
"Mala!" Dewa berlari mengejar Mala yang berpamitan untuk pulang.
"Mala! Jangan lari, Sayang." Dewa terus mengejar Mala, sampai-sampai kakinya menyandung sebuah pembatas jalan hingga ia mengaduh kesakitan.
"Argh!" pekiknya. "Sial!"
Mala berbalik, ia segera berlari menuju Dewa.
"Kakak nggak apa-apa kan? Mana yang sakit?" tanyanya sambil memegangi lutut Dewa. Terlihat baik-baik saja, syukurlah.
Dewa langsung memeluk Mala dengan erat. "Jangan pergi. Jangan lari kayak gitu. Nanti kalau kamu jatuh gimana, sakit. Terus jangan cemburu, maafin aku untuk yang tadi."
Mala tidak menangis, dia hanya kaget melihat pemandangan tadi. Mala juga tidak marah, dia percaya pada Dewa.
Hanya saja Mala bingung, kenapa wanita tadi langsung mencium Dewa begitu saja.
Siapa sebenarnya dia?
"Mala cuma nggak betah di sana. Mala nggak suka lihat cewek tadi yang tiba-tiba cium kamu," sahut Mala dengan santai sambil menatap mata Dewa.
"Iya. Dia itu Kristal mantan sekertaris aku. Dia memang begitu, terlalu agresif dengan siapapun terutama aku," kata Dewa.
Mala lalu tertunduk. "Oh gitu."
"Aku juga nggak tahu kenapa, tapi aku berusaha menjauh, dengan cara memindahkan dia ke perusahaan lain," terang Dewa.
Rupanya begitu. Jadi kepindahan Kristal adalah inisiatif Dewa. Mala menghela napas lega setelah mendengarnya.
"Maaf ya. Mala pergi gitu aja. Mala tadi kesal. Benar-benar kesal banget," ujarnya pada Dewa.
Keduanya saling memandang. Dewa mengusap pipi Mala sambil menatap lekat kedua bola Mata Mala. "Untung kamu nggak nangis. Kalau kamu nangis, aku pastikan Kristal membayar air mata kamu itu."
Mala tersenyum.
"Ngapain Mala nangis."
Mala mengusap pipi Dewa tepat di bagian yang tadi di sentuh oleh bibir Kristal. "Dia cium kamu di sini, kan?"
"Lupakan." Dewa menggeleng.
Mala mencium pipi Dewa berulang-ulang hingga suara kecupannya terdengar jelas. "Aku udah cium tiga kali. Udah hilang belum ya?"
Dewa tak dapat menahan senyumnya, bahkan dia tertawa. "Coba cium lagi, untuk memastikan," jawabnya.
Mala mengangguk dan mencium lagi pipi Dewa, tapi bukannya di pipi, Dewa malah menyerobot bibir Mala. Tentu saja Mala terkejut langsung mendorong tubuh Dewa.
"Ini di jalan!" Mala menutupi bibirnya langsung berlari menuju tempat parkiran.
__ADS_1
"Oke, di mobil ya." Dewa ikut berlari, mengejar Mala. Gadis itu terkekeh sambil terus berlari dan menghindar ketika Dewa hendak meraihnya.
"Udah ah, capek. Mala sampai ngos-ngosan gini," kata Mala sambil memegangi perutnya. "Mala laper Kak."
"Astaga. Kamu belum makan ya, Sayang?"
Mala mengangguk. "Belum sempat makan. Mala sekarang laper banget."
"Kita makan ya. Mau makan di mana?"
"Di rumah Kakak."
"Di rumah Kakak? Yakin?"
Mala mengangguk. "Mala kangen di rumah Kakak."
"Oke deh. Kita pulang yah."
****
Dewa merasa lega, tadi dia berpikir Mala pasti akan marah, merajuk, atau mungkin menangis. Rupanya Mala yang sekarang sedikit berbeda dari Mala yang dulu dia kenal. Mala yang sekarang jauh lebih dewasa, sabar, dan kuat dari yang sebelumnya.
"Kamu mau aku masakin apa?" tanya Dewa. Mala tentu tidak lupa, bahwa masakan Dewa tiada duanya. Pria itu pandai memasak, idaman sekali.
"Aku mau pasta." Mala melukis seutas senyum. "Nggak pakai—"
Mala tertawa sembari mengangguk. "Aku kira Kakak lupa."
"Mana mungkin, aku selalu ingat apa yang jadi kesukaan kamu. Tapi kadang aku lupa apa yang kamu nggak sukai. Maaf ya."
Mala mengusap punggung tangan Dewa, halus. "Jangan merasa bersalah. Aku tahu cewek jaman sekarang suka main serobot aja. Aku percaya kamu, asalkan kamu tegas sama dia. Kamu nggak boleh genit."
"Aku tuh maunya genit sama kamu aja, suer!" kata Dewa sambil mengangkat dua jarinya.
Lagi-lagi Mala mengangguk. "Iya, genit sama aku. Tapi, jangan kelewat batas. Aku nggak mau kamu kena marah om Maxime lagi. By the way aku kangen sama Om Max dan Tante Nayra. Aku juga belum pernah bertemu keponakan kamu, si kembar. Siapa namanya?"
"Alan dan Alana."
"Ih pasti mereka ganteng dan cantik deh. Namanya bagus." Mala tersenyum.
"Kamu mau punya anak kembar juga?" sahut Dewa sambil berdehem.
Mala mengerutkan kening. "Kok jadi aku. Aku mah nikah aja belum."
"Yaudah. Gimana kalau lusa kita ke Jakarta. Aku mau ngomong sama Daddy dan Mami. Kita nikah aja?"
"Hah?"
__ADS_1
"Kenapa? Kamu nggak mau nikah sama aku? Kamu lupa, bukannya waktu itu kamu pengen kita cepet nikah? Sekarang kamu udah lulus kuliah." Dewa menghentikan mobilnya. Mereka sudah sampai di depan rumah mereka.
"Hm, aku mau nikah sama kamu, Kak. Tapi, apa aku udah pantas bersanding dengan kamu?" mendadak Mala kembali merasa ragu dengan dirinya.
"Sayang. Nggak ada yang lebih pantas selain kamu. Aku pun hanya mau menikahi kamu. Sampai kapan aku nunggu, bagiku cuma itu tujuan hidup aku yang belum tercapai saat ini. Menikah dengan kamu."
"Mala juga, Kak. Cita-cita Mala kan pengen jadi istri Kakak. Masih sama, belum berubah." Senyum Mala samar.
"Terus? Kenapa kamu ragu, hm?"
Mala menggeleng. "Aku bukannya ragu. Di sekeliling kamu banyak wanita yang hebat. Sedangkan aku, aku aja baru mulai kerja. Aku belum bisa jadi istri yang membanggakan kamu, Kak."
Sambil menghela napas panjang. Dewa mengusap puncak kepala Mala. "Sayang. Nggak perlu jadi hebat untuk jadi istri Kakak. Syaratnya cuma satu, tahu nggak apa?"
"Apa?"
"Kamu. Syarat mutlaknya itu adalah kamu. Karena aku cuma akan menikahi kamu, Mala."
Padahal Dewa tahu bahwa Mala sudah bekerja keras sejauh ini. Di Korea Mala mendapatkan segudang prestasi. Dia tahu itu dari orang tua Mala. Mungkin Mala tidak tahu bahwa diam-diam Dewa sering bertanya pada ayah dan bundanya. Dewa selalu bangga setiap apa pun yang dicapai oleh Mala. Baginya Mala adalah wanita yang hebat.
"Tapi Kak ...."
"Mala, Kakak tahu kamu udah berusaha sebisa kamu. Kamu juga harus tahu, Kakak bangga sama kamu," kata Dewa lalu mengecup kening Mala.
Kedua mata Mala berkaca-kaca. Dia tidak dapat menahan tangisnya. Kalau sudah begitu, Mala tidak dapat berkata-kata lagi. Dia hanya mengangguk dengan perasaan terharu.
"Oke. Aku mau menikah dengan kamu."
"Gitu dong. Aku udah lamar kamu secara pribadi. Tinggal lamaran yang formalnya aja, menyusul oke. Kamu tunggu aja," ujar Dewa santai.
"Apapun cara kamu, aku suka," jawab Mala, makin membuat Dewa tersenyum.
Dewa mengecup punggung telapak tangan Mala. "Kita masuk ya. Kamu laper kan?"
"Iya, laper banget."
Mereka pun turun. Lalu keduanya masuk ke dalam rumah Dewa.
"Kamu tunggu ya. Aku mau ganti baju sebentar," kata Dewa.
"Mala juga mau ganti baju. Mala boleh pinjam baju Kakak?"
Dewa mengusap wajahnya sambil menggigit ujung kukunya. "Gimana yah. Kalau kamu pakai baju aku tuh, auto pikiranku traveling sumpah."
"Kok gitu?" sahut Mala heran. Apa hubungannya, pikirnya. Satu hal yang masih sama, yaitu kepolosan Mala. Itu sama sekali belum berubah meski dia lebih dewasa dalam beberapa hal.
"Kamu kalau pakai baju Kakak tuh jadi seksi banget kelihatannya, gemes, pengen aku terkam. Tapi kan belum boleh. Gimana dong?"
__ADS_1
"Kakak! Ih mesum banget sih!"