
Awalnya Mala masih mengira dirinya tengah bermimpi. Di sebelahnya adalah Dewa. Cinta yang tidak pernah ia lupakan sedikit pun. Walaupun keduanya sempat berpisah tapi semua itu sama sekali tidak membuat perasaan mereka berubah.
"Baby, kenapa kamu liatin aku begitu?" tanya Dewa melirik Mala yang terus mencuri pandang ke arahnya.
"Ah itu ... enggak, kok," geleng Mala.
"Baby, kamu masih nggak percaya ya. Kalau kita bakalan bareng lagi kayak gini?" tanya Dewa.
Mala mengembuskan napas perlahan. Ia mengangguk pelan. "Mala kira seumur hidup Mala akan melalui kehampaan tanpa Kakak," ucapnya.
Dewa juga memikirkan hal yang sama. Betapa sangat mengerikan, hari-harinya tanpa Mala.
"Aku juga, Sayang, sepertinya aku mati rasa terhadap wanita lain."
Mala sontak terkekeh. "Mala nggak yakin."
"Kenapa nggak yakin?" tanya Dewa.
Mala tidak menjawab. Mana mungkin bisa Dewa mati rasa. Dewa bukan Dewa sungguhan, dia manusia biasa.
Akhirnya mereka sampai di depan rumah. Dewa keluar untuk membukakan pintu mobil.
Mala pun turun dari mobil Dewa, keduanya berdiri di depan rumah mereka.
"Makasih, ya." Mala tersenyum.
"Iya, Sayang. Hari ini kamu temenin Kakak, ya."
"Hem, iya."
"Oke. Aku ganti baju dulu ya." Dewa mengusap pipi Mala.
"Hmm, aku nggak bawa apa-apa nih buat kak Dika. Mendadak banget soalnya," kata Mala sambil menggigit ujung kukunya. "Nggak enak ih, masa ke sana tangan kosong gitu."
Dewa tertawa kecil. "Enggak apa-apa. Lagian Dika aja nggak tau kalau kamu udah di Bandung. Dia semalam tanya di grup, dia tanya aku berangkat sama siapa. Aku bilang selain sama Mala, mending sendiri."
"Terus?" cengir Mala, penasaran.
"Ya terus kata Zaki aku tuh ngenes kalau berangkat sendiri. Keliatan banget jones."
Mala tertawa geli mendengarnya. Sejenak Dewa terhenyak dengan tawa Mala yang begitu renyah di dengar, juga amat dia rindukan.
"Aku kangen kamu, kangen banget." Dewa menyentuh telapak tangan Mala. Gadis itu tersenyum mengusap punggung tangan Dewa.
"Aku juga. Kangen banget dengan momen kayak gini, sama kamu." Mala mengukir lengkung di bibir seraya mengecup punggung tangan Dewa. "Maafin aku ya, aku udah mengabaikan kamu selama tiga tahun kemarin."
__ADS_1
"Kamu nggak salah. Ini udah jadi takdir kita. Berpisah mungkin jalan yang terbaik kemarin, meski rasanya tetap tidak mudah," balas Dewa dengan kecupan serupa di punggung tangan Mala.
Mata mereka beradu. Dewa mendekati wajah Mala, tapi Mala menampiknya dengan menutup bibir Dewa menggunakan telapak tangannya.
"Kamu sehari udah cium aku berapa kali? Nggak boleh, nanti ada setan lewat. Ingat sama om Max, dia bisa marah."
Dewa mengerjabkan mata kemudian menyingkirkan tangan Mala di bibirnya.
"Itu kan dulu, waktu kamu masih SMA. Sekarang kamu udah lulus kuliah. Kamu udah dewasa, udah seharusnya diperlakukan seperti layaknya wanita dewasa dong," kilah Dewa.
Mala mengerutkan kening lalu memutar bola matanya. "No. Aku tahu yang ada di pikirin kamu, Kak. Mesum!"
Dewa terkekeh. Rupanya Mala sudah bisa membaca pikirannya. "Iya, enggak. Aku nggak akan macam-macam. Paling cuma satu macam aja, kayak semalam."
Sontak Mala mendorong tubuh Dewa, lalu membuka pintu mobil. "Aku mau masuk, mau ganti baju. Jadi kan ke pesta kak Dika?"
Dewa mengusap wajahnya. Kenapa Mala jadi seperti jinak-jinak merpati sih, batinnya.
"Jadi dong. Kamu dandannya jangan cantik-cantik yah."
"Kenapa?"
"Nanti banyak yang naksir, bahaya."
"Terus? Aku harus jadi jelek gitu?"
"Sayangnya aku kan cantik banget. Mau di apakan pun tetap cantik. Kamu tahu nggak? Aku gelisah tiap malam mikirin kamu. Jangan-jangan udah ada yang pernah sentuh kamu di sini, selain aku." Dewa menunjuk bibir Mala, mengusapnya sekilas.
Mala menahan senyum sambil bertolak pinggang. "Kamu pikir aku cewek apaan! Yang pernah sentuh ini kan cuma kamu!"
"Bohong. Buktinya si anak baru itu pernah sentuh kamu di sini." Sentuh Dewa lagi di bibir Mala, kali ini Dewa menyentuhnya dengan bibirnya. Sontak Mala terkejut.
"Kakak!" sentak Mala memukul dada Dewa. "Kebiasaan ih! Mesum!" Mala berlari masuk ke dalam gerbang rumahnya. Dewa mengejar Mala tapi Mala menyuruhnya berhenti.
"Kakak jangan masuk. Aku kan mau ganti baju. Satu lagi, nggak ada yang pernah cium aku selain kamu. Waktu itu cuma kecelakaan, bukan sengaja dia cium aku. Catat!"
Dewa menampakkan barisan giginya sambil mengangguk. Dia merasakan kelegaan luar biasa. Jujur dia cemburu luar biasa jika benar ada yang mencium Mala selain dirinya.
"Oke, Sayang. Kakak percaya. Jadi, Kakak nggak boleh lihat kamu ganti baju?"
Mala menggeleng cepat. "Nggak boleh! Dasar ih, Kakak mesum!"
"Hahaha." Dewa tertawa memperhatikan Mala yang berlari kecil masuk ke dalam rumahnya.
"Jangan pakai baju seksi ya. Aku nggak akan biarin!"
__ADS_1
"Kenapa? Mala bukan anak kecil lagi. Emang nggak boleh pakai baju seksi?" tanya Mala dengan tatapan jahilnya.
Dewa mengusap dagu terlihat sedang berpikir. "Boleh sih. Tapi hanya di depan Kakak, gimana?"
Mala mencebikkan bibir. "Kenapa gitu?"
"Ya, karena cuman aku yang boleh lihat kamu seksi begitu."
"Ngaco kamu, Kak. Inget, kita belum sah."
Dewa mengusap wajahnya sambil tertawa. "Ya, kita akan segera sah, Baby."
Mala tersenyum tapi tidak berbalik, dia juga tidak menjawab ucapan Dewa. Mana mungkin Mala menggunakan baju seksi, bukan gayanya, batin Mala.
"Mala."
Mala berbalik lalu menemukan Dewa memeluknya dari belakang.
"Makasih, ya."
Mala bingung kenapa Dewa tiba-tiba memeluknya.
"Makasih untuk apa?"
Dewa mengecup bahu Mala dengan perasaan yang tidak dapat dia jelaskan. Intinya dia amat bersyukur karena Mala ada bersamanya seperti sedia kala.
"Untuk segalanya," jawab Dewa.
Mala mengusap punggung telapak tangan Dewa sambil mengulas senyuman kecilnya. "Mala juga senang bisa kembali begini sama kamu, Kak."
Dewa mengangguk. "Iya, aku juga senang sekali."
Mala lalu berbalik dan melepaskan pelukan Dewa. "Udah, ya, Mala mau bersiap dulu."
"Hem, inget ya. Jangan seksi-seksi."
Mala akhirnya menganggukkan kepala. "Tenang aja."
Sambil menyentuh dadanya. Dewa merasakan cintanya kembali utuh. Semula dia merasa hampa, tanpa Mala.
"Aku seneng banget kamu pulang, Mala."
"Mala juga, seneng bisa kembali ke kakak," jawab Mala.
Tidak peduli jika itu terlalu tergesa sekalipun. Intinya dia sangat bersyukur karena cintanya dengan Dewa masih tetap sama. Dia semakin yakin bahwa hanya Dewa yang akan menjadi takdirnya.
__ADS_1
Mala lalu berjalan masuk untuk bergegas pergi ke pesta bersama Dewa. Saat itu Dewa tidak sabar ingin menunjukkan pada sahabatnya bahwa cinta dihatinya memang hanya untuk Mala seorang.