Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
cerita yang terkuak


__ADS_3

Aku hanya mengikuti kemana Alam membawaku pergi tanpa satupun pertanyaan. Hebat sekali lelaki satu ini, aku begitu saja mempercayainya tanpa secuilpun rasa curiga. Padahal baru juga dua mingguan ini berjumpa lagi setelah beberapa tahun terpisahkan jarak.


Ya, Alam memang baru kembali satu bulan yang lalu dari luar negeri. Tak kutahu dimana tepatnya, aku akan menunggunya menguak cerita, dan tentangku,? Tak diragukan lagi, dia mengetahui cerita hidupku tanpa ada scene terlewatkan.


Sampai detik ini, aku belum sepenuhnya percaya, aku seperti bermimpi di tidurku yang panjang dan enggan menarik diri. Alam menjelma menjadi sosok yang diidamkan para gadis pemburu imam. Bukankah aku seberuntung itu?, Aku bahkan tak repot untuk sekedar bertanya atau mengintip sosial medianya agar dia melirikku. Aku adalah tujuannya pulang, fakta itu yang baru aku tahu.


(Terimakasih sayang, takkan kubiarkan ragu menghampirimu, satu yang pasti, kamu tujuanku, bukan sekedar pilihanku.)


Aku tersenyum membacanya, pesan ini sudah masuk dari jam tiga pagi, dan aku baru membacanya disini, di mobil bersama Alam menuju tujuan yang masih dirahasiakan.


" Baru baca ya,? Hm? "


Alam bertanya setelah kebisuan lama tercipta di antara kami,


"He em, kenapa bisa aku jadi tujuan?, Saat pilihan berjejer rapi menanti penghalalan ?"


Dia diam mendengar pertanyaan yang kuutarakan. Apa dia lupa? Aku bukan lagi gadis remaja yang akan meleot oleh baris kata yang dia tulis, disini aku harus berpikir logis sesuai realita yang ada. Aku lebih tua darinya, kenapa tak memilih yang lain, yangbjauh lebih muda, lebih religius, yang sefrekuensi dengan keluarganya?


"Biar bunda yang menjelaskan, aku yakin kamu nggak akan percaya kalau aku sendiri yang ngomong. Dikiranya aku ngegombal ala ala romeo juliet gitu kan?,"


Betul juga katanya, aku jelas tidak akan langsung mempercayai setiap kata yang meluncur manis dari mulutnya.


Tak terasa mobil Alam memasuki pelataran rumah yang kutahu jelas siapa pemiliknya.


"Assalamu'alaikum bunda,"Alam berjalan mendahuluiku, memeluk bunda yang menyambut hangat kedatangan kami.


"Waalaikumsalam, masuk yuk, sini sayang, bunda tadi masak banyak, kalian sudah sarapan?"


Bunda memelukku hangat, kentara sekali perbedaan sikapnya dengan umi, aku tak tahu pasti hubungan mereka apa, tapi umi memang terlihat lebih tegas berkarisma, sedang bunda begitu hangat menebar cinta.

__ADS_1


Terang saja bunda mengajak kami sarapan, baru pukul sembilan ternyata.


"Kita udah sarapan kok bun, aku mau pamit dulu ya, biar Ami disini sama bunda, biar nyaman kalo mau ghibahin aku." Alam tersenyum menggoda dengan alis yang dipaksanya naik turun.


"Kamu betulan ikhlas aku ghibahin mas,? Tapi kan enak di kamu enek di aku, dosaku betulan udah banyak banget lho ini, jangan dintranfer lagi, nggak sanggup akunya."


Aku memanyunkun bibir menyempurnakan ekpresi sebal.


Alam dan bunda justru tertawa,


"Imut bener sih calon istri, nggak sabar mau halalin"


"Ish !! Bisa bisanya." Aku menepis tangan Alam yang akan mengacaukan hijabku demi menutupi rona merah yang muncul di pipi.


"Kamu mau kemana emangnya?" Bunda bertanya pada Alam yang bersiap pergi.


"Mau beliin dia baju bun, kasian itu dosanya udah kehabisan limit."


"Menutup aurat itu bukan hanya menutup kulitnya aja sayang, tapi juga lekuk tubuhnya. Lagian aku suka kamu pakek baju kayak semalem, adem gitu bawaanya, bidadari kalah saing deh pokoknya"


"Gombal aja terus,,, " kulirik bunda yang sedari tadi tak berhenti unjuk gigi.


"Bunda tahu nggak? Pelanggan dia ini banyakan ceweknya, ngegombal receh mulu sih kelakuannya."


" Iya deh Am, dia emang gitu, katanya cewek itu kalo nggak di gombalin bakal layu, kayak bunga yang nggak di siram air gitu."


"Kok bisa berasumsi gitu mas? Tanpa kamu puji kita bisa kok memuji diri sendiri, kan pada punya kaca semua."


"Cewek yang memuji dirinya sendiri di depan cermin itu akan aneh di bagian hidungnya,"

__ADS_1


"Hah?!" Aku dan bunda serempak melongo.


"Coba aja"


"Dih, kurang kerjaan, ya udah deh sana, pergi aja. Aku mau ngobrol sama aja sama bunda, bunda nggak apa aku gangguin hari ini?" Aku bertanya sungkan pada bunda.


" Nggak dong sayang.. bunda malah senwng kamu temenin, akhirnya setekah sekian lama anak cewek bubda ketemu juga."


Aku meringis merasai kehangatan pelukan bunda. Pantas saja Alam lebih terlihat nyaman berada disini ketimbang dengan keluarganya sendiri.


Aku berjalan beriringan dengan bunda, beliau mengajakku mengobrol di halaman belakang dekat kolam renang dengan ditemani secangkir teh hangat dan pisang goreng.


Aku yang semula santai berjalan dengan membawa nampan dan sesekali menanggapi candaan bunda terpaksa berhenti dan terpaku di tempatku berdiri.


Nampan yang kubawa bergetar, menandakan si empunya tak sedang berada dalam kondisi baik baik saja. Dadaku bergemuruh, ingin berlari tapi kaki seperti tak lagi bertulang.


Hampir saja nampan yang kubawa jatuh berserakan kalau saja tak berpindah tangan, dan laki laki yang membuat jantungku berpacu hebat tepat berdiri di hadapanku, apalagi ini ya tuhan, tak puaskah Alam memberiku banyak letupan petasan sejak kami berjumpa kembali?.


"Ami nggak apa sayang?" Bunda tergopoh menghampiriku, bahkan aku tak tahu langkah bunda sudah jauh dari tempatku berpaku.


"Bang Amar kenapa disini?" Aku tak menghiraukan pertanyaan bunda, pikiranku berkemelut dengan satu nama laki laki yang masih bergeming di hadapanku.


"Ini rumahku Ameena" datar sekali oktafnya. Masih sama dengan tahunan lalu, aku bahkan tak merasa asing dengan suaranya walau sudah lama tak bersinggungan.


"Am, duduk dulu yuk, kamu kelihatan syok banget, duduk, minum dulu"


Aku mengikuti perintah bunda, di gamitnya lenganku agar tak tersungkur sebab energi yang tak banyak tersisa.


"Aku minta maaf" kalimat itu di ucapkan oleh bang Amar setelah kami duduk bersama di sebuah gazebo. Bang Amar menundukkan muka sebagai penyempurna ekpresi penyesalannya.

__ADS_1


"Aku baru sadar, sebodoh itu aku dulu. Sampai tak sadar bahwa kalian bersaudara"


Aku berkata dengan tatapan kosong. Puzzle ini sungguh sulit aku satukan, beberapa bagiannya masih menyimpan keraguan.


__ADS_2