Mala Dewa Love Story

Mala Dewa Love Story
33 : Dia Cinta Matinya Dewa


__ADS_3

Dewa sudah bersiap dengan setelan kemeja dan jas yang rapih. Tadinya Dewa pikir dia akan berangkat sendiri ke pesta pertunangan sahabatnya, Dika. Tentu rasanya amat bahagia, dia bisa datang bersama gadis yang paling dicintainya, Nirmala.


Seutas senyum tak pudar menghiasi bibirnya. Dewa memperbaiki tuxedo dilehernya, lalu berbalik dari cermin menuju ke luar rumah menjemput Mala, tetangganya.


Mala pun sudah siap dengan tampilan yang natural. Meski usianya 20 tahun, tetap saja gaya yang digunakan Mala tidak banyak berubah, dia tetap Mala manis yang lebih suka tampil apa adanya, minimalis.


"Kayak anak kecil nggak sih?" gumam Mala di hadapan cermin sambil memperhatikan penampilannya sendiri.


Melihat pantulan dirinya sendiri membuatnya teringat sosok wanita yang pernah mengantar Dewa pulang dalam keadaan mabuk. Wanita dengan high heels merah, dia terlihat seksi dan cantik.


Mendadak Mala kembali insecure dengan dirinya sendiri. Apakah Dewa menyukai wanita yang seksi seperti itu?


Saat dia sedang tertegun. Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya.


"Sayang. Kamu udah siap?"


Rupanya itu suara Dewa yang sudah menjemputnya.


"Iya sebentar," sahut Mala dari dalam kamar.


Mala pun membuka pintu lalu terkejut saat melihat penampilan Dewa. Pria di hadapannya saat ini begitu tampan, dewasa dan keren. Mala sampai pangling.


"Cantik banget sih sayangnya aku. Uh, gemesin..." Dewa mencium kedua pipi Mala bergantian.


Mala memegangi pipinya sambil tersipu. "Kamu cium aku kayak gitu kayak aku tuh adik kamu aja. Aku kayak anak kecil ya! Kamu beda banget. Pasti banyak yang naksir sama kamu nanti," rungutnya sambil mengerucutkan bibir.


Dewa menaikkan sebelah alis, heran. "Kenapa kamu ngomong gitu, hm? Kamu memang lucu, imut, itu kan ciri khas Mala-nya aku."


Mala menggeleng. "Aku maunya jadi wanita dewasa, yang seksi."


Dewa tertawa mendengar ucapan Mala. "Sayang, kamu seksi di depan aku aja. Kalau mau keluar rumah gini jangan seksi-seksi. Gini aja udah bikin aku merinding, pengennya cepet halalin kamu."


Mala terkekeh lalu memukul lengan Dewa. "Gombal!"


"Beneran sweety. Masa aku gombal. Apalagi kamu seksi-seksi segala. Bikin aku mau cepet jadikan kamu ibu dari anak-anakku yang udah kayak personil boyband Korea, 12 anak, rame."


Bukan hanya tertawa, Mala sampai sakit perut mendengar bualan Dewa barusan.


"Udah ah, aku sakit perut ketawa terus!"


"Gitu dong ketawa. Kamu tuh tambah cantik banget kalau ketawa gitu. Kalau cemberut kayak tadi bikin iman aku makin tipis." Dewa menggandeng tangan Mala.


Mala mengernyit. "Kok bisa iman kamu jadi tipis kalau lihat aku cemberut?"


Dewa mendekat ke telinga Mala. "Karena bawaannya pengen gigit bibir kamu," desahnya membuat Mala merinding.


"Kakak mesum!"


Dewa terkekeh lalu mencium pipi Mala lagi. "Kita berangkat, pasti Dika kaget lihat kamu,"


Mala mengangguk. "Aku kangen Kak Dika."


"Kangen? Ngapain kamu kangen sama cucunguk itu!"


"Ih kamu kok gitu sih, Kak. Dia itu kan sahabat kamu."


"Iya tapi nggak usah kangenin dia. Kamu cuma boleh kangenin aku!"


Mendadak Dewa kembali posesif, tapi Mala menyukai itu, saat Dewa mulai posesif.


"Kamu seksi kalau posesif." Mala membisikkan itu di telinga Dewa kemudian masuk ke dalam mobil.


Dewa bergidik merasakan udara hangat bisikan Mala masuk ke telinganya. "Astaga. Cobaan apa lagi ini."


Mala terkekeh di dalam mobil dengan pipi yang memerah. Dewa pun ikut masuk lalu memakai safety belt. Mala menyentuh lengan Dewa. "Kak."


"Ya, calon istriku." Dewa menatap mata Mala dengan tatapan ingin memburu gadis itu secepatnya. Mala sampai salah tingkah di tatap seperti itu oleh Dewa.

__ADS_1


"Jangan liatin aku kayak gitu dong, aku malu." Mala menutup wajahnya tak ingin melihat tatapan Dewa yang membuat jantungnya dag dig dug.


"Iya iya. Kamu mau apa Sayang?"


Mala membuka matanya. "Pakaikan aku sabuk pengaman."


"Mau banget aku pakein?"


Mala mengangguk. "Iya,"


Dewa tersenyum lalu menarik sabuk pengaman dan mulai memakaikannya ke Mala. Keduanya saling menatap lekat. Waktu seolah terhenti membuat mereka saling terperangkap dalam tatapan yang membuai.


Tadinya Dewa tidak berniat mencium Mala, tapi dengan posisi seperti itu membuat keinginan itu muncul sendiri. Dewa akhirnya menempelkan bibirnya pada bibir Mala. Tidak seperti sebelumnya, Mala kali ini tidak melawan. Gadis itu malah memperdalam ciumannya. Dewa tersentak saat ciuman Mala jauh lebih lihai sekarang.


Napas keduanya terengah-engah di sela ciuman itu. Dewa mengusap sebelah pipi Mala dengan sayang. "Udah pinter ciuman?"


Mala tersipu lalu menyentuh pipi Dewa. "Jangan pernah menatap wanita lain kayak tadi kamu menatap aku. Janji?"


Pria itu mengangguk. "Tentu, cuma kamu."


Mala tersenyum mengecup lagi sekilas bibir Dewa. "Makasih, Sayang."


"Sama-sama. Kamu juga ya, janji?"


"Iya Sayang, aku janji," angguk Mala.


Dewa pun merasa lega lalu mulai menyalakan mesin mobilnya.


****


Lokasi pertunangan


Dewa membukakan pintu mobilnya, Mala pun langsung keluar menerima uluran tangan Dewa. Saat ini mereka sudah sampai di lokasi pertunangan Dika.


Sejak tadi Dewa tidak melepas gandengan tangannya pada gadis kesayangannya. Beberapa tamu undangan memberi salam pada Dewa, terkejut saat melihat Dewa datang bersama seorang gadis.


Suara itu. Mala merasa tidak asing. "Kak Zaki!" tengoknya dan benar, itu suara Zaki, sahabat Dewa.


"Astaga! Kamu Mala?" kaget Zaki.


"Wa! Ini Mala kan?"


Dewa mengangguk. "Iya,"


Mala tersenyum lalu reflek memeluk Zaki. "Kak Zaki. Makin ganteng aja."


Dewa membulatkan mata mendengar Mala memuji Zaki ganteng. "Mala!"


Zaki hampir pingsan dipeluk oleh Mala. "Ya Tuhan mimpi apa gue semalam dipeluk bidadari unyu kayak kamu, Mala."


Dewa segera melerai pelukan Mala. "Nggak usah peluk kan bisa."


Mala mencebikkan bibir. "Apa sih, Kak. Aku kan kangen sama kak Zaki."


"Tau lo Wa! Sirik aja lo!" Zaki ikut berkomentar.


"Kak Zaki udah punya pacar? Mana pacarnya? Kok sendiri sih," celetuk Mala.


Mendadak wajah Zaki muram.


"Zaki jomblo, Sayang."


"Nggak usah ditekankan gitu juga dong bagian jomblo nya!" Zaki mencibir Dewa. "Kalian dah jadian lagi? Bener-bener salut gue sama hubungan kalian. Si Dika aja baru tunangan dengan pacarnya yang ke sepuluh. Sebelumnya dia kan putus nyambung. Tapi kalian? Awet banget anjir!"


Mala terkekeh sambil merangkul Dewa. "Cintanya Mala kan cuma untuk Dewa."


"Hem, iya dong, Sayang." Dewa mencium hidung Mala sekilas.

__ADS_1


Zaki semakin ngenes dengan pemandangan tersebut. "Dasar kalian teman laknat!"


Mala dan Dewa tertawa sambil menempelkan hidung mereka satu sama lain. Sengaja ingin membuat Zaki tambah merana.


"Ya Allah, untung gue baik hati. Kalau nggak udah gue culik si Mala biar lo merana balik, Wa!"


"Udah udah. Gue mau cari Dika dulu," ujar Dewa.


"Dadah Kak Zaki. Mala temui Kak Dika dulu yah."


"Iya Mala. Hati-hati di jalan yah." Zaki bertingkah sok imut, lagi-lagi membuat Mala tertawa geli melihatnya.


"Dasar gila!" cibir Dewa.


"Dewa, Mala?" kaget Dika yang sedang duduk berfoto dengan tunangannya. Ia terkejut dan langsung menghentikan aktifitasnya itu. "Kalian?"


Dewa mengulurkan tangan lalu memeluk sahabatnya itu. "Selamat bro. Cepet-cepet sah kan dong, jangan kelamaan tunangan."


Dika masih terpaku menatap Mala. "Kalian jadian lagi? Ah bahagia banget gue!"


"Mala? Kakak kangen banget sama kamu, Dek."


Mala mengangguk. "Mala juga kangen Kak Dika. Selamat yah, semoga Kak Dika dan tunangan Kakak cepat nikah ya."


Wanita di samping Dika tersenyum mengangguk. "Makasih doanya. Kamu pacarnya Dewa?"


"Makasih Mala, kenalkan ini tunangan Kakak. Namanya Amelia."


"Amel, kenalin ini Nirmala pacar Dewa."


Mala mengulurkan tangan pada tunangan Dika. "Selamat ya Kak Amel."


"Makasih Mala," jawab Amel ramah.


Dewa merangkul Mala. Mendadak ia pun ingin segera melamar Mala, menjadikan gadis itu sebagai istrinya. Tapi, Mala bilang masih mau kerja. Dewa hanya bisa menunggu.


Saat mereka sedang asyik mengobrol. Seorang wanita datang mendekati Dewa.


"Dewa. Akhirnya ketemu juga sama kamu. Aku cari-cari kamu," ucap seorang wanita yang wajahnya tidak asing buat Mala. Wanita itu secara tiba-tiba mencium pipi Dewa di hadapan Mala. Saat itu Mala yang sedang memegang gelas berisi minuman sampai terkejut, reflek menjatuhkan gelas ditangannya.


Pranggg!


Dewa mendorong tubuh gadis itu. "Sayang kamu nggak apa-apa?" tanyanya pada Mala.


Dika segera memanggil petugas kebersihan untuk membersihkan pecahan gelas, cemas mengenai Mala.


Tidak tahu apakah dia masih kekanakan atau apa. Tapi intinya Mala sangat terluka melihat pemandangan menyakitkan itu.


"Maafin Mala ya Kak Dika. Mala permisi dulu." Gadis itu berlari meninggalkan Dewa.


Mala baru ingat, wanita yang mencium Dewa itu adalah wanita yang sama yang waktu itu mengantar Dewa pulang. Wanita yang mengenakan high heels merah.


"Mala! Tunggu!" Dewa mengumpat kesal.


"Lo gila ya!" bentak Dewa pada wanita yang sudah berani menciumnya itu. "Ngapain lo ngelakuin hal goblok sih!"


"Sorry. Dia siapa?" tanya wanita itu. Tapi Dewa memilih berlari mengejar Mala. "Sialan!"


"Lo gila ya, Kris! Dia itu pacar Dewa!" sentak Dika pada wanita itu. Dika yakin sekarang Mala sangat marah pada Dewa. "Lo bakalan habis sama dia, Kris!"


"Ups." Wanita itu menutup bibirnya. "Sorry, gue nggak tahu. Abisnya dia lebih mirip adiknya Dewa dibanding pacar."


"Lo nggak bisa ngeremehin Mala, Kris. Dia cinta matinya Dewa!"


Kristal tergelak mendengar perkataan Dika. "Cinta mati?"


Dika mengusap wajahnya. Kristal memang gila memulai sesuatu yang akan membawanya ke dalam masalah. "Lo boleh ketawa sekarang. Tapi gue yakin sih Dewa nggak akan biarin lo ketawa kelamaan."

__ADS_1


_______


__ADS_2