Mala Dewa Love Story

Mala Dewa Love Story
41 : Solusi?


__ADS_3

Mala merasa bersalah pada suaminya. Padahal Dewa bilang tidak apa-apa jika dia belum siap. Sejak tadi Dewa sibuk dengan pekerjaannya. Mala sebagai sekertaris Dewa saat di kantor tidak berani mengajak ngobrol suaminya itu tentang urusan pribadi.


"Huffffttt...." Mala menghela napas panjang sambil melirik ke arah suaminya yang tak menatapnya sama sekali.


Apakah dia marah?


Mala beranjak dari duduknya. Dia tidak bisa begitu terus, dia merasa sangat bersalah dan dia satu-satunya yang bersalah. Dewa boleh berkata tidak apa-apa, tapi tetap saja buat Mala sikap suaminya itu agak berbeda.


"Kak. Kamu marah kan?"


Dewa menaruh bolpoin di tangannya. Lalu ia membuang napas perlahan, dengan senyuman tipis, dia menggelengkan kepala. "Enggak, Sayang."


"Karena hal seperti itu aja, aku nggak mungkin marah," tambah Dewa.


Mungkin suaminya tidak marah. Tapi tetap saja ia merasa bersalah. "Mala nggak konsen kerja."


"Ini kan kamu yang minta, Sayang. Kamu bilang mau mulai kerja kan?" ucap Dewa.


"Iya. Tapi sekarang Mala nggak konsen." Kedua matanya menatap lekat-lekat ke arah Dewa. "Mala mau pulang."


"Pulang?" Dewa mengusap wajahnya. "Kita pulang nih?"


"Iya. Boleh nggak?"


Dewa begitu sabar menghadapi Mala yang berubah-ubah moodnya. Ia pun mengikuti keinginan istrinya untuk pulang.


"Oke, Sayang. Kita pulang yah."


Diperjalanan pulang, Mala hanya diam membisu. Dewa lagi-lagi dibuat bingung dengan tingkah istrinya. Padahal dia sama sekali tidak mempersoalkan lagi masalah satu bulan belum mendapatkan jatah dari istrinya semenjak keduanya melewati malam pertama.


"Sayang, kamu kenapa sih?" tanya Dewa.


"Enggak. Mala baik-baik aja kok. Oh iya, nanti mampir ke apotik yah."


"Kamu sakit?" kaget Dewa.


"Enggak. Mala cuma mau beli sesuatu aja kok."


"Mau beli apa, Sayang?"


"KEPO!" sentak Mala.

__ADS_1


Dewa kembali diam. "Hadehh, Iya, maaf."


Akhirnya ia hanya menurut mengikuti kemauan istrinya untuk berhenti ketika melewati apotik.


"Mala bentar doang kok. Kakak tunggu aja yah."


"Iya, Sayang." Dewa mengangguk tanpa menanyakan apapun meski ia penasaran apa yang sebenarnya akan dibeli istrinya.


Beberapa saat kemudian, Mala keluar membawa bungkusan plastik kecil.


"Udah, Kak. Yuk, lanjut pulang."


"Oke." Dewa penasaran sekali dengan benda yang dibeli Mala, tapi dia tidak mau dibilang kepo seperti tadi oleh Mala dengan juteknya.


Mereka sampai di apartemen. Dewa menyusul Mala yang berlarian masuk ke apartemen mendahuluinya. Dewa tidak tahu apa yang ingin dilakukan Mala sampai dia terburu-buru.


Dewa melepaskan dasi dan kemeja kerjanya lalu ke wastafel untuk mencuci mukanya. Mala masih belum keluar dari kamar mandi, entah apa yang dilakukan Mala di dalam kamar mandi, begitu sampai dia langsung berlari masuk dengan tergesa.


"Sayang." Dewa memanggil Mala saat dirasa cemas, kenapa sebenarnya istrinya itu.


"Iya, Sayang." Mala keluar dari kamar mandi mengenakan pakaian tipis yang agak tembus pandang. Sontak, Dewa membelalak kaget, siang bolong kenapa Mala mengenakan kostum tersebut. Kostum yang membuat hasratnya meluap.


Mala melangkah mendekati suaminya dengan senyuman lebar. "Kakak kok belum pake baju sih," ucapnya dengan gaya menggoda. Dewa terheran, tidak biasanya.


"Ini mau pakai baju. Tadi aku cemas kenapa kamu lari ke kamar mandi buru-buru. Aku kira kamu sakit."


Mala menggeleng. "Enggak. Aku nggak sakit. Aku tuh baru dapat solusi dari masalah yang ku alami."


"Solusi?" Dewa mulai gerah saat tangan Mala menelusuri dadanya. "Apa tuh?"


"Kakak tiduran ajah." Mala mendorong tubuh suaminya sampai terjatuh tepat di atas tempat tidur dalam keadaan berbaring dengan telanjang dada.


Dewa meneguk ludah saat Mala yang berpakaian minim menggodanya. Apakah Mala mengajaknya bermain? Tapi ini siang hari, ah tidak masalah, batinnya.


Sepanjang waktu Mala berpikir bagaimana caranya agar berhubungan dan tidak merasakan sakit. Akhirnya apa yang di cemaskannya mendapatkan sebuah titik terang sebuah solusi. Mala pun tak lagi takut, dia yakin ini akan baik-baik saja.


Mala mengecup pelan bibir Dewa. Menerima inisiatif Mala membuat Dewa tak segan untuk merespon lebih. Dikecupnya lebih dalam bibir Mala dengan pergerakan tangannya yang sudah menjalari tubuh bagian lain istrinya.


"Kamu udah siap?" tanya Dewa.


"Udah, Sayang. Kasian kamu, maafin aku ya." Mala menggigit pelan telinga suaminya. Dewa menyeringai menerima godaan Mala.

__ADS_1


"Mulai genit yah. Tapi aku suka." Dewa mencecap ceruk leher Mala mengikuti lengkungan Mala yang terus mengeluarkan suara erangan seksi, menggoda Dewa dengan amat sangat.


Dewa memutar tubuh Mala hingga tubuh istrinya berada di bawahnya. Tak berlama-lama, ia langsung melepaskan celananya. Mulut dan tangannya masih bergerilya di setiap lekukan tubuh Mala juga setiap inci kulit halus Mala yang tak akan dia lewatkan sedikitpun.


Kedua mata mereka saling menatap. Mala tersenyum saat Dewa mengecup keningnya, turun ke hidung lalu bibir Dewa menguasai bibirnya dengan menggebu-gebu. Pakaian tipis yan dikenakan Mala, dengan sekali sentak berhasil di tanggalkan oleh Dewa.


Saat dirasa sudah cukup cumbuan. Dewa memutuskan untuk memulai.


"Kak. Tunggu dulu," ucap Mala.


Dewa terhenyak. "Belum siap?" ah apakah akan kembali gagal? Pikir Dewa.


"Enggak. Pakai ini dulu, Kak biar nggak sakit." Mala menyerahkan botol berisi cairan serupa gel.


"Pelumas?"


"Iya, Kak."


"Ya ampun, kenapa Kakak nggak kepikiran yah." Dewa menepuk jidatnya.


"Ini kan Mala udah kepikiran, udah buruan olesin."


Akhirnya Dewa pun mengikuti perintah Mala. Senyum Mala mengembang, dia memejamkan matanya saat suaminya mulai memasukinya. Hanya meringis sedikit, tapi setelah itu rasanya tidak lagi sakit. Mala bersorak kegirangan dalam hati.


"Gimana, Sayang?" tanya Dewa.


"Lanjut, Sayang," jawab Mala tersenyum.


Dewa bernapas lega. Akhirnya yang dia tunggu-tunggu. Rupanya Mala sejak tadi tidak berhenti memikirkan hal itu. Sampai-sampai ia ingin pulang dari kantor tanpa sebab yang diketahui Dewa sebelumnya.


"Aaaahhhhh..." desah Mala saat merasakan sensasi yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan. Sebelumnya ia hanya merasa sakit saja. Jadi ini rupanya yang membuat pasangan ingin mengulanginya lagi dan lagi.


Malam itu mereka habiskan untuk saling bertukar rasa luar biasa. Mala merasa bersalah, karena ketakutannya membuat Dewa tersiksa. Dia terus berpikir bagaimana caranya sampai akhirnya menemukan solusi.


Malam itu tidak ada yang mereka lewatkan sama sekali. Hentakan dan erangan keduanya memenuhi ruangan. Mala tersenyum penuh cinta menatap Dewa yang begitu sabar menghadapinya.


Bukan baru sekarang. Dewa selalu sabar sejak dulu, sewaktu mereka baru pertama bertemu. Sampai mereka memutuskan untuk berpisah dan menyusun rencana masa depan masing-masing. Dewa nya tidak pernah berubah.


"Kapok, Sayang?" ledek Dewa. Mala lemas sesaat setelah sensasi hebat dia rasakan barusan.


"Enggak," jawabnya malu. Pipinya merona bewarna merah jambu.

__ADS_1


__ADS_2