
Mala yang saat itu sedang berbaring dikejutkan dengan suara ketukan pintu berulang.
"Siapa yang bertamu? Ini kan udah malam," ucapnya sambil melihat arah jarum jam yang menunjukkan pukul 21.30 WIB.
Kedua kakinya turun dari ranjang, lalu berjalan menuju ke arah pintu sambil mengikat rambutnya. Ikat rambut itu adalah ikat rambut pemberian Dewa beberapa tahun lalu, sampai saat ini masih Mala simpan.
Mala membuka pintu dan menutupnya kembali dengan cepat saat melihat orang yang ada di depannya tadi. "Ya Tuhan. Apa aku nggak salah lihat?"
"Mala, kok pintunya di tutup. Buka Mala, aku mau ngomong sama kamu."
Itu adalah Dewa. Jadi apa yang akan dilakukan Dewa sekarang. Padahal sejak tadi Mala berusaha tidak keluar rumah karena tidak ingin berpapasan dengan pria itu. Tapi, sekarang pria itu mendatangi rumahnya.
Mala membuka pintunya, lalu menatap Dewa sekilas sebelum pandangannya diedarkan ke arah lain. "Ada apa?"
Pria di depan Mala itu tak kuasa menahan dirinya lebih lama. Dewa langsung meraih tubuh Mala dan memeluknya erat. Di sini bukan kantor, pikir Dewa yang merasa tidak apa jika setelah ini Mala akan marah padanya. Rasa rindunya sudah tidak tertahankan lagi, Dewa sangat rindu dengan gadis di pelukannya itu.
"Lepasin, Kak." Mala hanya diam dengan mata yang basah. Sekuat tenaga ia menahan dirinya agar tidak melemah dan menjatuhkan air matanya. Tapi, dorongan untuk menangis itu reflek hadir begitu saja. Hangat, pelukan Dewa yang terasa masih sama seperti terakhir kali keduanya saling memeluk di bandara. Kala itu Dewa berjanji akan memberikan pelukan lebih lama dari itu saat keduanya kembali bertemu.
"Please, Kak." Mala gemetar dan suaranya serak, Mala menangis.
"Jangan gini, aku sakit." Mala mendorong tubuh Dewa tapi pria itu tidak mengindahkannya. Dewa semakin mengeratkan pelukan itu bahkan mengecup puncak kepala Nirmala berulang-ulang sebagai pelepas rindu.
"Aku mohon, kali ini aja. Setelah itu kamu boleh diamkan aku, aku tetap akan terus mengejar kamu, Mala."
Kata-kata Dewa membuat Mala memaku di pelukan Dewa. Tak dapat menjawab, ia membiarkan pria itu memeluk erat tubuhnya.
Mala menghirup aroma parfum yang dikenakan Dewa, masih tetap sama. Mala sangat suka aroma Dewa itu, dan ia amat kangen, ingin sekali membalas pelukan itu tapi Mala masih menahan kedua tangannya agar berada tetap di posisinya.
Akhirnya, meski belum merasa cukup. Dewa mengurai pelukannya. "Makasih, Mala."
Mala mengusap air matanya lalu mengangguk. "Mala masuk ya," ucap gadis itu.
"Mala." Dewa menahan tangan Mala.
"Apa?" tanya Mala sambil menatap kedua mata Dewa. "Udah kan? Mala ngantuk."
"Kakak mau ajak kamu makan malam."
"Mala udah makan," tolak Mala.
"Kakak boleh nggak sih meminta malam ini aja, kamu temenin Kakak. Please," pinta Dewa memohon.
Mala menggeleng. "Enggak. Kakak bukan pacar aku, bukan lagi."
"Tapi Kakak merasa kamu tetap pacar Kakak." Dengan penuh keyakinan Dewa mengatakan hal itu pada Mala.
"Atas dasar apa? Kakak bukannya udah punya pacar?"
"Siapa? Yang mana?" tanya Dewa tidak mengerti pacar yang mana yang dimaksud Mala.
"Yang semalam antar kamu. Kamu mabuk ya? Jadi sekarang mulai minum alkohol?" selidik Mala.
Dewa terkekeh sebentar.
"Kenapa ketawa?" tegur Mala.
"Kamu peduli, apa itu pertanda?" sahut Dewa.
Mala tersentak. "Pertanda apa. Nggak usah berpikir macam-macam. Aku nggak peduli, aku cuma heran," imbuhnya.
"Jadi, kamu masih penasaran nggak siapa cewek semalam?"
Mala menggeleng. "Enggak. Itu bukan urusanku. Aku mau masuk, Kak."
"Jangan. Kamu nggak percaya sama aku, Mala?"
Mala menarik napasnya dalam-dalam. Sudah dia duga, ini tidak akan berjalan cepat. Dewa akan terus menginterogasi dirinya.
"Percaya apa?" tanya Mala tidak paham maksud Dewa.
"Percaya kalau aku itu tidak pernah sekalipun mengkhianati kamu." Dewa menyentuh kedua telapak tangan Mala. Gadis itu menghempaskannya cepat.
"Kamu benci aku?" tanya Dewa. Mala menggeleng. "Sayangnya, nggak bisa."
Dewa tersenyum. "Malam ini aja, temenin aku makan malam ya."
"Aku udah makan," ulang Mala kedua kalinya.
"Tapi Kakak belum, dari siang. Sarapan cuma roti." Dewa menekuk wajahnya.
"Kenapa? Kenapa kamu nggak makan?" sahut Mala cemas. "Jangan gitu, kayak anak kecil," tambahnya.
Saat itu Dewa semakin yakin bahwa perasaan Mala tidak berubah padanya. "Kepikiran sikap kamu yang berubah drastis. Ini nggak adil buat aku, padahal kamu tahu itu hanyalah sebuah kesalahpahaman," katanya sambil mengecup punggung tangan Mala. Gadis itu kembali menarik tangannya.
__ADS_1
"Oke. Mala temenin makan. Dimana?"
"Di rumah kamu," jawab Dewa cepat tanpa berpikir panjang.
"Kok di rumah aku?"
Dewa tidak menjawab dan langsung masuk begitu saja ke rumah Mala.
Mala mengerutkan kening lalu menutup pintu menyusul Dewa yang langsung masuk ke arah dapur rumahnya.
"Kamu kok main masuk aja sih," protes Mala sambil mengikuti Dewa menuju dapur.
Dewa berbalik seketika mengagetkan Mala yang hampir saja menabrak tubuh Dewa.
"Astaga. Kamu tuh jangan berhenti mendadak!" sentak Mala kesal, tapi Dewa malah tergelak. "Maaf,"
"Kamu mau makan apa? Biar Mala yang masak," ujar Mala.
Dewa menggeleng. "Aku cuma mau ngobrol lebih lama sama kamu. Kalau kita nggak bisa kayak dulu, tapi kita bisa berteman."
Bukan hal mudah memulai hubungan pertemanan dengan pria yang masih ada di dalam hati Mala hingga sekarang. Tapi, jujur saja ia pun rindu terhadap Dewa, jantungnya masih berdebar hebat, dia masih memiliki perasaan itu. Mala bahkan bertambah gugup saat ini.
"Nggak bisa, Kak." Mala menggeleng. "Tetap aja, aku nggak bisa berteman dengan kamu."
"Kenapa?"
Mala menggeleng. "Nggak ada alasan yang pasti. Intinya nggak bisa, semuanya udah berbeda."
"Tapi aku enggak, Mala. Aku tetap Dewa Adrian yang selalu mencintai kamu."
Bukan hanya berdebar. Mala sampai terpaku di tempatnya berdiri sekarang. Kata-kata Dewa tidak pernah ia duga akan di dengarnya lagi. Kata-kata cinta, dengan mudahnya terlontar dari mulut Dewa untuknya.
Mala hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa. Satu yang ingin dia tanyakan, apakah benar Dewa masih mencintainya.
Seolah dapat membaca pikiran Mala. Dewa kembali menggenggam erat tangan Mala. "Kakak benar-benar masih cinta kamu. Akan selalu cinta kamu."
Sungguh meskipun Mala terenyuh dengan kata-kata Dewa. Tapi dia tidak ingin terhanyut terlalu lama.
"Udahlah, Kak. Biar aku buatin kamu makan. Bentar," ucap Mala pergi ke dapur dan membuka kulkas.
Dewa menghela napasnya lalu duduk di meja makan. "Kakak nggak serius pengen makan, Mala."
"Ya udah, kalau gitu sebaiknya Kakak pulang," tegas Mala.
"Jadi, sebenarnya Kakak mau makan apa enggak?" ulang Mala sedikit kesal. Pasti Dewa sengaja.
"Iya. Kakak mau makan, laper." Dewa tersenyum lebih tepatnya nyengir.
Akhirnya Mala mengambil ramen. Tentu Dewa tidak lupa bahwa Mala hanya bisa memasak ramen, tidak yang lain.
"Aku kangen ramen buatan kamu."
Mala meremas bungkus ramen di tangannya. Godaan macam apa ini, kenapa dia harus terjebak dalam situasi seperti sekarang. Bukankah ini sangat canggung?
"Kakak mendingan diam aja di situ. Aku nggak fokus kalau lagi masak terus denger orang ngomong," ketus Mala sambil membuka bungkus bumbu ramen dan menuangnya ke dalam mangkuk.
Dewa terkekeh. Itu adalah pekerjaannya dulu. Menggoda Mala sampai gadis itu kesal, tapi sayangnya Mala yang dulu tidak pernah kesal saat digoda, justru sebaliknya. Sedangkan sekarang, Mala yang ada di depannya sedikit galak. Semakin menarik, batin Dewa.
Mala masih berkutat dengan ramen nya. Sedangkan Dewa sibuk dengan ponselnya, memotret Mala yang sedang memasak. Saat Dewa sedang sibuk dengan kamera ponselnya. Mala muncul membawa semangkuk ramen yang baru saja selesai dia masak.
"Kakak foto aku ya?" tanya Mala sambil mengangkat sebelah alisnya.
Dewa menggeleng. "Enggak. Kakak foto ikat rambut kamu doang, tuh liat."
Mala melihat foto yang baru saja di ambil oleh Dewa. Ternyata benar, Dewa memotret ikat rambutnya.
"Nggak ada kerjaan," komen Mala.
"Kalau nggak salah itu ikat rambut dari Kakak, iya kan?"
Mala membulatkan mata. "Mending Kakak makan deh, nanti sakit kalau laper." Mala menyodorkan semangkuk ramen buatannya pada Dewa, ketimbang membahas ikat rambut.
Dewa tersenyum. "Makasih Sayang."
Deg
Mala mendengus. "Kita cuma tetangga."
"Tetangga?"
Mala mengangguk. "Iya, cuma tetangga. Bukan pacar."
"Kalau gitu kita TTM dong?" seringai Dewa sambil memakan ramen buatan Mala.
__ADS_1
"TTM?" tanya Mala tidak paham.
"Iya. TTM. Tetangga tapi mesra." Dewa mencubit pipi Mala lalu kembali menikmati masakan Mala yang hampir membuatnya menangis terharu. Dewa kangen sekali dengan masakan Mala yang biasa-biasa itu. Walau hanya ramen yang mungkin semua cewek bisa membuatnya. Tapi, se-spesial itu jika Mala yang memasaknya.
Mala tersenyum samar lalu duduk di sebelah Dewa sambil berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Dewa tahu gadis di sebelahnya bahkan tidak membuka layar ponselnya. Dia pasti sedang gugup, batinnya.
"Mala."
"Ya?" jawab Mala lalu mengantongi ponselnya.
"Kamu udah punya pacar baru?" tanya Dewa sambil menyeruput kuah ramen yang hampir habis.
Mala menggeleng. "Bukan urusan Kakak."
Dewa mengernyit. "Kukira kamu mau jawab belum. Aku udah seneng aja."
Mala terkekeh. Entah kenapa dia merasa lucu. Tapi kemudian dia kembali memasang raut datarnya. Jujur Mala lelah berpura-pura menjadi wanita yang sombong dan dingin. Dia memang sudah makin dewasa, tapi sebenarnya dia masih tetap saja seorang Mala yang biasa.
"Tuh kan, kamu masih Mala-nya Kakak. Ketawanya aja sama," kata Dewa lalu menaruh sumpit dan meneguk air yang ada di dalam gelas. "Makasih ramennya."
Mala mengangguk. "Hm."
Dewa menatap Nirmala yang hanya menundukkan wajahnya sejak tadi.
"Mala?"
"Ya?" lagi-lagi Mala langsung menyahut ketika Dewa memanggilnya.
"Apa cita-cita kamu masih sama?" tanya Dewa.
Mala terdiam. Untuk sejenak dia berpikir apa cita-cita yang dimaksud Dewa.
"Masihkah sama?" ulang Dewa.
Mala baru ingat apa cita-citanya. Mala menatap Dewa, bingung. Jujur itu masih menjadi cita-cita Mala, tapi rasanya udah nggak mungkin tercapai. Mala juga tidak ingin patah hati untuk ke sekian kali. Rasanya luka itu belum sembuh, lantas apa harus terkoyak kembali, pikirnya.
"Udah enggak sama. Beda."
"Kenapa?" sahut Dewa cepat.
"Karena cita-cita yang itu udah nggak mungkin tercapai." Mala membuang napas asal. "Udahlah Kak, ngapain sih bahas itu."
"Kakak kira masih sama. Kalau masih sama, Kakak mau bantu kamu wujudkan."
Jantung Mala kembali berdebar. Perasaannya pada Dewa sama sekali tidak berubah.
"Jangan ngaco, Kak."
Dewa ingat betul ketika itu Mala mengatakan akan berjuang demi cita-citanya. Hal yang mengejutkan Dewa ketika pertama kali tahu cita-cita Mala.
Dewa masih menatap wajah Mala yang tampak sendu. Keduanya terperangkap dalam situasi canggung yang paling mereka benci. Mala juga pernah bilang bahwa dia tidak suka situasi yang canggung seperti itu.
"Sayang. Maafin Kakak ya."
Mala mengangkat wajahnya. Kenapa Dewa bersikap seperti dulu, saat dia masih menjadi pacarnya. Tentu itu membuat Mala semakin sulit mengabaikan Dewa.
"Jangan panggil aku begitu." Mala menggeleng. "Kalau pacar Kakak cemburu gimana?"
"Biarin. Lagi pula dia udah tahu siapa yang ada di dalam hati aku."
"Jadi Kakak udah punya pacar?" tanya Mala tak lama menutup mulutnya. Kenapa juga harus nanya sih, Mala! Buat apa coba?
Dewa tergelak. "Tuh kan, kamu kepo."
Mala menghela napas berat. "Jangan berlebihan."
"Iya. Kakak punya pacar," ucap Dewa mengejutkan.
Mala tersentak tapi sebisa mungkin dia tidak ingin terlihat kaget. "Oh."
"Nih ada di depan Kakak."
Mala mencoba mengartikan perkataan Dewa. Ia akhirnya menyadari bahwa Dewa tidak sedang serius berkata begitu. Ingat Mala, kamu dan dia sudah putus.
Mala bergeming. Dewa mendekat lalu meraih kedua pipinya. Telapak tangan hangat Dewa menyentuh halus pipinya yang merona. Lalu, keduanya saling menatap. Mala masih tertegun tidak bergerak sama sekali dengan posisi yang sangat dekat dengan Dewa.
"Just tonight. I want a sweet night with you. Even though I'm still the same, I'm still for you."
Dewa mengecup lembut bibir Mala. Gadis itu terkejut, terutama dengan kata-kata Dewa barusan.
Hanya malam ini. Aku ingin malam yang manis dengan mu. Walau aku masih sama, masih untuk kamu.
Oh please God! Apa ini? Mala menjerit di dalam hatinya. Ciuman Dewa makin dalam dan dia tidak dapat menggerakkan tubuhnya sama sekali.
__ADS_1