Mala Dewa Love Story

Mala Dewa Love Story
30 : Mantan Pacar Bos Dewa?


__ADS_3

Dewa merapikan rambut sambil melihat ke arah kaca spion mobil. Senyumnya terus melingkar, hari ini Dewa sangat bahagia.


Mala berjalan mendekat ke mobilnya. Tapi bukannya masuk ke dalam mobil, gadis itu hanya diam saja di depan gerbang rumahnya. Dewa pun lantas keluar dari mobil lalu menghampiri Mala.


"Pagi. Kok bukannya masuk malah berdiri di situ?" tanya Dewa. Mala menahan senyumnya, menutupi mulutnya dengan scarf dilehernya.


"Aku nunggu taksi."


"Taksi?" Dewa mengernyitkan kening. "Kenapa naik taksi? Kan aku mau antar kamu, Sayang."


Mala berdecih. "Siapa yang nyuruh kamu antar aku sih," sahutnya, ketus. Mala lupa apa yang terjadi semalam. Oh tidak! Bagaimana bisa Mala lupa semua itu. Dia hanya masih terasa canggung saja.


"Nggak ada yang nyuruh. Aku merasa punya kewajiban untuk mengantar kamu sampai tempat tujuan dengan selamat."


"Kamu supir aku?" celetuk Mala, menaikkan sebelah alis.


Dewa tertawa kecil. "Bisa. Aku bisa jadi supir atau apapun terserah kamu."


Mala mengangguk. "Oke. Berapa ongkosnya?"


"Ongkos?"


"Ya. Tarif kamu antar aku ke kantor. Kan kamu supir." Mala senyum tipis. "Jangan mahal-mahal."


Dewa terkekeh serta-merta mencubit pipi Mala. Dia hampir menangis saking bahagianya. Senyuman itu yang amat dirindukan selama ini dan membuatnya nyaris gila karena sempat kehilangan.


"Ih sakit!" ringis Mala sambil memegangi pipinya.


"Nggak perlu bayar pakai uang. Cukup temenin aku makan siang, makan malam, setiap hari." Dewa tersenyum tipis. "Bisa kan?"


"Kok mahal sih! Nggak mau ah! tolak Mala.


"Hahaha," tawa Dewa pun pecah. "Duh sayangnya Kakak. Udah yuk masuk, nanti kamu pegel berdiri terus."


Mala mengulum senyum lalu mengangguk. "Oke. Aku bakalan bayar deh."


"Sip. Kalau gitu kan aku sebagai supir akan siap mengantar kamu, kemana pun kamu mau pergi."


Keduanya terkekeh bersama. Dewa membukakan pintu mobilnya, mempersilahkan Mala masuk.


Di dalam mobil Dewa sesekali melirik ke arah Mala.


"Kenapa kamu pakai scarf?" tanyanya. Tangannya menyentuh scarf berwarna brown yang melingkar di leher Mala.


Gadis di sebelah Dewa itu memicingkan matanya, melirik sekilas ke arah Dewa.


"Menurut kamu?"


Dewa mengedikkan bahu. "Kenapa? Aku nggak tahu," ungkap Dewa, serius.


Mala terbatuk dengan pipi memerah. Bagaimana dia nggak ingat, batinnya.


"Lain kali jangan terlalu dalam. Merahnya susah hilang," dehem Mala, kemudian memalingkan wajah.


Mendengar hal itu Dewa baru tersadar, rupanya Mala menutupi bekas ciumannya semalam. Dia pun terkekeh geli. "Oh. Karena itu. Maaf ya, aku nggak tahu kalau bekasnya lama hilang."


"Masa?" kata Mala mencebikkan bibir.

__ADS_1


"Nggak ada lain kali deh. Kakak nggak boleh kayak semalam lagi. Itu namanya lancang."


Tentu kata-kata Mala itu membuat Dewa terkejut, tapi dia semakin bangga.


"Mala udah gede ya sekarang. Cara bicaranya, bahasanya. Mala udah dewasa," balasnya sambil mengusap puncak kepala gadis di sebelahnya.


"Mala udah dua puluh tahun." Gadis cantik kesayangan Dewa, sudah melewati tiga kali perayaan ulang tahun tanpa pria yang paling dicintainya itu.


"Selamat ulang tahun, Mala."


"Ih, udah lewat."


"Tapi Kakak belum kasih kamu selamat. Maaf ya. Hadiah Kakak sampai nggak?"


Mala terdiam. Ia mengingat setiap kali Dewa mengirimkan hadiah, Mala tidak pernah berani membukanya.


"Sampai kok."


Dewa tersenyum lega. "Syukurlah kalau sampai. Kamu udah buka?"


Mala menggeleng. "Masih ada di dalam lemari Mala."


Kaget. Dewa reflek mengerem mobilnya.


Mala tersentak sampai terpejam karena kagetnya.


"Kenapa nggak kamu buka?" tanya Dewa.


Mala menoleh ke arah Dewa. "Kakak jangan ngerem mendadak! Aku kaget, huh!"


Dewa mengusap kasar wajahnya. Pantas saja sekalipun Mala tidak pernah menghubunginya. Mala tidak mengetahui penjelasan dia yang sebenarnya. Dewa tulis di kertas yang dia selipkan di dalam hadiah-hadiah itu.


Mendengar penjelasan Mala akhirnya Dewa mengerti. "Hm, oke. Asal kamu nggak membuangnya. Kakak udah menjelaskan semuanya. Kakak harap kamu baca, kamu memahami posisi Kakak. Ternyata kamu nggak buka hadiah itu, pantas aja kamu nggak pernah sekalipun menghubungi aku."


Mala terhenyak sesaat lalu menghembuskan napasnya panjang. "Mianhe."


"Gwencana." Dewa tersenyum. Mala ikut tersenyum. "Kita buka bareng ya, nanti malam?"


"Nanti malam? Kamu mau aku nginep lagi di kamar kamu?"


Mala menggeleng. "Enggak. Jangan nginep, bahaya."


Dewa terkekeh. "Bahaya kenapa. Kita nikah yuk!"


"Hah?" kaget Mala.


"Kenapa? Kamu nggak mau nikah sama Kakak?"


Mala terdiam. Bukan tidak mau, hanya dia merasa terkejut. "Emangnya Kakak masih mau nikah sama Mala?"


Dewa menyentuh kedua pipi Mala. "Cuma kamu yang mau kakak jadikan istri. Gimana sih."


Pipi Mala merona. Ia tidak menyangka kalau Dewa sama sekali belum berubah. Selama ini Mala menerka-nerka jika Dewa sudah memiliki kekasih lain. Rupanya semua dugaan dia itu salah besar.


"Kita berangkat ke kantor. Nanti terlambat, ini kan hari pertama aku kerja." Mala mengalihkan pembicaraan.


Dewa tersenyum kecil. "Oke. Jangan sampai bos kamu marah kalau kamu terlambat," cetuknya.

__ADS_1


"Kamu kan bosnya." Mala mengerutkan kening.


"Iya kah? Aku lupa," sahut Dewa berpura-pura.


Mala tertawa sambil mencubit pipi Dewa. "Dasar kamu, belum berubah."


*****


Setibanya di perusahaan. Mala turun lebih dahulu, menyusul Dewa yang berdiri di samping Mala.


"Kak. Aku nggak mau keliatan bareng sama kamu, inget?"


Dewa mengangguk. "Oke. Padahal kenapa sih? Biar aja semua tahu kalau kamu itu pacarku."


Mala menggeleng cepat. "Nggak. Aku nggak mau mereka tahu sekarang. Udah pokoknya Kakak udah janji kan? Aku mau Kakak bersikap normal, jangan sampai ada yang curiga, ok?"


Meski sebenarnya Dewa lebih suka memberitahu semua orang bahwa gadis di sebelahnya ada kekasihnya. Tapi, karena itu keinginan Mala, maka dia menghormati keinginan mantan kekasih yang sudah kembali menjadi kekasihnya itu.


"Oke deh. Siap, Sayangku."


Mala tersenyum lalu dengan cepat mencium pipi Dewa sekilas. "Mala masuk dulu ya,"


Dewa terpaku di posisinya sambil memegangi pipinya yang baru saja dicium oleh Nirmala.


"Ohhh..." Senyum Dewa merasa bahagia mendapatkan kecupan itu.


Mala tersenyum sambil memegangi bibirnya. Rupanya rasanya masih sama, mendebarkan.


"Selamat pagi, Pak." Karyawan di kantor itu menyapa Dewa dengan ramah dan sopan. Begitu pula Nirmala yang sudah berdiri di samping para karyawan yang lainnya.


"Pagi," sahut Dewa dengan sikap tenang dan berwibawa.


Mala menatap Dewa sekilas sambil tersenyum. "Gantengnya pacarku," ucapnya pelan.


"Ih, kamu nih ngarep ya." Cewek di sebelah Mala rupanya mendengar kata-kata Mala barusan, dia adalah karyawan di perusahaan itu juga.


"Eh, kamu denger." Mala menutupi mulutnya.


"Nggak apa-apa. Wajar kok kamu suka sama bos Dewa. Dia kan ganteng, pinter, paket komplit deh. Siapa sih yang nggak suka sama dia, semua karyawati di sini suka sama dia. Bahkan yang udah berkeluarga aja terpesona sama bos Dewa."


Mala terdiam sambil berpikir. Benar juga yang dibilang teman kerjanya itu.


"Nama kamu siapa?" tanya cewek itu pada Mala.


"Aku Mala, sekertaris bos Dewa."


"Oh, sekertaris baru. Kamu pengganti mbak Kristal."


"Kristal?"


"Kenalkan aku Indah."


Mala meraih tangan gadis di sebelahnya. "Hai Indah. Jadi sekertaris lama bos Dewa namanya Kristal?"


Indah mengangguk. "Iya, mantan pacar bos Dewa deh kayaknya. Dia cantik, seksi. Tapi dia di mutasi ke perusahaan lain. Jadinya dia harus pindah deh."


Barusan apa Mala tidak salah dengar?

__ADS_1


"Mantan pacar bos Dewa?" ulang Mala.


__ADS_2