium kayak tadi?"
Huh mengingat hal itu jujur membuat Mala kesal. Keduanya terpaksa menghentikan kemesraan mereka tadi karena suara ketukan pintu. Rupanya yang datang adalah suster rumah sakit.
"Enggak. Di sini nggak aman." Mala menggeleng.
"Terus, yang aman di mana dong?" tanya Dewa sambil menaikkan dua alisnya sambil menggerakkannya.
Mala terkekeh. "Di rumah," bisiknya.
"Masa?" bisik Dewa tepat di telinga Mala.
"Ih Kakak geli!"
Dewa tertawa sambil mencubit pipi Mala. "Kamu sekarang berani ya. Ngajakin Kakak mesra-mesraan. Inget kamu masih sakit loh."
Mala mencebikkan bibir. "Udah sembuh."
"Oh. Ya udah kalau gitu Kakak pulang ke Indo ya."
"Ih kok gitu?"
"Kan Mala bilang udah sembuh. Kakak di sini cuma sampai Mala sembuh."
Mala terdiam lalu menajamkan matanya pada Dewa. "Kalau gitu Mala nggak usah sembuh. Biar Kakak tetep di sini."
__ADS_1
Dewa tertawa lagi. "Sayang. Gemes deh. Kakak tetap di sini, sampai Mala merasa cukup kuat buat Kakak tinggal."
"Apa? Beneran Kak?" Mala terkejut tapi juga sangat senang.
"Iya. Kakak cuti kuliah demi Mala. Janji ya, Mala jangan sakit lagi. Kakak merasa jauh lebih sakit, saat Mala sakit."
Mala mendadak sendu. Ia tentu tidak ingin kak Dewa-nya merasa sakit. "Maaf ya, Mala salah."
Dewa menggeleng. "Enggak Sayang. Mala nggak salah. Intinya Mala harus janji akan jaga kesehatan, oke Sayang?"
Mala langsung menghambur memeluk Dewa sambil menganggukkan kepalanya berulang. "Iya, Mala janji, Kak."
"Good girl. Love you, Sweety."
"Love you too, My Lovely."
Senyum mereka terus mengembang. Dewa berharap keputusannya ini tidak salah. Ia juga berharap setelah ini Mala akan menjadi lebih kuat dan siap.
Setidaknya mereka harus menunggu sampai tiga tahun ke depan.
*****
Dewa sudah sampai di rumah Mala. Rasanya berbeda, ini bukan rumah Mala yang di Bandung. Desain rumahnya, suasananya pun sudah pasti tidak sama dengan rumah mereka yang bersebelahan di Indonesia.
Sebagai tetangga. Keduanya sangat harmonis sampai saat ini. Kalaupun ada masalah, pasti akan segera mereka atasi dengan saling menyadari setiap kesalahan masing-masing.
Sebagai kekasih. Dewa selalu berusaha mengimbangi Mala yang masih sangat muda. Keputusannya menjadikan Mala sebagai orang yang sangat dia cintai tidak pernah sekalipun ia sesali.
Namun tiba-tiba saja bayangan masa lalu Dewa datang lagi. Alyra, kenapa dia muncul dalam hidup Dewa dengan menjelma menjadi teman baru kekasihnya. Saat ini Dewa hanya berharap Alyra sudah melupakan semua kejadian di masa lalu.
"Oke Tan. Dewa akan jaga Mala," angguk Dewa.
Delia tersenyum simpul. "Kalau ada apa-apa kamu telpon Tante ya. Mungkin Tante pulang larut malam," balasnya.
"Siap Tante, jangan khawatir. Mala aman sama Dewa."
"Pasti. Karena itu Tante udah percaya sama kamu, Wa. Kalau gitu Tante pergi dulu ya. Om udah nunggu di mobil," pamit Delia.
"Hati-hati Tan,"
Setelah Delia pergi. Dewa masuk ke kamar Mala. Gadis itu terlihat sedang berdiri di depan cermin. Dewa menghampiri Mala sambil memperhatikan apa yang sedang di lakukan Mala di depan cermin.
"Lagi apa?" tanya Dewa.
Mala menoleh. "Lagi lihat wajahku. Apa aku sekarang jelek?"
Dewa mengerutkan kening. "Siapa yang bilang? Mana pernah Mala-nya Kakak jelek."
Mala terkekeh. "Mala kan cuma takut aja. Soalnya Mala nggak mau Kakak berpaling dari Mala."
Mana mungkin Dewa berpaling. Justru Dewa yang takut jika sewaktu-waktu keduanya akan berpisah. Mungkin saja, di Korea pasti banyak yang menyukai Mala nantinya.
Dewa berjalan ke arah Mala lalu memeluk Mala dari belakang hingga pantulan keduanya terlihat di cermin.
Mala mendongak, lalu keduanya saling menatap dengan pandangan pilu.
__ADS_1
Begini saja membuat Dewa tak ingin berpisah, tak ingin berjauhan. Lalu bagaimana keduanya akan berjauhan, dan memang harus mereka lalui nanti.
"Aku takut, Kak." Mala masih menatap jauh ke dalam mata Dewa.
"Takut apa?" Dewa mengusap pipi Mala sambil terus menatapnya.
"Takut Kakak pergi, takut kita berpisah dan nggak saling kenal. Merasa canggung satu sama lain. Seperti orang asing."
"Kenapa kamu mikir gitu? Sampai kapan pun Kakak nggak akan memperlakukan kamu sebagai orang asing, Mala."
Entah mengapa. Aneh memang, tapi Mala merasakan hal yang berbeda. Seperti akan terjadi sesuatu dalam waktu dekat, antara dia dan Dewa.
Mala berbalik dan langsung memeluk Dewa.
"Aku juga nggak mau itu terjadi. Aku takut, aku nggak mau jadi orang asing bagi Kakak. Aku nggak mau menjauh, berubah. Aku cuma mau jadi Mala untuk Dewa."
Dewa mengusap rambut Mala perlahan sambil menghela napas panjang. Sejujurnya Dewa benci mengakuinya, tapi dia pun sedang merasakan hal yang sama. Tidak ada keraguan dalam hatinya pada Mala. Tapi Dewa merasa keduanya akan mengalami banyak ujian ke depannya dalam hubungan mereka.
"Apapun yang terjadi. Mala cukup percaya bahwa bagaimana pun kakak bersikap. Jika sekalipun Kakak berubah canggung. Itu semua nggak akan merubah perasaan Kakak ke Mala."
Mala mengangguk ragu. Tapi bagaimana? Jika keduanya canggung tetap akan menyedihkan. Jangan sampai itu terjadi, batinnya.
"Itu nggak boleh terjadi, Kak. Mala bahagia sama Kakak. Cuma Kakak yang bisa bikin Mala bahagia,"
Dewa mengapit kedua pipi Mala lalu mengecup kening Mala hingga hidung keduanya saling menempel dan bertahan beberapa saat dalam keadaan seperti itu. Dewa merasakan kasih sayang yang begitu dalam, tapi dalam sebuah hubungan dibutuhkan saling percaya.
"Kakak percaya Mala. Mala juga harus percaya Kakak, oke?"
"Iya, Kak." Mala hanya mengangguk sambil memejamkan matanya.
"Mala harus jaga kesehatan, jaga diri selama jauh dari Kakak. Jangan menutupi apapun dari Kakak, karena Kakak mau selalu tahu apapun yang terjadi dengan Mala meski kita berjauhan."
Lagi, Mala hanya mengangguk. "Iya."
Perlahan telapak tangan Dewa menyentuh pipi Mala sambil mengusapnya halus. Tangan yang lain menarik tubuh Mala hingga keduanya tidak berjarak barang sesentipun. Sebuah ciuman lagi mendarat di bibir Mala dari Dewa. Kaki Mala bergerak mundur, begitu juga Dewa yang perlahan maju beberapa langkah menyusul gerakan kaki Mala.
Tubuh Mala terhempas pelan ke atas tempat tidurnya. Lalu kecupan itu dilepaskan Dewa.
Entah kapan lagi keduanya bisa merasakan kehangatan bercengkrama seperti itu lagi. Yang jelas dalam waktu lama, ke depannya, belum tentu mereka akan bisa merasakannya.
Mala tersenyum, lalu meraih kedua pipi Dewa dan kembali memagutnya. Dewa berada di atas tubuh Mala, masih menekan ciuman mereka semakin dalam. Agaknya ini yang ditakutkan orang tuanya, jika mereka terus berdekatan.
Ciuman Dewa terhenti, diakhiri dengan kecupan kecil di kening Mala dan hidung Mala. "Kamu tidur ya, istirahat. Kakak temenin kamu di sini," ucapnya tidak ingin kegiatan tadi berkembang lebih jauh lagi.
Mala mengangguk dengan pipi yang memerah. "Iya, Kak. Tapi jangan kemana-mana, janji?"
"Kakak nggak akan kemana-mana. Kamu tidur ya, Sayang."
"Peluk Mala."
Dewa langsung memeluk Mala dan berbaring di samping gadisnya itu. "Tidur ya,"
Mala menatap kedua mata Dewa yang ada di pelukannya. "Seandainya bisa seperti ini setiap waktu."
Dewa tersenyum. "Bisa kok, asal sabar ya."
__ADS_1
"Mala selalu sabar untuk Kakak, untuk kita."