Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
kepingan scene pahit masa lalu


__ADS_3

Aku mengerjap, mengedarkan pandangan, merasa asing oleh ruang yang aku tempati saat ini. jelas sekali bukan kamarku. Lalu ini dimana?, Apa yang kulakukan hari ini sampai aku berakhir terbaring lemas di ruangan ini.


"Ah,, " aku memijat pelan keningku yang berkedut saat beralih posisi untuk duduk.


"Sayang, udah bangun?" Kulihat Alam tergopoh masuk dengan membawa nampan berisi segelas jahe hangat dan kotak obat.


"Yaa, aku baru ingat ini dimana. Kamu udah pulang mas?" Tanyaku pelan saat dia membantuku menata bantal di punggung agar posisi dudukku lebih nyaman.


"Aku langsung balik pas dapet kabar kamu pingsan tadi." Dia menatapku cemas.


"Mas minta maaf ya sayang," dia berucap pelan dengan tatapan merasa bersalah.


"Mas tega." Ucapku lemah tak bertenaga karena emosi mulai menghampiri.


"Justru aku hargain kamu Am, aku nggak mau kamu terlambat mengetahui kenyataan ini."


"Emang harus gini ya mas caranya?"


Air mataku melesat, tak lagi bisa kubendung, keadaan ini sungguh membingungkan. Inginku mengingkari, tapi serpihan memori sepuluh tahun silam seakan berlomba muncul kepermukaan demi menguatkan kenyataan.


"Maaf, aku nggak tahu kalau kamu bakal se-syok ini " Alam menunduk menyesali perbuatannya.


Tangisku pecah, aku menekuk lutut dan melipat tangan lalu menenggelamkan wajahku disana. Tangisan ini tak bisa kukendalikan, air mataku terus berjatuhan, ingatanku kembali ke scene pahit lima tahun silam.


Waktu itu, dengan semangatnya aku menemui bang Amar yang datang dari jauh demi menemuiku. Aku memilih kafe dekat toko tempatku bekerja untuk pertemuan singkat kami. Kusempatkan merapikan rambut yang berantakan sebelum menemui bang Amar. kulihat dia duduk memainkan ponsel di sofa pojok kafe. Aku mempercepat langkah menghampirinya, memosisikan duduk di hadapannya dengan wajah yang berseri.


"Bang Amar udah lama ?" Aku bertanya masih dalam mode ceria, bagaimana tidak?, Empat tahun lamanya kami tak bertemu. Rinduku beterbangan membentang sayap siap memeluknya. Aku berceloteh ria bercerita banyak hal yang aku lewati tanpanya. Aku yang hanya memiliki novy sebagai temanku satu satunya setelah dia pergi mempunyai stok cerita yang berlimpah untuk di bagi.Dia hanya diam memandangku, saking bahagianya aku tak bisa membaca gelagatnya kala itu. Pikirku, dia diam karena menikmati rentetan cerita yang ku bagi. Namun keceriaanku pudar oleh kedatangan wanita berpakaian modis yang tiba tiba datang dan di sambut hangat pleh bang Amar, sekilas bersalaman dan berpelukan di hadapanku.

__ADS_1


Aku terbengong tak langsung merespon tangan wanita yang terulur dihadapanku.


Pandanganku tak beralih dari bang Amar barang sedetik. Wanita itu mengerti posisinya dan memilih duduk di samping bang Amar. Apa apaan ini?, Aku yang sedari SMA dekat dengan bang Amar tak pernah sekalipun terlibat skinship walau hanya sekedar salaman. Dan wanita ini?, Apa selama ini aku salah mengartikan kedekatanku dengannya?. Lalu, pesannya untuk tetap menunggu kala dia pamit waktu itu bagaimana?.


Aku tetap tak mengalihkan pandanganku darinya, dia diam mematung tanpa ekspresi, dan wanita di sampingnya beberapa kali membenahi posisinya duduk, terlihat gusar oleh keheningan yang tercipta di antara kami. Dalam diam aku berusaha membangun kekuatan, mempersiapkan hal paling buruk yang akan terucapkan oleh laki laki yang masih setia diam dalam kebisuannya.


"Hmmm jadi gini, aku ini..."


"Maaf meena, aku minta maaf" dia menunduk, meremas tangannya kuat di atas meja. Bagus sekali, dia akhirnya bersuara setelah si wanitanya berusaha menjelaskan situasi janggal ini. Sebegitunya dia melindungi, tak perduli aku yang kerepotan membangun pilar dalam hati agar tak roboh usai tersakiti.


Kuhirup nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, tersenyum. Memandang mereka bergantian, tak kan kubiarkan mereka tahu hancurnya hatiku. Kebahagiaan mereka tak berhak mengobrak-abrik kewarasanku.


"Selamat bang, aku turut bahagia."


Aku berdiri, menyalami wanitanya dan bergerak mendekat untuk memeluknya. Tak lupa kuselipkan kata selamat atas hubungan mereka.


Aku melangkah pergi meninggalkan dua sejoli yang mungkin lega akan hubungan mereka yang tak lagi memiliki batu ganjalan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Memori pahit ini seakan di tarik paksa dari tempatnya bersembunyi. Susah payah aku mengusirnya agar tak kembali hadir dalam mimpi. Namun Alam memaksanya kembali. Tidak, Alam hanya ingin aku menyelesaikan semuanya. Masalalu yang kubiarkan menggantung tak menemukan ujung. Bukankah waktu itu aku tak sempat mendengar penjelasannya. Kali ini aku harus berdamai dengannya, karena bang Amar akan sering kutemui nantinya, dia kakak Alam, itu artinya dia adalah kakak iparku, urusanku dengannya di masalalu harus ku urus tuntas agar tak mengganjal perjalanan masadepanku bersama Alam.


"Sayang, jangan nangis dong. Aku nggak tahu harus gimana kalau kamu nangis gini,"


Beberapa kali Alam membujukku. Dan aku masih setia mengeratkan pelukan pada lutut demi meredam suara tangis dan emosi yang bergejolak dalam hati.


"Bunda,,, halalin sekarang boleh ya, biar bisa peluk Ami kalau lagi nangis gini."

__ADS_1


Alam merengak manja pada bunda saat kudengar beberapa langkah orang memasuki ruangan yang kutempati.


"Masih ada bunda yang bisa nenangin Ami ya lam, nggak usah sok kebelet gitu kamu."


Ayah menimpali sikap manja Alam.


"Nggak bisa yah, bunda nggak akan bisa. Ami pasti pengennya di peluk Alam, bukan bunda, baunya beda."


Aku tak tahan untuk mengintip ekspresi Alam yang terus berubah bak bunglon. Bisa bisanya dia bertingkah manja dan tengil di waktu yang hampir bersamaan.


"Maksut kamu bunda bau,?" Bunda bertanya sinis pada Alam yang cengengesan.


"Nggak gitu bund, kita tuh punya aroma khas yang beda. Kalo aroma aku tuh bawaanya bikin nyaman pas peluk, tapi kalo aroma bunda tuh bawaanya bikin laper aja pas peluk" Alam mengakhiri sesi pengamatannya dengan cengengesan.


" Dasar ya ini anak..... " Bunda tak melanjutkan omelannya karena mendengar tawaku meledak. Aku menggelengkan kepala dan berusaha menghentikan tawa saat kulihat Alam menampakkan ekspresi sebal.


"Kenapa?, Tangisku udah reda lo ini. Kok malah sebel gitu."


"Baru kali ini aku sebel sama tawa kamu Am."


"Loh, kenapa?"


"Kalau aja kamu tahan tawanya dua jam lagi. Sore ini pasti udah halal ini kita."


"Mas Alam demi apa kamu bisa mikir se-random ini?"


Tawaku pecah disusul tawa bunda dan ayah. Begitupun Alam, dia bergabung menggemakan tawa di ruangan yang semula hanya berteman isak tangisku.

__ADS_1


Sampai kemunculan seseorang di ambang pintu melenyapkan deraian tawaku, suasana kembali hening, ayah bunda dan Alam bertukar pandangan.


"Aku mau bicara berdua sama bang Amar boleh Mas?."


__ADS_2