Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
makan siang tak di undang


__ADS_3

sejak pertemuanku dengan Alam waktu itu, aku jadi lebih banyak diam, bahkan di toko yang notabene tempat ternyamanku menyuguhkan ekpresi. Semua urusan packing order dan restock kurma pun aku tak minat ikut campur, semua kulimpahkan tanpa ampun pada novy yang baru mulai kerja tiga hari ini.


"sumpah ya lo. kena setan mana, sih. kelayapan kemana aja pas gue tinggal?." Novy misuh-misuh meluapkan kekesalannya.


"ke rumah hantu,! kenapa?. lo mau kenalan juga?. jom, gue kenalin."


"idih.. ogah lah, eh, tapi lo kenapa, sih, Am. nggak kayak biasanya, itu muka udah persis kayak baju yang lagi LDr-an sama setrika tau nggak. " Novy kekeh menanyakan sebab musababku menjadi manusia setengah patung beberapa hari ini.


"lo ada kenalan lagi nggak? satu aja, pasti gue mau. nggak pake anu-anu deh, suwer!! gue beneran capek ini. "


gue lipat tangan di atas meja dan menenggelamkam muka disana. berharap bisa sedikit meredakan demam otak.


"apaan sih am.. bukan gaya lo banget kayak gini. Biasanya juga nggak peduli sama bakal jodoh lonyang belum kelihatan batang hidungnya. kenapa?. ibuk lo marah?"


novy mendekat. menepuk halus pundakku. lumayan sekali, meringankan beban pikiran yang selama ini ku pikul sendiri. Aku tak sekuat itu menahan semuanya sendiri, aku membutuhkan seseorang yang dapat menampung keluh kesahku. Dan, tidak mungkin Novy akan selalu ku andalkan dalam urusan ini. karena dia bukan manusia tanpa beban, mungkin bebannya justru lebih berat dariku. Yang artinya, aku harus mempunyai seseorang untuk berbagi kepenatan hidup bukan?, seseorang yang dapat menenangkanku saat hatiku mulai gaduh bergemuruh, bisakah Alam menjadi seseorang yang kubutuhkan?, dan bisakah aku menjadi yang dia butuhkan?. Hanya tepukan halus yang Novy berikan untukku, tapi efek yang di terima tubuh ini begitu dahsyat. Andai Alam yang sekarang berada di sampingku dan memelukku, Astaghfirulloh Ami, sumpah ini otak mendidih kali ya, ngawur amat jadinya. Pasti ini efek kelembutan sikap Alam, Ami sadarlah. Mungkin dia memang seperti itu pada wanita.


"gue kemarin di ajak ibuk ke rumah temennya.." setelah mengibaskan tangan beberapa kali untuk menghalau pikiranku yang semakin liar, kuputuskan untuk membagi cerita kepada Novy.


"terus?, di ejekin lagi?, biasanya juga oke oke aja." Novy berusaha menebak arah ceritaku.


"gue biasa aja, sih, kalo di ejekin. ini dijodohin." suaraku melemah saat mengatakan kalimata terakhir.


"lah. seneng dong harusnya.. nggak perlu gue cariin lagi." Novy sedikit heboh merespons ucapanku.

__ADS_1


"masalahnya bukan begitu novy. dia ini adek kelas gue. tiga tahun selisih usia kita, gila kan." aku masih dalam oktaf rendah saat ini. was-was terdengar oleh yang lain.


"ih gila bener. brondong mana sih yang mau sama lo. kasi ta...mphh. " aku membekap mulut Novy yang tak tau kondisi.


"jangan keras keras bisa nggak, sih!, nggak enak kalo ada yang denger."


tok tok tok..


"iya masuk" jawabku dan novy bersamaan.


"mbak ada paket nih, nggak tau dari siapa. soalnya dia pakek masker dan nggak sebut nama." jelas hesti sambil menyodorkan paperbag ke arahku.


"mencurigakan nggak orangnya?" tanya Novy curiga.


"ah, kamu makan aja hes,.. kamu mau kan?.. ambil nih. makan sama yang lain. " kusodorkan kotak makan dari paperbag itu pada hesti.


"ih. jangan gitu dong mbak.. masnya kan ngasih buat mbak. eh iya. dia juga bilang kalau itu hasil masakannya sendiri lo tadi. cobain dong mbak." hesti justru menyemangati. tumben sekali dia menolak makanan nganggur.


"gue langkahin dulu kali ya." aku menaruh kotak nasi itu di lantai, dan melangkahinya bolak balik. konon kak mitos bilang, kalau dapet makanan dari cowok emang harus dilangkahin, biar peletnya nggak kesampean.. amit amit deh!! meskipun umur udah kelewat mepet gini. tapi kan maunya dapet cinta natural, bukan settingan pakek mantra akik-akik macam begitu kan.


kulihat novy dan hesti melongo, lalu mereka tertawa heboh, apasih. Sebelah mananya yang bikin mereka ketawa?, aku nggak lagi nge-reog padahal.


"gila ya, lo am. ngapain sih, percaya amat sama begituan. lagian dipeletin juga malah untung kali am. bisa langsung kawin tanpa babibu, buahahaha" tawa novy menggelegar. hesti hanya tersenyum lalu pamit keluar. ku timpuk dia dengan pulpen yang berada tak jauh dari jangkauanku.

__ADS_1


"tawa lo itu nggak sopan tau!. lagi hamil juga." Aku tak habis pikir dengan tingkah bumil satu ini, Novy memang tipikal cewek santai, agak tomboy stylenya, tapi nggak tau kenapa, dari dulu banyak banget yang antre mau jadi pacarnya. mungkin karena Novy anaknya gaul, dan asyik di ajak ngobrol. tapi takdir menggariskan dia berjodoh dengan seorang pria yang super duper irit bicara.


aku sempat membanyangkan kehidupan mereka saat di rumah. satunya cerewet plus kelewat aktif. satunya lagi diem, tanpa ekspresi. Tak bisa kubayangkan saat suaminya berbuat salah, Novy pasti bebas mengomel panjang kali lebar karena tak ada sahutan.


saking terherannya dengan sikap bar-bar sahabat sebijiku, aku baru sadar kalau ternyata dia sudah pergi dari ruangan ini.


kuperhatikan paperbag berisi kotak nasi itu lamat lamat, siapa gerangan pangeran yang sudi memasakkan putri halu macam aku begini.


aku mengambil selarik kertas yang tersempil di pojok paperbag yang kutemukan saat akan melipatnya.


jangan telat makan ameena sayang, kamu harus sehat dan siap untuk pertemuan kita nanti malam.


from: M. Alam syah


Karena reflek, kotak makan yang ada di tangan kulempar pelan ke meja. ya Allah.. secepat inikah?. aku harus gimana. tenang ami. mungkin ini hanya pertemuan biasa. bukan pertemuan spesial antar dua kekuarga. mungkin dia akan datang sendiri untuk berkunjung malam ini.


oke. rileks, tarik nafas. hembuskan pelan.


kutarik kotak nasi yang sempat tak sengaja kulempar. kubuka tutupnya, aroma masakan menguar, buakankah ini istimewa, kalau saja aku masih remaja. mungkin hidangan ini akan membuatku melambung tinggi. nasi kuning dengan ceplok telor berbentuk hati, lengkap dengan sayur,bsambel terasi, dan sosis goreng.


semakin aku melahap makanan ini,bsemakin aku minder akan bersanding dengan Alam. dia masih muda, keren, ibadahnya nggak bisa di ragukan, pandai masak pula, nah aku?. masak nasi goreng aja masih sering ke-asinan.


pikiranku terus berputar ke masalalu. masa dimana aku, bang Amar dan Alam masih satu atap sekolah. Kemana gerangan Alam melalang buana selama ini, kenapa setelah bertahun-tahun tak bertemu, dia menjadi sosok yang sangat berbeda?. Sangat berbanding terbalik dengan pribadinya saat remaja dulu.

__ADS_1


__ADS_2