Mala Dewa Love Story

Mala Dewa Love Story
13 : Bucin Kembali


__ADS_3

...Bahagia itu sederhana. Cukup jadi alasan kamu tersenyum. Ya, sesederhana itu. ~MalaDewa...


...****...


"Mala!" seru Vina sambil berlarian mengejar Mala yang hendak memasuki kelas.


"Iya, Vin?"


"Astaga, aku cari kamu dari tadi. Kamu abis ngapain di belakang sekolah?" tanya Vina dengan napas yang masih terengah-engah.


"Eh, Vina ngintip ya?" selidik Mala dengan kedua mata melebar. "Hayo ngaku!"


Vina menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak. Aku cuma itu nggak sengaja lihat."


"Ngintip juga nggak apa-apa." Mala mencebikkan bibirnya pada Vina. "Mala tadi sama kak Dewa."


"Huh. Beneran Mala tadi gue cuma sekilas doang lihat lo sama Bang Dewa di belakang sekolah. Gue pikir itu privasi jadi gue nggak berani ngintipin lo berdua," kata Vina yang tidak tahan menggunakan aku kamu ketika berbicara, berbeda dengan Mala. "Suer deh."


"Nggak ngapa-ngapain kok cuma ngobrol bentar sama kak Dewa. Ya udah ah, Mala mau masuk ya."


"Tunggu dulu, Mala!"


"Apa lagi sih, Vina?"


"Gue juga lihat lo di anterin sama Gilang." Vina berbisik. "Lo nggak jadian sama Gilang juga kan?"


Mala membulatkan matanya. "Gila kali nih Vina! Mana mungkin!" sentak Mala dengan suara meninggi.


Semua teman-teman di dalam kelas termasuk Gilang sampai terkejut. "Eh, maaf ya temen-temen." Mala hanya tertawa canggung.


Vina menutup kupingnya mendengar suara Mala yang melengking tadi. "Astaga lo kecil-kecil tapi suara lo kek terompet dajjal."


"Vinaaaaaa... Suara Mala itu imut, tapi kalau Vina ngomong kayak tadi, suara Mala yang kayak malaikat bisa berubah jadi kayak iblis. Vina udah gila, mana mungkin Mala jadian sama Gilang. Dia itu anak baru, jadi jangan bikin rumor yang nggak bener. Awas loh Vina!"


Vina terkekeh mendengarnya. "Iya iya, sukur deh kalau lo dan dia nggak jadian. Lo tahu nggak? Cilla itu suka sama Gilang," ucapnya sambil berbisik di telinga Mala. "Gue cuma nggak mau nanti Cilla salah paham, gitu Mala."


Mala kaget, karena dia baru tahu kalau temannya yang bernama Cilla menyukai Gilang. "Oh gitu. Mala nggak ada apa-apa kok. Vina sama Cilla kan tahu, kalau Mala cuma suka sama siapa."


"Iya, sama Dewa kan. Makanya tadi itu juga yang bikin gue kaget, Mala. Lo ditarik sama Dewa ke belakang sekolah. Gue kira juga lo sama Dewa berantem karena si Gilang." Vina memelankan suaranya saat menyebut nama Gilang.


"Enggak kok, nggak berantem. Mala cuma diskusi sedikit sama Kak Dewa. Udah ya, Mala hari ini ujian terakhir. Mala masuk dulu,"  ujar Mala.


"Oke deh, gue juga mau balik ke kelas," angguk Vina yang berbeda kelas dengan Mala. Vina dan Cilla mengambil jurusan IPA sedangkan Mala IPS.


Di dalam kelasnya, Mala dengan senyuman berbinar-binar langsung duduk di kursinya. Gilang berjarak agak jauh dari Mala karena kursi mereka di beri jarak lumayan ketika ujian. Dia hanya bisa menebak-nebak apa yang terjadi dengan Mala dan Dewa tadi. Kehadiran Dewa membuat semuanya kacau. Padahal, Gilang yakin kalau Mala akhirnya akan menyukai dia, jika saja Dewa tidak datang untuk mengganggu terus.


"Mala," panggil Gilang dengan suara di pelankan.


Mala berbalik. "Ada apa?"


"Pulang nanti gue anterin lo lagi kan?"

__ADS_1


Mala terdiam sebelum akhirnya menggeleng. "Mala pulang sama kak Dewa."


Lagi-lagi Dewa. Gilang yang tadi sedang memegang pensil dengan perasaan kesal meremasnya sampai pensil itu patah.


"Oke." Gilang hanya tersenyum kecut pada Mala. "Apa dia lagi mempermainkan gue?" gumamnya dengan wajah memerah karena menahan marah.


Mala kembali fokus pada kertas ujiannya. Dia tentu tidak bermaksud mempermainkan Gilang. Dia hanya menepati janjinya kemarin yang membiarkan Gilang mengantarnya ke sekolah. Tapi untuk pulang bareng? Mala tidak mungkin bersama Gilang. Terlebih Vina bilang kalau Cilla temannya menyukai Gilang.


Sepulang sekolah. Mala menunggu kedatangan Dewa. Tapi, bukan Dewa yang datang, melainkan motor Gilang.


"Kok belum pulang?" tanya Gilang sambil membuka kaca helm-nya. "Mana Dewa?"


"Mungkin masih di jalan. Gilang hati-hati ya." Senyuman Mala membuat Gilang enggan menyerah untuk merebut hati gadis itu. Meski ia tidak tahu sedalam apa perasaan Mala terhadap Dewa. Tapi, Gilang ingin terus melihat senyuman Mala itu untuknya seperti sekarang.


"Gilaaaaang..." suara yang tidak asing di telinga Mala. Dia adalah Cilla teman dekat Mala.


"Cilla." Gilang menyebut namanya.


"Kamu pulang sendirian kan! Gue ikut ya," rengek Cilla.


"Kalian saling kenal?" tanya Mala.


Gilang tertegun.


"Eh ada Mala. Lagi nunggu Dewa ya?" sapa Cilla ramah.


"Iya Cilla. Cilla udah kenal dengan Gilang?" tanya Mala penasaran.


Astaga, jadi Cilla menyukai sepupu jauhnya? Batin Mala.


"Oh, pantesan aja kalian kayak akrab," balas Mala. Tak lama kemudian Cilla langsung naik begitu saja ke atas motor Gilang. "Anter gue, kita kan searah."


"Cilla! Gue belum bilang boleh. Kenapa lo malah nangkring gitu aja!" ketus Gilang. "Gue nggak mau anterin lo!" Keduanya pun saling bersitegang.


"Tapi gue mau di anterin lo Gilang!" tegas Cilla.


Mala tertawa melihat tingkah Gilang dan Cilla yang seperti musuh saja. Gilang lagi-lagi memaku memandangi ekspresi dan suara tawa renyah Mala yang membuat dunianya seolah terhenti. "Beautifully."


Cilla terkaget saat mendengar Gilang mengucapkan kalimat itu. "Makasih loh, lo emang nggak buta." 


"Hah?" sentak Gilang sambil menutup helm-nya. Cilla mengira kata beautiful tadi untuk dirinya.


"Gilang, Cilla hati-hati ya." Mala melambaikan tangan. "Gilang jangan ngebut, kasian Cilla."


Gilang mengangguk dan terpaksa membiarkan Cilla sepupunya itu menumpang di motornya.


"Sial!" umpat Gilang kesal, dia langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


"Gilang! Jangan kencang-kencang!"


"Salah siapa lo main nangkring aja! Biar cepat sampe, nggak usah protes!"

__ADS_1


Cilla memeluk Gilang dengan begitu erat. Kedua mata Gilang membulat sempurna melihat lengan Cilla yang melingkar erat di pinggangnya. "Lo jangan pegangan kayak gitu Cilla. Geli gue!"


"Dari pada gue jatuh dodol! Lo tuh kenapa sih! Lo mau biarin gue jatuh terus mati?"


"Terserah lo deh!"


Gilang malas terus berdebat dengan sepupunya itu. Cilla adalah gadis menyebalkan bagi Gilang, selalu saja ingin menempel padanya. Bisa dibilang kepindahan Gilang pun karena sebab Cilla yang merengek meminta agar Gilang di pindahkan ke sekolahnya oleh orang tuanya yang adalah kepala sekolah di SMA mereka.


...*****...


"Kak Dewa mana sih!" decak Mala kesal karena sudah hampir setengah jam dia menunggu Dewa, tapi kakaknya itu belum juga datang.


Suara klakson motor Dewa akhirnya terdengar nyaring di telinga Mala. Dewa sudah berada di depan Mala sekarang sambil membuka kaca helm-nya. "Naik Sayang."


Dewa menyerahkan helm pada Mala dan gadis itu masih terlihat kesal. "Lama banget sih!"


"Kesal?"


Mala melotot sambil memukul lengan Dewa. "Pegel tahu nunggu kamu!"


"Ciyeee, kesel tuh berarti."


"Kak Dewa sengaja ya?"


"Enggak. Tadi ada urusan bentar di kampus. Ini baru selesai, Sayangku. Jangan marah, udah cepetan naik. Kalau cemberut terus nanti kakak cium di depan umum mau?"


"Ih Kakak! Mau ketahuan Om Maxime lagi?"


"Hahaha Daddy lagi ada keperluan ngurus surat apa gitu buat Kak Nayra. Kayaknya bakalan nggak pulang deh."


"Masa?" kenapa bisa berbarengan dengan orang tua Mala yang juga kembali dinas keluar kota. Apakah ini tanda?


"Naik Sayang, kita ke tempat tongkrongan Kakak ya. Zaki sama Dika kangen tuh sama Mala."


"Kak Zaki sama Kak Dika kangen?"


Dewa mengangguk. "Sebentar aja ya. Dari pada mereka bikin kuping kakak budek karena terus tanyain kamu."


"Hmmm, oke deh. Tapi sebentar aja ya. Kak Zaki suka nyebelin, iseng."


"Kalau Zaki macem-macem kan ada Kakak. Tenang aja, oke cantik."


Mala terkekeh lalu memakai helm yang diberikan Dewa.


"Pegangan ya, yang kenceng."


Mala mengangguk dan langsung memeluk punggung Dewa dengan kedua tangan yang melingkar erat di pinggang Dewa.


Dewa mengelus punggung tangan Mala dengan senyuman lebarnya. "Kita jalan ya Sayang. Jangan lupa berdoa."


"Iya," jawab Mala dengan pipi merona.

__ADS_1


__ADS_2