
Sampai detik ini Mala seolah tidak percaya bahwa di tempat ini dia sedang duduk menunggu kedatangan Dewa sebagai calon mempelai pria. Hari ini adalah hari pernikahan Mala Dewa.
Gedung hotel sengaja di pesan Delia, ibunda Mala. Sebagai penyelenggara pesta untuk putri semata wayangnya. Delia dan Mahen merasa lega karena putrinya yang sempat berpisah dari Dewa akhirnya kembali bersatu dan hari ini mereka akan menikah.
Teman-teman Mala pun berdatangan menghampiri Mala yang sudah terbalut kebaya khas Sunda, cantik dan menawan. Hanya saja Mala mencari keberadaan sahabatnya, Cilla. Gadis itu tidak terlihat hadir bersama Vina yang datang menggandeng kekasih barunya.
"Vin. Cilla mana? Kok nggak datang?"
Vinna mendadak muram. "Dia kayaknya nggak bisa datang. Dia hari ini nemenin nyokapnya di RS. Lo tahu nggak, Mala? Bokapnya Cilla belum lama sakit, terus sekarang gantian deh nyokapnya sakit. Dia sedih banget, mana lo tahu kan, kalau dia suka sama Gilang? Tapi, Gilang malah menolak dia. Padahal orang tua Cilla udah menjodohkan mereka berdua. Gilang kabur ke Korea gitu deh."
Mala tercengang saat mendengar penuturan Vina.
"Jadi-" putus Mala seketika teringat bahwa Gilang di Korea seringkali datang ke kampusnya.
"Kenapa?" sahut Vina bingung. "Lo pernah ketemu Gilang di Korea?"
Mala mengangguk ragu. "Dia sering ke kampus aku. Kata dia kampusnya nggak jauh dari tempat ku kuliah. Cuma aku jarang banget ngobrol lama sama dia. Mala fokus kuliah pengen cepetan lulus. Pikiran Mala selalu tertuju ke Dewa. Mala beneran nggak tahu kalau sesuka itu Cilla sama Gilang. Jangan-jangan Cilla nggak datang karena mengira mala mendekati Gilang?"
"Gue datang kok." Suara Cilla yang barusan saja muncul.
"Cilla? Lo dateng?" sahut Vina.
"Cilla. Ternyata kamu datang." Mala merasa lega.
"Selamat ya, Mala. Sorry gue telat. Tadi di jalan macet, tumben Bandung macetnya ngalahin Jakarta." Cilla memeluk sahabat SMA-nya itu dengan begitu lembut. "Selamat ya, gue turut bahagia."
"Makasih, Cilla. Mala minta maaf belum jengukin orang tua Cilla ya."
"It's okay. Mereka udah mendingan kok."
Cilla mengurai pelukannya. "Acaranya belum di mulai? Akadnya jam berapa?" tanyanya.
"Sebentar lagi deh kayaknya." Mala menyahut.
Tatapan Cilla terhadap Mala terlihat berbeda. Ada gurat sedih, Mala dapat merasakannya. "Cilla. Kamu masih sama Gilang?" tanya Mala.
Vina hanya terdiam ingin tahu jawaban Cilla.
Cilla tersenyum samar. "Masih apanya? Gue dan dia bahkan nggak pernah jadian. Dia sukanya sama elo, Mala."
Sontak Mala melebarkan mata. "Hah?"
Vina sudah mengetahui bahwa Cilla akan menjawab seperti itu. "Cil. Lo bisa cari lelaki lain, selain Gilang kan?"
Cilla tersenyum pahit.
__ADS_1
"Maafin Mala, Cil. Tapi Mala-" gadis itu menggelengkan kepala. "Cilla tahu kan?"
Cilla mengangguk. "Iya, gue tahu kok. Dari dulu gue tau kalau cinta lo cuma buat Dewa. Yang gue heran padahal Gilang lebih dulu kenal gue dibanding dia kenal lo. Tapi, sedalam itu perasaan dia ke lo. Mala."
Mala menjadi tidak tega melihat Cilla. Dia juga kesal kepada Gilang. Kenapa juga sih malah menyukai gadis yang jelas tidak mungkin balas menyukainya. Padahal ada gadis lain yang dengan tulus menyukainya.
"Mala. Acaranya udah mau dimulai Sayang." Delia memanggil putrinya.
"Iya, Bunda."
Mala memeluk Vina dan Cilla berbarengan. "Kalian harus bahagia ya. Cilla harus cari kebahagiaan Cilla, begitu juga Vina. Kita 3 tahun lebih nggak ketemuan, Mala kangen. Setelah ini kita harus ketemu lagi ya, ngumpul-ngumpul kayak dulu."
Vina dan Cilla mengangguk.
"Udah, sekarang lo harus ke depan. Bentar lagi, cita-cita lo bakalan tercapai, iya kan?" ucap Cilla.
"Ciyee, pipi lo merona. Udah nggak sabar jadi istrinya Dewa, gila sih lo! Beruntung banget." Vina ikut berkomentar.
"Dewa yang beruntung dapat Mala." Cilla menyambung.
"Uhhh, kalian manis banget. Doakan semuanya lancar yah. Mala ke depan dulu," kata Mala.
****
Mala berjalan menuju pria tampan yang akan segera menjadi imam hidupnya. Dewa sangat menawan mengenakan baju pernikahan senada dengan Mala. Pria itu tertegun saat Delia menggandeng calon istrinya untuk duduk di sampingnya.
"Hai." Dewa menyapa dengan senyuman kecil.
"Hai juga," balas Mala.
Dewa tak kuasa menahan senyuman. Ia langsung mencubit pipi Mala. "Cantik banget calon istriku."
"Ganteng banget calon suamiku." Mala pun sama, mencubiti Dewa, gemas.
Orang tua mereka sudah biasa melihat tingkah lucu anak-anaknya. Max berdehem sambil menepuk bahu Dewa.
"Mulai sekarang atau kita tunda besok?"
Dewa langsung bergegas menegapkan posisinya. "Sekarang, Dad!"
Orang-orang tertawa melihat betapa semangat Dewa untuk segera mengesahkan gadis di sampingnya. Begitu juga Mala ikut tersipu, tidak menyangka sebentar lagi dia akan menjadi istri Dewa.
Ini cita-citanya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nirmala Cheryl Lesmana binti Lesmana Mahendra dengan mas kawin satu set perhiasan lengkap dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!" Dewa dengan lantang mengucapkannya tanpa perlu di ulang. Tidak sia-sia dia latihan semalam.
__ADS_1
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah!"
Mala menunduk dengan perasaan antara percaya atau tidak. Baru saja pria yang di sebelahnya itu sah menjadi suaminya. Dewa Adrian, dia akhirnya menikahi Nirmala.
Puji syukur pun mengiringi prosesi akad nikah Mala dan Dewa. Dengan senyum bahagia Mala mengecup punggung tangan suaminya. Kemudian dewa mengecup kening istrinya.
"Love you, My wife."
Mala menangis sambil mengerucutkan bibirnya.
"Loh, jangan nangis, Sayang."
Mala semakin sesenggukan. "Mala nggak sangka. Kita bakalan nikah secepat ini."
Dewa mengusap pipi Mala sambil menyeka air mata yang turun membasahi pipi istrinya itu. "Kata siapa cepat. Kita nunggu tiga tahun lebih, bahkan dengan drama putus, iyakan?"
"Ih itu bukan Drama! Dikira sinetron!" ketus Mala.
"Iya Iya. Bukan drama. Intinya sekarang Mala udah sepenuhnya jadi milik kakak!" senyum puas Dewa. Lalu ia sedikit menyeringai. "Nanti malam kita bisa-"
Plakk!
Mala memukul bibir Dewa reflek. "Malu ih! Daddy nguping tuh di sebelah kamu,"
Max pura-pura menyingkir. Dewa menoleh. "Dad? Nguping? Ingat dad. Jangan larang-larang lagi, udah sah."
Max terkekeh. "Iya. Siapa yang nguping sih. Awas jangan kasar sama Mala. Dia masih kecil."
"Daddy? Mala udah dewasa," protes Mala.
Nayra bersama cucunya ikut tertawa. "Daddy jangan gitu ih. Masa anak kecil nikah. Mala udah dewasa. Iya kan Alana?"
"Tante Mala pacalan sama Oom Dewa. Ciye," goda Alana.
"Bukan pacaran, tapi nikah!" Alan protes dengan gemasnya.
"Ih Alan sok tau! Meleka tuh pacalan." Alana yang cadel tidak mau kalah.
"Terserah." Alan masih bersikap sok cool.
Natasha dan Calvin tergelak, begitu juga yang lainnya melihat tingkah Alana dan Alan, keponakan Mala dan Dewa.
"Kita nanti malam bikin yang kayak Alan dan Alana, mau?" bisik Dewa di telinga Mala.
__ADS_1
"Kakak! Jangan ngomongin gitu mulu ih." Mala menutupi wajahnya malu.
Dewa langsung memeluk istrinya gemas.