Mala Dewa Love Story

Mala Dewa Love Story
21 : Can I Kiss You?


__ADS_3

Mala memandangi ruangan rumah sakit. Sepi, tidak ada siapapun sekarang. Ayah dan bundanya sedang pulang ke rumah. Pikirannya terus menyimpan banyak pertanyaan tentang perasaan Dewa saat ini padanya.


Kita putus aja. 


Itu yang dikatakan Dewa kemarin padanya. Apa benar Dewa hanya tidak ingin dirinya tersiksa? Atau jangan-jangan Dewa yang ingin berpisah dengannya karena bosan. Tapi, kalau Dewa bosan, buat apa Dewa menangis saat dia sakit kemarin.


"Apa aku sanggup pisah sama kamu, kak?"


Beberapa saat kemudian Mala tersentak mendengar suara pintu ruangannya terbuka. "Bunda atau Ayah?" Mala berbalik dan terkejut.


"Kak Dewa."


Dewa pun masuk bersama dengan Maxime dan Natasha.


"Om Max?" sapa Mala.


"Mala Sayang, kamu gimana kabarnya?" tegur Max sambil berjalan mendekat.


"Mala baik, Om." Mala bermaksud berdiri, tapi Dewa mencegahnya. "Duduk aja," cegahnya.


"Iya, kamu duduk aja, Sayang." Maxime mengusap puncak kepala Mala. Gadis itu sudah dia anggap seperti putrinya sendiri.


"Hai Mala, masih ingat sama aku?"


Mala tersenyum lebar. "Kak Natasha kan? Aku ingat, waktu itu kita ketemu sewaktu Kakak menikah," jawab Mala yang tidak lupa wajah Natasha, masih cantik seperti dulu sewaktu pertama bertemu.


"Senangnya. Rupanya kamu masih ingat," ucap Natasha sambil mendekati Mala. "Kamu udah sembuh kan?" Imbuhnya.


"Pasti aku ingat Kakak. Cantik, baik, masa aku lupa. Aku udah sembuh kok," balas Mala dengan ceria.


Max dan Dewa ikut senang mendengarnya. Mereka pun berbincang sebentar sekaligus berpamitan. Max dan Natasha akan segera pulang ke Indonesia.


Raut wajah Mala langsung berubah muram. Padahal dia senang dikunjungi oleh Natasha dan Maxime. Tapi kenapa mereka malah cepat sekali berpamitan pulang. Lalu Dewa?


"Mala Sayang, Dewa nggak ikut pulang kok. Dia jagain Mala di sini sampai Mala sembuh benar," beber Max yang tidak mau membuat Mala sedih karena dia harus segera pulang ke Indonesia.


"Beneran?"


Mala tidak percaya. Apa benar Max mengizinkan Dewa menetap di Korea sampai ia sembuh?


Natasha tersenyum lalu memeluk Mala. "Cepet sembuh ya. Dewa sayang banget sama kamu. Mala belajar yang rajin, cepet lulus kuliah supaya bisa di halalin Dewa," kekehnya sambil mencubit dua pipi Mala yang agak chubby.


Dewa hanya terbatuk sesekali sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Maxime tertawa kecil melihat tingkah putranya. "Semangat!" pesan Max pada Dewa sambil menepuk bahu anak lelakinya itu.


Mala memandangi Dewa sekilas, lalu kembali menatap Natasha.


****


Dewa mengantar Max dan Natasha sampai keduanya berlalu menuju airport. Setelah itu Dewa berjalan menuju kamar rawat Mala kembali. Saat itu seorang gadis berdiri tepat di depan ruangan Mala. Dewa pun menghentikan langkah kakinya, hingga gadis itu menoleh ke arah Dewa.


Keduanya saling menatap. Dewa melebarkan matanya, masih di posisinya dan tidak bergerak.


Kita putus! Semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu, Alyra!


Dewa! Kamu salah paham, please! Dewa percaya aku!

__ADS_1


Dewa langsung teringat lagi akan hal itu. Kejadian beberapa tahun lalu sebelum Dewa akhirnya pindah ke Bandung dan bertetangga dengan Mala. Gadis itu, benarkah dia Alyra?


Gadis itu memaku di tempatnya. Berdiri tegap dengan mata yang mulai memerah.


"Dewa?"


Dewa Adrian Nichole. Wajah itu, dia benar Dewa yang aku kenal, batin gadis di seberang sana yang diduga Alyra, mantan kekasih Dewa dulu.


"Alyra?"


Mereka pun saling memalingkan wajah setelah memastikan keduanya memang saling mengenal.


Dewa tidak ingin berurusan lagi dengan masa lalunya. Ia melangkah mendekat ke posisi Alyra hingga melewati gadis itu dan langsung mendorong pintu ruang rawat Mala.


Alyra menoleh melihat Dewa masuk ke dalam ruangan Mala.


"Dewa. Dia beneran Dewa. Kenapa dia bisa di sini?" decak Lyra, dia adalah teman sekampus Mala.


Lyra melihat ke jendela ruangan rawat Mala. Meski tidak terlalu jelas tapi Lyra melihat Dewa mendekati Mala dan memeluk teman kampusnya itu.


"Mala siapanya Dewa?"


Di dalam ruangan Mala, Dewa yang masih terkejut karena bertemu dengan Alyra, mantan kekasihnya. Tidak diduga dan tidak pernah mengira akan bertemu setelah bertahun-tahun keduanya tidak pernah saling sapa, bahkan bertatap muka walau sekalipun setelah mereka berpisah.


"Kak Dewa kok bengong?" tegur Mala.


Dewa tersentak. "Eh, enggak kok. Itu tadi kok ada cewek di depan ruangan kamu. Dia siapa?"


"Cewek?"


Mala berpikir sejenak. "Cewek siapa ya?"


Dewa menarik napasnya dalam-dalam. Apa dia harus memberitahu Mala kalau cewek yang dia lihat tadi adalah Alyra mantan kekasihnya?


Ah, tidak. Dewa secepatnya menyingkirkan pikiran tersebut. Alyra atau siapapun itu sudah tidak lagi penting, itu hanyalah masa lalu.


Mala masih berpikir siapa kira-kira cewek yang dimaksud Dewa. Sedangkan Dewa baru ingat akan nama teman baru Mala di kampusnya yang bernama Lyra. Apa dia adalah Alyra?


"Kak, siapa sih? Aku nggak tahu loh. Yang suka berkunjung ke tempat ku tuh cuma ayah dan bunda aja, nggak ada orang lagi. Aku kan nggak punya kenalan-" ucap Mala terhenti saat ia ingat satu orang yang mungkin saja itu dia. "Atau dia itu?"


Dewa terdiam menunggu tebakan Mala.


"Dia temenku, Lyra. Ya, pasti itu Lyra deh. Kok dia nggak masuk ya?"


Kedua mata Dewa terpejam sebentar sebelum akhirnya ia membuang napasnya perlahan. Kenapa dunia begitu sempit? Jadi benar dia adalah Alyra. Teman Mala?


"Temen kamu satu kelas?" tanya dewa penasaran kenapa mereka bisa satu kampus. Jelas-jelas usia Lyra lebih tua dari Mala tiga tahun.


Mala menggeleng.


"Dia udah mau lulus Kak."


"Oh."


Pantas saja. Dewa sudah mengira. Tidak salah lagi, itu adalah Alyra. Lyra teman Mala adalah Alyra yang dulu dia kenal.


Mala menuruni ranjangnya. Saat itu Dewa masih termenung, entah sedang memikirkan apa, batin Mala yang agak heran ada apa dengan Dewa.

__ADS_1


"Kakak." Mala langsung memeluk Dewa. "Kenapa bengong sih?" tanya Mala sambil mendongakkan wajahnya. "Kakak mikirin apa?"


Dewa tersenyum kecil. "Mikirin kamu," jawabnya yang langsung mengecup hidung Mala. Dewa langsung menggendong tubuh Mala dan mengembalikan gadisnya itu untuk berbaring di atas ranjang.


"Jangan banyak bergerak. Kamu masih sakit," tegas Dewa.


Mala terkekeh sambil mengangguk. "Tapi Mala kangen, Kakak. Mau peluk kayak tadi lebih lama."


Dewa menyentuh sulur anak rambut gadisnya. "Kakak juga kangen, banget."


Mala mengusap wajah Dewa. Menyusuri garis rahang lelaki yang tidak pernah lepas dari pikirannya itu. Mala tidak tahan lagi dan langsung mengecup bibir Dewa sekilas.


"Hm?" deham Dewa kaget karena Mala mencuri start lebih dulu.


"Mala kangen, udah lama nggak cium Kakak." Gadis itu meneteskan air mata. Tak tahan dan akhirnya menangis lagi.


"Jangan nangis. Kakak di sini, sampai Mala sembuh."


Dewa menyentuh kedua pipi Mala, lalu mengecup kelopak mata Mala yang terpejam.


"Kakak juga kangen. Karena itu Kakak ada di sini. Kakak udah bilang kan, kalau Kakak nggak akan menahan. Kakak akan cari kamu, datangi kamu."


Mala mengangguk, masih sesenggukan karena tangisnya. Dewa mengusap bibir Mala lembut. Bukan hanya rindu, tapi Dewa hampir gila jika memikirkan tidak dapat mengecup bibir itu untuk waktu yang lama.


"Can I kiss you here?"


Mala mengangkat wajahnya saat Dewa menyentuh tepat di bibirnya. Senyuman pun terbit dari bibir keduanya dan Mala mengangguk setuju.


Tanpa membuang waktu. Dewa segera menempelkan bibirnya pada bibir Mala. Keduanya saling meluapkan rasa rindu yang selama satu bulan ini mereka tahan. Ciuman yang teramat perlahan dan lembut pertanda kasih sayang yang akan terus bersemi meski jarak memisahkan sementara waktu.


Kening keduanya saling menempel satu sama lain. Dewa menyentuh sambil mengusap kedua pipi Mala dengan telapak tangannya yang hangat. Napas mereka saling bersahut dengan agak terengah-engah karena ciuman tadi.


"Nggak ada yang coba goda kamu kan di kampus?" selidik Dewa sambil menelusuri tatapan Mala padanya. Gadis itu menyeringai tipis.


"Hm? Kok nggak jawab?"


Mala tertawa lalu mencubit pipi Dewa, gemas.


"Nggak ada. Kalaupun ada juga Mala nggak peduli. Kakak sendiri gimana? Masih suka mesra sama kak Rosy? Masih suka boncengin kak Rosy pulang kuliah? Masih suka bantuin kak Rosy tugas kuliah?" berondong Mala dengan pertanyaan bertubi.


Dewa terkekeh. "Astaga. Pertanyaan kamu tuh."


Mala mengerucutkan bibir. "Jawab dong!"


Dewa mendekat, mendorong pelan tubuh Mala hingga posisi menyender. Seringai dari bibir Dewa membuat Mala mengerutkan keningnya. "Kakak mau apa?"


"Menurut kamu?"


Tangan Dewa mulai menelusup masuk ke dalam piama rumah sakit yang dikenakan Mala. Mata Mala melebar saat tangan Dewa mengusap lembut perutnya.


Mala meneguk ludahnya susah payah. Saat itu mata Dewa terus menggodanya hingga ia merona. "Kak."


"Hm?"


Saat tangan Dewa mulai bergerak naik. Suara ketukan pintu mengangetkan keduanya.


"Astaga!"

__ADS_1


__ADS_2