Mala Dewa Love Story

Mala Dewa Love Story
12 : Sentuhan Dewa Yang Memabukkan


__ADS_3

...Kamu adalah alasanku tersenyum ceria. Tanpa kamu? Aku tidak memiliki alasan lainnya. Mala ~...


...*****...


"Pagi Tante."


"Kamu siapa?"


"Kenalin Tan, saya Gilang. Teman Mala."


Bunda Mala terdiam sejenak tak lama kemudian Mala pun muncul.


"Gilang?"


"Hai Mala, selamat pagi," sapa Gilang ramah dengan senyuman lebarnya.


Mala tersenyum samar. "Ah, iya pagi Gilang."


"Mala, ini temen baru kamu?" tanya Bunda Mala.


"Ini, dia itu Gilang. Temen sekelas Mala."


Bunda Mala baru kali ini melihat Mala mau berbicara dengan cowok lain selain Dewa. Biasanya Mala tidak mudah akrab dengan cowok lain selain Dewa.


"Mala." Dewa tersenyum sambil melambaikan tangan menyapa Mala. Lalu ia berdiri tepat di depan pintu gerbang Mala, di sebelah Gilang yang terbengong melihat kehadirannya.


"Kak Dewa." Senyuman Mala pun kembali melingkar menghiasi bibirnya seperti sedia kala. Melihat hal itu bunda Mala sangat senang, karena putrinya itu tidak lagi sedih. Sepertinya mereka sudah berbaikan, pikir bunda Mala. Ada baiknya semalam dia dan suaminya pergi. Pasti Dewa sudah mendatangi Mala dan mereka berbaikan.


"Hai Kak, Kakak mau jemput Mala?" tanya Mala seketika membuat Gilang mati kutu, diam membeku di posisinya. Lalu bagaimana dengan nasibnya? Kedatangannya pagi ini sesuai dengan rencana, Gilang menjemput Mala, karena Mala telah menyetujuinya.


"Iya. Tante, Mala berangkat bareng Dewa ya?"


Bunda Maka hanya tersenyum kemudian anggukan tipis membuat Dewa melompat kesenangan. "Huhhhh! Oke Mala kita jalan."


Diluar dugaan, Mala malah menggeleng.


"Maaf Kak, tapi Mala udah janji sama Gilang buat berangkat bareng."


"Hah?" Gilang dan Dewa sama-sama terkejut.


Ibarat gadis polos tanpa dosa, Mala hanya memperlihatkan barisan gigi rapihnya pada Dewa. "Maaf ya, kasian Gilang. Dia udah jemput aku, masa aku berangkat bareng Kakak."


Dewa tidak dapat menjawab, hanya bisa mengepalkan telapak tangannya kesal. Kenapa Mala malah bersikap demikian? Bukannya kemarin Mala sepakat untuk berbaikan dengannya?


"Mala yakin nggak mau berangkat bareng Dewa?" tanya bunda Mala yang juga merasa heran. Ini benar-benar tidak biasanya.


"Gilang, kamu tetep mau antar aku ke sekolah kan?" tanya Mala enggan menanggapi pertanyaan bundanya.


"Gilang?" panggil Mala, mengulangnya lagi. Teman sekelasnya itu malah terbengong saja sejak tadi.


"Gilang? Kamu jadi kan?"


Dewa menggertakkan giginya, masih merasa amat kesal.

__ADS_1


"Eh, iya. Jadi dong. Aku pikir kamu yang nggak mau berangkat bareng aku," ucap Gilang.


"Cih! Nggak usah sok imut lo pake aku kamu segala," cibir Dewa. Mala hampir saja tergelak, tapi ia menahannya.


Apa ini? Apakah Dewa-nya sedang cemburu?


"Emang enak," gumam Mala pelan.


"Kenapa bro? Kesel karena nggak bisa anterin Mala?" balas Gilang dengan raut mencibir juga. "Itu sih tergantung amal ibadah, bro."


"Apa lo bilang?" sentak Dewa.


"Kakak, jangan ribut di depan Bunda. Udah ah, aku mau berangkat dulu."


Mala meraih punggung tangan ibundanya lalu berpamitan. "Bun, Mala berangkat dulu ya."


"Hati-hati ya Sayang."


"Dadah Bunda," ucap Mala sambil mengambil helm pemberian Gilang. Saat itu ia terus menahan tawanya ketika melihat wajah Dewa yang memerah.


"Perasaan itu kurang lebih sama kayak perasaan aku kemarin, Kak." Mala bergumam, tapi Gilang sedikit mendengar gumaman gadis itu.


"Kamu yakin mau berangkat bareng gue?" tanya Gilang.


"Mala udah janji kan kemarin. Nggak mungkin Mala ingkarin," jawab Mala dengan senyum kecilnya.


Meski Gilang tahu sikap Mala itu bukan karena gadis itu menyukainya. Tapi Gilang merasa senang karena hari ini bisa mengantar Mala ke sekolah.


Keduanya pun berlalu melewati Dewa yang masih menahan rasa kesal.


"Iya Tante. Dewa berangkat kuliah dulu ya."


"Eh, iya. Hati-hati ya Dewa."


Meski ia merasa heran dengan sikap Mala. Tapi, ia yakin semua itu tidak dilakukan Mala karena gadisnya itu menyukai Gilang.


"Gue harus pastikan kenapa Mala kayak gitu ke gue."


Sesampainya di sekolah. Teman sekelas Mala yang melihat dirinya berboncengan dengan Gilang pun langsung tercengang.


"Nggak salah lihat gue? Itukan Mala?" ucap Vina teman dekat Mala.


Begitu pun teman Mala yang lainnya. Mereka sangat kaget, terlebih Gilang adalah anak baru, kenapa Mala yang biasanya hanya terlihat bucin dengan Dewa mendadak dekat dengan cowok lain?


"Makasih ya Gilang." Mala menyerahkan helm ditangannya pada Gilang.


"Sama-sama. Gue yang makasih karena lo mau gue anter," balas Gilang dengan senyum sumringahnya.


Keduanya saling menatap. Tapi kemudian Dewa menarik tangan Mala, membawa gadis itu berlari ke belakang gedung sekolah. Gilang terkejut ingin mengejar, tapi ia merasa tidak memiliki hak melakukan itu. Entahlah, hanya saja Gilang merasa tidak suka saat melihat Mala dekat dengan cowok lain.


"Lepasin Mala Kak! Kakak ngapain sih?"


Dewa melepaskan tangan Mala sambil memicingkan matanya pada gadis di depannya. "Sengaja?"

__ADS_1


Mala mengerutkan kening sambil melipat kedua tangannya ke dada. "Maksudnya?"


"Sengaja berangkat dengan Gilang? Kamu suka sama dia?"


Mala tertawa kecil. Tapi setelah itu dia kembali mengernyit. "Kata siapa?"


"Kakak nanya Mala, jawab aja!" kata Dewa dengan sedikit penekanan semakin membuat Mala merasa gemas.


"Cemburu?"


"Hah?" Dewa mengusap kasar wajahnya. "Jangan main-main Mala."


Mala terkekeh. "Siapa yang becanda? Aku kan tanya," desis Mala sambil melangkahkan kaki mendekat ke hadapan Dewa. Keduanya kini tidak berjarak dengan mata saling menatap intens.


"Kenapa ketawa? Kamu ngerjain Kakak?"


Mala hanya menggedikan bahu. "Enggak, Mala cuma pengen Kakak merasakan perasaan Mala, itu aja."


"Perasaan?"


Gadis yang sebentar lagi berusia genap 17 tahun itu menyentuh kerah kemeja Dewa. "Gimana rasanya? Sama kayak kemarin waktu aku lihat Kakak jalan sama Kak Rosy."


Sudut bibir Mala membentuk lengkungan kecil. Lalu telunjuknya menyentuh permukaan bibir Dewa. "Jangan main-main. Mala nggak suka. Kakak kira cuma Kakak yang bisa?"


Jantung Dewa berdebar sangat kencang. Sedangkan Mala menggerakkan kakinya mundur menjauhi Dewa. "Mala ke kelas dulu, bahaya juga di sini. Ngeri, kalau ada yang lihat. Bisa-bisa dikira kita pacaran."


Mala berbalik membelakangi Dewa dengan seringai kecil, ia merasa puas melakukan itu pada Dewa. Meski ia juga ingin memeluk Dewa sekarang karena tidak tahan melihat ekspresi Dewa yang melebihi ekspektasinya.


"Mala tunggu!"


Dewa menyentuh telapak tangan Mala, lalu mendekatkan wajahnya sambil menyentuh daun telinga tipis gadis itu menggunakan bibirnya. "Oke, Kakak terima pembalasan kamu. Tapi, jangan harap besok Kakak biarin kamu di jemput cowok lain," bisik Dewa membuat Mala bergidik.


Tangan Dewa menyentuh pinggang Mala perlahan, lalu mengusap permukaan perut Mala yang terbungkus mantel tebal. Saat itu Mala hanya terdiam merinding merasakan sentuhan Dewa. Sejujurnya Mala menikmati semua itu dan bahkan seringkali merindukan sentuhan itu.


"Mala-nya Kakak udah mulai suka main-main. Lihat permainan Kakak." Dewa kembali berbisik.


Dewa melepaskan sentuhannya dan berlalu meninggalkan Mala. Gadis itu diam memaku, sambil berpikir maksud kata-kata Dewa barusan.


"Permainan?"


"Nanti malam, gimana?"


"Mau apa?"


"Main-main sama Kakak."


Mala langsung menggeleng. Dia yakin ini akan jadi masalah nantinya. Mereka berdua masih dalam masa pengawasan. "Nggak mau, Mala tau apa maksud permainan itu."


"Kenapa?" Dewa hendak mencium Mala lagi tapi gadis itu menghindar. "Mala nggak mau kena masalah. Nanti yang ada Mala beneran nggak boleh ketemu Kak Dewa lagi. Mala nggak mau!"


"Mala..."


"Mala mau ke kelas dulu."

__ADS_1


"Mala tunggu... Nirmala!"


Mala duduk di kursinya sambil memegangi dadanya yang bergemuruh. Dia yakin ajakan Dewa tadi mengarah ke hal itu. Mala mengerti tapi dia takut itu akan menjadi masalah baru untuk hubungannya dengan Dewa nanti.


__ADS_2