Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
Teka-teki Hesti


__ADS_3

Senyumku tersungging kala mengingat kejadian tadi pagi. Menginapnya Alam,bang Amar dan Marry membuat suasana rumah berbeda pagi ini. Tawa riang melengkapi segarnya hawa pagi.


"Eh, ada teh jahe ya. Boleh di minum kan bang?" Marry yang barusaja masuk ke dapur bersamaku bertanya pada bang Amar yang sedang duduk di kursi meja makan dengan teh jahe yang masih mengepul di atas meja.


"Enak aja, punya Ami ini"


"Dih, kamu bener mau habisin dua gelas besar ini sendirian Am?" Tanya Marry keheranan.


"Abang niat banget mau bikin tenggorokan Ami kebakar " jawabku enteng seraya memeluk ibuk dari belakang dan mencium pipinya.


"Stock morning kiss buat Mas, aman nggak sayang?" Tanya Alam sambil memgerling manja.


"Aman kok, aku kan pesennya yang frozen, jadi awet, kalo mau tinggal di angetin aja sih" jawabku sekenanya.


"Adudududu, Eling eling jones sebiji depan saya dong, kesiannya...." Ucapan Marry mengundang gelak tawa semuanya, kecuali bang Amar yang hanya menanggapi dengan gelengan kepala.


"Am, sini deh. Dua gelas teh jahe ini punya aku dan Alam, kamu harus pilih salah satu untuk bisa minum." suara bang Amar menginterupsiku.


"Ami bisa minum tanpa harus pilih kok bang?"


"Oh ya, gimana caranya?" Tantang bang Amar.


"Ribet amat sih, keburu dingin ini. Pakek acara suruh milih segala lagi. Nanti kalo salah malah baper." Gerutu Marry tak sabar.


"Nggak apa Marry, ini pasti ulah mas Alam buat ngetes aku."


"Waaa,, calon ibu anak-anakku ini memang the best lah"


"Lebay," aku melirik sebal pada Alam sambil berjalan mengambil dua gelas ukuran sedang.


"Eh, mau ngapain itu" Alam terheran melihatku membawa gelas.


"Mau ber-aksi lah" jawabku enteng, lalu menaruh gelas di meja, dan mengangkat dua gelas teh jahe, lalu menuangkannya bersama ke gelas yang masih kosong.


"See, Teesya Ameena. A smart girl." jawabku seraya menepuk dada dengan bangga.


Tepuk tangan memenuhi dapur kecil ibu pagi ini, satu hal yang sangat langka terjadi di istana kecil Ami.


"Am, senyam senyum sendiri. Kesambet baru nyahong lo" Novy membuyarkan lamunanku. Ya, aku berada di toko hari ini. Alam mengantarku setelah kami sarapan pagi itu. Awalnya kutolak karena aku terlalu malas memesan gojek atau gocar untuk pulang. Tetapi Alam berjanji akan menjemput dan mengantarku pulang.

__ADS_1


"Gimana Nov, udah beres semua?"


"Udah lah. Tinggal nunggu rak aja sih, baru bisa nata stoplesnya." Novy menjelaskan keadaan toko hari ini. Memang kami berencana menjual oleh-oleh haji serta hampersnya. Jadi tidak hanya kurma, kacang arab, dan kismis dengan kemasan kiloan saja. Kami membuat kemasan dalam bentuk stoples bahkan menyiapkan hampers dengan beragam bentuk. Dan semua itu baru terealisasikan kemarin, saat aku mengambil cuti untuk berkunjung kerumah bunda.


"Hampersnya udah siap berapa Nov?"


"Baru empat mungkin, pengerjaannya kan baru hari ini."


"Kira-kira butuh tambah karyawan nggak sih"


"Di banding tambah karyawan, kayaknya lo harus tahu keadaan karyawan kesayangan lo dulu deh" Novy menyenderkan sisi kanan tubuhnya ke kaca, pandangannya menerawang jauh tak ber-arah. Kenapa dia?.


"Maksutnya gimana sih?, Dan lo kenapa murung gitu. Nggak biasanya, tadi gue udah check data barang yang datang. Semua sesuai kok sama pesenan kita. Nggak ada masalah"


"Hesti Am, dia kayaknya lagi nggak baik-baik aja. Gue khawatir" Novy memandangku lama, tergambar jelas kekhawatirannya. Novy tak pernah semurung ini, separah apa keadaan Hesti sampai Novy kehilangan sikap bar-barnya.


Aku melangkah mendekati Novy, mengelus lengannya agar dia sedikit rileks.


"Apa yang lo tau Nov?" Aku bertanya pelan.


"Pas gue ke rumah lo waktu itu, di tengah jalan gue nggak sengaja liat dia di tampar suaminya di pinggir jalan. Dan kemarin, pas di toilet, gue nggak sengaja juga denger dia marah-marah di telepon, setelah itu nangis sambil gebukin dadanya gitu Am, dari yang gue denger, dia kayak lagi frustasi banget. Banyak beban tapi nggak bisa ngadu, gue kasian, tapi nggak tahu harus gimana."


Drrt ddrrrt disela kemelutnya praduga, handphoneku bergetar menampilkan nama Alam disana.


"Halo Mas,"


"Assalamu'alaikumsalam sayang Ameena"


"Eh, iya waalaikumsalam Mas, " kudengar suara kekehan lirih Novy, yang ku balas dengan delikan mata.


"Turun gih, makan siang dulu"


"Loh, " aku mengedarkan pandang ke arah parkiran lewat kaca, kulihat mobil Alam terparkir manis disana.


"Mas kok udah kesini aja. Kan tutupnya masih lama" Aku melangkah keluar bersama Novy, berniat menemui Alam yang sudah menunggu di bawah.


"Sama-sama, love you too" Alam menjawab asal sambil terkekeh pelan dan menutup teleponnya tanpa aba-aba.


"Dih, apasih! Kumat lagi jailnya." Omelku sebal, dan meletakkan ponsel di saku outer.

__ADS_1


Aku sempat melirik keberadaan Hesti sebelum melangkah keluar toko. Tetapi aku tidak melihatnya, mungkinkah di toilet?. Atau masih sholat?.


"Loh, bang Amar ikut juga?" Aku bertanya pada bang Amar dan bergerak duduk pada kursi yang Alam siapkan untukku.


"Iya, takut kalian kebablasan kalau cuma berdua." Jawabnya dengan nada mengejek.


"Dih, eh. Maryam kemana? Kok nggak di ajak sekalian" tanyaku keheranan.


Bang Amar dan Alam justru saling pandang lalu tertawa.


"Apasih, di tanya serius juga!"


"Justru, kita ini lagi kabur dari dia sayang" jawab Alam dengan sisa tawanya.


"Jahat banget sih!"


"Nggak deh Ameena. Nggak sepenuhnya gitu kok. Dia lagi di ajak jalan sama umi."


Bang Amar meluruskan perkataan tengil Alam.


"Oh... gitu," aku manggut-manggut tanda mengerti sambil membuka kotak makan yang dibawa Alam.


"Sekalian pengen nawari kamu bisnis sih,"


Perkataan bang Amar mengurungkan tanganku yang siap menyendok makanan.


"Bisnis apa bang?" Aku menaruh sendok dan bertanya kepada bang Amar. Segan untuk meneruskan makan saat dia mengajakku ngobrol, berbeda dengan Alam yang pembawaannya santai. Bang Amar justru lebih sering terlihat tegas dan bernuansa otoriter, tapi bukan berarti dia tidak memiliki sifat jahil.


"Kamu lanjut makan dulu deh, aku mau ke toilet dulu." Jawabnya seraya berdiri dan melangkah menjauhi toko.


"Toilet toko aja bang. Toilet mushola masih proses perbaikan kayaknya."


Bang Amar membalikkan badan mendengar penjelasanku.


"Oke, arahnya kemana ini?"


"Abang masuk aja. Toiletnya sebelah dapur, banyak yang bisa abang tanya kok di dalem"


"Oke"

__ADS_1


__ADS_2