
Sepuluh tahun silam.
" Beneran mau berangkat Am?, hujannya lebat lo ini." Sudah empat kali ibuk memastikan keputusanku pagi ini. Hujan lebat mengguyur jakarta sejak semalam. Entah berapa banyak stok air di atas sana hingga tak kunjung mengering sampai pagi.
"Hari ini ada ujian praktek buk, mana bisa Ami bolos." Ingim hati memang tidur bergelung selimut di atas kasur, mwngungat dinginnya hawa pagi ini. Tapi apa mau dikata, tanggal ujian yang tertera di note nampak melotot mengawas tajam, seakan memperingatkanku untuk tak main main jika ingin nilai bagus. Aku mengedik bergidik, memasukkan buku buku kedalam tas dan bersiap pergi.
"Ada mobil depan gerbang, kamu lihat gih siapa, ibuk ambilin bekal kamu dulu."
Aku melangkah atas instruksi ibuk. Mobil depan gerbang?, Tamu?, Sepagi ini?, Mana hujan lagi.
Aku bergeming di teras rumah, melihat sesosok laki laki berlari kecil di bawah payung melewati pagar rumah yang terbuka separuh.
"Aku nebeng temen, sekalian susulin kamu kesini. Kebetulan sekali kamu belum berangkat." Terangnya setelah berada tepat di hadapanku.
"Bang Amar tau rumahku?" Tanyaku keheranan. Seingatku, bang Amar tak pernah turun dari bis untuk mengantarku sampai rumah saat kita pulang bersama, aku hanya berpamit turun dan dia tetap berada di bis karena rumahnya masih beberapa kilometer dari tempatku berhenti.
"Gampang sih itu, tinggal searching aja sih di web sekolah." Jawabnya enteng.
"Oh,," aku manggut manggut menanggapi,
__ADS_1
Hampir saja aku kegirangan karena kukira dia mengikutiku diam diam ala adegan drama kore untuk memastikan aku selamat sampai rumah.
"Loh, ada temen kamu Am?" Ibu bertanya saat melihat Alam dan mengangsurkan kotak makan padaku.
"Iya buk, dia jemput Ami, itu barengan sama anak anak yang lain." Aku menunjuk ke arah mobil yang menampakkan beberapa laki laki tengah melambai ke arah kami. Ibuk mengangguk dan tersemyum.
"Ya udah, buruan berangkat gih, keburu telat." Aku meraih tangan ibuk hendak bersalaman, namun urung karena tiba tiba ibuk menyuruh kami menunggu dan melangkah terburu masuk ke dalam rumah.
"Ini nak, buat ganjel perut mumpung masih anget."
Ibu mengangsurkan kotak makanan pada Bang amar.
Bang Amar meraih tangan ibu dan aku mengikuti.
"Assalamu'alaikum" ucap kami bersamaan, lalu berjalan berhimpitan di bawah payung agar tak terkena tetesan hujan.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Aku dan bang Amar memang satu angkatan, tapi kami beda kelas, beda jurusan lebih tepatnya. Aku memilih jurusan ips, sedang dia memilih jurusan ipa.
__ADS_1
Karena itu aku memilih berlari menembus hujan untuk sampai ke kelas daripada harus menunggu vang Amar menyiapkan bahan oraktiknya lebih dulu bersama teman temannya.
"Tunggu sebentar Am, atau kamu pakai aja payungnya "
"Nggak usah bang, aku keburu telat kalau harus nungguin, lagian bang Amar lebih butuh payungnya untuk nutupin bahan praktiknya kan."
"Mending telat daripada sakit, tunggu lima menit" Bang Alam tak bisa dibantah. Tapi aku segan melihatnya riweh. Akhirnya kuputuskan berlari tanpa menunggu persetujuannya.
"Ujannya agag reda bang, aku duluan, makasih"
Rintik hujan memang tak selebat tadi pagi saat kuputuskan berlari meninggalkan bang Amar dan kawan kawan. Tetapi sepertinya kesabaranku tengah di uji kali ini. Belum genap separuh jalan yang kutempuh, rintik hujan yang semula halus berubah menjadi tetes tetes besar yang kuyakin akan membasahi tubuhku walau jarak yang ku tempuh hanya tinggal dua puluh meter.
Seseorang menyampirkan jaket di bahuku saat aku tengah sibuk mengibaskan air di tangan sambil merutuki kecerobohanku karena sudah meninggalkan jaket di mobil tadi.
" Jangan kasih lihat keindahan ini pada orang lain ya, cukup ke gue aja." Dia berkata dengan muka tengilnya sambil menowel hidungku.
"Karena gue anak baik" dia melanjutkan dengan menepuk dadanya jumawa lalu pergi meninggalkanku. Aku masih tergamam oleh sikap si bocah tengil yang kutahu namanya Alam. Lalu menggeleng pelan dan menunduk untuk merapikan baju dan jaketku.
"What!!!" Aku memekik pelan dan reflek mengeratkan jaket untuk menutupi bagian dada.
__ADS_1
Aku berjalan terburu sambil memukuli kepalaku pelan. Kenapa aku bisa lupa kalau yang kupakai hari ini kemeja putih, jelas baju dalamku akan tercetak jelas saat kemejanya basah.