Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
menyingkap rahasia masa lalu


__ADS_3

Raut muka Alam seketika berubah, dia menghela nafas berat dan menatapku lekat.


Bunda pun mendekat mengambil duduk di ranjang lalu memelukku. Hangat sekali, usapan bunda meruntuhkan segala emosi yang masih bersarang dalam diri. Walau gurauan Alam tadi berhasil memangkas tangis, namun gemuruh dalam dada ini masih setia menggaduhkan emosi. Bunda semakin erat memeluk, seakan ingin menyerap habis luapan emosiku.


"Ami,, sepahit dan sekeras apapun masalalu. ingat, kau tetap bisa berdiri kuat hari ini. Jadikan masalalu sebagai penempa diri. Jadilah peselancar hebat yang tak pernah gentar sebesar apapun ombak yang akan dihadapi."


Aku mengeratkan pelukan, beberapa kali mengangguk tanda paham akan apa yang bunda tuturkan.


Ini moment langka dimana aku yang selalu kesulitan berinteraksi dengan orang baru, justru sebegitu tenang dan nyaman dalam pelukan bunda. Padahal kami hanya bertemu dua kali, pertama dengan ibu, dan kedua kalinya hari ini. Sangat jauh berbeda saat bertemu umi, aku merasakan atmosfer yang tak biasa saat berhadapan dengannya yang memaksaku bersikap waspada.


Bunda mengurai pelukan dan mengusap wajahku penuh kelembutan, merapikan anak rambut yang menyembul keluar menyempurnakan tampilanku yang mirip orang frustasi.


Bunda keluar bersama ayah, menyisakan aku, mas Alam dan bang Amar di kamar ini.


Beberapa saat tak ada satu katapun yang keluar dari mulut kami. Diam masih menjadi pilihan demi menata carut marutnya perasaan.


"Bisa mas tinggalkan kami disini?" Ucapku lembut memangkas keheningan diantara kami.


Alam menatapku lekat, sorot matanya menampilkan kekhawatiran yang amat sangat. Dia pasti takut aku pingsan lagi.


"Boleh, tapi habisin dulu jahe angetnya. Terus ambil wudlu, lenyapkan dulu emosi kamu sebelum bicara." Alam berbicara lembut namun menyiratkan ketegasan. Aku hanya bisa mengangguk dan menerima uluran gelas jahe hangat dari tangan Alam.


Baru kali ini aku melihat sisi lain Alam yang tenang namun menyiratkan ketegasan. Bukan Alam yang slengekan dengan cengirannya yang khas dan celetukannya yang hampir tak pernah garing.


"Dan, satu lagi." Aku melirik Alam dengan tetap menyeruput pelan jahe hangat di tanganku.


"Ngobrolnya jangan disini ya. Di taman belakang aja. Di gazebo, nanti aku siapin bantal buat sandaran kamu biar nyaman".


"Oke aja deh. kamu lagi dalam mode nggak bisa di bantah kan?" Aku melontarkan tanya bernada ejekan dan mengangsurkan gelas yang telah kutandaskan isinya.

__ADS_1


"Pinter banget sih calon istri." Alam tertawa renyah dengan gerakan tangan mengusap ujung kepalaku. Lalu berlalu pergi dengan sisa tawanya yang masih bisa kudengar. Pandanganku mengekor kepergian Alam, betapa terkejutnya saat kutemui sorot mata bang Amar yang sedang duduk di bangku panjang ruang tengah. Sejak kapan dia keluar dari kamar ini dan memperhatikanku dari sana. Aku mengalihkan pandangan dan beranjak ke kamar mandi.


Aku berjalan pelan menuju halaman belakang sesuai instruksi Alam. Rumah bunda memang tak semewah desain rumah bergaya eropa seperti kebanyakan. Justru bunda seakan memilih tema klasik untuk rumahnya. Kamarnya pun tidak terlalu banyak. Hanya dua kamar tamu, satu kamar pembantu, satu ruang tamu, satu ruang tivi, dan satu dapur di bagian bawah. Sedangkan di atas hanya ada tiga kamar yang berjejer. Yang kusuka dari rumah ini adalah halaman belakangnya. Halaman yang cukup luas dengan mushola bergaya klasik tempat semua penghuni rumah ini berjamaah setiap harinya, ada kolam renang berukuran kecil yang tidak terlalu dalam, di sebelahnya ada gazebo yang di bawahnya terdapat kolam ikan, mirip angkringan depot lalapan. Tanamannya juga terbilang sangat banyak dan beraneka ragam, ada berbagai macam bunga, buah buahan seperti kelengkeng yang tepat di samping gazebo, bahkan sayur mayur bertebaran di samping mushola.


Aku berhenti sejenak, menghidu aroma bunga melati yang sedang mekar membuat halaman ini bak surga duniawi. Suasana di halaman belakang ini sejenak membuat mku terasa nyaman. Aku melihat Alam sedang berbincang denganbang Amar di gazebo.


Alam yang melihatku segera melambai dan menepuk tempat yang telah ia siapkan untukku.


"Kamu kelihatan lebih segar sayang"


"Sesuai instruksi kamu, aku ambil wudlu dulu sebelum kesini."


Alam tersenyum dan beringsut turun.


"Titip Ami ya bang"


"Ck, bahkan kita masih ada di bawah atap yang sama." Turur bang Alam dingin. Khas dia banget.


"Lo mau pergi apa gue sedekahin ke ikan ikan di bawah ini yang lagi lapar?"


"Wooooo, dipikir aku karung sentrat"


"Mirip sih," aku nyeletuk tanpa beban, dan mendapat pelototan Alam dan tawa lepas bang Amar.


"Puas lo bang.!" Alam ngeloyor pergi meninggalkan kami seolah dia benar benar kesal. Tawa bang Amar masih berderai seiring punggung Amar yang semakin menjauh.


"Aku tahu, Alam adalah laki laki yang paling tepat buat kamu." Bang Amar menoleh ke arahku.


"Iya, Allah sayang sekali pada hamba yang tak tahu diri ini. Sehingga dengan mudahnya mengirimkan sosok sehebat itu untukku."

__ADS_1


"Ini semua nggak seinstan yang kamu pikir meena, banyak pengorbanan dan tekatnya memperjuangkan."


"Bang Amar tahu sejak kapan Alam menjadikanku tujuan?"


"Sejak dulu, sejak kamu tahu namanya."


Aku mengernyit, itukan lama sekali, bahkan usia Aalm masih belum genap lima belas tahun.


"Kamu kira pas aku serius bilang cari alamat kamu lewst web sekolah waktu pertama kali aku jemput kamu?"


Aku memicing, mencoba menarik kesimpulan dari apa yang bang Amar katakan.


"Alam selalu turun memastikan kamu selamat sampai rumah, dia juga tahu tempat yang selalu kamu singgahi barang sebentar sebelum akhirnya pulang."


Aku terperangah, menatapnya tak percaya, menegaskan bahwa hal yang ia ungkapkan sungguh tak bisa kupercaya. Bagaimana bisa Alam melakukannya tanpa sepengetahuanku.


"Dan itu berlangsung setiap hari. Awalnya, aku khawatir saat ku putuskan untuk menyudahi hubungan kita dulu. Aku takut kamu tak lagi ada teman. Aku takut kamu kesepian. Tapi semuanya terpangkas oleh kenyataan. Aku tahu kalau Alam menyimpan rasanya padamu begitu apik, oleh karena itu aku tega meninggalkan kamu. Karena ada dia yang jauh lebih baik dalam segala sisi daripada aku." Bang Amar menatapku lekat. Dia sama sekali tak terlihat seperti seorang pria yang mengkhianati, justru terlihat seperti seseorang yang merelakan, mengorbankan, aku benci keadaan ini. Dia seperti sedang menjadikan Alam alibi dari semua kesalahannya padaku dulu.


"Bang Amar sedang cari pembenaran?, Kenapa terlihat menyudutkan mas Alam?, Seolah olah abang adalah korban, pahlawan kesiangan yang datang untuk mengorbankan perasaan"


Dia tersenyum miring menanggapi ucapanku, mungkin dia tak menyangka aku bisa menebak arah bicaranya.


"Setelah mendengar seluruh alasan dan cerita di balik keputusanku dulu. Justru kamu akan berterimakasih meena."


Aku memutar bola mata. Selain cool, bang Alam memang terlalu percaya diri. Seperti saat ini contohnya.


"Ceritain deh! Dalam tempo singkat. Aku mau pulang" ungkapku sedikit kesal.


Dia justru tertawa renyah dan menggeleng.

__ADS_1


"Kamu bakal sangat antusias nanti. Kupastiakan itu."


"Bodo amat lah bang. Buruan cerita!"


__ADS_2