Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
kemelut pikiran Alam


__ADS_3

Pov. alam


Aku melirik kaca spion yang menampilkan seraut wajah manis berpoles make up natural yang sedang melempar pandang ke luar kaca mobil dengan muka sebal. Siapa lagi pelakunya kalau bukan aku sendiri. Menjemputnya pagi buta di saat dia sedang menikmati buaian kasur empuk. Memaksanya bersiap dan mengikuti semua arahanku tanpa boleh melempar protes.


Dia yang masih bingung kala aku hanya mengajaknya tanpa ibuk dalam perjalanan ini. Merasa di bodohi di pagi buta, membuatnya mengucir cantik bibirnya dan melangkah cepat di iringi hentakan kaki, persis seperti bocah ABG yang merajuk. Dengan tampilan muka dan tinggi badan yang super mini, dia sama sekali tak terlihat seperti wanita berumur dua puluh tujuh tahun. Denganku yang notabene lebih muda tiga tahun saja, dia masih terlihat lebih muda dariku.


"Bang, tolong tanyain ke cewek penghuni jok belakang dong. Mau sarapan apa?"


"Cewek, suit suit! Mau sarapan apa nih?"


"Makan kalian berdua!"


Aku sontak tertawa bersama bang Amar. Menggoda Ami di saat palang merah begini, memang hal yang sangat menyenangkan. Dia yang menjawab tanpa pikir dan tak mau repot menoleh ke arah kami, membuatku semakin gemas. Dia hebat bukan?. Haya dengan hal kecil seperti ini, dia sanggup menyapu kegundahan hatiku dua hari ini. Bagaimana tidak, sejak pamit untuk menemani bang Amar menemui hesti kala itu, pikiranku kacau. Anganku buyar, berlarian entah kemana, sembari membawa pergi kewarasan jiwaku tanpa sisa. Sama sekali tak terfikir olehku bahwa kunjungan kami dirumahnya sama sekali tidak membuat Hesti syok. Dia terlihat begitu biasa. Seperti tak terjadi apa-apa.

__ADS_1


"Eh, Mas Amar, Alam. Mari masuk"


Ucap hesti ketika tahu siapa tamunya sore itu. Dia sama sekali tak terlihat gugup. terlihat seperti tak sedang menyembunyikan sesuatu.


"A' ada mas Amar sama Alam nih" suara riangnya memberi informasi kepada suaminya tersayang. Kelihatannya sih begitu. Kukirik bang Amar yang menatap hesti tak berkedip, dasar psikolog abal-abal. Awas saja kalau dugaannya melesat. Ku perang dia pakai sutil sesuai saran ibuk.


"Apakabar nduk?" Suara bang Amar akhirnya terdengar, setelah beberapa menit membisu.


"Alhamdulillah mas, sehat semua disini. A' steve pasti seneng, tahu Mas berkenan main kesini."


"A' aku tadi ketemu Mas Amar di toko. Dan dia yang anter aku pulang. Cuman sampai gang sana sih.. bawaan bayiku random mulu kan dari kemaren. Dan salah satunya itu tadi, aku nggak mau di anter mobil sampai rumah. Pengen jalan kaki pokoknya. Untung mbak ami nggak maksa. Dan aku........"


Hesti yang tak berhenti mengoceh, adalah dia dalam mode good mood.Seperti dia yang masih dekat dengan bang Amar dulu. Bila sedang bersama hesti, bang Amar akan melupakan segalanya. Aku yang datang jauh dari jogja kala itu, harus menahan kekesalanku, karena bng Amar lebih fokus pada Hesti daripada aku yang notabene adalah mahasiswa baru yang lebih membutuhkan informasi. yang jelas, disini aku merasa sangat di rugikan. Bagaimana tidak?, Kami sampai hampir baku hantam karena sikap khawatir bang Amar yang berlebihan. Dan lihatlah sekarang. Dia yang jadi topik panas kami beberapa waktu lalu, dengan riangnya mengoceh panjang kali lebar di depan. Dan setelah ini, jika bang Amar masih saja khawatir dalam mode tidak wajar. Akan ku pangkas habis burungnya, sekalian saja di tak punya burung, daripada mubadzir kan?,.

__ADS_1


Aku tak tahu menahu apa yang mereka bicarakan ketika aku berpamit ke kamar mandi. Yang ku tahu, bang Amar yang awalnya menekuk muka tak bersemangat, berubah ke raut super duper lebih menyebalkan saat mengajakku undur diri.


sekali dua puluh empat jam tanpa bertemu Ami sudah membuat pikiranku menggila. Ya Allah, ampuni hambamu. Hamba tak kuasa menahan rindu gusti, izinkan kami menyatu dalam ikatan halal dan beralaskan ikrar suci padamu ya Allah.


Aku melirik Ami setelah berhasil memarkirkan mobil di sebuah rumah makan angkringan sawah. Kulihat Ami, seketika menegakkan tubuhnya yang lemah lesu tak bertenaga menjadi tegak dan begitu bersemangat mengitarkan pandangan ke area rumah makan. Aku menyungging senyum. Kupastikan permintaan maafku langsung di acc tanpa harus mengulang dua kali, lihat saja.


"Seneng?," Aku bertanya pada Ami, setelah memesan beberapa makanan dan duduk di angkringan pilihan tuan putri.


"He-em, makasih ya Mas" tuh kan, apa kataku pemirsa. Lihatlah, dia mengagguk antusias menjawab pertanyyanku. Lalu mengedarkan pandangan, menyapa keindahan alam yang di suguhkan tuhan untuk hamba terkasihnya.


"Ucapkan MasyaaAllah saat mengagumi ciptaanNya Ameena." Ucapku mengingatkan.


Dia hanya menganggukkan kepalanya dan berdesisis mengucap kalimat tasbih. Melihat senyum Ami pagi ini membuang separuh kegundahanku atas sikap bang Amar sejak kepulangan kami dari rumah hesti. Dia terlihat sangat bahagia, berbanding terbalik dengan keadaan moodnya di awal kedatangan kami. Dia jadi super duper jail mengalahkan level ketengilanku. Bahkan Maryam sampai menangis karena sebal dengan godaan bang Amar. Aku dan bunda hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuannya. Sikap bang Amar kali ini membuatku khawatir. Pasalnya, sikap seperti ini pernah bertandang ke jiwanya saat masih ber-adik kakak dengan hesti dulu. Sampai akhirnya dia berubah murung tak terjamah saat dia melepaskan Hesti pada prianya, pria yang saat ini menjadi suaminya.

__ADS_1


Kalau dipikir ulang, bukan Ami yang bisa menjungkir balikkan kepribadiannnya selama ini, justru hesti yang sempurna melakukannya.Dan yang membuatku sebal, hingga tak ingin terlibat dengan perkaranya bersama hesti adalah, ke-tidak pekaan bang Amar terhadap perasaanya sendiri. Aku tak habis pikir dengan kelakuan bang Amar, dari dulu selalu berikrar bahwa Ami lah perempuan teristimewa. Dia bahkan tak sadar, bahwa emosinya terlihat biasa saja saat memutuskan hubungannya dengan Ami, bahkan saat menyuruhku menggantikan posisinya.


Bila dulu dia tipe irit bicara dan cuek, lalu bertranformasi menjadi Amar si periang dan super jahil. Lain halnya setelah perpisahannya dengan hesti, hal itu membuatnya hilang arah. Dia tak ubah seperti mayat hidup, tak bisa memilih antar kembali menjadi pria cuek seperti saat masih bersama ami, atau periang seperti dua tahun lalu bersama hesti. Teori psikologis yang di tekuninya empat tahun ini sama sekali tak membantunya keluar dari kungkungan rasa. Dan kali ini, setelah pertemuannya dengan hesti, dia kembali. Menjadi pria jahil dengan senyum yang tak pernah lupa singgah. Aku bergidik melihatnya. Dan kutetapkan, mulai hari ini, aku akan fokus pada urusanku untuk segera menghalalkan Ameena teesya. Perihal bang Amar, akan kubuang jauh-jauh ke dasar laut agar tak bisa singgah lagi di pikiranku. Maaf bang, say good bye to your love trouble. Bodo amat pokoknya.


__ADS_2