Mala Dewa Love Story

Mala Dewa Love Story
40 : Ayo Lakukan, Kak!


__ADS_3

Bukan tidak suka, saat suaminya menyentuhnya. Mala, hanya merasa agak ngilu jika membayangkan lagi yang terjadi di malam pertamanya.


Setelah melewati kurun satu bulan, dia merasa cukup untuk menyudahi bulan madu. Tidak ada tempat khusus yang mereka datangi. Seperti saat kencan, namun kencan kali ini lebih berkesan. Bersama, mesra, bebas tidak takut kepergok oleh Max lagi. Tidak ada yang melarang apapun yang ingin dilakukan oleh keduanya.


Namun, Dewa merasa gundah.


"Sayang. Kamu yakin nggak mau nambah cuti? Kita sebulan nikah, tapi-" putus Dewa, sembari menggaruk sebelah alis, bingung mengatakannya pada Mala.


"Tapi? Kenapa, Kak? Mala udah mulai jenuh nih di rumah." Mala tidak menggubris sikap suaminya yang tak biasa. Padahal, itu adalah kode keras.


"Hmm, udah sebulan-" kembali terputus. Dewa merasa sia-sia saja dia membicarakan hal itu pada Mala.


"Ya, udah. Besok kamu boleh mulai kerja," urung Dewa. Ia menutup percakapan, dan berlalu pergi memasuki kamar.


Mala mengernyit heran, "dia kenapa?" gumamnya bingung, tidak paham kode yang diberikan suaminya.


Di kamar. Dewa yang merasa perlu berbicara tentang hajatnya, isi hatinya. Tapi, dia juga ragu, takut terkesan memaksa istrinya. Sisi baiknya mengatakan untuk membiarkan sampai Mala siap melakukannya lagi. Tapi, sisi buruknya bilang, untuk lakukan saja, pasti Mala mengerti.


"Anjir! Kenapa gue malah jadi kayak mau memperkosa anak orang sih. Dia kan istri gue!" umpatnya. Kesal, dia memilih mengambil ponsel mengecek grup obrolan.


Dewa : Woyyy pada kemana lu pada!


Zaki : Heh penganten baru, nongol. Kirain lupa sama temen, saking menghayat! Gimana gimana, cerita wkwk


Dika : Ada apa lo, Wa! Tumben chat, pasti ada sesuatu.


Zaki : ohiya bener. Pasti lo cupu ya Wa! Anjir, malu-maluin pisan, ni ngerakeun aing, sia!


Membaca chat temannya, Dewa mendengus sebal. Astaga haruskah dia menceritakan semuanya pada dua temannya itu. Tapi, bagaimana mengatakannya. Lalu, apakah temannya bisa memberi solusi? Rasanya nggak.


Dewa : Gue ada masalah. Eh, bukan gue sih. Ini masalah Mala.


Zaki : masalah? Cerita.


Dika : Sok cerita.


Dewa : Mala kapok sama gue. Sakit katanya.


Entahlah, dia tidak tahu sudah benar atau belum. Tapi, memendamnya sendiri membuat dia serba bingung. Mala, selalu nolak.


Zaki : Anjiirrrr wkwkwkwk kok bisa? Ngakak hahah


Dika : Lo kasar? Kok bisa sampa kapok. Zaki lo bukan bantu malah ngecengin orang!


Dewa : nggak guna gue cerita ke kalian. Kalian semua belum paham. Dahlah

__ADS_1


Zaki : Lo jangan meremehkan. Apa perlu gue tanya Kakak gue, heh? Maybe dia bisa bantu, kalau gue bantu recokin aja, jago. Wkwk


Dika : Nah coba tanya Kakaknya si Zaki kan dia pakar seksolog. Tapi, kalau gue boleh pendapat sih, kayaknya lo coba deh jelasin pelan-pelan ke Mala, biar dia nyaman dulu deh. Bukan sok tahu, tapi gue udah...


Zaki : Bjir, lu udah pernah Dik? Sama Amel? Atau mantan lu?


Dika : berisik lo! Udah intinya coba lo lembutin deh si Mala. Nanti juga dia paham. Emang udah berapa kali?


Zaki : masih gue pantau lu, Dik.


Dika : bodo amat wkwk


Dewa : omongan Dika bener, baru sekali. Udah sebulan kan padahal


Nanti gue coba jelasin pelan.


Zaki : Baru sekali? Hahaha pantes lu uring-uringan.


Dika : dah mendingan lo ajak ngomong sekarang.


Dewa mengakhiri obrolan dengan dua temannya. Sepertinya dia memang harus mengajak Mala berbicara.


Saat dia sedang termenung. Mala datang duduk di sampingnya. "Kenapa, Kak?" tegur Mala sambil mengusap tangan suaminya.


Dewa menatap Mala dengan senyuman tipis. "Enggak. Sayang, kamu mau nonton film?" tawarnya. Mungkin keduanya harus lebih santai lagi, baru bicara.


"Iya, di rumah aja. Kamu kan besok mau kerja. Jadi cukup nonton di rumah aja. Mau?"


Mala mengangguk. "Mau dong."


Mereka pun menonton film di kamar. Mala berbaring dipangkuan suaminya. Dewa merasa caranya kali ini sudah tepat. Mala terlihat santai sambil menikmati film.


"Sayang." Dewa mengusap rambut Mala, istrinya itu hanya berdehem.


"Kamu cinta nggak sih sama aku?"


Mala memicingkan matanya, lalu menatap suaminya sambil mendongakkan wajahnya. "Kok? Kenapa tanya gitu. Cinta, lah, Sayang."


"Hm, bener?"


Mala mendengus lalu beranjak duduk. "Kakak ragu sama Mala?"


Dewa menggeleng. "Enggak. Cuma..."


Mendadak Dewa meragu untuk membicarakannya.

__ADS_1


"Sayang," ulang Dewa.


"Ya? Kakak kenapa sih?" kernyit Mala, heran. "Aku ada salah?"


"Sayang, maafin aku ya. Kalau aku nggak memahami kamu," ucap Dewa sambil menghela napas panjang.


"Kak? Coba deh langsung ke intinya. Aku ada buat salah? Kakak cerita, jangan bikin aku penasaran."


Dewa tidak menjawab, dia langsung meraih kedua pipi Mala, lalu memiringkan wajahnya. Mata Mala membulat, ia tertegun. Tanpa berkata-kata, Dewa langsung mencium bibir Mala. Meski kaget karena suaminya tiba-tiba menciumnya. Tapi, Mala tidak menolak. Dia membalas ciuman Dewa, secara alamiah.


Perlahan tangan Dewa menurunkan tali tanktop yang dikenakan Mala, lalu mengecup bahu Mala yang terbuka. Malam ini Mala tidak mengenakan pakaian dalam, semakin memudahkan Dewa, pikir pria itu yang sudah tidak sabar. Semoga saja, malam ini Mala tidak menolak.


Ciuman Dewa beralih ke ceruk leher jenjang Nirmala. Wanita itu hanya melenguh pelan. Kedua mata cantiknya melebar saat Dewa menyentuh bagian sensitifnya dengan jemari yang bergerak menggoda bagian tubuhnya itu.


"Kak."


"Kenapa?" tanya Dewa.


Mala bukan tidak sadar, dia memahami mungkin suaminya ingin. Tapi, apa harus sekarang? Mala belum sepenuhnya lupa akan rasa perih yang dia rasakan saat sebulan lalu. Astaga, Mala tidak sadar kalau sebulan sudah keduanya tidak melakukannya.


"Kamu masih nggak mau?" tanya Dewa membuat Mala merasa bersalah.


"Bukan, kok." Mala menggeleng. Tapi, kedua tangannya melarang Dewa menyentuh bagian tubuhnya yang tertutup ****** *****.


Saat itu Dewa kehilangan mood. Dia berpikir Mala belum siap, akhirnya sambil menarik napas dalam-dalam. Dewa melepaskan rengkuhannya.


"Maaf ya." Dewa mengecup kening Mala.


"Kak, kok nggak jadi?"


"Kamu belum siap, aku nggak mau maksa." Dewa tersenyum samar.


Mala menunduk. Dia semakin merasa bersalah pada suaminya.


"Jangan di pikirin. Maaf ya, aku maksa kamu tadi."


"Enggak, bukan salah Kakak." Mala menggelengkan kepalanya sambil memegangi tangan suaminya.


"Kak aku yang salah. Aku yang terlalu kepikiran tentang rasa sakitnya. Aku yang seharusnya nggak gini, kamu nggak salah. Aku ngerti, kamu mau."


Dewa memeluk sambil mengusap rambut halus istrinya. "Kamu nggak salah. Aku yang nggak sabaran."


"Ayo lakukan, Kak." Mala sekuat tenaga berusaha memberanikan diri. Sebulan terakhir Mala banyak membaca artikel tentang hal yang berkaitan dengan hubungan seksual. Mungkin itu yang membuat Mala bukannya berani malah semakin takut karena membaca komentar netizen yang tidak sedikit memiliki pengalaman serupa bahkan lebih parah dari yang dia alami.


Meski Dewa ingin melakukannya. Tapi, dia tahu saat mengatakannya, Mala hanya merasa tidak enak padanya.

__ADS_1


"Enggak, Sayang. Kamu tidur ya," ucap Dewa, ditutup dengan satu kecupan di kening Mala.


__ADS_2