Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
merona


__ADS_3

"Ngapa to Am.. kok berisik.. hiks hiks... "


Ibuk bertanya sambil sesekali memgusap air mata dam masih diiringi sesenggukan.


"Ibuk ini kalo liat sinetron jangan gitu amat kenapa sih.. aku aja nggak pernah bikin ibuk nangis, nah ini artis nggak jelas siapanya malah bikin ibuk nangis terus."


Ibu menoyor kepalaku pelan sambil berkata


" Nggak usah ikut campur ya. itu apaan Am ?"


Aku menghembuskan napas lengkap dengan mataku yang berputar jengah.


"Terserah ibuk deh. ini kue dari mas Alam.. dia inget hari ini ulang tahunku buk."


"Beneran Am.. " ibu semringah mengambil alih kotak tart yang ada di tanganku dan menggantinya dengan bongkahan tissue yang sudah kotor.. iyuuuh,.


"Tolong buang itu am. ibu mau lihat kue dari mantu dulu."


"Dih.. masih calon ya buk.. lamaran aja belom"

__ADS_1


"Besok katanya dia mau kesini sama orangtuanya Am.. "


Aku yang membuang tissue ke tempat sampah segera berlari demi mendengar penuturan ibu.


"Yang bener buk?"


"Iya.. besok. bukan sekarang ya, nggak usah senyum-senyum dulu. besok kalo abis stok senyummya mau kamu kasih suguhan apa mereka?" ibuk menjawab enteng tanpa menoleh padaku karena sibuk membuka kotak kue dari Alam.


"Dih ibuk ini. eh, enak nggak buk?."


Aku yang melihat ibu mencicipi kue ikutan penasaran. apa rasanya masih sama seperti dulu?


Kalau dilihat dari box.nya sih masih sama. Berlabel momies bakery, aku bahkan tidak tahu dimana letak persis tokonya. Alam yang baru beberapa bulan kembali ke ibukota bahkan tak melupakan letak toko langganannya. Sepertinya toko ini tidak berpindah dari beberapa tahun lalu. Buktinya Alam dengan gampang memesannya untukku.


ibuk bertanya disela kegiatannya mencicipi kue.


"Iya buk. kok ibuk denger?, bukannya lagi fokus lihat sinetron ya tadi." aku bertanya curiga.


"Tapi kok ibuk tadi sempet denger kamu sewot. Manggil Alam pakek nama aja lagi." ibuk mengabaikan kecurigaanku pada kegiatan mengupingnya.

__ADS_1


"Ya emang awalnya sewot buk.. lha aku liat profilenya dia tuh foto jaman smp dulu, dan aku sma, dia di depan.. aku di belakang.. lagi baca buku.. tapi kan dulu fotoku nggak pakek hijab, jadi dia edit. Masa iya dia edit fotoku pakek rambut-rambut gitu, buat nutupin auratku yang terbuka.. gimana nggak kesel liat foto sendiri kaya titisan sunggokong gitu"


Paparku panjang lebar sambil memberengut.


Ibuk justru tertawa terpingkal-pingkal sampai mengeluarkan air mata.


Aku semakin kesal karenanya. Kuputuskan beranajak meninggalkan ibuk untuk mengambil pisau kue dan piring di dapur. Bisa sesak napas dadakan mendengar tawa lepas ibuk di atas penderitaanku.


"Eh Am.. baru kali ini kan.. ada cowok yang bikin kamu keluar tanduk dan nyungsep di satu waktu. Dulu pas sama Amar nggak pernah tu kamu gini.. sama yang laen juga enggak.. pasti mukamu itu biasa aja.. senyum sama ngambek nya tu sama-sama ngirit"


Iya juga sih.. emang dari dulu aku nggak pernah begini. kesel ya biasa aja. paling diem, nggak bereaksi yang berlebihan. Kalo seneng pun biasa.. palingan cuma senyum. Semuanya emang ekstra irit sih. limited ekspresion. Bisa dibilang sih mukaku Tapres.


"Nih Am.. cobain, dah ibu potong.. ibuk ke kamar dulu ya. Capek ketawain kamu."


Aku hanya melihat ibuk sekilas dengan tatapan horor. Ibuk kembali tertawa. Lalu masuk kamar setelah mewanti-wantiku menyimpan sisa kue ke dalam kulkas.


Nggak terasa.. kue yang semula penuh kini hanya tersisa beberapa potong. Aku tersenyum dan mengambil gawai untuk menjepret sekali dan memgirimnya ke satu kontak yang hari ini mulai masuk jajaran spesial.


"Makasih mas.. aku sampek kalap makannya.. 🤭.. (send)

__ADS_1


"Sama sama.. abisin.. kamu makin gendut makin ❤️ akunya."


Aish... Aku reflek memegangi pipiku yang menghangat.. aduh, masih jaman nggak sih puber di umur segini?.


__ADS_2