
"Mala." Dewa saat ini sedang di kampusnya. Sontak dia kaget, apa tadi yang didengarnya? Mala bilang putus?
"Anj***!"
Mendengar Dewa mengumpat, dua sahabat Dewa langsung menoleh. "Lo kenapa, Wa!"
"Mala?" tanya Zaki.
"Gila apa gue nggak salah denger?" ucap Dewa masih terkejut. "Dia lagi ngeprank atau apa."
"Cerita bego! Kenapa?" timpal Dika penasaran.
"Mala bilang putus. Terus hpnya di matiin. Sekarang kontak gue lo liat. Di blok!"
Dewa memperlihatkan foto profil Mala yang mendadak tanpa foto. Bukankah itu tandanya Mala sudah memblok nomor ponselnya?
"Wah. Gila! Mala prank kali. Bukannya lo dan dia baik-baik aja kan?" sahut Zaki.
"Nggak beres Wa. Mending lo telpon bundanya deh, mastiin." Dika berkomentar. "Gue takut aja, ada sesuatu," imbuhnya cemas.
Benar apa kata Dika. Dewa segera menelpon Delia, ibunda Mala. Dia benar-benar shock kenapa Mala tiba-tiba demikian padanya.
"Hallo tante. Mala nya ada nggak?" tanya Dewa dari sambungan telepon.
Dewa mengusap wajahnya saat Delia mengatakan Mala belum pulang dari kampusnya.
"Tante, kalau Mala udah pulang tolong bilang supaya hubungi Dewa ya," pesan Dewa.
Setelah itu Dewa menutup panggilan itu.
"Ahhh ****! Brengsek! Padahal nggak ada apa-apa sebelumnya. Kok bisa tiba-tiba gini sih!" umpat Dewa kesal.
"Tahan emosi lo. Gue yakin nanti Mala akan jelasin semuanya ke lo." Dika menepuk bahu sahabatnya. "Sabar oke."
Zaki pun merasa heran, padahal Mala setahunya tidak pernah bersikap sampai seperti itu terhadap Dewa.
"Mala pasti nggak dalam keadaan baik-baik aja, Wa. Gue curiga ada yang mempengaruhi dia." Zaki mengemukakan pendapatnya. "Iya, pasti gitu."
"Mempengaruhi? Tapi siapa?" tanya Dewa.
"Nggak masuk akal, Zak. Siapa yang mempengaruhi Mala. Di sana teman-teman dia juga nggak ada yang kenal Dewa kan?" ujar Dika.
Kata-kata Dika sontak membuat Dewa teringat seseorang. "Alyra. Apa mungkin..."
"Sialan! Pasti dia!"
"Siapa Wa?" tanya Dika penasaran.
"Gue yakin lo tau kan orangnya Wa? Pasti ada, iyakan?" ujar Zaki.
"Mantan gue. Temen baru Mala." Dewa menggertakkan giginya. Kali ini dia pasti tidak salah menerka. "Alyra. Gue yakin itu dia."
"Anjing. Mantan!" Zaki membuang napas kasar. "Mantan setan itu Wa! Terus lo mau gimana sekarang? Lo baru pulang dari Korea, masa mau lo samperin lagi?"
"Kalau bener ini karena si Lyra. Seharusnya Mala lebih percaya gue kan," Kata Dewa.
"Mungkin mantan lo cerita yang enggak-enggak." Zaki berkomentar.
"Iya, pasti dia cerita yang bikin Mala benci lo, Wa." Dika juga berpendapat sama.
"Gue biarin aja Mala berfikir. Kalau dia percaya gue, dia nggak akan sampai blokir nomor gue, iya nggak?"
"Wa. Lo tahu kan, Mala masih labil, dia masih terlalu muda," balas Dika.
"Tapi gue setuju sama kata Dewa. Mending biarin dulu Mala berfikir," timpal Zaki.
__ADS_1
Saat itu Dewa pusing dan marah. Ternyata yang dia cemaskan benar terjadi. Dia sudah menduga bahwa Alyra pasti akan menceritakan sesuatu padanya.
Waktu itu saat Dewa hendak pergi ke minimarket yang ada di dekat rumah sakit Mala. Dia berpapasan lagi dengan Lyra.
"Dewa. Apa kabar?" sapa gadis itu.
Dewa tidak menjawab. Dia berlalu melewati Lyra begitu saja. Tapi gadis itu menahan tangan Dewa. "Kita perlu bicara, Wa."
"Nggak perlu." Dewa menghempaskan tangan Lyra.
"Dewa! Kamu salah paham! Aku dan dia-"
"Stop!" Dewa menghentikan kata-kata Lyra.
"Dewa please, dengerin aku."
"Udah, nggak perlu lagi. Itu semua udah gue lupain." Dewa menjawabnya ketus. "Gue pergi dulu."
"Dewa! Kalau kamu nggak percaya sama aku. Jangan salahkan aku, kalau pacar kamu akan tahu semuanya!"
Dewa meremas kedua telapak tangannya. "Lo masih sama. Lo nggak punya hati, Lyra."
"Apa?" sentak Alyra.
"Jangan ganggu cewek gue. Atau gue makin benci sama lo." Dewa tidak berbalik dan menatap gadis itu sama sekali. Ia langsung pergi meninggalkan gadis itu segera.
****
Mala sudah lelah menangis. Dia tidak ingin pulang. Tapi, bundanya pasti mencemaskan dia sekarang. Mala berdiri di sebuah gedung cukup tinggi di salah satu bangunan yang ada di Seoul. Matanya menatap kosong pada gedung-gedung yang terlihat seperti bintang kecil. Mala baru saja memblokir nomor telpon Dewa. Seumur hidupnya mengenal Dewa, dia sama sekali tidak menyangka kalau dirinya akan melakukan hal itu.
"Ini udah berakhir." Bibir Mala bergetar, sudut matanya masih menggenang bulir bening yang tidak berhenti membasahi pipinya.
Mala merentangkan tangannya. Desir angin yang dingin menyelinap masuk membuat sekujur tubuhnya menggigil. Mala merasa limbung, apakah dia akan jatuh dari gedung itu, pikirnya.
Mala tersenyum pahit. "Mala percaya kak Dewa."
"Sejauh apa?" itu yang terus Mala tanyakan pada dirinya sendiri. Menerka kira-kira apa saja yang sudah dilakukan Dewa dulu dengan mantan kekasihnya itu. "Apa lebih jauh, dari yang kakak lakukan dengan aku?" sudut bibir Mala masih terus bergetar, tak kuasa untuk menahan sesak. Mala menjerit.
"Mala benci!" jeritnya.
Mala mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Dia pun berbalik tapi, kakinya malah tergelincir. "Aaaaaaa...."
Seseorang yang baru saja datang langsung menarik tangan Mala hingga gadis itu jatuh tepat di atas tubuh orang yang menariknya itu.
"Astaga." Mala menatap wajah orang tersebut.
"Kamu?"
Keduanya saling menatap tak percaya. Benarkah yang dilihat Mala?
"Kamu kan?" ucap Mala sambil memastikan lagi orang yang dilihatnya. "Kamu? Gilang?"
"Nirmala?"
Mala membulatkan mata saat dirinya masih berada tepat di atas pria itu yang ternyata dia adalah Gilang.
"Maaf," ucap Mala bergegas bangun.
"Kamu lagi apa di sini? Kamu mau bunuh diri?" tanya Gilang kaget.
"Hah? Mana mungkin sih, tadi Mala tergelincir karena kaget. Makasih udah nolongin Mala."
Meski ia merasa hidupnya tak lagi berarti tanpa Dewa. Tapi Mala tidak senekat itu dan ingin bunuh diri.
"Syukurlah, gue kira lo mau bunuh diri." Gilang mengusap wajahnya. "Nggak sangka cewek yang teriak tadi itu lo, Mala."
__ADS_1
"Ah, jadi Gilang denger?"
Gilang mengangguk. "Iya, gue kebetulan lagi di bawah. Gue biasa di sini, untuk nenangin diri. Kaget pas dengar ada cewek teriak."
"Oh jadi gitu. Gilang kuliah di sini?"
Gilang mengangguk lagi. "Gue kan cari lo, Mala." Senyum cowok itu mengembang sambil memperlihatkan baris giginya. "Becanda!"
Mala terkekeh. "Gilang. Masih suka iseng," kaget Mala sesaat.
"Tapi gue nggak nyangka ketemu lo. Lo lagi ada masalah?"
Mala terdiam. Mana mungkin dia menceritakan masalahnya pada Gilang. "Enggak. Cuma lagi cari udara segar aja."
"Beneran? Lo baik-baik aja kan sama pacar lo?"
Gilang tidak akan lupa sosok yang beruntung mendapatkan hati Nirmala.
"Mala harus pulang. Makasih Gilang udah nolongin Mala." Gadis itu berlalu melewati Gilang. Tapi Gilang malah mencegahnya.
"Kenapa?" Mala menolah sambil melihat tangannya yang sedang di genggam Gilang.
"Sorry." Gilang melepaskan genggaman tangannya.
"Gue boleh ketemu lagi sama lo nggak?" tanya Gilang. "Sebagai teman, kita kan teman."
"Boleh. Kalau takdir mempertemukan kita kayak gini. Kita teman kok," senyum Mala. Gadis itu masih sama di mata Gilang. Masih tetap manis dan ramah.
"Oke. Hati-hati ya."
Mala mengangguk. "Bye."
****
Dewa masih mondar-mandir di kamarnya. Ia menunggu telpon dari Mala tapi belum juga ada panggilan masuk. Mala masih memblokir nomor ponselnya. Bahkan Dewa mencoba menghubungi Mala dengan nomor lain tetap saja nihil. Ponsel Mala dinonaktifkan.
Di rumahnya, Mala yang baru saja masuk langsung mendapat sambutan dari bundanya. "Mala, kamu kok baru pulang?"
"Bunda." Mala terkejut, tidak biasanya bundanya menunggui dia di depan pintu. "Mala baru selesai kelas."
"Sejak kapan anak bunda bohong?" tanya Delia yang sudah menelpon pihak kampus. "Kamu bolos kuliah kan?"
Mala meneguk ludahnya keras. "Bun."
"Mala? Kamu ada masalah?" tanya Delia. "Dewa minta kamu telpon dia."
Mala terhenyak. "Mala udah putus sama Dewa."
"Apa?" sentak Delia kaget. "Kok bisa? Kenapa?"
Mala tersenyum dengan air mata yang mengaliri pipinya lagi. "Nanti aja Mala cerita. Tolong bilangin kak Dewa. Beri Mala waktu, kalau udah tenang Mala akan jelaskan secara langsung. Mungkin liburan semester Mala akan ke Bandung."
"Mala ngantuk, Bun. Mala mau ke kamar dulu."
Delia kaget. Tidak biasanya putrinya itu sampai setegas itu. Biasanya Mala selalu lemah jika berhadapan dengan urusan yang menyangkut Dewa. Tapi kali ini Delia bisa melihat tekat kuat dari anaknya.
"Ada apa ini sebenarnya?"
Mala menghempaskan tubuhnya. Ia menangis sambil melesakkan wajahnya ke bantal. Mala sudah lelah menangis sejak tadi. Bagaimana bisa dia kuat seperti ini mengabaikan Dewa. Tapi, ia marah dan cemburu. Mala merasa kesal ketika teringat foto kebersamaan Dewa dengan Lyra.
Ponselnya sengaja ia matikan sejak tadi. Mala tahu kalau Dewa pasti akan terus berusaha menghubunginya. Kalau dia menghubungi Dewa sekarang pun semuanya akan percuma. Mala tidak mau memarahi Dewa, pria yang paling ia cintai. Mala sadar itu masa lalu, tapi Mala masih saja merasa sakit menerima semua kenyataan itu.
"Apa benar aku cuma pelarian?"
Gadis yang begitu amat menyukai Dewa itu meringis merasakan hatinya yang teriris-iris.
__ADS_1
Dewa melempar ponselnya sesaat setelah Delia menghubunginya. Delia memberitahukan pesan yang ditinggalkan Mala untuk Dewa. Dia merasa tidak mengenal Mala, kenapa Mala bersikap seperti itu padanya.
"Ini semua karena Alyra!" Dewa mengusap kasar wajahnya sambil terus mengutuk gadis dari masa lalunya itu. "Brengsek!!"