
Dewa membuka matanya. Rupanya ia ketiduran tepat di sisi Mala yang masih terpejam lelap. Jam menunjukkan pukul 22.00 waktu Korea. Orang tua Mala sepertinya belum pulang. Dewa segera bangun, sebelum itu tak lupa ia mengecup kening Mala dengan lembut.
Tak mungkin tidur bersama. Dewa keluar dari kamar Mala. Matanya begitu segar, ia sudah tidak mengantuk lagi. Sambil mengedarkan pandangan ke setiap penjuru rumah Mala. Dia memilih pergi ke teras untuk merasakan udara malam yang dingin di Seoul.
Mengapa sampai saat ini Dewa masih saja memikirkan tentang mantan kekasihnya, Alyra. Masih terkejut, tidak menyangka dan bertanya-tanya.
"Kenapa dia ada di Korea? Pindah dari Jakarta?" gumamnya sambil berpikir. "Gimana kalau dia cerita ke Mala tentang yang dulu." Mendadak Dewa merasa cemas.
Meskipun begitu dia yakin Mala tidak akan salah paham. Bagaimana pun juga itu hanyalah bagian dari masa lalunya. Suka tidak suka, mau tidak mau, setiap orang pasti memiliki masa lalu. Entah itu masa lalu yang seperti apa, baik ataukah buruk. Intinya itu hanyalah sebuah sejarah dalam hidup Dewa.
Karena bosan. Dewa memilih mendengarkan lagu dari ponselnya. Saat itu sebuah lagu Korea terdengar mengalun di telinganya. Sejak kapan dia menyimpan lagu seperti itu di ponselnya? Ini pasti Mala. Gadis itu pasti yang telah memasukkan lagu-lagu mellow tersebut di dalam daftar musik miliknya.
Dewa tersenyum kecil. "Mala."
Memikirkan gadis itu hanya akan membuat Dewa terus tersenyum sendirian. Mala yang membawanya kembali memeluk rasa cinta. Sebelumnya Dewa merasa cinta itu hanyalah kebohongan belaka. Tidak ada cinta. Berpacaran hanyalah sebuah status semata. Seperti yang dia rasakan saat bersama dengan Alyra dulu. Ketika hatinya memberikan cinta yang tulus. Rupanya balasannya tidak sama untuknya. Lyra malah menipunya.
Namun semua karena Mala. Dewa merasakan ketulusan dari seorang gadis kecil yang kesepian. Gadis yang belum lama kehilangan saudarinya yang meninggal karena suatu penyakit. Mala yang murung, berubah menjadi ceria saat mengenalnya. Walaupun awalnya Dewa merasa Mala adalah gadis yang menganggu, tapi nyatanya gadis pengganggu itulah yang berhasil membuat hatinya kembali merasakan cinta.
Keesokan harinya.
"Kak Dewa!" decak Mala yang terkaget saat melihat Dewa tidak ada di sisinya. Seingatnya, semalam Dewa tidur di sampingnya. Lalu sekarang kemana Dewa-nya?
Mala bergegas bangun keluar dari kamarnya.
"Morning," sapa Dewa yang ternyata baru saja akan mengetuk pintu kamar Mala. Tapi gadis itu sudah lebih dulu keluar dari kamarnya dengan wajah melongo melihat Dewa di depannya.
"Kakak! Kirain Kakak kemana!" Mala mencebikkan bibirnya sambil mengelus dadanya. "Mala cari Kakak."
Dewa terkekeh. "Kakak baru aja mau bangunin kamu. Eh, kamu udah bangun duluan. Sarapan yuk!"
"Mala belum mandi," jawab Mala sambil menggeleng. "Mandi dulu ya, nggak lama."
Brug
Suara Mala menutup pintu kamarnya cepat. Dewa menggelengkan kepala sambil menggaruk sebelah alisnya. "Mala Mala."
Di ruang makan, orang tua Mala sudah menunggu Mala turun.
"Mala kok nggak turun, Wa? Apa dia masih sakit?"
"Mala mandi dulu katanya, Tan."
"Ah, Tante kira Mala masih sakit. Maaf ya semalem Tante pulang nggak bangunin kamu di kamar Mala. Tante nggak tega bangunin kamu dan Mala pules banget," ucap Delia.
Dewa tersedak kopi yang baru saja ia sesap sedikit dari cangkirnya.
"Pelan-pelan, Wa." Ayah Mala memberikan tisu kepada Dewa sambil terkekeh pelan. "Nggak apa-apa, kita tahu kamu jagain Mala."
__ADS_1
Dewa benar-benar tidak tahu kalau semalam orang tua Mala sudah pulang. Bahkan saat dia keluar dari kamar Mala saja kondisi rumah sangat sepi. Memang sih Dewa tidak sampai memperhatikan mobil yang terparkir di garasi. Saat itu Dewa sangat malu karena terpergok tidur bersama Mala. Kalau saja Maxime yang memergokinya pasti daddy-nya itu sudah memarahinya habis-habisan.
"Maaf Tante, Om. Semalam jam 22.00 itu Dewa bangun keluar dari kamar Mala. Beneran semalam itu ketiduran, nggak di sengaja. Dewa nggak tahu kalau Tante dan Om udah pulang," terang Dewa pada kedua orang tua Mala.
Delia dan Mahendra mengangguk bersama. "Kita tahu kok, kita juga nggak masalah. Tante dan Om udah percaya banget sama kamu, Wa," tukas Mahendra, ayah Mala.
Dewa kembali menyeruput kopi miliknya. Saat itu Mala akhirnya turun dan menyapa semuanya yang ada di meja makan.
"Morning All." Mala mengulum senyum dan langsung duduk di samping Dewa. Hatinya sangat berbunga saat ini. Berada di samping Dewa untuk sarapan bersama. Rasanya seperti mimpi indahnya menjadi nyata. Tentu semenjak dia di Korea, itu berubah jadi mimpi. Tidak seperti saat Mala masih bertetangga dengan Dewa di Bandung.
"Morning." Delia dan Mahendra merasa bahagia melihat putrinya kembali ceria. Senyuman lebar yang begitu di rindukan mereka, putrinya itu belakangan hanya terus murung dan tidak bergairah sama sekali.
"Morning, Mala." Dewa ikut tersenyum lalu menyerahkan segelas susu hangat untuk Mala.
"Minum," titah Dewa. Mala mengambil gelas tersebut dan langsung meminumnya.
"Makasih, Kak."
Dewa mengangguk. "Kamu mau sandwich atau sosis?"
"Apa aja," jawab Mala.
Dewa mengambil sandwich dan memberikannya pada Mala. Gadis itu langsung memakan sandwich pemberian Dewa.
Orang tua Mala merasakan perbedaan yang sangat signifikan saat Mala berada di samping Dewa. Putrinya itu sangat menuruti apa yang dikatakan Dewa. Lalu bagaimana jika keduanya di pisahkan lagi nanti?
"Iya Sayang. Bunda senang banget lihatnya. Mala mau makan, terus Mala mau tersenyum ceria lagi. Bunda jadi nggak tega memisahkan kalian nanti. Kamu lihat Wa, Maka beneran butuh kamu," tutur Delia.
"Iya. Tapi Max tidak setuju kalau kita menikahkan Mala dengan Dewa dalam waktu dekat, Bun," timpal Mahendra.
"Apa?" kaget Mala sampai-sampai ia terbatuk. Dewa mengambil segelas air dan memberikannya pada Mala. "Pelan-pelan."
Mala meneguk habis air di dalam gelas itu. "Ayah bilang mau nikahin Mala dan Kak Dewa?"
Dewa hendak meminum kopi di gelasnya, tapi ternyata gelasnya sudah kosong. Ia pun tidak jadi meminumnya, hanya melihat Mala yang sedang kaget.
"Iya. Tapi om Maxime nggak mengizinkan," jawab Mahendra.
"Kamu kaget gitu." Bunda Mala mengambil tisu lalu mengelap mulut putrinya. "Itukan rencana ayah. Tapi tidak di setujui om Maxime. Katanya kamu masih terlalu muda," tambah Delia.
Dewa tersenyum sambil mengusap puncak kepala Mala. "Sabar," ucapnya.
Mala menghela napas panjang. Seandainya Maxime setuju, pasti akan sangat bagus jika mereka segera menikah.
"Iya. Padahal Mala udah seneng. Menikah kan nggak harus nunggu tua," celetuk Mala polos.
Dewa terkekeh sambil mencubit pipi Mala. Begitu juga Mahendra dan Delia yang tertawa mendengar ucapan Mala.
__ADS_1
"Daddy mau kamu kuliah dulu sampai lulus," terang Dewa.
"Menikah dulu terus kuliah lagi, juga nggak masalah kan?" sahut Mala.
Delia dan Mahendra juga berpikir demikian. Tapi apa boleh buat. Orang tua Mala sangat menghormati pendapat Maxime. Diantara mereka Maxime adalah yang paling berpengalaman dan juga sangat matang dalam mengambil sebuah keputusan.
"Daddy pasti punya pertimbangan lebih. Kamu jangan memikirkan itu, lagipula Kakak masih di sini kan? Jangan sedih ya, kamu harus semangat." Dewa mengusap punggung tangan Mala. Gadis itu mengangguk pelan.
Selama di Korea Dewa akan menemani Mala. Memastikan sampai Maka benar-benar sembuh dan sudah merasa lebih baik untuk ditinggalkan sementara oleh Dewa. Setidaknya satu minggu sebelum akhirnya Dewa harus kembali ke Indonesia.
****
Sudah satu minggu Dewa berada di Korea menemani Mala sampai gadis itu benar-benar sembuh. Hari-hari Mala kembali ceria. Keberadaan Dewa sangat mempengaruhi itu. Dan waktu berjalan terlalu cepat. Dewa hari ini harus kembali ke Indonesia.
"Sayang. Kamu kok sedih sih?" ucap Dewa sambil mengecup punggung tangan Mala.
"Aku nggak mau Kakak ke Indo!" tegas Mala dengan suara bergetar. Sedikit lagi Mala pasti akan menangis.
"Sayang, lihat Kakak. Kamu janji kan nggak akan sedih? Tiga bulan sekali, Kakak akan jenguk kamu. Bahkan liburan semester kamu juga bisa ke Indonesia kan?"
Mala memalingkan wajahnya lalu melepas genggaman tangan Dewa.
"Mala nggak mau. Itu terlalu lama," ucapnya.
Tentu itu pun sama dirasakan Dewa. Tapi ini adalah proses yang harus dilalui keduanya. Mala dan Dewa tidak bisa menolaknya.
"Sabar. Ini adalah sebuah proses. Kamu pasti bisa, Kakak yakin. Ini juga berat buat Kakak. Tapi Kakak harus melakukannya. Demi kamu juga, demi kita."
Mala menangis, lalu ia memeluk tubuh Dewa dengan sangat erat. Dewa membalas pelukan itu.
"All is well."
Dewa menepuk pelan punggung Mala. "Semua baik-baik aja. Jangan sedih yah," ucapnya.
Mala mengangguk. "Mala bakalan kangen pelukan Kakak."
"Nanti Kakak akan peluk Mala terus menerus kalau kita ketemu. Kakak janji."
Mala mengangguk lagi. "Mala bakalan kangen ciuman Kakak."
Dewa melepas pelukannya. Kemudian kedua telapak tangannya mengapit pipi Mala. Dikecupnya kening, hidung, juga kedua pipi Mala dengan lembut.
"Kakak akan kasih ciuman yang lebih banyak nanti," tegasnya dengan satu kecupan sekilas di bibir Mala.
Hal itu membuat Mala gemas. Ia langsung menarik tubuh Dewa dan mencium bibir Dewa di depan orang-orang yang ada di airport. Dewa terkejut.
"Mala sayang Kakak."
__ADS_1