Mala Dewa Love Story

Mala Dewa Love Story
17 : Menabung Rindu


__ADS_3

...Meski di sini aku tersenyum sekalipun. Tetap saja, rasanya tidak sama tanpa kamu. ~MalaDewa...


...*****...


Mala masih menggenggam erat gelang pemberian Dewa. Air matanya tak dapat ia hentikan. Bulir bening itu terus menerus turun membasahi pipinya.


"Mala Sayang. Oh astaga, putri bunda yang paling cantik. Udah dong jangan nangis terus." Ibunda Mala terus berusaha menghibur putrinya. Mereka sekarang sudah berada di sebuah rumah yang disiapkan ayah Mala untuk tempat tinggal mereka.


"Ne, kamsahamnida." Ayah Mala baru saja selesai menelpon. Dia langsung menghubungi kenalannya agar Mala bisa langsung masuk ke universitas.


"Sayang, ayah udah hubungi teman ayah. Besok kamu bisa mulai kuliah loh. Udah jangan sedih ya, Dewa juga ikut sedih kalau kamu sedih. Udah seminggu Sayang, masa kamu mau sedih terus?" ujar Ayah Mala sambil mengusap kepala putrinya.


"Bener kata Ayah, Nak. Kamu jangan sedih terus yah. Semangat dong,"


Mala mengangguk sambil menyeka air matanya. "Iya, Bun, Yah."


Dewa juga selalu memberinya semangat. Seperti saat ini, Mala terus menggenggam ponsel ditangannya, ada sebuah pesan masuk dari Dewa.


Semangat ya Mala Sayang, ingat untuk tersenyum. Jaga hati kamu, hanya untuk aku. Kata Dewa yang selalu terngiang oleh Mala.


Tanpa perlu diingatkan, Mala memang hanya akan menjaga hatinya untuk Dewa seorang.


Di kamarnya, Dewa pun sama gelisah nya dengan Mala. Sudah seminggu ini dia berdiam di apartment. Dewa enggan pulang ke rumah, karena ia hanya akan terus mengingat Mala jika di sana. Maxime dan Nayra mengizinkan Dewa untuk tinggal di apartemen. Bulan depan Natasha akan dijemput oleh Maxime untuk tinggal di Bandung bersama anak kembarnya. Suami Natasha ada dinas ke luar negara. Sehingga Max juga Nayra meminta agar Natasha tinggal di rumah mereka saja.


"Bulan depan, tunggu aku ya. Mala."


Dewa meminta Max agar ia ikut ke Korea bulan depan saat akan menjemput Natasha. Maxime awalnya melarang, karena Max tahu pasti puteranya itu ingin menemui Mala. Tapi, Dewa berjanji tidak akan mengganggu Mala yang sedang fokus kuliah. Dewa hanya ingin memberi semangat, agar Mala tetap bahagia selama di Korea meski jauh darinya.


****


Seoul University


Hari ini adalah hari pertama Mala masuk ke universitas. Tadi pagi dia sudah diberikan semangat spesial dari Dewa. Meski sedih, rindu, bercampur jadi satu. Tapi, Mala harus tetap menjalani harinya di sana, walaupun tanpa kehadiran kak Dewa-nya.


Mala tak banyak berbicara dan berusaha mencari teman. Meski di sana banyak yang berusaha mendekati Mala untuk berkenalan, tapi Mala hanya fokus pada kuliahnya, ia ingin segera lulus dari Universitas.


"Hai, kamu orang Indonesia?" Seorang gadis mengajaknya berkenalan. Dia mengulurkan tangannya pada Mala. "Aku juga dari Indonesia, loh."


Mala tersenyum kemudian meraih uluran tangan gadis itu. "Hai, aku Mala. Senang bisa ketemu orang Indonesia di sini," ujarnya.


"Oh Mala, namaku Lyra."


Keduanya saling tersenyum.


"Boleh duduk nggak?" tanya Lyra pada Mala.


"Boleh, Lyra. Duduk aja," jawab Mala mempersilahkan.


Lyra adalah teman pertama Mala di Universitas. Tentu dia tidak menyangka akan mendapatkan teman sesama orang Indonesia. Tidak buruk juga, setidaknya Lyra terlihat ramah dan baik. Eh, dia juga cantik, batin Mala.


Hari pertama kuliah, Mala mendapatkan teman baru. Itu juga ia ceritakan pada Dewa.


"Lyra, kenapa kayaknya nama itu nggak asing ya?" gumam Dewa.


"Woh, Wa! Lo jangan kebanyakan bengong ege!" sentak Zaki yang sejak tadi melihat Dewa lebih banyak murung dan bengong sendirian.


"Lo kayak nggak tau aja! Dewa pasti kangen sama si kecil Mala. Kasian lo, Wa! Tapi gue salut sama lo dan Mala, setia banget lo berdua." Dika menepuk bahu Dewa. "Hebat lo."


Dewa hanya tersenyum samar. "Belum ada sebulan, baru dua Minggu. Apa udah bisa dibilang setia?" ucapnya pada dua sahabatnya.


"Eitss, emangnya lo ada niat selingkuh Wa?" samber Zaki.

__ADS_1


"Selingkuh jidat lo rata!" sentak Dewa.


Dika terkekeh. "Tau lo, Zak."


Zaki menyentuh keningnya. "Woy emang harusnya jidat itu benjol apa gimana? Lo ngatain jidat gue rata!"


"Skip skip, gak jelas lo Zak!" Dika duduk di samping Dewa. "Lo takut Mala di gebet oppa Korea ya?"


Dewa mengusap wajahnya. Sejujurnya ia percaya pada Mala. Tapi, oppa Korea bukannya tampan? Batin Dewa.


"Oh iya, lu bener Dik. Oppa Korea kan ganteng, njir." Zaki tertawa lepas. "Anjir Dewa. Hati-hati lu. Mana Mala tuh polos banget."


"Lo berdua bisa nggak sih jangan bikin gue jadi kepikiran? Mana mungkin lah, Mala kan setia." Walaupun Dewa juga merasa cemas. Apa iya? Mala akan tergoda.


Zaki dan Dika menahan tawanya. Padahal mereka yakin kalau Mala akan bisa menjaga hatinya. Tapi entah kenapa mereka senang sekali meledek Dewa.


"Hati-hati doang Wa. Mala itu cantik, imut, gemesin. Kali aja ada oppa Korea yang naksir." Dika kembali ingin meledek Dewa.


"Udah pasti itu mah Dik. Pasti banyak yang naksir Mala," sambung Zaki sambil mengunyah kacang yang baru saja ia kupas.


"Tega Lo berdua! Gue cabut lah!" Dewa pun memilih meninggalkan dua sahabatnya yang saat ini puas menertawakannya.


"Hati-hati Dewa Adrian! Mala lo di ambil oppa Korea! Hahaha!" Zaki dan Dika puas meledek Dewa. Nyatanya Dewa jadi kepikiran. Apa iya?


Di kamarnya, Mala terus saja berulang kali memeriksa ponselnya. Kenapa Dewa belum juga membaca chat darinya sejak tadi. Apa dia sudah tidur? Tapi tidak biasanya. Biasanya Dewa selalu mengirimkan ucapan selamat tidur untuk Mala.


"Sayang, kok belum tidur?" tanya Bunda Mala yang datang membawa segelas susu hangat buat putrinya.


"Belum, Bun." Mala tampak murung. Jujur, bunda Mala merasa sedih, karena biasanya Mala selalu ceria. Tapi, semenjak mereka tinggal di Korea, Mala selalu terlihat murung. Dewa benar-benar berpengaruh besar bagi putrinya.


"Sayang, kamu kangen sama Dewa ya?"


Mala mendongak, saat itu bundanya sedang memeluknya. "Iya, Bun. Banget," jawab Mala jujur.


Gadis itu terdiam. Dia memutuskan hal itu atas kesepakatannya bersama Dewa juga.


"Apa Dewa yang meminta kamu harus ke Korea?"


"Enggak kok, Bun. Itu kesepakatan Mala dan kak Dewa." Mala terhenyak, teringat lagi saat keduanya memutuskan untuk sama-sama berjuang dengan hubungan jarak jauh seperti sekarang.


"Lalu, kalau memang itu udah kesepakatan kalian, kenapa Mala masih aja murung?"


Pertanyaan bundanya membuat Mala terdiam lagi.


"Mala harusnya tegar, karena kalian berdua sudah memutuskan untuk berjuang. Dewa di sana membangun pendidikannya sampai dia lulus Pascasarjana. Begitu juga Mala seharusnya, disini nggak boleh murung dan terus bersedih, iya kan?"


Kata-kata bundanya memang benar. Seharusnya Mala mulai menjalani hari-harinya dengan ceria. "Iya, Bunda. Mala akan berusaha."


"Gitu dong, anak bunda kan pintar, cantik. Bunda bangga sama Mala."


Mala baru kali mendengar kata-kata itu dari bundanya. Mungkin karena selama ini bundanya itu terlalu sibuk bekerja.


"Beneran, Bun? Bunda bangga sama Mala?" tanya Mala.


Bunda Mala mengangguk. "Tentu, saat ini hanya Mala yang bunda punya."


Padahal Mala mengira bahwa bundanya hanya bangga terhadap kakaknya yang sudah meninggal dunia, Jesslyn.


"Bunda sayang sama Mala, sama kayak bunda sayang dengan kak Jesslyn. Tapi kak Jesslyn udah bahagia di surga, sekarang hanya Mala yang ada di dekat bunda. Bunda ingin Mala selalu tersenyum, bisa kan, Nak?"


Mala mengangguk lalu mengeratkan pelukannya pada bundanya. "Mala juga sayang bunda, maafin Mala ya."

__ADS_1


Bunda Mala sudah keluar dari kamar Mala. Saat itu Mala bertekad untuk berusaha tegar meski harinya tidaklah sama tanpa kehadiran Dewa. Benar kata bundanya, Mala harus membuktikan pada Dewa, kalau dia layak dan memang pantas untuk Dewa.


Saat Mala memutuskan untuk tidur, ponselnya berdering. Satu panggilan masuk dari Dewa. Mala sangat senang, sampai ia melompat-lompat seperti anak kecil.


"Kak Dewa!"


Senyum Mala melingkar cantik. Dia langsung menyentuh tanda accept pada layar ponselnya. Lalu wajah Dewa pun tampak di layar handphonenya.


"Mala, kamu belum tidur?"


Mala mengangguk. "Kakak kemana aja? Aku dari tadi tungguin chat Kakak, tapi belum juga aktif."


"Kenapa? Kangen ya?"


"Tentu aja kangen, emangnya Kakak nggak kangen sama Mala?"


Dewa menghela napas panjang. "Kangen banget, Sayang. Malahan Kakak pengen nyusulin kamu ke Korea sekarang, beneran deh."


Mala menyentuh layar ponselnya. Dewa melakukan hal yang sama. "Mala juga maunya ketemu Kakak. Obatnya cuma itu, tapi..."


Dewa mendadak gugup. Jangan-jangan Mala ingin mengatakan bahwa dia sudah mendapatkan gebetan baru? Dewa teringat kata-kata dua sahabatnya tadi.


"Tapi, apa?" tanya Dewa dengan raut menegang. Mala terkekeh melihat raut Dewa yang sangat terlihat gugup.


"Kenapa muka Kakak jadi tegang gitu ih, lucu pengen cubit." Mala mencebikkan bibirnya. Kesal karena tidak bisa meraih pipi Dewa saat itu.


"Kamu ditaksir oppa Korea ya, Sayang?"


Sontak Mala terkejut. Oppa Korea?


"Astaga, Kakak! Kok malah tanyain kayak gitu sih? Oppa Korea apana ih, ada-ada aja! Pasti ini kelakuan kak Zaki dan kak Dika ya?" tebak Mala.


Dewa menghela napas lega. "Emangnya bukan ya?"


Mala kembali mencebik. "Enggak atuh, Kak. Ada-ada aja sih! Mala boro-boro kenalan sama oppa Korea. Mala tuh selalu cerita kan kayak kemarin dapat teman baru namanya Lyra, Mala selalu cerita sama Kakak."


Benar juga, Mala selalu cerita apapun padanya. Lalu, dia bodoh sekali termakan kata-kata Zaki dan Dika. "Brengsek!"


Mala tersentak. "Kakak marahin Mala?" tanyanya sambil cemberut pada Dewa.


"Eh, enggak Sayang. Bukan kamu yang brengsek, tapi dua cecunguk itu. Zaki dan Dika."


Mala malah tergelak mendengarnya. Jadi benar ini semua kerjaan Zaki dan Dika.


"Ya ampun, Kak. Kenapa sih malah mikir kayak gitu. Mala kan cuma untuk Kakak."


Senyuman cantik Mala mampu mengobati sedikit rindunya Dewa. Keduanya sama-sama menabung rindu, berharap dapat membukanya bersama nanti.


"Sampai nanti, Sayang." Dewa memberikan ciuman jarak jauh untuk Mala. Meski berat, tapi Mala harus mengakhiri panggilan video itu. Waktu Korea sudah sangat larut, Mala harus istirahat.


"Bogoshipda," ucap Mala sambil membalas kecupan jarak jauh dari Dewa untuknya.


Mala membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dewa pun melakukan hal yang sama. Meski perbedaan waktu di Indonesia dan Korea berbeda beberapa jam, tapi keduanya sama-sama sedang bersama di waktu malam.


"Kamu tidur ya, nggak usah di matikan layar ponselnya. Aku bakalan nemenin kamu," ucap Dewa.


Mala mengangguk. "Mala belum ngantuk."


"Kamu harus tidur, waktu Bandung dan Korea beda dua jam, berati di sana udah larut malam."


Mala pun terpaksa menuruti permintaan Dewa. Dia pun memejamkan matanya.

__ADS_1


"Met bobo Sayang."


__ADS_2