
Selepas maghrib, Alam berpamit akan mengantarku pulang dan di sambut serombongan pertanyaan dari bunda.
"Kok di bawa pulang sekarang?"
"Nggak nunggu makan malam?"
"Eh, apa mau di ajak jalan-jalan?"
"Mau kemana emangnya?"
"Udah izin bu Alma belum?"
Pertanyaan beruntun itu tak sempat Alam jawab karena bunda tak sekalipun memberi jeda.
"Bunda,,,, tanyanya atu atu boleh?" Alam memasang wajah innocent-nya dan jarinya membentuk angka satu.
"Dih! Ini anak sebiji!. Ini karena bunda khawatir, Ami anak perempuan bunda. Takutnya kamu apa-apain dan pulangnya nggak utuh. Terus bunda harus bilang apa sama bu Alma?, Mau kamu tanggung jawab. Eh, ya mau lah pasti. Tadi siang aja udah kebelet gitu mau halalin."
"Waaaah parah sih ini bunda" Alam terperangah, mengacak dan menyugar rambutnya bergantian tanda frustasi.
"Ngalah aja deh Lam, kita mah habis manis sepah di buang. Sekarang dunianya bunda cuman atu. Ami seorang, lainnya pada ngontrak." Bang Amar datang menengahi, dan merangkul serta menepuk bahu Alam berulang kali, lalu berikutnya mereka saling berpelukan ala teletubies. Apasih ini, absurd banget kan mereka. Demi apa, aku tertawa geli melihatnya.
"Udah deh bund, kayak nggak pernah muda aja. Bunda inget nggak, perintilan keperluan acara nikah yang harusnya kita bahas sekali pertemuan aja, kita list atu atu biar ada alasan buat kencan" Ayah ikut menimpali obrolan kami dengan mengingatkan masa manisnya bersama bunda.
"Ya ampun ayah, itu kan dulu. Nggak ada yang namanya handphone untuk komunikasi. Jadi kao mau ngomong ya harus ketemu. Lagian dulu ayah nggak pernah macem macem sama bunda." Bunda membela diri.
"Udah ah, lagian bunda sama ayah bisa kencan juga lo, kita seri. Bang Amar mau ikut?" Alam mengalihkan topik bunda dengan menawari bang Amar.
"Lo nyuruh gue jadi obat nyamuk?"
"Nggak lah, kan situ nyamuknya" jawab Alam enteng seraya meraih tangan bunda dan ayah, lalu mencium takdzim.
Aku pun mengikutinya sebelum berlanjut ke episode drama kekonyolan lainnya.
__ADS_1
"Kamu ikut aja sana Mar, malam ini ayah mau berduaan aja sama bunda. Kamu nggak boleh ganggu. " celetukan ayah reflek mengundang cubitan bunda di perutnya. Aku tertawa geli melihat pipi bunda yang merona.
"Gitu aja teruuus, nggak ada yang peduli sama jiwa jombloku yang lagi meronta"
"Dih! Salah sendiri. Jomblo itu pilihan kamu ya. Bunda dah capek nyuguhin cewek. Endingnya juga pasti kamu tolak. Heran, maunya yang modelan gimana sih." Bunda memasang raut sebal pada bang Amar.
Namun siapa sangka, Sedetik kemudian bunda justru menghampiri bang Amar dan memeluknya, mengusap punggung lebar bang Amar lembut. Bunda memang tipe ibu yang hangat, beliau bisa jadi teman ngobrol, teman curhat, bahkan bisa mengeluarkan kata motivasi unstuk mensupport anaknya. Intinya, bunda punya paket lengkap dalam hal mengurus anak. Aku salut untuk itu. Benar kata orang, suasana rumah tergantung olahan si ibu. Dan kalimat RUMAHKU SYURGAKU cocok sekali untuk menggambarkan hangatnya keluarga ini.
🌻🌻🌻
Akhirnya bang Amar memutuskan untuk ikut bersama kami. Aku duduk di jok belakang, sedang bang Amar dan mas Alam ada di didepan.
"Kita ngapain kesini bang?"
Pertanyaan itu reflek kulontarkan saat mobil Alam berhenti di sebuah toko pakaian dengam brand terkenal.
"Tadi mau beliin kamu baju belum sempet, keburu kamu pingsan."
Aku menarik lengan kemeja Alam sebelum dia berhasil keluar.
"Yakin?" tanya bang Amar dan Alam berjamaah keherenan.
"Emang kenapa sih kalo di tanah abang?"
"Ya, aneh aja. Biasanya kan cewek sukanya beli barang branded gitu. Dan ini pusat baju muslimah dengan brand yang nggak kaleng kaleng loh sayang."
"Jadi baju kemaren itu kamu belinya disini?"
"Eh, kalau itu sih nggak tahu. Bunda sih yang beliin buat kamu" Alam nyengir dan menggaruk tengkukknya yang tak gatal.
"Nggak modal banget sih lo"
"Ya makanya bang, ini mau aku modalin sekarang"
__ADS_1
"Nggak ah, aku nggak mau cari baju yang begituan. Aku pengen beli yang biasa aja. Yang nyaman di pakai di rumah, tapi tetep oke buat jalan. Lagian kamu tau kan, dimanapun tempatnya, cewek itu selalu bersinggungan dengan debu dan air. Aku nggak mau aja jadi males gerak gara-gara baju yang ku pakai terlalu ribet." Aku menjelaskan panjang lebar, dan dua manusia cucu adam di depanku ini menatap heran.
"Sayang, aku nikahin kamu bukan untuk alih profesi kamu jadi babu ya. Justru aku mau jadiin kamu ratu". Alam berucap dengan mode serius, dan manik mata yang menatapku tajam.
"Mas Alam apaan sih, Fatimah putri rosululloh saja melakukan pekerjaan rumah tangga tanpa pembantu, itupun atas permintaan rosululloh. Masa iya aku mau duduk manis tanpa kegiatan"
"Ya kalau itu bikin kamu seneng dan bahagia dengan pernikahan ini kenapa enggak?"
"Ya Allah mas, ibadahku ini cuman sedikit, aku mau meneladani tokoh faforit aku, Fatimah putri rosulloh, boleh ya?." Aku memohon pada Alam dengan muka yang kubuat semanis mungkin, tak lupa kukerjapkan mata berkali untuk menambah kesan cute.
"Ya Allah, gini caranya mana bisa aku nunggu beberapa minggu lagi buat halalin kamu Ami,.." Alam mengusap wajahnya gusar membuatku melongo.
"Demi apa lo mikir se-random ini sih Lam."
Bang Amar menoyor kepala Alam pelan.
"Gini nih kalau bawa nyamuk, main nyosor aja bawaanya" jawab Alam berganti mode sebal.
"Udah buruan. Turutin aja maunya calon bini"
"Calon bini siapa nih?"
"Oh, lo mau tukeran posisi?, Mau aja sih dia. Iya kan Am."
"Dih, dikira Ami nomer handphone apa, pakek tukeran. Enak aja!"
Mereka tertawa serempak dan mobil mulai melaju pelan meninggalkan pelataran toko.
Di perjalanan menuju tanah abang, aku lebih banyak diam menyimak obrolang Alam dengan bang Amar. Mereka membicarakan pekerjaan yang tak begitu kumengerti. Bukan karena aku tak faham urusan bisnis. Tapi karena aku tidak mendetail tahu apa pekerjaan mereka. Berbeda dengan orang kebanyak yang akan memasang wajah serius dan setegang papan besi. Mereka justru sesekali melempar jokes. Aku yang masih terbiasa dengan memori bang Amar yang cuek dan irit bicara agak heran dengan kelakuan randomnya hari ini. Yang pada awalnya masih bersikap seperti beberapa tahun yang lalu. Setelah berbaikan denganku dia justru menjelma jadi orang paling usil di muka bumi. Aku tak pernah melihat sisi bang Amar yang seperti ini dulu. Ataukah ini sifat barunya yang muncul setelah berdamai dengan pahitnya kenyataan hidup?. Jika Alam yang tengil aku dengan mudahnya menanggapi, karena hal ini sudah sangat lumrah terjadi. Tapi beda masalah jika bang Amar yang tengil, aku bahkan bergidik jika dia mulai meluncurkan aksi usilnya, bukannya terlihat menggemaskan seperti Alam. Bang Amar justru terlihat menyeramkan bak singa kelaparan siap menerkam.
Saat berkeliling memilih gamis untukku. Tiba-tiba ponsel bang Amar berdering. Kami berhenti untuk menunggunya mengangkat telepon.
" Bini lu bang? " Tanya Alam?
__ADS_1
" He em nih." Jawab bang Amar enteng, dengan menunjukkan layar ponselnya. Jika Alam menanggapinya dengan kekehan, aku justru terhenyak kaget. Jadi bang Amar sudah menikah?, Dengan siapa?, Sepertinya tadi dia tidak menyinggung persoalan ini?, Apa karena aku yang tidak bertanya?.
"Maryam ada di kafe deket sini Lam, gimana?,"