
Meski rasanya sulit menjalani hari-hari tanpa Dewa. Tapi akhirnya tepat hari ini Mala berhasil melewati bulan pertama dirinya di Korea. Di kampus Mala hanya terus fokus belajar, temannya hanya Lyra. Gadis itu saja yang selalu rajin menghampiri Mala ke kelasnya, karena kelas mereka berbeda.
Namun belakangan Mala merasakan kepalanya seringkali pusing, perutnya juga terasa sakit sesekali. Walau begitu Mala tidak memberitahukannya pada bunda dan ayahnya. Mala tidak mau membuat cemas kedua orang tuanya, menurutnya ini hanyalah sakit ringan yang akan sembuh dengan sendirinya.
"Mala, kamu nggak makan siang?" tanya Lyra.
"Enggak, aku belum laper," geleng Mala.
"Tapi kok kamu pucet banget, Mala? Kamu lagi sakit kah?" Lyra menyentuh kening Mala yang agak berkeringat dan terlihat pucat.
"Enggak kok, aku nggak sakit." Mala lagi-lagi menggeleng.
"Mala, kamu tuh lemah banget, lihat deh bibir kamu sampai kering. Ini tandanya kamu sakit." Kali ini Lyra menyentuh pipi Mala yang terasa dingin. "Dingin banget, kamu sakit Mala."
Mala tersenyum samar. "Enggak, aku baik-baik..." belum selesai ia menjawab, kepalanya terasa semakin berat, pandangannya kabur dan memburam. Mala akhirnya kehilangan kesadaran.
"Astaga, Mala!"
****
Dewa terus tersenyum sambil memegangi pasport miliknya. Hari ini dia akan segera ke Korea. Sesuai rencana, Max dan dirinya akan menjemput Natasha, kakak Dewa yang ada di Korea.
"Mala, aku datang, sayang." Senyuman Dewa tak memudar dari bibirnya. Begitu bahagia dan tak sabar ingin bertemu dengan kekasih kecilnya.
Max ikut tersenyum sambil menepuk bahu Dewa. "Ingat bersikap sewajarnya di sana. Jangan sampai bikin Mala nggak fokus, oke?"
"Tenang aja, Daddy." Dewa mengangguk. "Beres," tambahnya.
Sesampainya Dewa di bandara Incheon Seoul Korea. Max langsung menelpon suami Natasha yang bernama Calvin. Bukan Calvin yang mengangkat melainkan Natasha.
"Sayang, suami kamu jadi jemput kan?" tanya Max dari sambungan telepon.
"Oke, Daddy dan adik kamu udah di bandara, tapi belum lihat suami kamu," ucap Maxime.
Dewa melihat sekeliling. Lalu ia melihat seorang pria membawa papan bertuliskan Maxime.
"Dad kayaknya itu Kak Calvin."
Max memperhatikan ke arah yang ditunjukkan Dewa. "Ah iya itu dia. Natasha, suami kamu udah ada. Daddy ke sana dulu ya, kamu tunggu Daddy dan Dewa, oke."
Max menutup teleponnya dan langsung menghampiri menantunya.
"Daddy!" sapa Calvin dengan senyum sumringah.
"Calvin." Maxime langsung memeluk menantunya itu.
"Daddy apa kabar?" tanya Calvin.
"Ini Dewa?" sapa Calvin yang terkejut melihat Dewa. "Kamu udah dewasa sekarang," ucapnya yang terakhir kali melihat Dewa saat pernikahannya dengan Natasha tiga tahun lalu.
"Kak, gimana kabarnya?" tanya Dewa sambil memeluk kakak iparnya.
"Baik, kamu makin ganteng aja, Dewa. Udah punya pacar?"
Dewa hanya tersenyum.
"Pasti udah," cengir Calvin. "Bener kan?"
Maxime menggeleng. "Dewa kesini sekalian mau menemui pacarnya, Cal."
"Benarkah?"
__ADS_1
Dewa hanya tercengir. "Enggak, kesini mau nemuin kak Natasha lah," sangkalnya.
Calvin dan Max terkekeh. "Udah, mending kita langsung temuin Natasha. Daddy udah nggak sabar mau lihat si kembar," ucap Max.
"Ah, ayo kita ke mobil. Ngobrol di rumah aja ya, beneran deh Kakak nggak sangka pacar kamu di Korea, Dewa."
Dewa hanya tertawa sambil menggeleng. "Bukan pacar kok,"
Max mengerutkan kening. "Daddy bilang Mala ya?" ancamnya meledek Dewa.
"Bukan pacar, tapi calon istri. Iyakan Wa?" ledek Calvin.
"Nah itu baru bener," jawab Dewa.
Mereka pun tertawa. "Dasar kamu." Max menggelengkan kepalanya.
_______
Rumah Sakit.
"Tante, kalau gitu Lyra pamit pulang ya? Semoga aja Mala cepet siuman," ucap Lyra yang sudah mengantar Mala ke rumah sakit setelah Mala pingsan selama kurang lebih setengah jam.
"Makasih ya, Lyra. Kamu udah anter Mala ke rumah sakit secepatnya," jawab Bunda Mala.
"Sama-sama, Tante. Lyra pamit ya."
"Hati-hati Lyra."
Ibunda Mala cemas, karena dokter bilang Mala mengalami maag kronis. Anak perempuannya itu tidak memberitahunya kalau perutnya sering sakit belakangan ini. Ayah Mala sedang sibuk menelpon teman dokternya, dia ingin Mala mendapatkan penanganan serius dengan dokter yang terbaik.
Saat itu ponsel Mala terus bergetar. Ibunda Mala memeriksa ponsel putrinya. Ternyata panggilan masuk dari Dewa. Saat ini Mala tidak dapat menjawabnya, Bunda Mala pun akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo, Dewa."
"Mau kemana?" tegur Natasha.
"Mala ada di rumah sakit, Kak."
"Mala pacar kamu?"
Dewa mengangguk.
Max sedang sibuk bermain dengan cucu kembarnya. Dewa tidak sempat memberi tahu Maxime.
"Astaga. Kamu tahu rumah sakitnya?"
"Tahu kok, Kak. Bilangin Daddy ya, Dewa langsung ke sana," pinta Dewa pada kakaknya yang baru berapa menit dia temui tapi Dewa harus pergi lagi melihat keadaan Mala-nya.
"Iya, kamu nggak usah mikirin Daddy. Kamu naik taksi aja langsung bilang ke rumah sakit tujuan ya. Ingat, kamu naik taksi aja, oke?" pesan Natasha yang cemas adiknya nyasar di Korea.
Dewa mengangguk. "Iya, tenang aja. Dewa nggak akan nyasar."
"Hati-hati Dewa."
"Iya, Kak."
Dewa terburu-buru setelah mendengar kabar dari bunda Mala kalau Mala pingsan dan berada di rumah sakit. Kenapa bisa Mala sampai pingsan? Maag kronis? Apa selama ini Mala tidak makan dengan baik? Dewa sangat cemas, dia takut keadaan Mala memburuk.
Waktu Seoul semakin senja, hari pun mulai gelap. Dewa akhirnya sampai di depan rumah sakit tempat Mala di rawat. Ia berlari menyusuri jalanan rumah sakit, lalu secepatnya mencari ruangan tempat Mala di rawat.
Kakinya berhenti tepat di depan pintu ruangan Mala di rawat. Napasnya terengah setelah ia lelah berlarian agar secepatnya dapat melihat kondisi Mala.
__ADS_1
Kedua mata Dewa membulat saat melihat seorang gadis yang sedang berbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Mala."
Dewa melemah, dia tidak bisa melihat kondisi Mala yang masih tidak sadar seperti itu. Apa kondisi Mala seburuk itu?
Kakinya melangkah perlahan lalu ia mengetuk pintu ruangan Mala.
Bunda Mala membuka pintu tersebut. "Dewa. Kamu udah datang,"
"Tante. Gimana kondisi Mala?"
"Mala belum sadar, Wa." Bunda Mala menangis, ia langsung memeluk Dewa. "Mala nggak bilang kalau dia sakit belakangan ini. Kasian Mala, Wa."
Tiba-tiba Dewa teringat setiap kali Mala sakit. Gadis itu pasti langsung mengeluh padanya. Tapi kali ini Mala bahkan tidak memberitahunya, itu membuat Dewa semakin sedih.
"Mala akan baik-baik aja, Tante. Jangan cemas ya," ujar Dewa mencoba menenangkan ibunda Mala.
"Kamu coba lihat keadaan dia ya, biar Tante tunggu di luar."
Dewa mengangguk. "Baik, Tante."
Bunda Mala pun keluar dan membiarkan Dewa berdua bersama Mala yang masih belum sadarkan diri.
Dewa mendekati Mala. Kini dia tepat di sisi Mala yang sedang terbaring di atas ranjang. "Sayang, kamu kenapa?" Jemari Dewa menyentuh lembut telapak tangan Mala yang masih terpasang selang infus.
"Mala sakit, kenapa nggak kasih tau Kakak? Bangun, Sayang." Baru kali ini Dewa meneteskan air matanya. Melihat Mala tidak berdaya, apa dia sampai lupa makan? Dewa menyesal menjadikan kedatangannya ke Korea sebagai kejutan. Kalaulah dia memberitahu Mala bahwa dia akan ke Korea. Mungkin saja Mala tidak akan sampai sakit begini. Mala akan semangat dan tidak lupa makan, demi menunggu kedatangannya.
"Maafin Kakak," lirih Dewa tepat ditelinga Mala.
Tidak ada respon.
Mala masih pingsan.
"Mala bangun, ini Kakak. Ini aku, Sayang."
Perlahan jemari Mala mulai bergerak. Dewa tersentak dan langsung menegakkan tubuhnya.
"Mala? Kamu sadar?" sentuh Dewa pada pipi Mala. Gadis itu mulai membuka matanya pelan-pelan.
Akhirnya kedua mata Mala terbuka.
Ia terkejut melihat cowok di depannya. Kenapa mirip dengan Dewa?
"Aku di mana? Kenapa kamu mirip sama kak Dewa?" tanya Mala dengan suara yang sangat lemah.
"Sayang, ini memang aku. Ini aku Dewa."
Mala menutup mulutnya, lalu ia pun segera bangun, tapi tubuhnya sangat lemah. "Ah, Kak."
Kepalanya terasa sakit.
"Jangan dipaksa, kamu masih lemah." Dewa membantu Mala untuk duduk. Tapi gadis itu malah memeluk Dewa dengan sangat erat.
"Mala nggak mimpi kan? Ini beneran Kak Dewa?"
"Ini aku. Iya ini aku Sayang. Maafin aku, kamu sampai sakit. Ini karena aku kan?"
Mala menggeleng cepat. "Bukan karena Kakak. Ini karena Mala lupa makan, besok juga sembuh."
Dewa semakin sedih. "Enggak, ini pasti karena Kakak. Kamu tersiksa?"
__ADS_1
"Enggak, Kak. Mala nggak tersiksa. Ini bukan karena Kakak."
Dewa mengeratkan pelukannya, sesekali menciumi kening Mala. "Maaf, maafin Kakak, Mala."