
...Jangan lupa Vote dulu ya...
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
"Pagi anak-anak. Hari ini kita kedatangan murid baru. Masuk, perkenalkan diri kamu ke teman-teman ya," ucap Bu Bianca wali kelas 12 IPS.
Seorang cowok tingginya kira-kira 178cm, hidung mancung, bibir penuh membuat senyumnya makin terlihat manis.
Ganteng banget. Murid-murid cewek di kelas tersebut langsung berdecak kagum dengan melantunkan pujian.
Mala hanya terdiam, sambil kembali fokus ke buku tulisnya.
Dewa love Mala. Itu yang sedang ditulis Mala di buku tulisnya sekarang, sambil tersenyum menunggu waktu pulang tiba, katanya Dewa akan memberikannya hadiah. Apa ya kira-kira?
"Kenalin, Gilang Darmawan pindahan dari Jakarta." Perkenalan singkat, tapi sanggup membuat seisi kelas bergeming, bukan hanya karena parasnya, tapi pembawaan cowok itu pun sangat cool, elegant.
"Oke Gilang, kamu duduk di sebelah Nirmala yah. Berhubung hanya Mala yang duduk sendirian," ujar Bu Bianca.
Mala hanya diam, sambil tersenyum manis ke arah Gilang.
Deg. Saat itu Gilang langsung tertawan oleh senyuman Mala tersebut.
"Makasih, Bu. Saya duduk dulu," ucap Gilang.
"Mala, tolong pinjamkan buku catatan kamu ya. Gilang tertinggal banyak pelajaran. Seharusnya sekolah tidak menerima murid pindahan karena ini sudah masuk semester akhir. Tapi sekolah punya pertimbangan khusus untuk Gilang. Paham ya anak-anak?"
Paham, Bu. Anak-anak menjawabnya bersamaan.
"Hai." Gilang menyapa Mala, sebelum ia duduk di bangku kosong tepat di sebelah Mala.
"Hai, duduk aja." Mala hanya tersenyum lagi.
"Makasih, ya."
Lagi-lagi Mala sangat ramah. Tidak ada maksud lain kenapa Mala sangat ramah, Mala memang orangnya ramah terhadap siapapun.
Pelajaran berlangsung seperti biasa. Sejak tadi Gilang bukannya memperhatikan pelajaran malah sibuk memperhatikan gadis di sebelahnya. Melihat hal itu Mala berdecak bingung, kenapa Gilang malah terus menatapnya seperti itu?
"Gilang?"
"Ya, Cantik."
Mala mengernyitkan kening. "Makasih, tapi yang boleh puji Mala cantik cuma Kak Dewa."
"Kak Dewa?" ulang Gilang yang tidak mengenal nama itu. "Siapa dia?"
"Mau tau aja deh Gilang." Mala menggeleng.
"Emang gue nggak boleh tahu?" tanya Gilang malah penasaran. Kenapa hanya Kak Dewa itu yang boleh memuji Mala. Padahal Mala memang cantik, wajar saja kalau ada yang memujinya begitu.
"Nggak boleh. Buat apa Gilang tahu? Mendingan Gilang perhatikan guru yang lagi menerangkan, Gilang kan anak baru. Ketinggalan pelajaran udah jauh juga kan? Nanti kalau nggak lulus malu loh."
Entah kenapa kata-kata Mala seperti lantunan puisi romantis barusan. Gilang yang tidak biasanya mau mendengarkan nasehat orang lain, langsung patuh dan takjub dengan nasehat Mala itu.
"Makasih yah, kata-kata lo barusan memotivasi gue banget, sumpah."
Mala terkekeh sambil mengangguk. "Sama-sama. Gilang lucu juga, tapi masih lebih lucu Kak Dewa."
Lagi-lagi kak Dewa. Siapa sih dia? Gilang makin penasaran tingkat dewa.
"Dewa bukan pacar lo kan, Cantik?"
"Nama aku Mala, bukan Cantik."
Gilang menutup mulutnya. "Tapi Mala cantik."
Sontak Mala memutar bola matanya. "Gilang jangan goda Mala, nanti Mala bilangin kak Dewa loh."
"Gilang, Mala? Kalian ngobrolnya nanti lagi. Bu guru perhatikan dari tadi kalian ngobrol?" tegur Bu guru.
"Tuh kan, ini semua karena Gilang." Mala mencebikkan bibirnya.
"Maaf," jawab Gilang pelan.
"Maafin Mala ya, Bu. Gilang yang ajakin Mala ngobrol."
"Iya, Bu. Saya yang salah, jangan salahin Mala."
Ciyeeee... Teman-teman sekelas langsung menggoda keduanya.
Mala meniupkan udara ke atas sampai poni halusnya terangkat, lalu menajamkan mata pada Gilang.
"Maaf ya, Mala Cantik." Gilang tersenyum tipis, ia makin tertarik dengan Nirmala yang menurutnya sangat manis dan menggemaskan.
"Jangan ngobrol." Bu guru kembali mengingatkan. Mala memilih memalingkan wajahnya dari Gilang dan memulai menulis lagi.
Jam pelajaran pun berakhir. Gilang langsung berdiri dan duduk di atas meja Mala. Melihat hal itu Mala mengerutkan keningnya sambil memicingkan mata. "Gilang nggak boleh duduk di meja," tegur Mala.
"Oh. Maaf ya, abisnya kalau dari sini kan bisa lebih jelas liat wajah cantik Mala." Lagi-lagi Gilang terus memuji Mala, hal itu membuat Mala jadi kesal.
"Gilang puji aja tembok. Mala mau ke kantin." Mala berdiri dan meninggalkan Gilang begitu saja.
"Mala, tunggu." Gilang mengikuti Mala dari belakang, gadis itu tidak memperdulikan Gilang, ia langsung menghampiri dua temannya yang sedang duduk di kantin.
"Vina, Cilla."
"Hei Mala, sini duduk," balas kedua teman Mala yang sedang menunggu makanan pesanan mereka datang.
Gilang berhenti di tempat saat melihat Mala duduk bersama dengan teman-temannya yang lain. Entah kenapa, tapi Gilang hanya ingin akrab dengan Mala saja, tidak dengan yang lain.
"Mala mau pesan apa?" tanya Cilla.
__ADS_1
"Bakso deh." Seperti biasa, makanan favorit Mala adalah bakso, apalagi bakso yang ada di dekat komplek rumahnya, dimakan berdua bersama Dewa, pasti terasa lebih enak.
Cilla pun memesankan bakso untuk Mala.
"Mala, gue kan mau ke camping minggu depan. Lo ikut ya, ajak Kak Dewa sekalian," ajak Vina.
"Bener tuh, kalau Mala ikut pasti seru," tambah Cilla.
"Camping? Di mana?"
"Gunung dong, mau ya?" Vina antusias sampai menggoyangkan lengan Mala.
"Hm, Mala tanya Kak Dewa dulu ya."
Gilang dari jauh memperhatikan Mala. Dari tadi dia penasaran dengan nama Dewa yang terus di sebut oleh Mala. "Siapa sih Dewa? Jangan-jangan pacarnya? gumamnya pelan.
"Woh. Murid baru!" Cowok dengan rambut kriwil berkulit hitam datang menghampiri Gilang.
"Mau apa lo?" tanya Gilang mengangkat satu alisnya.
"Mau kenalan." Cowok itu menjawabnya santai.
"Kenalan?" Senyuman miring dari Gilang, dia berdecih.
"Ekhem. Kenalin gue Boby. Tadi gue lihat lo sok akrab sama Mala, gue nggak suka." Boby sudah lama menyukai Mala, sikap Mala yang ramah selalu membuat Boby merasa memiliki harapan lebih.
"Terus?" Gilang menjawabnya malas. "Masalah kah?"
"Masalah besar, bro!" Boby menajamkan matanya sambil menepuk bahu Gilang keras.
"Sama gue sih bisa iya, bisa nggak. Tapi, sama pacarnya udah pasti lo bakalan bermasalah. Banyak cowok yang mengagumi Mala, dia manis dan baik. Tapi, cowoknya lain cerita, gue cuma kasih tahu aja."
Tentu Boby mengatakan itu karena tidak suka di sekolah ini ada cowok lain yang terang-terangan memberi perhatian pada Mala. Cukup Dewa saja yang menekannya, jangan lawan lainnya lagi.
"Siapa? Dewa?"
Boby kaget saat Gilang mengetahui nama Dewa.
"Kok lo tau?"
Gilang memang penasaran dan ternyata benar bahwa Dewa itu nama pacar Mala.
"Menarik." Gilang tersenyum sarkastik.
Saat itu Gilang begitu saja meninggalkan Boby yang masih terkejut karena Gilang sudah mengetahui nama kekasih Mala. "Dia tau dari mana?"
...******...
Jam pelajaran terakhir pun berakhir. Bel pulang sekolah berbunyi. Seluruh murid segera bersiap untuk pulang, termasuk Mala yang sangat bersemangat memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Gilang sejak tadi hanya diam, sesekali memperhatikan gerak-gerik Mala. Kenapa setelah tahu Mala memiliki pacar tidak membuat ia ingin berhenti menyukai gadis itu? Ya, Gilang tertarik pada Mala sejak pertama kali dua matanya menatap kecantikan Mala.
"Mala pulang duluan ya, Gilang." Gadis itu masih sempat berpamitan dengan ramah pada Gilang. "Oke, hati-hati Mala. Pulang sama siapa?" tiba-tiba saja Gilang penasaran, apakah kak Dewa lagi yang menjadi jawaban pertanyaannya barusan.
"Sama kak Dewa." Mala tersenyum riang dan melambaikan tangan. "Dadah Gilang."
Di depan gerbang sekolahnya, mobil Dewa sudah terparkir, jendela mobil pun terbuka.
"Kak Dewa."
"Masuk Sayang." Dewa tersenyum manis pada gadisnya. Mala segera masuk ke dalam mobil. Berjarak beberapa meter, ada Gilang yang akhirnya melihat wajah yang katanya kekasih Mala itu. "Oh jadi itu yang namanya Dewa. Baru pacar kan, masih bisa dong." Seringai dari bibirnya menandakan ia tidak akan berhenti. "Baru ketemu, masa udah nyerah."
Di dalam mobil. Dewa memakaikan safety belt Mala, lalu tersenyum dan mengecup hidung Mala sekilas.
"Jadi kan kasih Mala hadiah?" tanya Mala yang sejak tadi penasaran apa hadiah itu.
"Jadi dong. Kita pergi beli hadiahnya ya," jawab Dewa.
"Jadi baru mau dibeli?" tanya Mala.
Dewa mengangguk. "Kakak mau kamu pilih sendiri," terangnya.
"Oke deh," angguk Mala.
"Tadi Boby masih suka godain kamu nggak?" tanya Dewa.
Mala menggeleng. "Enggak. Tapi tadi ada anak baru yang namanya Gilang. Dia bilang aku cantik," ucap Mala sambil menyentuh jari-jarinya seperti sedang menghitung. "Lima kali bilang aku cantik," tambahnya.
"Gilang? Murid baru?"
Mala mengangguk.
"Ganteng nggak?"
"Kenapa? Kok Kakak kepo sih. Kayak dia aja, kepo banget pengen tau siapa kak Dewa itu."
"Masa?" kaget Dewa. "Kok dia bisa tau nama Kakak?"
"Tadi Mala bilang dia lucu, tapi lebih lucu kak Dewa, gitu." Mala memberitahukan itu persis seperti apa yang terjadi, tidak ditambah ataupun di kurangi.
Mendengar hal itu membuat Dewa sedikit tidak senang. "Terus, kenapa Mala bilang dia lucu? Kenapa juga dia kepo sama nama Kakak?"
Mala mengangkat bahu.
"Gilang memang lucu, tapi tetep lucuan Kakak," jawab Mala.
Dewa menghembuskan napas kasar. Kesal, dia merasa kesal mendengarnya. Menurutnya ada yang tidak beres.
"Kenapa dia kepo sama nama Kakak?"
Dewa berpikir pasti cowok itu ingin tahu siapa dirinya, modus.
"Enggak tahu. Tadi juga Mala bilang supaya dia perhatikan guru, bukan perhatikan Mala."
__ADS_1
Dewa langsung mengerem mobilnya mendadak. "Apa?"
Mala sampai terkejut. "Kak, kok berhenti mendadak sih! Mala kaget tau!" Kesalnya pada Dewa.
Dewa mengusap wajahnya. "Maaf, tadi Kakak reflek."
Mala mengusap dadanya perlahan. "Hati-hati dong Kakak, kalau Mala jantungan gimana? Kakak nggak sedih?"
Dewa mengusap kepala gadisnya. "Maaf ya Sayang."
"Iya Mala maafin, tapi jangan di ulang ya."
Dewa mengangguk dan melajukan lagi mobilnya.
"Mala, tadi Mala bilang yang namanya Gilang itu terus memperhatikan Mala?" tanya Dewa yang masih penasaran.
"Iya, terus Gilang bilang makasih karena Mala udah memotivasi dia," jawab Mala polos.
Motivasi? Dewa berdecih.
"Rupanya ada yang mau cari gara-gara." Dewa bergumam.
"Apa Kak?" tanya Mala yang mendengar sesuatu tapi tidak jelas.
Dewa menggeleng. "Jangan dekat-dekat cowok lain, Kakak nggak suka."
Mala mengangguk. "Mala nggak deketin, tapi Gilang yang terus deketin."
"Kalau gitu Mala jangan mau duduk dekat Gilang."
"Tapi bu Bianca yang suruh. Kasian Gilang nggak ada tempat duduk."
"Mala kasian sama Gilang?" tanya Dewa tidak senang.
"Kakak kok gitu sih liatin Mala?" Gadis itu memajukan bibirnya. "Marah ya?"
Dewa menghela napas panjang. Kenapa dia merasa sangat cemburu, bahkan dia ingin sekali mengatakan pada cowok yang namanya Gilang itu bahwa Mala adalah miliknya.
"Enggak, Kakak mana mungkin marah sama Mala, Sayang." Dewa mengusap lagi kepala gadisnya.
Mala terdiam, tapi dia merasa Dewa sedang marah sekarang.
"Kak..."
"Ya?"
"Kalau ada yang tanya Mala punya pacar apa enggak, kira-kira Mala jawab apa, ya?"
"Jawab punya dong."
"Emang Kakak pacar Mala?"
"Loh?"
Mala tersenyum tipis. "Dari dulu Kakak emang sayang Mala, selalu baik sama Mala. Tapi Kakak juga nggak pernah bilang kita jadian, kan?"
"Mala apa artinya kata jadian kalau sikap Kakak menjelaskan semuanya lebih dari itu."
"Iya sih..."
Dewa melirik sekilas Mala yang langsung tertunduk.
"Jangan mikir yang macam-macam. Apa Mala udah mulai jatuh cinta sama laki-laki lain?"
"Enggak!" Mala langsung cemberut.
"Terus kenapa mikirnya jadi gitu?"
"Emang salah kalau Mala maunya ada perkataan yang lebih jelas? Kayak Kakak nembak Mala."
"Mala sekarang tanggal berapa, hm?"
"Kok malah tanya tanggal?"
"Hem, tanggal delapan belas. Oh... Pantesan, Mala lagi mau dapet kan? Kita beli ea krim coklat, mau?"
Mala langsung cemberut.
"Mau nggak?" ledek Dewa sambil mencubit gemas pipi Mala.
Mala langsung mengangguk. "Mau.."
"Gitu dong senyum..."
Dewa mulai berpikir, apa sebaiknya dia menembak Mala? Tapi dia hanya tidak mau kehilangan Mala nya.
Dewa inget, itu cuman sumpah sampah!
Dewa! Lo bakalan langsung putus setelah lo nembak cewek yang lo suka! Itu sumpah gue buat lo!
"Dewa, kita putus aja ya."
"Kenapa? Kok tiba-tiba? Aku baru nembak kamu semalam, kan, Nabila?"
Sebelum Nabila, Dewa juga selalu ditolak setiap kali menembak gadis yang dia incar.
"Iya nggak tau kenapa aku tiba-tiba mau putus aja. Maaf ya."
Sejak saat itu Dewa makin merasakan keanehan. Mungkin saja ini efek kutukan salah satu mantan pacarnya? Dewa pun tak ingin itu terjadi dengan hubunganya bersama Nirmala.
...______...
__ADS_1
...Follow Instagram @cherry.apink ^^...