
Tau nggak kenapa aku nggak bisa jauh dari kamu? Itu karena berjauhan membuatku takut. Takut, kalau kamu akan berpaling. Takut, kalau kamu menemukan dia yang lain. Yang lebih membuat kamu nyaman dibandingkan aku. ~Nirmala
Tau nggak apa yang paling aku kesel? Aku kesel sama jarum jam, kenapa lama banget bergeraknya. Aku ingin waktu berputar cepat, agar aku bisa segera bertemu kamu. Tapi, saat aku di sampingmu, waktu terasa sangat cepat berjalan. Padahal aku ingin waktu terhenti, sehingga aku bisa berlama-lama denganmu. ~Nirmala
******
Dewa menghela napas panjang. Ia tersadar bahwa dirinya dan Mala tidak boleh berpisah apapun yang terjadi. Terkadang Dewa berpikir pendek. Dia hanya tidak ingin membuat Mala menderita. Tapi ternyata Mala justru jauh lebih menderita saat keduanya berpisah.
Saat ini dia merasa agak lega. Mala menyadari akan kesalahannya, melupakan makan dan kesehatannya. Hal itu adalah penyebab Mala sakit seperti sekarang. Setidaknya kata-kata Dewa ada manfaatnya juga. Mala mulai lebih memikirkan kesehatannya sendiri sekarang. Karena kalau sampai Mala sakit lagi seperti itu, tentu Dewa akan sangat sedih dan kecewa.
Max menautkan kedua alisnya saat melihat puteranya yang baru saja sampai di rumah. "Wa. Kamu udah pulang. Gimana keadaan Mala?" tanyanya.
Dewa mengusap wajahnya perlahan. "Udah mendingan, Dad. Cuma itu, Mala belum boleh pulang. Dia masih harus menjalani perawatan di rumah sakit."
"Syukurlah, sebentar lagi pasti Mala akan sehat seperti sedia kala. Jadi, kamu tetep ikut pulang ke Indonesia besok atau gimana? Daddy juga nggak tega kalau Mala masih sakit gitu. Tapi, kalau Daddy di Korea lebih lama lagi, Daddy kasihan sama Mami kamu, Wa."
Dewa berpikir sejenak. Mala pasti sangat sedih kalau dia pulang besok. Sebenarnya pulang sendiri pun Dewa tidak masalah. Hanya saja apa dia harus tinggal di rumah kakaknya sendirian?
"Hm, kalau Dewa di sini dulu nggak apa-apa kan Dad? Daddy dan Kak Natasha pulang aja ke Indonesia duluan. Aku nanti pulang sendiri," tutur Dewa.
Max menganggukkan kepalanya. "Boleh. Tapi kamu nggak apa-apa tinggal di rumah kak Natasha sendiri?"
Keduanya berdiri tepat di teras rumah Natasha. Tak berapa lama kemudian ayah Mala tiba-tiba saja muncul.
"Dewa. Kamu tinggal di rumah Om aja."
Max terkejut melihat kedatangan ayah Mala.
"Mahen? Astaga, apa kabar?" Sapa Max yang langsung memeluk Ayah Mala.
"Baik, Max. Hanya saja kamu tahu kan, Mala lagi sakit," jawab Lesmana Mahendra.
"Iya, aku berencana akan menengok Mala besok sebelum berangkat ke airport bersama dengan Natasha. Gimana keadaan Mala sekarang?"
__ADS_1
Dewa hanya diam membiarkan ayah Mala yang menjelaskan pada Max.
"Mala stres. Saya rasa dia belum bisa berjauhan dengan Dewa. Menurut saya bukan begini caranya membuat Mala dewasa. Dia malah tersiksa, dia sangat menyukai Dewa."
Dewa tersentak. Tapi, dia tidak berani menjawab, tidak sopan pikirnya. Lagi pula kata-kata ayahanda Mala itu benar adanya.
Max mempersilahkan Lesmana duduk supaya lebih nyaman untuk mengobrol. Dewa juga turut duduk bersama di sana.
"Coba kamu jelaskan lagi maksud kamu, Mahen?" tanya Maxime yang masih belum jelas dengan kata-kata Lesmana Mahendra tadi.
"Begini, Max. Menurutku Mala dan Dewa tidak bisa dipisahkan. Dijauhkan. Kamu bisa lihat sendiri bahwa Mala sangat lemah. Sebagai seorang ayah tentu saya merasa sedih. Saya tidak ingin Mala sakit, saya tidak ingin Mala menahan perasaan yang sebenarnya."
Dewa masih belum mengerti. Lalu jika begitu, apa sebenarnya yang diinginkan ayah Mala sekarang?
"Lalu, kamu maunya gimana? Saya hanya tidak ingin kalau mereka terlalu sering bertemu maka nantinya akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Lagipula Mala masih terlalu muda, saya harap Mala bisa fokus ke masa depan dia." Maxime berpendapat.
Mahen terdiam sesaat. Kemudian ia mengangkat wajahnya, menatap ke arah Dewa.
"Mala bilang Dewa adalah masa depannya, Max."
"Apa maksud kamu?" tanya Max.
"Ya, Mala bilang masa depannya adalah Dewa. Tidak ada yang lebih dia inginkan untuk masa depannya melainkan bisa bersama Dewa."
Suasana pun seketika hening.
Maxime memijat keningnya. Jika usia Dewa sama seperti dirinya dulu ketika menikahi Nayra mungkin dia tidak keberatan jika Dewa melamar Mala. Tapi saat ini usia Dewa baru dua puluh tiga tahun. Jika keduanya menikah, itu tandanya mereka menikah di usia muda.
"Lalu menurut kamu gimana? Kamu ada solusi, selain menikahkan mereka berdua. Dewa saya rasa belum terlalu dewasa."
Kata-kata Max bagai tamparan telak buat Dewa. Jadi selama ini daddy-nya berpendapat bahwa dia belum dewasa?
"Dad. Dewa sudah cukup dewasa." Akhirnya Dewa turut berkomentar.
__ADS_1
"Menurut saya, Dewa sudah cukup dewasa. Keduanya bisa saling menjaga satu sama lain. Kita sebagai orang tua bisa bantu mengawasi mereka, Max."
Tentu buat Max itu seperti lelucon.
"Tapi ini pernikahan. Kita sebagai orang tua tidak bisa banyak ikut campur. Seperti apa kita mengawasi mereka, Mahen? Mereka setidaknya harus bisa mandiri. Baru itu bisa dikatakan rumah tangga yang ideal. Kelak rumah tangga akan mengalami banyak cobaan. Bukan hanya manis saja, kamu juga harus paham itu, Wa."
Maxime berkata demikian karena dia sudah mengalami pahit getir kehidupan. Max sudah menikah dua kali. Istri pertamanya Maria meninggal dunia saat melahirkan Natasha.
Belum lagi kehidupan masa lalu Maxime yang cukup kelam. Hal itu membuat Max banyak belajar. Sedangkan Dewa? Dia masih terlampau muda, menurut Max.
"Jadi kamu tidak setuju kalau mereka menikah?"
Max menggeleng. "Tidak dalam waktu dekat ini. Minimal saat Dewa menginjak usia 25 tahun. Saat itu Mala berusia 20 tahun. Kurasa itu lebih baik dibandingkan saat ini, Mahen."
Dewa mengerti pemikiran daddy-nya.
"Kamu nggak apa-apa kan, Wa?"
"Baiklah, itu semua tergantung Dewa." Mahendra pun akhirnya hanya bisa menuruti saran Max.
"Dewa akan bersabar. Dewa yakin Mala juga bisa melewati masa-masa pendewasaan dirinya. Begitu juga dengan Dewa." Kali ini Dewa harus mengikuti saran orang tuanya. Memang benar, pernikahan butuh kesiapan, bukan hanya bermodalkan cinta.
Dewa ingin menjadi seseorang yang berguna untuk orang tuanya dahulu. Setelah itu dia juga harus bisa bertanggung jawab terhadap Mala nantinya. Karena itu Dewa harus berusaha lebih keras lagi, agar bisa meminang Mala menjadi istrinya kelak.
Ayah Mala tersenyum sambil menepuk bahu Dewa. "Om bangga sama kamu Wa. Tapi, Om harap kamu nggak keberatan untuk sementara waktu tinggal di rumah Om. Seenggaknya sampai Mala sembuh, kamu mau kan?"
Mana mungkin Dewa keberatan. Tapi yang jadi persoalan adalah, apakah Max memberinya izin?
"Dad?"
Max mengangguk. "Kamu boleh jaga Mala, Wa."
Dewa bernapas lega. Akhirnya, dia bisa menjaga Mala sampai Mala sembuh.
__ADS_1
"Terima kasih, Daddy."
"Baik, Om. Dewa akan jagain Mala sampai dia sembuh," ucap Dewa, mantap.