
"Bun. Mala pulang ke rumah kan?"
"Mala. Kamu pulang ke apartemen Dewa dong. Masa mau pulang sama Bunda?"
"Bukannya biasanya tidur di rumah pengantin wanita dulu Bun?"
"Dewa maunya langsung ke apartemen. Lagi pula Bunda nggak bisa lama di Bandung, Sayang. Tapi, kalau Mala mau tinggal di rumah, Bunda seneng dan mengizinkan."
"Bunda mau ke Korea lagi?"
Delia mengusap bahu putrinya. "Mala kan udah ada yang jaga. Bunda dan Ayah udah merasa tenang. Tapi, bukan karena itu juga Bunda harus balik segera ke Korea. Bunda dan Ayah masih harus mengurus sesuatu di sana. Mala mengerti kan?"
"Mala ngerti kok," angguk Mala, memeluk bundanya. "Mala sayang Bunda. Maafin Mala ya, kalau selama ini Mala sering merepotkan Bunda dan Ayah."
"Jangan ngomong gitu, Sayang. Mala nggak pernah merepotkan. Bunda dan ayah bahagia punya putri cantik seperti Mala," balas Delia.
Begitulah obrolan Mala dengan Delia setelah acara selesai.
Mala menghela napas panjang. Saat ini di sebelahnya ada Dewa yang sedang menyetir mobil menuju ke apartemen. Seharusnya ia bahagia, tapi entah mengapa Mala merasa kangen dengan bunda dan ayahnya. Rasa tak ingin berpisah, rasa gelisah ingin tetap tinggal di dekat kedua orang tuanya.
"Sayang. Kamu kenapa? Kok aku lihat kamu murung?" tanya Dewa.
Mala menatap suaminya dengan senyuman ringan di bibirnya. "Aku nggak apa-apa kok, cuma aku kok mellow aja. Merasa nggak rela meninggalkan bunda dan ayah, ikut kamu."
Alis mengernyit Dewa terangkat, tidak mengerti kenapa Mala harus sedih?
"Kamu kan tinggal sama aku, masa kamu sedih, Sayang."
"Bukan gitu, Suamiku Sayang, aku cuma-- ya, gimana sih,"
Dewa mengusap pucuk kepala Mala, mengerti apa yang dirasakan istrinya. "Wajar, karena sekarang tanggung jawab atas kamu udah berpindah. Bukan lagi pada ayah dan bunda. Sekarang kamu sepenuhnya tanggung jawab aku. Mungkin kamu belum terbiasa, tapi kamu harus bahagia. Kamu nggak terpaksa kan menikah denganku?"
"Ish!" cebik Mala.
Dewa terkekeh. "Udah Sayang, bunda dan ayah bahagia, asalkan kamu bahagia. Yang jelas, aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan kamu, My Wife."
"Iya, My Husband."
Keduanya saling melempar senyum.
****
Mala terkikik geli saat Dewa menggendong tubuhnya, membawanya masuk ke dalam apartemen. Di dalam sudah di sediakan kamar berukuran lumayan besar untuk keduanya beristirahat. Mala bukan pertama kali ke apartemen Dewa. Tapi kali ini berbeda, statusnya bukan lagi sebagai pacar. Mala adalah istri Dewa.
"Aku mau berdiri sendiri," kata Mala dibalik senyum kecilnya.
"Tapi kita belum sampai," sahut Dewa berjalan lagi mendekati ranjang tempat tidur mereka.
"Kak. Ini udah sampai. Terus mau sampai kapan Kakak gendong aku, hm?"
Entahlah, tapi Dewa tidak ingin menurunkan Mala, ia senang bisa menggendong Mala seperti sekarang. Seperti yang dia lihat di drama maupun film. Pengantin pria menggendong pengantin wanita lalu...
Dewa menurunkan Mala. Saat ini ranjang itu terhampar dibawah tubuh Mala. Seprai putih bersih memenuhi pandangannya. Dekorasi sederhana, tanpa bunga-bunga yang bertaburan diatasnya. Mala sepakat, tidak menginginkan dekorasi kamar pengantin, dia kira itu sangat merepotkan nantinya.
"Udah aku turunin." Dewa menatap lekat kedua bola mata Mala yang membulat. Jantung Mala berdegup berpadu dengan ketegangan.
"Makasih yah," ucap Mala. Kenapa sekarang dia sangat tegang berada di samping Dewa. Bukannya udah biasa? Tapi, setelah sah menjadi istri Dewa, justru malah sebaliknya, Mala sangat gugup.
"Mala ngantuk, Kak. Capek, pegel," ucap Mala sambil memegangi kakinya.
Dewa duduk di atas ranjang sambil membuka sepatu Mala. "Biar Kakak pijat ya."
"Emang bisa?"
"Bisa dong. Semua bisa, untuk kamu."
"Gombal." Mala mencubit pipi suaminya.
"Gombalin istri itu dapat pahala, kamu seneng kan di gombalin?"
__ADS_1
"Ish," dengus Mala. "Kata siapa?"
"Kataku barusan."
"Iya iya, aku seneng." Mala memeluk suaminya, melesakkan wajahnya ke leher Dewa. Saat ini ia dapat merasakan pelukan hangat pria yang secara sah menjadi imamnya.
"Mala bahagia banget, akhirnya Mala nikah sama Kakak."
Dewa bergerak dengan jemarinya, mengusap pipi, lalu mengecup kening Mala. "Kakak juga bahagia banget."
"Kakak enak banget sih buat jadi sandaran, aku suka di peluk kayak gini," ucap Mala sembari memainkan kancing kemeja suaminya.
Dewa tersenyum kecil. "Cuma suka di peluk? Kalau yang lain suka nggak?"
"Apa?" jawab Mala sambil mendongakkan wajahnya.
"Ini kan malam pertama kita. Kamu tahu kan?"
Mala terkikik geli. "Iya, aku tahu. Tapi, Mala ngantuk."
"Hah?" kaget Dewa. "Jangan ngantuk dong, Beb."
"Kenapa? Besok aja yah?"
"Hufft... Ngantuk banget kah?" tanya Dewa. Mala mengangguk. "Mala capek. Tapi, Mala mau mandi dulu deh. Ganti baju."
Mendadak Dewa lesu seketika. "Iya deh."
Mala tidak mempedulikan raut wajah suaminya, ia hanya beranjak menuju toilet.
"Hadeuh, udah ngarep bisa gitu-gitu. Malah gini-gini," gumam Dewa. Mala hanya terkekeh di dalam kamar mandi.
"Dasar nggak sabaran," desis Mala.
Selesai mandi, Mala mengenakan baju tidurnya. Kalau biasanya wanita yang baru menikah memilih mengenakan baju tidur tipis sejenis lingerie. Mala tidak demikian, dia lebih memilih menggunakan piyama tidur kesukaannya, bermotif imut.
"Kak, kamu nggak mau mandi?" Sambil menguap, Mala berbaring di atas ranjang.
"Iya," jawab Mala sambil berbalik menutupi wajahnya dengan selimut.
"Haah, yaudah deh. Aku mandi dulu," sahut Dewa, malas.
"Ya Tuhan, gimana nih. Aku kayak gini, cuma pakai baju tidur biasa. Apa Kak Dewa bakalan tertarik? Atau, dia sama sekali nggak tertarik?" gumam Mala.
Mala mengambil ponselnya. Dia menelusuri laman internet untuk mencari tips membuat suami puas di ranjang. Geli, sejujurnya Mala tidak ingin sampai harus mencari tahu hal yang seperti itu. Tapi, dia memang tidak mengerti sama sekali tentang begituan.
"Anjay." Mala reflek mengumpat seperti Zaki. "Duh, kok gini sih." Mala menutup ponselnya, ia malu sendiri membacanya.
"Nggak mau ah, masa aku harus--"
"Ih malu!"
"Kenapa?" tanya Dewa yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Enggak." Mala menggeleng cepat lalu menaruh ponselnya kembali.
Dewa menghela napas panjang, lalu ia duduk di samping Mala. "Belum tidur? Katanya ngantuk?" ucapnya sambil mengusap kedua pipi Mala.
"Emm... Nunggu Kakak, mau tidur bareng."
"Tidur bareng?"
"Iya. Ini kan pertama kalinya kita tidur bareng. Udah sah juga. Jadi, masa Mala tidur duluan."
"Hahaha. Ya udah sini tidur, Kakak temenin."
Mala mengangguk lalu tidur sambil memeluk Dewa.
Saat itu Mala merasa hangat berada di pelukan suaminya. Tadi, menurut yang dia baca. Menyentuh dada suaminya perlahan dapat menimbulkan rangsangan. Mala pun mencobanya. Ia menyentuh perlahan dada suaminya.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu belum ngantuk?" tanya Dewa saat tangan Mala menyentuh dadanya tiba-tiba.
"Enggak. Mala, cuma-"
"Kenapa Sayang? Kamu sakit?"
"Bukan. Aku nggak sakit." Lagi-lagi Mala menggeleng.
Dewa meraih sulur anak rambut Mala sambil mengecupnya. "Kamu kenapa? Gugup?"
Mala meneguk ludah lagi. "Kok tau?"
Dewa langsung terkekeh. "Astaga. Kenapa sih? Gugup segala. Ini Kakak, suami kamu. Lagian Kakak nggak akan maksa kalau kamu belum siap."
Mala terdiam. Lalu ia mengusap lengan suaminya, perlahan-lahan mencoba mempraktekkan apa yang tadi di bacanya. Saat Mala menyentuh di lengannya, itu membuat Dewa seperti tersengat aliran listrik. Lalu Mala mendekat ke telinga Dewa. Ia mengecup daun telinga suaminya, Dewa bertambah kaget.
Fuuuuhhh... Mala meniupkan udara ke telinga suaminya. Dan Ah! Dewa reflek menegakkan tubuhnya. "Mala."
Gadis itu menatap kedua mata suaminya. "Emang Kakak terangsang?"
Dewa bertambah kaget. Jadi istrinya sedang berusaha merangsangnya.
"Mala. Kamu nggak perlu merangsang aku. Aku udah ON sejak kamu sah jadi istriku."
Mala mencebikkan bibirnya. Kesal, karena dia berpikir sikapnya tadi berhasil membuat Dewa on fire.
"Mala kira Kakak terangsang!"
"Sayang." Dewa menyentuh pipi Mala. Lalu meniupkan udara ke telinga istrinya itu. "Kalau di giniin kira-kira kamu gimana?" sentuhnya di sebalik daun telinga Mala.
"Kamu... Terangsang nggak?"
Mala merinding. Ia langsung mendorong pelan tubuh suaminya. "Mala malu."
"Mala nggak usah ngapa-ngapain. Cukup merasakan apa yang akan Kakak lakukan."
"Hah?" Mala tidak mengerti. Tapi, bukannya istri harus melayani suaminya, batin Mala.
"Mala diem aja yah." Dewa mengecup kening Mala. Seketika dunia Mala terhenti, berganti ke dunianya bersama Dewa. Dunia MalaDewa.
Saat mereka sama-sama terpaku. Dewa mendaratkan ciuman di bibir Mala, memagutnya, dengan halus dan perlahan. Ini sudah biasa Mala rasakan, disentuh oleh bibir Dewa. Yang berbeda, saat ini Dewa telah sah menjadi suaminya.
Dewa mulai menurunkan pakaian tidur Mala hingga bahu putih Mala terpampang. Dewa mengecupnya, membuat Mala menjengit. "Kak."
"Sekarang boleh kan? Kamu jangan nangis dan merasa bersalah. Ini udah halal," tegas Dewa. Mala hanya mengangguk saja. "Iya."
Dewa tersenyum kemudian menurunkan tali bra yang dikenakan Mala. "Lain kali, kalau tidur jangan pakai bra. Katanya nggak bagus untuk kesehatan."
"Iya," angguk Mala, lagi.
"Sayang, coba tatap aku," pinta Dewa. Mala pun mengangkat wajahnya, menatap kedua mata suaminya.
"Jangan... Gugup." Dewa berhasil menurunkan tali bra yang dikenakan Mala, bahkan benda itu dengan cepat berhasil Dewa singkirkan dari tubuh Mala.
Seperti di hipnotis, Mala hanya diam saja.
Tanpa sadar Mala sudah dalam keadaan naked sekarang. "Kak, kapan kamu lepas baju aku sih." Mala yang baru sadar langsung menutupi tubuhnya dengan selimut.
Tatapan Dewa mulai menggelap. Sama seperti sebelumnya, ketika mulai terpancing sebagai laki-laki normal. Tapi kali ini Dewa tidak akan melewatkan satu inci pun tubuh istrinya itu.
"Kak. Kamu kok buka baju," polos Mala.
"Sentuh ini." Dewa membimbing tangan Mala agar menyentuh perut kekarnya. Mala merona seketika. "So hard," kata Mala pelan.
Dewa menyeringai. "Now?"
Mala mengangguk. "Tapi, matikan lampunya."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Mala malu," jawab Mala.
"Nggak usah malu, kamu cantik."