Mala Dewa Love Story

Mala Dewa Love Story
26 : Tiga Tahun Kemudian


__ADS_3

Song~That's Okay by D.O


Kedua tangan Mala masih memegangi ujung dress yang dikenakannya. Di depannya saat ini merupakan pemandangan yang begitu menyakitkan untuk Nirmala. Sungguh sakit, dan tak pernah Mala bayangkan akan terpampang jelas di matanya.


"Kakak." Mala gemetar.


Dipelupuk matanya, ada Dewa yang sedang memeluk seorang gadis. Lebih tepatnya Lyra memeluk Dewa dari belakang.


Tak sanggup melihatnya, Mala memilih berbalik sambil menyeka air matanya.


Hiks. Mala tak ingin menangis melihatnya. Tapi sumpah ini sangat menyakitkan. Setelah enam bulan dia menunggu, ingin memastikan segalanya. Mala ingin menemui Dewa, dia berharap kata-kata Alyra yang baru saja lulus dari universitasnya itu adalah kesalahan besar. Ternyata semuanya berbalik adanya. Mala melihat sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia sangka.


Mala melangkahkan kakinya meski terasa lemas. Tubuhnya begitu lemah dan ia nyaris pingsan. Tapi sekuat tenaga Mala mencoba menegakkan tubuhnya. Mala harus segera meninggalkan tempat itu, dia memilih pergi dan kembali ke Korea.


"Makasih, Kak." Tangis Mala pecah, ia berlari sekuat tenaga meninggalkan Dewa.


"Lepas!" Dewa melepas paksa pelukan Lyra yang begitu erat. "Minggir!"


Lyra menangis. "Wa. Aku masih sayang kamu."


Dewa berdecih. "Jangan gila! Gue nggak ada rasa sama lo barang sedikit! Udah nggak ada lagi, sama sekali!" tekannya pada gadis yang sudah menyakiti hati gadisnya. Nirmala.


"Jangan bohong Wa! Kamu tahu persis itu semua kesalahpahaman. Aku cuma mau jelasin itu, kamu salah sangka. Kamu mengira-"


"Please stop!" potong Dewa.


Lyra menggeleng. "Aku secepatnya ke Indo cuma buat kamu, Wa!"


"Percuma Alyra Pradipta! Gue nggak ada rasa sama lo! Gue ninggalin lo bukan semata-mata karena liat lo dicium si Brian! Bukan! Gue emang nggak ada perasaan lagi sama lo. Gue jenuh gue udah pengen lepas dari lo. Lo sadar nggak sih?"


Tentu itu menyakiti perasaan Alyra. Jadi Dewa memang sengaja ingin meninggalkannya? Ingin putus darinya?


"Kamu bohong. Pasti ini karena Mala kan?"

__ADS_1


Dewa tersenyum kecut. "Satu lagi, jangan pernah lo sentuh pacar gue. Cewek yang gue sayang, Nirmala. Lo kira gue nggak tahu hah? Lo yang udah bikin Mala diemin gue selama enam bulan ini. Lo sakit ya?"


"Nggak. Gue sadar apa yang gue lakuin!" Lyra berteriak. "Gue nggak suka cewek lain deketin lo! Sentuh lo!"


"Sakit lo!"


Dewa berjalan pergi meninggalkan Lyra yang menangis terisak dibelakangnya.


"Dewa. Gue sayang lo. Gue nggak pernah berubah, gue tetep cinta lo dari dulu." Alyra berteriak. Tapi itu sama sekali tidak mengubah perasaan Dewa yang sudah dingin, hambar, terhadap Alyra.


"Lupain gue, gue benci sama lo. Lupain perasaan itu karena nggak berguna sama sekali." Dewa tidak berbalik, dia hanya berpijak di tempatnya. "Jangan pernah lo hadir di pandangan gue."


"Dewa!" Alyra berteriak lebih kencang memanggil nama cowok yang sudah pergi jauh meninggalkan dirinya. "Please..."


Dewa meremas telapak tangannya. Hari ini seharusnya dia bertemu dengan Nirmala. Di tempat ini, basecamp keduanya. Tapi kehadiran Alyra membuat semuanya berantakan. Dewa berlari mencari-cari keberadaan Mala yang katanya baru saja sampai. Dewa baru sempat membuka ponselnya. Semenit sebelum Lyra memeluknya, Mala mengirimkan pesan bahwa dia sudah sampai.


Lalu sekarang?


Makasih, Kak. Makasih untuk pemandangan yang sangat indah. Yang Kakak perlu tahu, aku datang untuk melihat semua kebenaran. Aku udah lihat pakai mata kepalaku sendiri. Mala cuma minta, jangan ganggu Mala lagi. Kita benar-benar putus. Makasih atas semuanya, untuk selama ini. Maaf, karena nggak sanggup menemui Kakak. Mala pulang ya, Kak. Bye. 


Saat itu tak tahu lagi. Mala sudah salah menilainya. Mala pasti melihat Dewa yang sedang dipeluk oleh Lyra tadi.


"Mala?!" Dewa berteriak frustasi. "Ya Tuhan!"


Entah apa yang harus dia lakukan. Dewa sudah cukup sabar dengan keadaan ini. Kesalahpahaman yang tidak berkesudahan.


"Apa gue harus nyerah?"


****


Tiga tahun kemudian..


Bandung, 23 April 2021

__ADS_1


Mala menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya.


Bandung. Tempat yang dingin, suhu kini mencapai 17 derajat Celcius. Mala sudah mengenakan Coat yang cukup tebal dengan penampilan barunya, sebagai lulusan Universitas of Seoul South Korea.


**


Senyumannya melingkar cantik. Nirmala Cheryl Lesmana memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Kedua orang tuanya masih harus menetap di Korea, dia sendiri pulang ke Bandung, kota kembang yang amat dirindukannya.


Tempat ini, tempat dimana dia berpijak. Mala menatap dua rumah yang berjejer. Rumah yang terawat, bersih, tak ada sampah sejauh mata memandang. Mungkin karena orang yang dibayar oleh kedua orang tuanya selalu rutin membersihkan rumah yang tidak berpenghuni selama tiga tahun lebih belakangan.


Mala tertegun menatap pagar yang berubah warna, tadinya putih kini menjadi biru cerah. "Om Max ganti cat," gumamnya.


Rumah itu adalah rumah Dewa. Mantan kekasih Nirmala.


Kini Mala sudah berumur 20 tahun. Kedua matanya berair, tidak disangka kali ini dia berani menginjakkan kakinya di tanah itu. Di depan rumahnya juga tetangga yang sangat dia cintai. Benci, karena Mala tidak pernah bisa membenci Dewa.


Pria itu sempat ke Korea. Tapi dengan tegas Mala mengatakan agar Dewa pergi. Apapun yang dikatakan Dewa sebagai bentuk penyangkalan tidak satu pun dia dengar dan percaya.


Mala sudah benar-benar berpisah dengan Dewa tiga tahun silam.


"Apa kabarnya dia? Ah, pasti dia bahagia dengan pacar barunya." Mala tersenyum kecil. "Lupakan, Mala."


Kakinya melangkah, lalu dia menyentuh pagar rumahnya yang terasa dingin. Ada embun yang menempel pada pagar besi rumahnya. "Habis hujan," gumamnya.


Didorongnya pagar tersebut. Ia pun masuk ke dalam rumahnya.


Ruangan itu, semuanya masih sama. Tidak ada yang berubah. Satu-satunya yang berubah adalah suasana. Suasana yang berbeda. Dulu, rumah itu terasa dipenuhi canda, cinta, dan tingkah manjanya kepada Dewa. Tentu saat Dewa berkunjung ke rumahnya, dan itu sangat sering. Tapi, itu dulu, berbeda dengan sekarang.


Jangan ditanya bagaimana Mala melewati hari-harinya yang menyedihkan di Korea. Mala adalah gadis yang manja, dia ketergantungan dengan Dewa Adrian Nichole.


Namun, semua pemandangan menyakitkan itu. Entahlah meski Dewa bilang itu hanya kesalahpahaman. Mala sekuat tenaga membiasakan diri tanpa Dewa. Tanpa lelaki yang memenuhi hatinya hingga detik ini.


Detik ini, dia kembali ke Bandung untuk bekerja, memulai karirnya. Mala tidak tahu apakah Dewa masih sendiri, atau bersama dengan gadis yang mengisi hatinya setelah dia pergi. Sungguh, meski Dewa bersumpah di depan matanya sewaktu di Korea tiga tahun lalu, bahwa dia tidak akan mengisi hatinya dengan gadis lain selain Nirmala.

__ADS_1


"Kamu gila. Mana mungkin dia masih sendiri. Dia pasti udah sama cewek lain sekarang."


Dan cerita mereka baru di mulai, di sini. Di kota kelahiran Mala, Bandung.


__ADS_2