
Hari ini adalah hari kelulusan Nirmala. Dewa sudah bersiap untuk datang ke acara wisuda Mala. Saat itu Dewa berusaha untuk menguatkan dirinya setelah keduanya memutuskan untuk saling merelakan.
Ya. Dewa berhasil meyakinkan Mala untuk tetap pergi ke Korea. Mala awalnya masih menolak dengan tegas, bahkan gadis itu menangis dan meraung seperti anak kecil. Tapi, bukan Dewa kalau tidak dapat meluluhkan hati Mala. Dia sepakat untuk menjenguk Mala ketika Mala liburan semester, meski itu tak cukup buat Mala. Tapi, satu hal yang dijanjikan Dewa dan itu sangat ditunggu oleh Mala.
Aku akan melamar kamu setelah kamu lulus kuliah.
Mala memeluk Dewa dengan erat, saat itu ia tahu bahwa ia tak bisa terus seperti ini. Memaksa Dewa menahan dirinya tetap di Bandung. Sementara orang tuanya menetap di Korea untuk keperluan penting. Mala mencoba menahan egonya sendiri, dan ia ingin menjadi yang terbaik buat Dewa.
Aku melakukan ini karena aku mau menjadi cewek yang pintar, yang sukses untuk kak Dewa.
"Dewa? Udah mau dimulai acaranya loh. Ayo kita berangkat."
"Iya, Mam. Sebentar."
Dewa merapikan kemejanya, tak lupa ia membawa kotak kecil sebagai hadiah kelulusan untuk Mala, sengaja ia persiapkan khusus untuk kekasih hatinya. Seikat bunga juga tak lupa ia siapkan untuk gadis kecilnya yang sudah beranjak dewasa.
"Lo bisa Wa! Demi Mala, demi hubungan lo dan dia ke depannya!"
Dewa pun berangkat ke tempat wisuda Mala bersama dengan Nayra dan Maxime.
"Selamat ya." Dewa menyerahkan bunga untuk Mala yang baru saja memeluk bunda dan ayahnya, lalu menyusul memeluk Maxime dan Nayra.
"Makasih, Kak." Mala mengambil seikat bunga pemberian Dewa.
Dewa tersenyum sambil mengusap puncak kepala Mala. "Kakak bangga sama Mala. Bisa masuk sepuluh besar. Mala pinter," pujinya.
"Itukan karena di ajarin Kak Dewa." Saat itu kedua mata Mala berkaca-kaca. Bibirnya bergetar pertanda ia akan segera menangis. "Mala boleh kan peluk Kakak?"
Max hanya tersenyum lalu menepuk bahu anaknya. "Daddy duluan ya. Kamu antar Mala pulang," ucapnya.
Mereka pun berpamitan pada Dewa dan Mala. Seolah memahami bahwa Mala butuh waktu berdua dengan Dewa.
Mala menundukkan kepalanya, ia berusaha menyembunyikan matanya yang basah. Dewa mengangkat dagu Mala dan berhasil membuat kedua mata berair Mala terlihat jelas telah tumpah membasahi pipinya.
"Jangan nangis." Dewa memeluk Mala yang akhirnya tidak dapat menahan air matanya lagi. "Jangan sedih, kita udah sepakat kan?"
"Mala masih mau sama Kakak. Nggak mau pisah sekarang."
"Sayang, lihat Kakak? Kamu pasti bisa, meski berat dan itu juga Kakak rasakan. Tapi, kamu udah janji sama Kakak untuk jadi cewek yang kuat kan?"
Mala menatap Dewa dengan wajah sendu. Tapi, benar kata Dewa. "Iya, Mala janji akan jadi wanita yang pantas buat Kakak."
__ADS_1
"Mala udah lebih dari pantas. Kakak yang belum cukup baik buat Mala. Tapi, itu semua bukan berarti kita nggak bisa bersama? Iya kan?"
Mala kembali memeluk Dewa dengan erat. "I love you, Kak."
Dewa ingin menangis tapi dia tidak pernah menangis sebelumnya. Cowok nggak boleh nangis, batinnya. "Love you too, Mala."
Di tempat lain Gilang sedang memandangi Mala dan Dewa yang berpelukan. "Huh, apa gue nggak ada kesempatan?"
"Kesempatan apa?" tanya Cilla yang tiba-tiba saja ada di samping Gilang.
"Anjir lo ngagetin gue, Cilla!"
"Dih, lo liatin apaan sih sampe gitu banget? Wah wah, lo liatin Mala ya? Lo jangan ngerep, cinta mati Mala itu cuma buat Dewa."
"Siapa juga yang liatin Mala! Gue liat muka lo nih sekarang!"
Cilla tersipu saat Gilang mengatakan hal itu padanya. "Balik nggak lo!" sentak Gilang.
"Iyalah."
"Mau bareng?" tawar Gilang. Gadis itu langsung mengiyakan dengan cepat. "Mau!"
*****
"Kakak mau ajak Mala kemana?" tanya Mala yang penasaran. Dewa memintanya menutup mata, dan baru boleh membukanya setelah mereka sampai.
"Nanti juga kamu akan tahu," jawab Dewa.
Mala terus menggenggam tangan Dewa sejak tadi mereka turun dari mobil, dia tidak ingin melepaskan tangan Dewa barang sedetikpun.
"Oke, udah sampai. Nantinya tempat ini akan jadi basecamp kita berdua. Kita bakalan ketemu lagi di sini, tepat saat kamu liburan semester awal." Dewa membuka penutup mata Mala. Gadis itu perlahan-lahan membuka matanya.
"Wow." Mala menatap takjub tempat yang begitu indah di depan matanya. Sebuah taman yang memiliki rumah pohon dengan hiasan lampu-lampu kecil yang gemerlap berwarna-warni.
"Bagus banget, Kak." Senyuman Mala pasti akan dirindukan Dewa. Saat ini ia merasa sedih, sangat sedih. Kebersamaan ini takkan berlangsung lama, karena besok Mala-nya akan pergi meninggalkan dia untuk sementara waktu.
Angin malam berhembus, dinginnya membelai kulit Mala yang begitu lembut. Dewa melepaskan jaket jeans yang sedang ia pakai, lalu memakaikannya pada Mala.
"Aku nggak mau kamu kedinginan."
Mala mendongak pada Dewa, lalu menyentuh kedua pipi lelaki yang paling disayanginya itu. "Kakak tahu nggak? Dulu tiap malam aku selalu berdoa. Semoga Tuhan mengirimkan orang yang begitu sayang dan tulus terhadap Mala, selalu membuat Mala tersenyum, bisa membuat Mala tidak merasa sendirian."
__ADS_1
Mata Mala berbinar. Saat itu Dewa langsung memeluk tubuh kecil Nirmala. "Terus? Doa kamu udah dikabulkan Tuhan belum?"
Mala mengangguk. "Kakak yang Tuhan kirimkan buat Mala. Karena itu Mala nggak mau jauh dari Kakak. Tapi, Mala yakin ini nggak akan membuat kita benar terpisah. Hanya jarak, meski berat akan Mala coba untuk bertahan sekuat tenaga."
Desir angin membuat rambut Mala yang halus mengenai wajah Dewa. Harumnya masih dan akan terus melekat diingatannya. "Kakak nggak akan kemana-mana. Kakak akan selalu ada di hati Mala."
Keduanya melepaskan pelukan tersebut. Dewa mengambil kotak kecil yang ada di kantong celananya lalu memberikannya pada Mala.
"Ini apa, Kak?" tanya Mala sambil menqtap kotak berwarna merah muda yang ada di tangannya sekarang.
"Buka aja," jawab Dewa. "Buat Mala, supaya Mala selalu ingat Kakak."
"Mala akan tetap ingat Kakak. Walau Kakak nggak mengingat Mala sekalipun."
Dewa mengapit kedua pipi Mala hingga pipi gadis itu membulat lucu. "Mana mungkin sih, Kakak akan ingat kamu, meski otak Kakak kebentur sekalipun."
"Kakak! Ngomongnya kok gitu sih!" sentak Mala. "Kalau malaikat catat gimana, aku nggak mau otak Kakak kebentur!"
"Iya iya," kekeh Dewa. "Maaf yah, udah kamu cepetan buka." Dewa menunggu saat Mala membuka kotak itu, dia harap Mala menyukainya.
Mala membuka kotak itu, di dalamnya ternyata adalah sebuah gelang bertuliskan 'MalaDewa'
"MalaDewa?" senyum Mala melingkar lebar. "Mala untuk Dewa." Keduanya saling melempar senyum.
"Supaya kamu ingat kalau Mala hanya untuk Dewa," ujar Dewa.
Sambil memegang gelang tersebut, Mala kembali memeluk erat tubuh Dewa. "Janji ya, enam bulan lagi kita ketemu di sini," ucap Mala.
"Kamu nggak mau Kakak yang ke Korea?"
Mala menggeleng. "Mala suka di Bandung."
"Tapi, Kakak juga mau temui kak Natasha yang ada di Korea. Sekalian ketemu kamu," ucap Dewa.
"Beneran? Kapan?"
"Beberapa bulan lagi, biar jadi kejutan. Kakak nggak mau bilang kapan tepatnya."
Mala mencebikkan bibirnya. "Ih kok rahasia-rahasiaan sih!"
Dewa mengecup kening Mala. "Biar tambah terasa kangennya. Kita tabung dulu rasa kangen sampai memenuhi ruang rindu menjadi celengan rindu kalau kata lagu. Setelah ketemu baru deh kita buka celengan rindu itu bareng," tuturnya masih memeluk Mala, enggan melepaskan pelukan itu.
__ADS_1
Mala tersenyum dengan air mata yang menetes jatuh di pipinya tanpa dia sengaja. "Aku pasti kangen banget," ucapnya meski terasa berat, keduanya tetap harus berpisah untuk sementara waktu.