
"Tapi kamu suka kan, di mesumin Kakak?"
"Kakak! Apaan sih, udah ah pokoknya Mala pinjam baju Kakak!"
"Oke oke, Kakak ambil dulu ya."
"Gitu dong." Mala mengangguk. Ia malas pulang ke rumahnya untuk sekedar ganti baju, padahal mereka bersebelahan. Mala berpikir akan menyenangkan jika mereka menikah nanti, selalu bersama dalam satu atap.
"Sayang. Pakai bajunya ya." Dewa menyerahkan kemeja miliknya dalam keadaan bertelanjang dada. Mala berteriak reflek. "Ahhhh..., Kakak! Porno ih!"
"Apa sih, hm? Masa gini doang porno. Aku masih pakai celana," bisiknya di telinga Mala.
Gadis itu bertambah merona. "Sini kan bajunya. Aku mau ganti sekarang. Mala mengambil baju ditangan Dewa lalu berlari masuk ke kamar mandi. Dewa tertawa melihat Mala yang berlari dengan pipi merah. "Gemes banget. Sabar Wa. Ini ujian, tahan..."
Dewa mengenakan kaos tanpa lengan miliknya lalu mulai memeriksa bahan masakan yang ada di dalam kulkas. Mala ingin memakan pasta, dia ingat kalau Mala sangat suka pasta buatannya.
Cerita manis mereka beberapa tahun lalu, saat Mala masih duduk di bangku SMA tak pernah Dewa lupa, karena itu masa-masa paling manis yang pernah mereka rasakan. Dewa masih sering rindu dengan momen seperti itu.
Kehilangan Mala walau hanya beberapa saat saja, rasanya begitu menyesakkan. Saat ini gadis itu ada di rengkuhannya, sebisa mungkin Dewa tidak akan membiarkan Mala pergi lagi dari sisinya.
"Kak, Mala udah ganti baju." Gadis itu muncul mengenakan kemeja Dewa. Sudah Dewa duga, bahwa Mala pasti terlihat mengemaskan dengan pakaian miliknya.
"Oh Tuhan... Kucinta dia..." Dewa malah bersenandung membuat Mala terkekeh.
"Apasih kamu! Malah nyanyi. Tapi aku suka suara kamu, Kak. Kapan-kapan kamu nyanyi sambil main gitar yah untuk aku."
"Hmm, kalau aku nyanyi, kamu kasih aku apa?"
"Kamu mau apa dari aku?"
Dewa mendekat ke arah Mala. Lalu meraih pipi gadis itu. "Mau kamu seutuhnya, bisa?"
"Bisa," jawab Mala. "Nanti kalau udah nikah."
"Emang kenapa kalau aku minta sekarang?"
"Kakak! Kamu gitu ih. Aku sebel sama kamu!" Mala memajukan bibirnya.
"Becanda, Sayang. Aku masih kuat kok nunggu sampai sah. Asalkan jangan kelamaan, takut khilaf."
Mala terkikik geli. "Kamu mau kapan?"
"Hm? Terserah aku kah?"
Mala mengangguk. "Iya, terserah kamu. Besok juga aku siap."
"Beneran?"
__ADS_1
"Iya, masa aku bohong. Tapi, izin dulu sama ayah bunda aku, oke?"
"Pasti. Besok kita ke Jakarta, setelah itu biar daddy dan mami yang menghubungi orang tua kamu, oke?"
"Oke. Tapi..."
"Tapi apa?" tanya Dewa.
"Tapi sekarang aku laper banget. Denger deh perut aku bunyi terus." Mala menunjuk ke perutnya. Dewa mendekatkan telinganya ke perut Mala. "Lucu ya, kalau ada bayinya di sini."
Mala membulatkan matanya. "Kakak ih! Mana bisa sih," sentaknya.
"Bisa, kamu mau aku kasih bayi di dalam sini?"
"Gimana caranya?" tanya Mala polos. Tentu dia hanya berpura-pura.
"Mau aku praktekin?" Dewa menyeringai.
"Enggak! Udah ah, kamu ih becanda mulu. Aku mau pasta." Mala merengek. "Mana kok belum matang."
"Sabar, aku cepet kok bikinnya. Kamu duduk dulu ya."
Mala pun duduk. "Oke, aku tunggu."
Dewa segera membuatkan pasta kesukaan Mala. Selain masakan Dewa, Mala juga suka melihat saat Dewa memasak, menurutnya lelaki yang bisa masak itu sangat menarik. Seperti Dewa saat ini, tak jemu Mala memandanginya.
"Emang kamu bisa gugup juga, hm?"
"Bisa dong. Tiap deket kamu, aku tuh selalu gugup."
"Ih, nggak percaya!" Mala menjulurkan lidahnya. "Kakak mana pernah gugup."
"Suer deh. Deket kamu bawaannya istighfar mulu. Kalau nggak udah habis tahu nggak kamu sama aku."
"Apa hubungannya dengan gugup coba! Udah ah, kamu kalau ngomong menjurus ke situ mulu," sengit Mala.
"Aku suka ngomongin gitu sama kamu, menarik." Dewa tertawa kecil.
"Aku nggak denger," sahut Mala menutupi dua telinganya. Dewa hanya terkikik geli melihat Mala.
Pasta pun akhirnya selesai Dewa masak. Mala sudah menunggu masakan Dewa itu matang. Perutnya sejak tadi sudah keroncongan, cacing dalam perutnya sudah protes dan berperang.
"Selamat makan, Sayang." Dewa menyodorkan sepiring pasta buatannya. "Without cheese for my sweety."
"Thank you, honey." Mala mengambil garpu dan mulai memakan pasta buatan kekasihnya itu. "Hum, seperti biasanya. Sama persis kayak yang dulu Kakak sering buatin aku. Enak, pake banget!"
"Iya dong. Kakak cuma masakin kamu aja loh. Mana pernah masakin orang lain. Mami dan Daddy aja nggak pernah tahu kalau Kakak bisa masak," terang Dewa.
__ADS_1
"Masa sih?" Mala masih melahap pasta buatan Dewa. "Kok bisa om dan tante nggak tahu?"
"Iya, karena Kakak nggak pernah masak selain sama kamu." Dewa mengambil tisu lalu mengelap ujung bibir Mala. "Pelan-pelan makannya, nggak ada yang minta kok."
Mala terkekeh. "Mala kalau makan mana pernah rapi. Mala selalu sedih kalau makan pasta di Korea."
"Kenapa?" tanya Dewa ingin tahu. "Kok sedih?"
"Mala inget Kakak. Mala nggak sanggup. Jangankan untuk makan, untuk melihat pasta aja rasanya Mala sedih banget, teriris, Mala nggak bisa."
Dewa menghela napas panjang. "Sesakit itu ya?"
"Lebih dari itu," jawab Mala mendadak sendu.
"Sekarang jangan sedih. Kakak akan selalu ada di samping Mala, oke?"
"Tentu. Mala nggak akan biarin Kakak di rebut siapapun, termasuk cewek seksi tadi."
"Cewek seksi?" tanya Dewa tidak paham siapa yang dimaksud Mala.
"Mantan sekertaris kamu itu loh."
"Astaga. Kayak gitu kamu bilang seksi?"
"Iyalah. Gimana nggak seksi. Jauh dibanding aku," jawab Mala, murung.
Dewa menyentuh dagu Mala, mengangkat wajah gadis itu perlahan. "Sayang. Bagiku, cuma kamu yang paling seksi. Sumpah, aku nggak bohong."
Mala hanya terdiam sambil mengunyah pasta di mulutnya.
"Aku selalu ingin melihat kamu seutuhnya menjadi milik Kakak. Ingin menyentuh kamu, seutuhnya. Nggak pernah tuh aku mikirin cewek lain. So, kamu jangan mikir yang enggak-enggak." Dewa menegaskan hal itu pada Mala.
Gadis itu hanya tersenyum lalu mengambil segelas air dan meminumnya.
"Mala bangga dicintai Kakak."
Dewa mengusap bibir Mala. "Aku juga bangga bisa mencintai dan dicintai kamu, Sayang."
Kedua mata mereka beradu, suasana begitu mendukung untuk mereka saling mencium. Dewa tak pernah bisa mengabaikan suasana tersebut, dia pun langsung menempelkan bibirnya di tempat yang seharusnya. Tapi suara bel membuat keduanya tersentak kaget.
"Siapa yang datang sih!" Dewa mengusap kasar wajahnya.
"Kakak sering nerima tamu kah?" tanya Mala.
"Enggak, ini nggak biasanya. Kakak buka dulu ya,"
"Oke."
__ADS_1
Entah siapa yang datang ke rumah Dewa malam-malam begini. Dewa merasa kesal, karena itu mengganggu aktifitasnya dan juga Mala tadi.