
Mala membuka matanya perlahan. Garis bibirnya melingkar cantik menatap pria yang sedang terpejam, nyenyak disampingnya. Mala mengambil cermin, melihat bibirnya agak bengkak dan rambutnya yang berantakan. Dia terkekeh sendirian, tapi pria di sampingnya tidak terusik sama sekali.
"Capek ya. Kamu sih, mainnya nggak kira-kira," ringisnya sambil menggerakkan perlahan kakinya.
"Ouch!" pekiknya merasakan tubuhnya sedikit perih dan tidak nyaman.
"Sayang!" Dewa langsung terkejut saat mendengar suara istrinya. "Kamu kenapa?"
Mala menggigit bibir bawahnya sambil meringis, ia tidak berani menyibak selimut di atas tubuhnya. Hanya menggeleng pada suaminya. "Enggak. Aku cuma... Perih."
"Perih? Yang mana?" tanya Dewa sambil menyentuh kedua pipi Mala. "Aku nyakitin kamu, ya?" ia menelisik.
"Bukan. Ini cuma agak perih di bagian--" putus Mala, malu.
"Bagian mana? Sini, biar aku obatin." Dewa memang polos atau pura-pura tidak tahu sih, bagian mana lagi kalau bukan bagian dimana dia menghujam Mala berulang kali semalam. "Ish! Masa nggak tahu sih!" sentak Mala, kesal.
"...." diam Dewa, sambil berpikir.
"Udah inget? Semalam kamu sih, aku kan udah bilang, jangan semuanya. Jangan diterusin sakit!" ketus Mala, sambil mencebikkan bibir.
"Sayang. Sini biar aku liat," ucap Dewa sambil menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh Mala.
"Jangan ih! Aku malu, tau!"
"Kenapa malu sih? Aku juga udah liat semua. Iya, aku minta maaf. Tapi, kalau nggak gitu semalam kita gagal. Aku bingung, udah kepalang tanggung kamu minta berhenti." Dewa mengusap wajahnya, padahal bukan hanya Mala yang merasa sakit, Dewa pun sedikit merasakannya. Belum lagi punggungnya dipenuhi cakaran Mala, rambutnya bahkan banyak yang tercabut karena jambakan Mala yang sangat kuat.
"Hiks! Kamu galak!" Mala berkaca-kaca lalu memalingkan wajahnya. "Aku sebel sama kamu, aku nggak mau kayak semalam. Aku kesakitan," sentaknya berbalik membelakangi suaminya.
Dewa menghempaskan tubuhnya sambil membuang napas kasar. Lalu ia menghadap punggung Mala yang terbuka, ia mengusapnya, menempelkan dagunya ke bahu istrinya. "Sayang, maafin aku ya. Aku bukan galak, aku cuma ngasih tahu kamu. Kalau emang di awal agak sedikit sakit, perih. Tapi, bukan berarti aku mau lukain kamu."
"Siapa yang bilang Kakak mau lukain aku sih," dengus Mala. "Aku cuma kesel, karena Kakak tadi galak."
"Iya, aku salah. Aku minta maaf yah. Jangan ngambek dong," bujuk Dewa, lebih baik dia mengaku salah, daripada urusannya bertambah runyam.
Mala mengangguk. "Ya udah. Aku sekarang mau mandi. Aku bingung, kalau di gerakin sakit." Suara Mala terdengar bergetar. Dewa tersentak kaget.
"Kamu nangis, Sayang?"
Mala sesenggukan. Dewa makin panik.
"Sayang, kamu jangan nangis." Dewa mengambil jubah mandinya, lalu menghampiri Mala sambil berjongkok di bawah ranjang. "Sayang, jangan nangis," sambil menyeka air mata istrinya.
"Kamu nggak ngasih tahu kalau bakalan sesakit ini," ringis Mala.
__ADS_1
"Sesakit itu ya? Maaf." Dewa benar-benar merasa bersalah kali ini. Mala yang masih meringis mendadak merasa tidak enak. Ini kan bukan kesalahan suaminya, mungkin memang begini rasanya kalau pertama kali.
"Mala nggak marah sama Kakak. Maafin Mala yah, karena Mala cengeng."
Dewa menghela napas panjang, lalu menggendong tubuh Mala. "Mala nggak salah. Sini, Kakak bantu kamu berendam air hangat, mudah-mudahan perihnya hilang yah."
Mala hanya mengangguk. Sambil melesakkan wajahnya ke leher Dewa.
Lalu Mala terpaku melihat beberapa tanda cakar di punggung suaminya, saat Dewa sedang menyiapkan air hangat untuknya.
"Ya ampun, Kak. Punggung Kakak," ucapnya sambil membulatkan mata kaget.
"Emang apa?" tanya Dewa. Setelah air hangatnya siap, dia mengangkat tubuh Mala lagi, membaringkan tubuh Mala ke dalam bak mandi.
"Banyak cakaran, itu..."
Dewa tertawa kecil. "Itu di cakar kucing seksi semalam."
"Hah? Mala menggembungkan pipinya. "Mala reflek. Maaf yah."
Dewa mengusap pipi istrinya dengan senyum. "Jangan maaf-maafan terus. Ini bukan sebuah kesalahan. Kamu hanya kaget, sama sih, Kakak juga kaget. Kan, ini pengalaman pertama."
Setelah berendam di dalam air hangat, Mala merasa perihnya agak berkurang. "Iya. Aku kaget. Tapi, aku ngerasa lega. Karena Kakak nggak perlu menahan diri lagi, kayak waktu kita masih pacaran."
Mala menggeleng. "Enggak. Aku nggak mau, Kak."
"Loh? Kamu kapok?"
Mala mengangguk polos. "Kalau sakit, aku nggak mau."
"Terus? Kapan kita bisa punya kayak Alan dan Alana nya dong?"
Benar juga. Tapi semalam kan sudah, pikir Mala. "Semalam, emang nggak bisa ya langsung jadi?" lagi-lagi Mala terlalu polos.
Dewa sampai terkekeh. "Semoga jadi. Tapi kan kalau cuma sekali belum tokcer. Mungkin beberapa kali, aku sih taunya gitu."
Mala menggigit bibir bawahnya, tapi dia masih teringat kejadian semalam, awalnya dia sudah terpancing dengan melakukan cumbuan berbagai macam variasi yang diberikan suaminya. Tapi, saat tiba momen suaminya masuk ke dalam dirinya, itu rasanya sangat mengagetkan, perih dan ngilu. "Udah ah, Mala ngilu bayanginnya."
Dewa mencoba mengerti, dia pun mengangguk. "Jangan dibayangin yah. Kamu sekarang berendam aja dulu. Kakak mau mandi juga," ucapnya.
"Mau ikut berendam?" tawar Mala.
Dewa menggeleng. "Kakak di shower aja."
__ADS_1
*****
Setelah berendam dengan air hangat, rasa perih Mala mulai hilang. Syukurlah, kalau tidak membaik juga, Mala bingung bagaimana cara dia berjalan.
"Ah, syukurlah. Perihnya mulai hilang," gumam Mala.
"Sayang. Kakak pergi dulu sebentar yah. Kamu mau ikut?" ajak Dewa.
"Kemana?"
"Hm... Ke rumah Zaki."
"Buat?"
"Cuma pengen main sih."
Mala terdiam. Kenapa suaminya malah ingin ke rumah temannya di hari-hari pengantin baru mereka. "Pergi aja, tapi nggak usah pulang!"
"Hah? Kamu marah?" tanya Dewa.
"Jadi gini yah. Aku baru tahu, setelah jadi suami aku. Kakak lebih milih main ke rumah temen Kakak. Padahal kita baru nikah kemarin. Tega!"
Ternyata Dewa melakukan kesalahan lagi. Padahal maksud kedatangan Dewa adalah ingin menanyakan sesuatu pada kakak kandung Zaki, seorang dokter spesialis seksualitas. Tapi, Dewa merasa tidak enak mengatakannya pada Mala. Dewa ingin mencari tahu apa obat yang bagus untuk menghilangkan rasa perih pasca berhubungan pertama kali.
"Sayang. Bukan gitu, kakak cuma bentar kok. Mau cari obat buat kamu."
Mala mengernyitkan kening. "Obat? Emangnya Mala sakit apa?"
"Kamu kan katanya perih. Kalau nggak di cari obatnya takutnya perihnya keterusan. Aku cemas."
Rupanya begitu, Mala tidak kepikiran. Dia pikir malah suaminya ingin berkumpul dengan temannya saja. "Jadi..."
"Iya, kakak mau tanya ke kakaknya Zaki. Dia kan dokter ahli dibidang itu. Pasti dia tahu deh cara mengatasinya, gitu loh Sayangku. Kamu jangan marah dulu, buat apa juga aku ajak kamu, kalau aku mau kumpul-kumpul biasa. Aku tahu, ini kan hari-hari kita,"
Syukurlah. Entah kenapa Mala menjadi agak sensi setelah kejadian semalam. Mungkin karena terlalu terkejut, baru pertama kali merasakan hal itu.
"Jangan kemana-mana. Aku udah nggak apa-apa kok." Mala langsung memeluk suaminya. "Mala nggak sakit lagi, jangan pergi. Kita di sini aja."
"Beneran?" tanya Dewa.
"Iyah. Udah nggak sakit, nggak perih. Udah, jangan cemas lagi ya. Mala sayang Kakak."
Dewa bernapas lega. Ia langsung mengeratkan pelukannya. "Syukurlah. Kakak lega, kalau kamu beneran udah nggak sakit lagi. Kakak janji nggak memaksa kamu, kalau kamu belum benar-benar siap yah."
__ADS_1
Mala mengangguk-angguk. Semoga saja yang selanjutnya akan terbiasa.