
...Percaya nggak kalau aku bilang cinta itu nggak buta, tapi cinta itu membutakan. Lihat aja, cintamu membutakan mata hatiku terhadap yang lain. Aku cuma bisa lihat kamu aja, satu. Iya, kamu. Dewa ~...
...***...
"Mala bangun, udah sampe loh." Dewa menepuk pelan punggung tangan Mala. Gadis itu tertidur karena belaian angin kota Bandung seolah menyelimutinya. Belum lagi berada di pelukan Dewa, Mala bertambah nyenyak.
"Eh, udah sampai ya?" balas Mala sambil mengucek kedua matanya. "Aku ketiduran."
"Nggak apa-apa Sayang. Nanti di dalam kalau ngantuk pun kamu tidur aja."
"Enggak kok, udah nggak ngantuk lagi." Mala pun turun dari motor Dewa.
"Malaaaa... Oh my princess."
Sepertinya Mala mengenal suara itu. Lengkingannya, menunjukkan ciri khas. "Kak Zaki nih pasti." Belum sampai berbalik, cowok bernama Zaki itu langsung menepuk kedua bahu Mala, membuat gadis kecil Dewa kaget. "Aaaaah Kak Zaki nyebelin!"
Dewa terkekeh saat melihat Mala terkejut lalu cemberut sambil menghentakkan kakinya.
"Zaki, lo pengen gue apain hah?" tegur Dewa sambil menggelengkan kepalanya.
"Hahaha sorry sorry. Maafkan abangmu ini ya cantik. Abisnya kangen sama Mala, udah lama nggak ketemu. Gemesss." Zaki mencubit kedua pipi Mala sambil menggerakkannya ke kanan ke kiri. "Makin lucu, makin cantik."
"Zaki, lepasin dih!" Dewa menepuk tangan sahabatnya. "Cari kesempatan lo!"
Mala memegang pipinya sambil cemberut. "Mala tuh sebel sama Kak Zaki tuh gini. Suka nyubitin pipi, kan Mala jadi tambah tembem. Lihat deh Kak, kan jadi jelek," rengek Mala pada Dewa.
"Uh, enggak kok. Mala tetep yang paling cantik," puji Dewa sambil mengusap pipi gadisnya.
"Hadeeeh... Nasib gua jadi jones gini nih. Yang bikin jomblo menderita, lihat keuwuan kalian," ringis Zaki. "Parah kalian, gua ke dalem ajalah. Yok, dek. Di dalam ada kak Dika." Zaki menarik tangan Mala. Gadis itu tertawa sambil menaiki punggung Zaki. "Kalau kuat gendong Mala sampe ke dalem."
Zaki terkejut dan merasa pinggangnya akan patah. "Ya Tuhan, kamu kecil-kecil berat dih!"
"Mala kenapa gendong sama dia sih, turun sekarang!" tegas Dewa.
"Protective amat lo Wa! Rezeki ini, sirik aja lo!" protes Zaki enggan menurunkan Mala, ia malah berlari sambil menggendong Mala. Gadis itu hanya terus tertawa di gendongan Zaki.
"Astaga, Nirmala. Ni anak bikin kesel aja!"
...*****...
"Turunin Mala ih, udah sampe juga." Mala menepuk punggung Zaki.
"Iya iya bentar."
"Mala? Woah ini anak tumben mau di gendong sama lo Zak!" heran Dika, sahabat Dewa yang belum lama sembuh dari sakit cacarnya.
"Kak Dika udah sembuh? Kemarin katanya sakit cacar?" tanya Mala yang baru saja turun dari punggung Zaki.
"Udah dong, Dek. Cuma cacar doang mah cepet. Sakit hati karena putus cinta aja cepet apalagi cuma cacar." Dika mendekati Mala, hendak memeluk gadis itu tapi Dewa datang dan melerai keduanya. "Jangan lagi, lo berdua lama-lama pengen gue hajar ya?"
Zaki dan Dika tergelak. Bukan Dewa namanya kalau tidak over protektif terhadap Mala.
"Kakak ih, pelit banget." Mala mencibir. "Kan kak Dika cuma mau salaman, iyakan Kak?"
"Tau tuh Dewa, cuma salaman doang kali." Dika memasang raut pura-pura memelas. "Kasian ih gue."
"Palalu salaman. Dikira gue nggak tahu akal bulus lo, kamu jaga jarak dari mereka, oke?" tegas Dewa.
Mala mengangguk. "Maaf ya Kakak semua. Aku harus jaga jarak. Takut kena virus."
"Buset dikira kita kuman kali. Untung cantik, imut, gemesin. Kalau nggak udah gue iket ni bocil," komen Zaki.
"Mulut lo Zak. Mau kena bogem kah?" ucap Dika sambil melirik Dewa yang sedang menajamkan matanya pada Zaki.
__ADS_1
"Pfft.. anjir pawangnya marah!"
Mala tertawa bersama Zaki dan Dika. Dia senang berada di tengah-tengah teman Dewa. Mala selalu merasa terhibur dan bahagia, di manapun asalkan ada Dewa. Mala mudah berbaur dan menyenangkan sehingga ia selalu di senangi di manapun dia berada.
Di sana adalah basecamp tempat biasa Dewa dan temannya nongkrong. Mala bukan pertama kali bermain ke sana. Tapi, semenjak Mala kelas dua belas SMA, memang Mala mulai jarang main ke basecamp Dewa.
"Mala kalau ngantuk bobo aja." Dewa menepuk pahanya, meminta Mala berbaring.
"Hoaaamm... Iya, Mala ngantuk." Gadis itu pun membaringkan kepalanya ke pangkuan Dewa.
Zaki dan Dika yang sedang bermain game hanya bisa menggigit jari melihat keromantisan Mala dan Dewa.
"Kok gue merasa hidup gue hampa ya, Dik." Zaki menaruh stik PS di tangannya. Lalu menyentuh kedua dadanya dengan wajah memelas.
"Hooh. Apalagi gua Zak. Berasa hidup gua miris amat," komen Dika yang ikut menaruh stik PS nya juga. Lalu mengusap wajahnya pesimis.
Dewa malas berkomentar dia memilih bermain PS sendirian. "Berisik lo, Mala lagi tidur!"
"Dih nggak peka amat lo Wa, jadi temen gitu amat. Cariin gua pacar napa. Yang kayak Mala ada nggak ya? Polos, lugu, imut, cantik. Apalagi ya... Kalau ada bungkusin atu." Zaki mengambil lagi stik PSnya.
"Gue juga mau lah kalau yang kayak Mala. Langka banget. Bahagia dunia ini rasanya, gue iket tuh kalau ada yang kayak Mala. Iket dengan tali pernikahan, biar halal." Dika mengusap wajahnya. "Aamiin ya Tuhan."
Zaki tertawa sampai hampir tersedak gagang stik yang ada di tangannya. "Gelo sia!"
"Berisik kalian. Mana ada yang kayak Mala. Mala cuma untuk Dewa." Dengan raut angkuhnya, komen Dewa. "Beruntungnya gue, kalian miris amat."
"Woilah, ini anak minta di tikung kah! Gue culik Mala baru tahu rasa!" celetuk Zaki. Saat itu Mala menggerakkan kepalanya sedikit. "Hmmm,"
"Astaga kalian berisik! Liat nih Mala hampir aja bangun," ujar Dewa sambil berbisik.
Zaki dan Dika langsung mengunci mulutnya. Kalau Mala bangun bisa-bisa Dewa akan mengamuk. Bukannya takut, tapi Zaki dan Dika malas mendengar ocehan Dewa yang sedang mengamuk. Ibarat radio rusak, bahkan lebih parah dari itu.
Setelah beberapa saat kemudian. Dewa pun memutuskan untuk membawa Mala pulang ke apartemen-nya. Ya, Dewa memiliki apartemen sendiri, hanya saja tidak pernah ia tinggali. Berhubung apartemennya lebih dekat dari basecamp. Dewa memutuskan untuk membawa Mala ke sana. Kebetulan juga orang tua Mala menitipkan Mala padanya tadi pagi melalui panggilan telepon.
"Dik, gue pinjam mobil lo ya. Nggak mungkin gue naik motor. Lo bawa motor gue, oke?"
"Hahaha bibir lo pengen gue iket hah!" Dewa melotot sambil menyuruh Dika membuka pintu mobilnya.
"Eh dudul. Lo mau bawa ni bocah ke apartemen lo? Setan lo ya! Mau lo apain ni anak, jangan macem-macem lo Dewa!" Komen Zaki.
Dika sudah membuka pintu mobilnya. "Lu ikut campur aja Zak. Ganggu kesenangan orang aja. Bilang aja lu iri!"
"Anjir lo. Gini-gini iman gue tebel. Seenggaknya tebelan gue dikit dibanding iman si Dewa." Zaki mengelus dadanya.
Dewa tidak mempedulikan ocehan kedua temannya. Ia langsung menyalakan mesin mobil. "Gue cabut dulu."
Zaki dan Dika melambaikan tangan. "Hati-hati Wa! Kendalikan iman lo!" cicit Zaki.
"Kendalikan itu hawa nafsu bukan iman kali!" sinis Dika.
"Bodo amat. Mendingan gue juga balik." Zaki menaiki motor Dewa.
"Bego! Itu motor si Dewa gue yang pake! Lo naik motor lo sendiri sana!" usir Dika.
"Oiya ya, gue lupa."
Di dalam mobilnya, Dewa terus menimbang ulang. Sebaiknya membawa Mala ke apartemen adalah tindakan yang benar atau salah? Tapi, kalau membawa Mala pulang dia harus menempuh jalan lebih jauh lagi. Ah sudahlah, Dewa memutuskan ke apartemen saja. Dia memang jarang ke apartemen karena di rumahnya lebih dekat dengan Nirmala. Tapi jika itu dibutuhkan dia akan pulang ke apartemen karena jaraknya dekat dengan kampus.
Setelah sampai di apartemennya. Dewa langsung membaringkan Mala ke atas ranjang. Gadis itu terlihat sangat pulas. Dewa tidak tega membangunkan Mala untuk sekedar mengganti pakaian Mala. Tapi Mala masih mengenakan seragam sekolah, rasanya tidak nyaman melihat Mala tidur dengan pakaian itu.
"Kalau gue gantikan baju dia, itu namanya gue kurang ajar. Iyakan?" gumamnya. "Iyalah bego!" jawabnya sendiri sambil mengusap wajahnya.
"Mala Sayang," panggil Dewa sambil mengusap pipi Mala. Seketika ia meneguk saliva-nya saat melihat bibir Mala yang tipis. Ingin menciumnya, tapi ia sadar akan dirinya sendiri. Tidak cukup hanya ciuman, maka akan menyusul tindakan lain. Secepatnya ia menyingkirkan pikiran kotor tersebut.
__ADS_1
Mala membuka matanya perlahan. "Hm, ini dimana?"
"Eh Mala udah bangun. Kamu tadi nyenyak banget, Kakak nggak tega bangunin. Jadi Kakak bawa kamu ke apartemen Kakak. Dulu yang pernah Kakak ceritakan sama kamu. Inget nggak?"
Mala terdiam sejenak sambil mengingatnya.
"Ohhh.. iya Mala ingat. Kenapa Kakak bawa aku ke sini? Kok nggak pulang?"
"Ke rumah kan agak jauh, ini udah malam. Salah Kakak juga kelamaan ngobrol tadi sama temen-temen. Nggak apa kan kalau ke sini dulu?"
Mala mengangguk. "Asal sama Kakak, aku seneng aja."
Oh Tuhan, sungguh ini adalah godaan setan, batin Dewa saat melihat senyuman Mala yang sangat cantik.
"Ih Kakak kok bengong sih? Mala lengket banget, mau mandi boleh?" tanya Mala yang langsung turun dari tempat tidur. "Mala pinjam baju Kakak ya. Untung besok libur," ucapnya.
Dewa menelan salivanya lagi. Sekarang otaknya malah membayangkan Mala yang memakai pakaian miliknya, pasti sangat menggemaskan.
"Kakak. Bengong lagi kan? Ya ampun Kak, jangan kebanyakan bengong nanti kemasukan setan loh!"
"Ehh iya iya. Oke Kakak ambilin baju gantinya ya. Bentar."
Saat itu Dewa malah cemas kalau dirinya lah yang akan menjelma menjadi setan di depan Mala yang sungguh menguji iman tipisnya.
Tak berapa lama, Mala memunculkan kepalanya dari pintu kamar mandi. "Kak, mana bajunya?"
Dewa beranjak sambil memberikan bajunya pada Mala.
"Makasih yah." Mala mengambil baju tersebut dan langsung menutup pintu rapat.
Beberapa menit kemudian. Mala keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kemeja milik Dewa. Kedua mata Dewa tidak berkedip menatap Mala yang lebih dari ekspektasinya. Bukan hanya menggemaskan tapi juga terlihat sangat seksi.
"Huh segernya..."
Mala langsung duduk di samping Dewa yang sedang tertegun menatap wajahnya. "Kak, Kak Dewa gitu banget sih ngeliatnya. Aku aneh ya?"
Dewa mengalihkan pandangannya. Ia bisa lepas kendali kalau tidak menjernihkan otak kotornya saat ini. "Enggak. Mala nggak aneh, yang aneh itu pikiran Kakak."
"Hah? Kok bisa?" tanya Mala sambil menyenderkan kepalanya ke bahu Dewa. "Mala seneng bisa deket Kakak kayak gini."
Sungguh, tingkah Mala semakin membuat Dewa tidak dapat mengendalikan dirinya. Tapi, seharusnya ini tidak boleh terjadi. Apa yang akan dikatakannya pada Max kalau sampai Dewa menyentuh Mala sebelum waktunya.
"Kakak juga seneng bisa deket Mala." Dewa mengecup sekilas kening Mala dengan otak yang hampir menggila. Sedangkan Mala terus menempel pada Dewa seolah tidak peduli bahwa aksinya bisa membuat Dewa terbangun.
"Ekhem. Mala nggak mau lanjut tidur?" tanya Dewa sambil meremas sofa sekuat tenaga. Tangannya itu malah ingin mendekap Mala erat sekarang.
"Mala nggak ngantuk," geleng gadis itu.
"Terus mau ngapain kalau nggak tidur?"
"Mala mau gini aja, berduaan sama Kakak."
Oh Tuhan, tolong Dewa. Batin Dewa.
"Tapi Kakak takut lupa diri, kalau Mala nggak tidur." Dewa akhirnya menyentuh kedua bahu Mala lalu menatap kedua mata gadis itu.
"Lupa diri gimana?" jawab Mala bingung. "Mala nggak ngerti Kak. Mala mau peluk Kakak. Mala kangen banget," ucap gadis itu yang langsung melesakkan diri ke pelukan Dewa.
Sudahlah. Kali ini kesabaran Dewa sepertinya habis. Dewa membalas pelukan Mala dengan mengeratkan pelukan itu. "Kakak juga kangen, banget."
Kedua mata mereka saling menatap. Saat itu Mala hanya terus tersenyum.
Sadar Dewa!
__ADS_1
Dewa bermaksud menghindari tatapan Mala. Tapi tanpa di duganya, kali ini Mala yang langsung mendekat dan mendaratkan ciuman pada bibirnya.
Oh Tuhan.. Apa gue bisa tahan? Jeritan batin Dewa sekarang.