Mala Dewa Love Story

Mala Dewa Love Story
31 : Oh My Bos


__ADS_3

Mala benar-benar terkejut mendengar itu. Bukannya Dewa bilang dia tidak berpacaran setelah mereka putus? Lalu kenapa Indah mengatakan hal yang bertolak belakang. Apa Dewa berbohong padanya?


"Mala kok malah bengong sih?" tanya indah.


"Kata kamu mantan Bos Dewa? Kamu yakin, Indah?" tanya Mala lagi memastikan itu dengan lebih jelas.


Indah menggaruk tengkuknya. "Belum pasti sih. Tapi keduanya akrab gitu. Mbak Kristal juga perhatian banget, beda deh. Cuma nggak ada omongan kalau mereka pacaran, itu cuma tebakan."


"Hah tebakan?"


"Iya. Karena mbak Kristal itu dianggap pasangan yang cocok untuk bos Dewa."


"Kamu bercanda?" ucap Mala membuat Indah terkejut.


"Kenapa muka kamu kayak gitu? Seolah-olah kamu merasa mbak Kristal nggak cocok sama bos Dewa," kata Indah sedikit heran.


"Em, bukan gitu kok." Mala secepatnya menggeleng. Dia tidak mau jika rahasianya terbongkar terlalu awal. Dia juga masih ingin fokus bekerja, bukan untuk memamerkan diri bahwa dia pacar bosnya.


"Emang sih, ya, mbak Kristal itu agak centil. Walau gitu, bos Dewa kayak nggak tergoda deh. Seolah dia mati rasa," ucap Indah berbisik di telinga Mala.


Mala menghela napas lega. Untuk sejenak dia berpikir Dewa membohonginya. Tapi bisa jadi kan? Entahlah, Mala tidak ingin salah paham lagi. Baru saja keduanya balikan, masa ribut dan bertengkar karena masalah yang serupa. Seharusnya Mala bisa lebih percaya. Dia bukan anak kecil lagi yang mudah terbakar cemburu dan tersulut emosi.


"Kamu masuk gih. Pak Dewa nggak suka karyawan yang terlambat. Ini udah waktunya kerja," ucap Indah.


Mala mengangguk. "Oke, aku ke ruangan dulu ya."


****


Mala mengetuk pintu ruangan kerjanya. Dia berada di ruangan yang sama dengan Dewa. Tentu karena posisinya sebagai sekertaris Dewa.


"Masuk."


Mala pun masuk. Dewa sedang fokus pada berkas-berkas di tangannya. Matanya juga masih sesekali menatap laptop dan begitu sibuk.


"Mala. Kamu ambilin saya kertas yang ada di diatas meja kerja kamu ya. Bawa kepada saya."


Dewa bersikap sangat formal. Mala mengangguk, tentu saja dia kan bos di sini. Wajar saja jika sikap Dewa formal begitu. Meski rasanya berbeda ketika Mala mendengarnya. Agak aneh dan canggung.


"Baik, Pak."


Mala mengambil kertas yang tergeletak di atas meja kerjanya. "Ini pak," ucapnya sambil menyerahkan kertas itu kepada Dewa.


Bos Mala itu menengadah menatap Mala sambil tersenyum. "Buat kamu, Sayang."


Tiba-tiba saja Dewa kembali bersikap manis dan membuat Mala terkejut.


"Maaf, Pak. Ini di kantor," sahut Mala sambil merona. "Ini buat apa?"


Dewa berdiri lalu mendekat ke hadapan Mala. Gadis itu memundurkan tubuhnya hingga dia menyentuh meja kerjanya sendiri. "Bapak mau apa?"


"Itu buat kamu. Kamu baca aja ya. Aku cuma mau balas ciuman kamu tadi,"


Cup.

__ADS_1


Satu ciuman mendarat di pipi Mala. "Selamat bekerja, Sayang."


Bukan hanya merona, tapi Mala juga merasa sangat malu. Sikap bos sekaligus kekasihnya itu sangat membuatnya terkejut. Mala menahan senyum sambil memegangi kertas yang katanya untuk dia itu.


Dewa juga tersenyum sambil kembali ke tempat duduknya.


"Jangan lupa dibaca," Ingat Dewa sambil mengerlingkan sebelah matanya ke arah Mala.


"Iya, Pak." Mala duduk di kursinya sambil berdebar-debar. Senyumnya melingkar cantik sambil membuka kertas yang diberikan Dewa. Ternyata itu adalah sebuah undangan.


"Undangan?"


Dewa mengangguk. "Pertunangan Dika."


"Jadi Kak Dika mau tunangan?" kaget Mala. Sudah lama sekali, Mala tidak bertemu dengan sahabat Dewa tersebut.


"Iya. Aku belum kasih tahu kalau datang sama kamu. Biarin deh buat kejutan. Dia pasti seneng banget," ucap Dewa.


Mala berpikir sejenak. Apa tadinya Dewa ingin mengajak gadis lain, jika dia tidak pulang ke Bandung?


"Pak Dewa mau ajak mbak Kristal ya?"


Dewa mengernyitkan kening. "Kamu tahu Kristal?"


Mala mengangguk. "Dia mantan sekretaris kamu kan?"


"Iya. Tapi buat apa aku ajak dia. Mendingan aku pergi sama kamu," balas Dewa.


"Kalau aku nggak pulang? Kamu akan pergi sama dia?"


"Bukannya kamu akrab? Karyawan lain sampai mengira kalian pacaran loh."


Putra bungsu Maxime itu beranjak dari duduknya lalu berjalan ke meja Nirmala, sekertaris barunya.


"Cemburu, Sayang?"


Dewa menyentuh dagu Mala sambil tersenyum. Tentu saja Mala langsung menggeleng. "Enggak!"


"Tapi kok aku lihatnya kayak kamu cemburu sih." Dewa duduk di meja kerja Mala, tepat di hadapan Mala.


Mala mengalihkan pandangannya. "Maaf Pak Dewa yang tersayang. Aku mau kerja!"


Dewa tertawa pelan. "Kerja? Sini aku kasih tahu kamu harus kerja apa."


Mala mengerucutkan bibirnya. "Mau kerjain aku ya? Mentang-mentang bos!"


"Enggak. Kamu harus nurut. Ini perintah."


"Iya iya. My Bos!" Mala pun mengangguk.


"Sini mendekat," pinta Dewa. Mala pun mendekati wajah Dewa.


"Pejamkan mata kamu."

__ADS_1


"Hah? Mau apa?" jawab Mala bingung.


"Pejamkan aja. Ini perintah."


Mala kembali mencebik. "Uh awas kalau macam-macam!"


Dewa tersenyum menawan. Mala salah tingkah sendirian. "Jangan gitu liatinnya, aku malu," ucapnya.


"Pejamkan mata kamu dulu, biar nggak malu."


Mala pun mengikuti kata-kata Dewa, ia memejamkan matanya.


Dewa perlahan menyentuh helai rambut Mala, lalu menciuminya sebentar. Mala menaikkan sebelah alisnya, masih memejamkan mata. "Kamu mau apa, Bos?"


"Lucu. Kamu panggil aku bos. Padahal kan kamu yang jadi bos." Dewa menyentuh permukaan bibir Mala sambil tersenyum terus.


Mala ingin membuka mata, tapi sentuhan Dewa membuatnya gugup.


Dewa masih menyentuh permukaan bibir Mala dengan ibu jarinya. Mala semakin berdebar tidak karuan. Desah napas Dewa pun mulai terasa mengenai wajah Mala yang mungkin saja memerah saat ini.


"Kamu seksi kalau lagi cemburu." Dewa berbisik sambil membuka scarf yang dikenakan Mala.


"Kak jangan dibuka." Mala mencegahnya masih sambil terpejam.


"Nanti aku tutup lagi," sahut Dewa. Mala pun diam.


Dewa mendaratkan ciuman lagi di tanda merah yang ada di leher Mala. Hal itu membuat Mala tersentak kaget. "Kak."


"Sedikit aja, Sayang." Dewa menutup lagi tanda itu dengan scarf Mala tadi. "Kamu pergi dengan aku nanti Malam. Kalau nggak ada kamu, aku pergi sendiri. Itu pun terpaksa, karena Dika sahabat aku, nggak enak kalau nggak datang."


Mala membuka matanya. Dewa sudah kembali duduk di kursinya.


Pipi Mala pasti merah sekarang. Sikap Dewa selalu berhasil membuat Mala kewalahan.


"Iya, deh. Aku temenin Kakak," angguk Mala. Dewa tersenyum lega.


Pikir Mala dia tidak mungkin membiarkan wanita lain mendekati kekasihnya. Apalagi Dewa bukan pria sembarangan. Dia yakin di luar sana banyak sekali wanita cantik yang mengagumi pacarnya. Kalau sudah begitu, nantinya dia yang akan menyesal jika Dewa tergoda.


"Makasih, Baby," ucap Dewa mengusap puncak kepala Mala dengan lembut penuh perhatian.


"Em, yaudah, Mala balik ke ruangan dulu." Mala pun kembali ke posisinya berdiri lalu memberikan salam hormat pada Dewa.


Dewa terkekeh. "Baby, ini Indonesia, kamu seperti di Korea saja," ucapnya melihat Mala merendahkan badan.


Mala menggeleng. "Kamu salah, di mana pun kita harus tetap memberi salam kehormatan, ini juga termasuk hal yang sopan."


"Oh, kamu benar." Dewa mengangguk setuju tanpa banyak membantah. Apa pun yang dikatakan Mala selalu benar, pikirnya.


"Hem, kalau gitu saya kembali ke ruangan ya, Pak."


"Iya, silakan," jawab Dewa tersenyum.


Mala bisa gila melihat senyuman Dewa yang bukan hanya manis tapi memabukkan itu.

__ADS_1


________


__ADS_2