
Pagi ini seperti biasanya, Mala bersiap untuk pergi ke sekolah. Yang berbeda adalah tidak ada lagi suara Dewa yang membuat paginya lebih berwarna. Ya, sejak dua hari lalu Mala mengurung dirinya di dalam kamar dan tidak mau keluar walau sekedar untuk makan.
Mala berharap Dewa datang untuk membujuk dirinya makan. Tapi, nyatanya tidak. Mala malah tidak sengaja melihat Dewa yang sedang berboncengan naik motornya yang sudah lama tidak dia gunakan. Yang membuat Mala kaget adalah seseorang yang berada di kursi belakang motornya, dia adalah Rosy.
Apakah Dewa sudah melupakan Mala? Secepat itukah? Saat itu Mala melihat senyum Dewa melingkar lebar. Senyuman yang biasa dia lihat di tujukan padanya, kali ini senyuman itu bukan untuk dia melainkan untuk gadis lain. Sejak saat itulah Mala memutuskan untuk melupakan Dewa, meski sulit, sangat sulit sekalipun Dewa telah membuat hatinya patah dan hancur berkeping-keping.
Hubungan keduanya tidak bisa dikatakan berakhir, atau putus dalam artian layaknya hubungan pacaran pada umumnya. Mereka tidak pernah mengikat hubungan kedekatan mereka dengan kata "pacaran".
Namun setelah keadaanya seperti ini, tentu bukan hanya putus. Bahkan mereka berdua seperti tidak saling mengenal. Lalu, untuk apa Dewa mengirimkan surat seperti kemarin? Apakah hanya untuk menghibur hati Mala.
Ya, pasti Dewa selama ini sudah lelah dengan dirinya yang kekanak-kanakan. Itu yang ada di pikiran Nirmala.
"Lo suka sama gue, Mala?"
"Iya, Vir, Mala suka sama Virgo."
"Sorry, ya, Mala. Lo emang cantik, bisa dibilang tipe gue. Tapi lo itu.. Nggak enak gue ngomongnya, cuman demi kebaikan lo juga. Barangkali lo nggak sadar selama ini."
"Maksud Virgo apa?"
"Lo kekanak-kanakan banget, Mala. Gue nggak ngerti ya, untuk ukuran anak SMP yang udah mau naik ke kelas tiga, apa emang wajar kekanakan kayak lo."
Padahal itu pertama kalinya Mala menyukai laki-laki. Bisa dibilang Virgo adalah cinta monyet Nirmala.
Namun setelah penolakan Virgo yang menyakitkan itu, akhirnya Mala sadar bahwa dia salah menyukai Virgo.
"Makasih ya udah kasih tau Mala alasan Virgo nolak Mala."
Mala tidak marah, dia hanya pergi begitu saja. Tapi sekarang ketika Dewa menjauhinya semua terasa berbeda. Mala kecewa, dia kecewa pada dirinya sendiri karena telah membuat Dewa menjauhinya. "Mala nggak mau dijauhin Kakak."
**
"Sayang, hari ini kamu ujian. Ayah yang antar kamu ke sekolah ya." Ibunda Mala mengelus puncak kepala anaknya yang sejak tadi hanya terus terlihat murung.
Bagaimana tidak murung, biasanya Dewa yang selalu mengantarnya ke sekolah. Sekarang?
Suara motor Dewa kembali terdengar. Mala berlarian menengok dari balik tirai jendela. Rupanya, Dewa sedang menyalakan mesin motornya, terlihat seseorang yang sama seperti kemarin ia lihat. Gadis itu sedang duduk di atas motor Dewa, dia adalah Rosy. Lagi-lagi Rosy. Apakah mereka pacaran? Batin Mala yang terus menerus menangis dalam hatinya. Mala merasa kesakitan, luar biasa sakit, melihat lelaki yang paling dia cintai sudah begitu mudah melupakannya.
"Sayang, kamu lihat apa?" Bunda Mala membuka tirai jendela, tidak ada siapa-siapa di sana. Ya, karena Dewa barusan saja pergi menjalankan motornya bersama gadis yang bernama Rosy.
"Bukan apa-apa, Bun. Mala berangkat bareng Ayah ya." Mala tersenyum pahit sambil menghapus air matanya.
Bunda Mala merasa sedih, ini semua karena dirinya, karena keputusannya. Seharusnya ia tidak memisahkan Mala dan Dewa.
"Mala, kalau kamu nggak kau pergi ke Korea. Bunda nggak apa-apa, kalau kamu merasa berat pisah dari De-"
"Mala mau kok Bun ke Korea." Mala memutus ucapan ibundanya. "Mala mau ke Korea sama ayah dan bunda."
'Kak Rosy adalah wanita yang sepadan dengan Kak Dewa yang dewasa. Mungkin Kak Dewa beneran muak sama Mala ya.'
__ADS_1
Saat itu bunda Mala merasa anaknya terpaksa melakukan itu semua. Bagaimana mungkin Mala bisa berubah secepat itu? Padahal dia kemarin masih meraung di dalam kamar seperti anak kecil kehilangan sesuatu yang paling dia sayangi.
"Ayah, kita berangkat yuk. Mala hari ini ujian pertama," ucap Mala pada ayahnya.
"Oke cantik. Ayah ambil kunci mobil dulu," jawab Ayah Mala.
...*****...
...Di sekolah Mala...
"Mala masuk ke kelas dulu ya, Yah." Mala mengecup punggung tangan Ayahnya, lalu mencium pipi Ayahnya bergantian kiri dan kanan.
"Belajar yang rajin yah. Sukses buat ujiannya." Ayah Mala tak lupa mengecup kening putrinya itu. "Semangat, oke?"
Mala mengangguk. "Iya, pasti Mala semangat."
Gadis itu keluar dari mobil sambil melambaikan tangan pada ayahnya. Saat itu Mala sejujurnya tidak bersemangat untuk ke sekolah. Tapi, ketika melihat Dewa bahagia tanpa dirinya, Mala merasa lega meskipun ia merasa sedih. Sedih, karena bukan dirinya lagi yang menjadi alasan untuk Dewa tersenyum. Sekarang Dewa telah memilih gadis lain, dan memutuskan untuk menjauhinya.
"Hai Mala cantik." Mala mengangkat wajahnya, ia kaget mendengar ada yang memanggilnya seperti itu.
"Kak Dewa?"
"Aku Gilang, bukan Kak Dewa." Cowok itu tersenyum sambil berdiri di depan Mala.
"Ah, Gilang. Maaf," ucap Mala lemas.
Gilang merasa heran, tidak biasanya Mala terlihat begitu lesu. Padahal pertama kali Gilang melihat Mala, gadis itu sangat ceria dan juga begitu bersemangat.
"Berisik! Jangan sebut nama itu lagi di depan aku!" Mala berjalan meninggalkan Gilang dengan perasaan kesal, dia mencoba menahan air matanya agar tidak menetes. Mala tidak boleh nangis, Mala bukan gadis lemah, batin Mala.
Gilang tersentak dan langsung mengejar Mala.
"Mala, maafin gue ya. Suer gue nggak ada maksud bikin lo sedih." Gilang menarik tangan Mala, gadis itu menghempaskannya keras. "Jangan pegang!"
"Maaf," ucap Gilang. "Tapi jangan marah Mala, suer gue nggak ada maksud."
Mala menghentikan langkah kakinya. Benar juga Gilang tidak salah, dia tidak seharusnya menjadi pelampiasan Mala.
"Bukan salah Gilang. Jangan minta maaf," ucap Mala yang langsung duduk di kursinya.
Tetap saja Gilang merasa bersalah, seharusnya dia tidak perlu kepo dengan menyebut-nyebut nama Dewa tadi. Tapi, itu semua dia katakan karena biasanya Mala selalu menyebut nama Dewa, mereka juga terlihat sangat dekat.
Semua teman-teman Mala merasa heran dengan sikap Mala yang berbeda, tidak seperti biasanya. Jam istirahat saja Mala hanya terus berdiam diri di dalam kelas menunggu sampai berganti jam pelajaran lainnya.
Sepulang sekolah Ayahnya menelpon katanya tidak dapat menjemput dia pulang sekolah. Mala bingung, ia harus pulang dengan siapa? Apa dia naik taksi saja, pikirnya.
"Mala, kamu pulang naik apa?" tanya Gilang yang muncul begitu saja di samping Mala.
"Duh, Gilang bikin Mala kaget." Sambil mengusap dadanya. "Mala naik taksi deh kayaknya."
__ADS_1
"Naik taksi?" Gilang hampir saja mengatakan kenapa tidak dijemput Kak Dewa? Astaga untung saja dia teringat kalau Mala sedang tidak ingin mendengar orang menyebut nama Dewa. Bukan hanya dia yang terkena omelan Mala, bahkan sahabatnya yang lain pun terkena omelan yang sama karena menyebut nama Dewa tadi.
"Iya, Ayah nggak bisa jemput. Jadi Mala naik taksi deh."
"Mala mau nggak kalau gue yang antar pulang?" tawar Gilang. "Naik motor."
Mala terdiam, dia ingin menolaknya langsung. Tapi, mendadak ia teringat lagi bahwa Dewa juga pulang pergi bersama dengan gadis lain menggunakan motor. Mala berpikir apa salahnya kalau dia juga pulang bersama Gilang. Toh Dewa juga sudah tidak peduli padanya.
"Hm, emangnya Gilang nggak merasa repot?" tanya Mala.
Gilang menggelengkan kepalanya. "Enggak, malah merasa senang gue, kalau lo mau gue anterin pulang."
Akhirnya Mala memutuskan untuk menerima tawaran Gilang. "Oke deh, kalau Gilang nggak keberatan."
Gilang bersorak dalam hatinya, untung saja kemarin dia tidak menyerah, mengikuti kata-kata Boby. Nyatanya benar kan, siapa yang tahu sekarang hubungan Mala dan Dewa mungkin saja telah berakhir. Buktinya Mala bahkan tidak ingin mendengar nama Dewa di sebut. Mereka pasti bertengkar, pikir Gilang.
"Oke, gue ambil motor dulu ya."
"Iya," jawab Mala.
Gilang pun mengantarkan Mala pulang ke rumahnya. Saat itu perasaan Gilang sangat senang, akhirnya dia bisa berboncengan bersama dengan Mala. Rasanya seperti mereka sedang berpacaran saja, batinnya.
"Mala, rumahnya yang sebelah mana?"
"Belok kiri terus nanti ada pagar putih, itu rumah Mala, Gilang."
"Oh, oke deh."
Gilang segera memberhentikan motornya saat keduanya telah sampai di depan pintu gerbang rumah Mala. "Di sini kan?" tanya Gilang memastikan.
"Iya, benar." Mala turun dari motor Gilang, lalu melepaskan helm yang dikenakannya. Saat itu Dewa keluar dari gerbang rumahnya bersamaan saat Mala baru saja menyerahkan helm kepada Gilang. "Makasih ya Gilang."
"Sama-sama Mala. Besok mau gue jemput sekalian nggak? Eh, cuma nawarin kalau nggak mau juga nggak apa-apa."
Saat itu Mala melirik ke arah rumah Dewa, ia kaget melihat Dewa sedang berdiri menatap dirinya dengan tajam. Mala langsung mengalihkan pandangannya.
"Hm, boleh aja kalau Gilang nggak merasa di repotkan." Mala tersenyum pada Gilang. "Makasih ya Gilang, karena udah baik sama Mala."
"Ah tentu aja gue malah seneng. Nggak merepotkan sama sekali kok." Gilang bersorak lagi dalam hatinya. "Oke, besok gue jemput ya."
Mala mengangguk. "Hati-hati ya Gilang, Mala masuk rumah dulu."
Gilang mengangguk dan langsung menjalankaan motornya untuk pulang meninggalkan rumah Mala.
Dewa meremas kedua telapak tangannya karena merasa amat kesal melihat pemandangan barusan. Apa-apaan ini, jadi Mala sudah mendapatkan cowok baru? Niatnya membuat Mala menjauhinya saja, bukan berniat membuat Mala melirik laki-laki lain.
"Sial! Kenapa gue kesel sih!" Dewa mengumpat sambil terus menerus mengutuk tindakannya sendiri. "Apa gue salah jauhi Mala?"
"Nggak! Lo nggak bisa jauhin Mala kalau lo nggak mau Mala dideketin cowok lain!"
__ADS_1
Dewa mulai menyesal padahal ini baru hari pertama. Apa yang dia harapkan? Dia juga tidak kau kalau Mala menangis kehilangan dirinya dan mengurung diri di kamar kan? Lantas kenapa melihat Mala tersenyum untuk cowok lain dia marah? Padahal bukankah yang terpenting Mala tetap tersenyum meski tanpanya?
Di sepanjang jalan tadi Mala hanya tertunduk tanpa bisa menghilangkan bayangan wajah Dewa. Dia tidak tau keputusannya menerima tawaran Gilang mengantarnya itu sudah tepat atau belum. Semuanya bertambah parah ketika dia melihat Dewa di depan tadi. Kini Mala hanya bisa menangis tanpa suara merasakan perih. Tapi memang ini kan yang diinginkan Dewa. Hubungan tanpa status keduanya ternyata tidak terlalu baik. Sudah Mala duga, suatu saat nanti dia mungkin akan kehilangan Dewa karena status mereka yang tidak jelas.