
Tawaku belum juga mereda meski tamu tak di undang yang akhirnya ku tahu namanya yeni, itu telah kembali ke rumahnya lima belas menit lalu.
Satu tanganku tak berhenti memukuli pelan bahu Mas Alam yang juga tertawa sambil mengelus kucing yang ada di pangkuannya.
Lima belas menit lalu, Yeni berpamit pulang dengan wajah memberengut, sebelas dua belas dengan pantat ayam. Bagaimana tidak, Mas Alam memang sudah keterlaluan mengerjainya. Mulai dari serbet kotak-kotak yang ternyata bekas mengelap kecap pedas, lalu di tambah sabun colek yang di berikannya asal saat Yeni meminta sabun cuci muka untuk membersihkan wajahnya.
"Mas Alam ini! Allohu Robbi......"Aku tergopoh menghampiri Yeni yang memekik kesal di depan tempat cuci piring, setelah sebelumnya aku mengambilkan facial wash milikku untuk kuberikan pada Yeni.
"Mas Alam ini UWASEM betul, sih! Sabun colek kan, ini!, Nanti kalo muka cantikku meruntus gimana?!!" Aku melongo, sedetik kemudian pipiku menggembung menahan tawa karena melihat Yeni yang terus mengamuk dengan muka yang penuh busa sabun.
Aku melirik mas Alam yang terkikik geli. "Dasar usil!".
"Mbak yeni, basuh dulu itu busanya, terus pakek sabun cuci mukaku ini mbak, kasian kulitnya kalo sensitif,"
"Kalo ini baru betul, tak pikir setelah nikah sama gadis pujaanmu, edanmu bakal angkat kaki Mas, lha kok malah tambah uwedan!" Yeni melanjutkan omelannya setelah menyelesaikan ritual membersihkan muka. Sedang Mas Alam terlihat acuh dengan terus mengelus kucing abu-abu yang sedang makan di kolong meja.
"Hei, Marrie. Kupingmu tak capek kah?, Tiap hari si mbokmu itu pasti mengomel ya. Kasian bumil sebiji ini, pasti setres. Sampai mogok makan segala."
"Tau ah, Yeni pulang. Eh, mbak yu, makasih ya facial washnya, aku tak tau lagi gimana jadinya wajah ayuku ini, kalau tak ada mbak yu." Yeni memberikan facial washku, lalu memelukku erat.
"Selamat ya mbak, Mas Alam meski separo gila kayak begini, tak jamin sayang betul sama mbak e. Aku jaminannya." Aku tersenyum mendengar ucapannya.
"Terimakasih kembali, do'akan keluarga baruku sakinah mawaddah wa rohmah ya, mbak Yeni."
"Wo, ya pasti. Tak tambahi, semoga berkah umur dan lekas di beri momongan. Amiiin"
__ADS_1
"Amiin," aku dan Mas Alam menjawab serempak. Lalu mengangguk saat Yeni berpamit pulang.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Aku menunggu Mas Alam pulang dengan menyibukkan diri menggoreng sosis untuk tambahan toping mie instan. Rencananya, aku akan membuat menu mie kuah telur ceplok dengan toping potongan sosis goreng untuk makan malam nanti.
"Nduk, makan yuk." Mas Alam datang dengan menenteng plastik, yang kuyakin isinya makanan. Sedetik kemudian, dia terheran melihatku berjibaku dengan masakan.
"Kamu masak nduk?"
"Iya mas, biasa aja deh, lihatnya. Herannya kok, kayak lagi liat aku manjat pohon kelapa gitu."
Aku menuangkan dua mie instan yang baru kumasak ke mangkuk berukuran besar.
"Ku kira kamu pulang setelah sholat isya' sekalian Mas,"
"Waktu di antara maghrib dan isya' itu, termasuk dalam waktu yang baik untuk beribadah sayang, dan termasuk di dalamnya itu, bercengkrama dengan istri. Dan karena ini perdana, aku sempatkan pulang untuk ngobrol sama kamu."
"Hmm, tapi kamu nggak ada rutinan baca apa gitu mas, selepas maghrib gini."
"Nggak ada, cuma sholat sunnah aja. Sengaja ngambil itu, biar nanti kita punya waktu buat ngobrol bareng keluarga, termasuk anak-anak kita nanti." Mas Alam mengakhiri kalimatnya dengan mengusap lembut punggung tanganku. Sikapnya yang tegas namun lembut ini seakan menyadarkanku bahwa dia lebih dari kata pantas untuk menyandang gelar the best imam.
"Mas mau makan yang mana dulu, mie kuah atau angsle?" Tanyaku memberi pilihan, karena keduanya sama-sama masih panas.
"Angsle dulu gimana?, Satu aja. Mienya masih panas banget ini."
__ADS_1
"Oke, aku siapin dulu ya."
Mas Alam melempar tatapan bingung saat aku hanya membawa satu sendok dalam mangkok berisi angsle.
"Sayang, kok sendoknya cuma satu?, Kita kan, mau makan berdua?"
"Iya, satu sendok aja bisa kan, kali ini biar aku yang suapin kamu." Aku mengatakanya dengan muka yang kubuat sedatar mungkin, aslinya dadaku sudah kembang kempis berlonjakan menahan malu karena hal ini adalah moment perdana untukku. Selama ini, mana pernah aku berkata sedemikian genit pada lelaki. Tapi terkhusus pada suamiku, demi pahala yang di janjikan langsung oleh Sang Maha pencipta, aku lakukan walau malu tak kepalang.
"Kamu bukan api, pun aku bukan lilin, tapi kenapa dengan gampangnya kamu bikin aku meleleh, sih, nduk?"
"Apa, sih, mas. Lebay!. Yuk ah, Aaa.. buka mulutnya sayang..." Asli aku geli sendiri dengan tingkah polahku kali ini. Tapi tak bisa dipungkiri, bahwa hal sesederhana ini bisa membangunkan kupu-kupu dalam perutku yang semula bersemedi.
Selalu. Makan bersama Mas Alam selalu begini, waktu yang hampir satu jam ini terasa seperti lima menit. Candaan, cerita ringan, nasihat ala mas Alam yang tak pernah membosankan, bisa membuat acara makan kami yang terlampau sederhana ini menjadi berkesan. Kami menyelesaikan makan, tepat saat adzan berkumandang. Aku mengangsurkan segelas air putih untuknya.
"Aku minum di bagian ini ya Nduk, habiskan." Mas Alam menunjuk bekas bibirnya di tepian gelas, lalu berlalu ke kamar mandi untuk memgambil wudlu.
Aku meminum bekasnya dengan muka memerah. Dasar pengantin baru, macam begini saja sukses bikin malu-malu kucing.
"Sayang, habis ini kita petualang ya,"
"Hah?, Kemana?"
"Hmmm.. di kamar aja, dandan yang cantik ya, tunggu aku di kamar. Assalamu'alaikum" Salam dari Mas Alam hanya kubalas lirih, lalu dengan kecepatan kilat aku melangkah ke tempat cuci piring dan membasahi pipiku yang memanas, kutepuk pelan pipi dengan tanganku yang basah.
Ya ampun Ami, kamu bukan Abg labil lagi, efek tak pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis memang sangat meresahkan ternyata. Aku jadi panas dingin begini hanya karena ucapan mas Alam barusan.
__ADS_1