Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
kenangan masa lalu


__ADS_3

pov.author


Teesya ameena, siapa kira dibalik senyuman manisnya tersimpan kenangan kelam yang dibungkusnya apik supaya tak bertebaran.


kenangan masa kecil yang harusnya manis terpaksa berubah rasa karena kelakuan sang bapak.


Ami panggilannya, dia yang terlihat manis saat bicara karena lesung pipi yang memahat sempurna, dan gisul yang selalu tampak di setiap bait ucapannya.


Meski manis dan tak banyak ulah, Ami tak pernah memiliki teman yang solid. dia terbiasa menyendiri, dan susah berkomunikasi. Dia menganggap semua orang itu sama, sebatas teman, tak pernah menaikkan level ke jenjang persahabatan, apalagi pacaran.


Namun semua spekulasinya terbantahkan oleh kedatangan Amar. Teman satu SMA nya yang selalu mengikuti kemanapun Ami melangkah. Meski Ami hampir tak pernah menggapnya ada. Seperti biasa, Ami hanya tersenyum dan menanggapi seperlunya. menurutnya, tak ada yang menguntungkan dari hubungan persahabatan maupun pacaran untuk dirinya. So, dia hanya perlu menanggapi untuk berlaku sopan. Tapi, meski begitu, Amar tak pernah membuat space darinya.


"Bang Amar kenapa, sih. deketin Ami mulu?.."


tanyaku sambil memberengut, kelakuanya akhir-akhir ini sangat meresahkanku, bagaimana tidak. aku bahkan pernah di labrak salah satu cewek yang tengah terbakar cemburu, hanya karena mereka melihatku duduk berdua besamaBang Amar


"nggak tau. nyaman aja ada berada di dekat kamu."


"harus ada alasan.. nggak mungkin kata hati aja kan?.. " ami menengadah, mencari jawaban


"nggak ada ami.. aku ya pengen aja.. kali ada orang mau jahatin kamu.. kan aku standby sini.. gg kecolongan" jawabnya santai sambil menowel ujung hidung ami


"mas Amar tau masalaluku?" ami memberanikan diri bertanya


"tau.. " balasnya santai. bersedekap lalu menyandarkan dirinya ke tembok


"dari siapa..?" ami mulai curiga

__ADS_1


"dari mata kamu.." kali ini dia memindahkan tangannya ke saku celana..


"mas ini nggak nyambung banget sih... " ami memalingakn muka membelakangi amar.. kecewa tak mendapat jawaban valid.


"kamu manis ami, aku nggak mau manismu ini dinikmati sesemut tak tau diri.! itu alasanku" amar berbisik lalu mengacak rambut ami lembut dan berlalu meninggalkannya yang terpaku oleh jawaban manisnya..


BLUSH... ami memegangi pipinya yang menghangat..


"ami bangun am... jangan baper.. kamu kuat.. "


batin ami menyemangati.


Bugg "ah... ami merintih menahan denyutan di kepalanya. Bola basket yang di mainkan anak SMP di lapangan tepat menghantam kepalanya.


"duh mbak.. sorry ya.. " lelaki yang berpangkat TERSANGKA itu lari tergopoh memghampirinya.


Ami berdiri sambil memegangi kepalanya,menekannya agag kuat demi mengurangi sakitnya.


"nggak usah.. aku gpp kok.. "


Ami berjalan lambat, sesekali mengerjap untuk memperjelas pandangan. tangan kanan menekan kepalanya sedang yang kiri berpegangan tembok.


"kuat ami... sedikit lagi.. " ami menyemangati diri sendiri.


namun semakin dekat langkahnya justru melemah.. pandangannya meremang.


"please ami.. tinggal sedikit lagi.. kalo ambruk disini pasti tambah sakit..".. batin ami

__ADS_1


selangkah, dua langkah.. gelap... tapi dia tak merasakan sakitnya bertubrukan dengan lantai,


Ami mengerjap beberapa kali, memfokuskan pandangan, dimana dia kali ini?.. mengingat apa yang terjadi beberapa saat lalu,


"ah. ya.. aku pasti di uks sekarang.. "


"dah bangun?.." suara seseorang di sudut ruangan memecah keheningan.


"hmm.. kamu yang bawa saya kesini?"


"iya.. gimana?.. masi sakit kepalanya?"


"nggak, udah mendingan.."


ami turun dari ranjang uks dan berlalu pergi


"gitu amat ya kalo abis ditolongin.. "


ami menghentikan langkah dan berbalik


"trimakasih... " ami berucap setengah hati dan tersenyum paksa


"maksain senyum aja dah manis gitu.. apalagi kalo ikhlas ya."


ami memutar bola mata jengah, dan berbalik melangkah.


"sekedar info ya mbak.. namaku Alam.. " Alam berteriak agar ami mendengarnya. benar saja.. ami menganggukkan kepala tanpa menoleh ke arah suara...

__ADS_1


Di hari itu, dua lelaki yang tak ami tahu asalnya mulai berlomba mengukir kisah bersamanya.


__ADS_2