Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
Ameena teesya


__ADS_3

Aku di buat gedek oleh kelakuan Alam pagi ini, di tambah tamu bulanan yang baru datang tadi malam. Sudah bisa di pastikan, dua puluh empat jam terburuk dalam hidupku akan di mulai saat aku duduk di jok belakang mobil Alam pagi ini. Tanpa harus repot membuat rencana balas dendam untuk Alam dan bang Amar atas sikap otoriternya pagi ini. Aku yakin, sebentar lagi mereka akan kelimpungan mengahadapi sikap randomku di hari pertama menstruasi.


Aku, si gadis yang minim ekspresi dan terbiasa bersikap realistis. Akan berubah tiga ratus enam puluh derajat saat tamu bulananku datang, moodku akan berubah-ubah tak terkendali nyaris setiap menitnya. Gila bukan, tapi inilah yang terjadi. Biasanya, ibuk akan menghilang dua puluh empat jam setelah kuberi tahu bahwa aku kedatangan tamu bulanan. Karena jika tidak, ibuk akan melambaikan tangan di menit ke-tujuh lima tanda tak kuasa meladeni sikap bunglonku di hari pertama menstruasi. Dan hal serupa juga di alami oleh Alam hari ini, kupikir dia akan illfeel setelah mengetahui sikap bunglonku. Tapi ternyata, dia justru dengan tulusnya meminta maaf atas upaya yang di anggapnya kurang sempurna untuk mengatasi problema menstruasiku. Dia juga bilang bahwa ini adalah pengalaman pertamanya, aku hampir terlonjak bahagia mendengarnya, jika tak ingat malu dengan lelehan air mata yang masih setia menghias pipi. Akhirnya yang kulakukan hanya tersenyum dan mengibarkan bendera putih tanda aku memaafkannya.


"Lo mau pindah, apa mau tetep di belakang bareng si bunglon" bang Amar yang masih bersungut karena kuabaikan dari tadi, berucap tak ramah pada Alam.


"Dia kenapa sih Mas, abis di tampol jin ifrit ya?, Pedes gitu mulutnya."


Bukannya menjawab pertanyaanku, Alam justru tertawa dan tangannya mengambil alih botol yang sudah kosong di tanganku, lalu membuangnya ke tong sampah.


" Jangan gitu ah, sayang. Abang loh tadi, yang belikan obat buat kamu." Alam menjawabku setelah duduk di jok penumpang samping bang Amar.


"Oh ya?. Ami jadi yang keberapa ini?"


"Apanya sayang?" Bukan bang Amar yang menjawabnya. Melainkan Alam.


"Ya, yang dapet pertolongan kayak tadi Mas, dia keliatan pengalaman banget ngurus begituan"


"Hmm, iya juga ya bang. Lo kok bisa tahu sih, nggak ada panik sama sekali lagi."Alam ikut mencecar bang Amar.


"Gue tadi salah obat sebenarnya."akhirnya Bang Amar angkat bicara.


"Salah apanya?, Ami biasa pakek itu kok. Soalnya alami, bahannya kan dari rempah-rempah. Rasanya kayak jamu gitu"

__ADS_1


Aku melempar protes. Mana ada salah, jelas-jelas aku selalu meminum yang serupa dengan yang dia beli setiap kali aku mengalami nyeri haid.


"Harusnya gue beli obat tidur aja tadi. Sekalian bikin lo diem selama perjalanan"


"Wah, ngajak gelut sih ini namanya" aku berucap emosi, yang justru di balas tawa oleh mereka berdua.


"Kamu kenapa sih bang, habis dari rumah hesti kemarin, bukannya makin waras. Ini malah makin gila aja." Aku mulai meluapkan penasaranku atas peristiwa Hesti dua hari silam. Yang membuat aku dan Novy heran, Hesti tidak terlihat murung sama sekali. Biasa saja, seperti tidak terjadi sesuatu. Bang Amar dan Alam pun begitu. Mereka hilang tanpa jejak, dan baru muncul pagi buta bersama Maryam dan menghebohkan istana yang baru separuh ku garap di alam mimpi.


"Udah sayang, yakin deh jangan tanya masalah itu. Biar dia aja yang gila. Kita jangan, pelepasan masa lajang kita tinggal beberapa langkah lagi. Mending kita urus yang penting-penting aja. Ngurusin dia sama hesti, justru bikin kita makin nggak waras" ucap Alam panjang lebar. Sebenarnya aku masih penasaran. Tapi jika Alam yang bicara begitu. Aku bisa apa. Mungkin lain kali bisa kutanyakan lagi pada Alam. Yang terpenting, hesti dalam keadaan baik saat ini.


"Ya udah deh, aku tidur dulu. Capek"


" Anak pinter " saut mereka berjamaah lalu cekikikan. Bodo amat lah!.


Aku mengerjap berulang kali, meyakinkan pada diri sendiri, bahwa yang ada di depan mataku adalah nyata adanya. Benarkah ini?, Bukan mimpi?. Terakhir kuingat, aku berpamit untuk istirahat pada Alam tadi. Dan kini, aku baru terbangun saat mobil sudah terparkir rapi di sebuah masjid besar. Aku tak tahu berapa lama bang Amar dan Alam meninggalkanku di mobil. Tapi aku tak peduli untuk itu. Yang mengusikku kali ini adalah pemandangan yang terpampang gagah di depanku. Aku yakin sekali masih mengingat betul tempat apa ini, sebelum akhirnya menjadi masjid agung yang megah dengan desain kekinian.


Kuputuska keluar dari mobil dan lekas menghampiri seorang pria yang sedari tadi kucari keberadaannya.


"Mas,"


"Hi, udah bangun?"


Aku mengangguk, sambil sesekali tersenyum menanggapi beberpa orang yang menyempatkan diri menyapaku.

__ADS_1


"Perutnya gimana?, Enakan?" Bukannya menjawab, aku justru tertegun. Aku baru sadar bahwa Alam sudah mengganti bajunya. Karena menghampirinya terburu dan baru bangun tidur, aku sampai tak memperhatikan penampilan Alam. Dia memakai kemeja putih dengan lengan yang di gulung rapi sampai mata tangan, terlihat sangat keren namun terkesan kalem. Bawahan yang dia pakai bukan celana, melainkan sarung rayon berwarna hitam dengan corak pewayangan. Baru kali ini ku ikrarkan bahwa seorang lelaki muda yang sedang berdiri di hadapanku, adalah satu-satunya makhluk terindah yang Allah ciptakan untukku.


Ctakkk


Alam menyentil keningku pelan.


"Belum boleh liatin aku seperti itu Ameena"


"Kenapa?, Pantengin calon suami sendiri ini,"


ucapku sok sebal.


"Nanti, setelah halal. Akan mengalir pahala, dari pandangan penuh cinta seorang istri untuk suaminya, sayang" jelas Alam dengan tidak mengurangi kadar senyumannya. Bagaimana bisa dia melarangku untuk tidak berlama-lama memandanginya, lha wong senyumnya itu memikat. ibarat lem, kalau udah tersentuh senyum Alam itu ya lengket, nggak bisa balik kanan-kiri. Mentok aja gitu.


Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya. Lebih baik kusimpan apik kekagumanku pada calon suami sendiri. Nanti, bila waktunya tiba, akan kubuat dia tak bisa memutus kontak mata denganku barang sedetik. Tunggi saja tanggal mainnya.


Memang benar kata orang, seorang wanita akan menjadi ratu bila bersama pasangan yang tepat. Dia akan menjaga mahkota kita, bukan menghancurkannya berlandaskan bualan kata CINTA.


"Dani." Aku mengikuti arah pandang Alam setelah dia meneriakkan satu nama yang tak asing di telinga. Ah, barangkali hanya mirip saja namanya.


"Assalamu'alaikum mbak Ami" dia, cowok seumuran Alam yang di panggilnya barusan, menangkupkan tangan di dada, dan memperkenalkan dirinya padaku.


"Saya Dani mbak, cucunya wak ijah"

__ADS_1


Aku membekap mulut memggunakan kedua tangan untuk menghalau jeritanku agar tak lolos kekuar. Dani, bocah yang tiba-tiba menghilang setelah meninggalnya sang nenek, kini berdiri di depanku dengan senyumnya yang hangat.


__ADS_2