Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
41


__ADS_3

Suara iqomah masjid menarikku dari kungkungan mimpi, aku mengerjap demi mengumpulkan nyawa yang masih bercecer. Pandanganku memendar, memastikan sedang berada dimana aku sekarang.


Otak kananku mulai menyuguhkan memori, seuntai senyum terbit mewakili fajar pagi, teringat malam hangat yang kami lewati malam tadi.


Aku sempat mengumpati diri sendiri karena berpikiran liar. Petualangan yang Mas Alam utarakan memang terjadi tadi malam. Tetapi petualangan yang dimaksudnya sangatlah jauh dari espektasiku. Semalam dia memelukku dan mengajakku bertualang. Ya, kami bertualang dalam konteks sesungguhnya, menceritakan siroh Nabi seolah kami sedang menyelam ke ratusan tahun silam menggunakan pintu teleportasi. Mas Alam bilang, ini akan menjadi ritual wajib kami sebelum tidur.


Tidak mau rugi, aku akhirnya menanyakan satu hal yang mengusik benakku selama ini. Di lingkunganku, poligami adalah suatu hal tabu, siapapun yang berani melakukannya tak akan bisa bebas dari gunjingan. Tapi, bila di tilik kembali, bukannya Rosululloh juga berpoligami? itu artinya, Allah mengizinkannya bukan? Tapi bukan itu yang mengusik benakku, terserahlah bagi mereka yang mempraktikkan poligami, aku tak mau tahu. Yang ingin kutahu, apakah praktik poligami yang dijalani Rosululloh luput dari rasa cemburu? Karena pendamping Rosululloh adalah orang pilihan, kan.? Ilmu dan ketaqwaannya pun tidak bisa di ragukan.


"Jangan salah Nduk, poligami yang dijalani Rosululloh bukan semata karena nafsu, melainkan sebuah perintah dari Allah, akan selalu ada pelajaran yang bisa kita petik didalamnya"


"Maksudku, Rosululloh dan para istrinya, kan, orang pilihan Mas. rasa cemburu, merajuk, dan marah-marah begitu, apa juga jadi bumbu rumah tangga mereka?."


"Ya jelas, karena hal itu sebagai rujukan kita di setiap menjalani prahara rumah tangga sayang,"


"Mm,, jadi istri nabi juga pernah cemburu antara satu dan lainnya Mas?"


"Iya dong, mau tahu?"


"He em. " Aku mengurai pelukannya dan mendongak demi memerperhatikan Mas Alam bercerita.


"Kamu tahu, istri Rosululloh yang paling cantik itu namanya shofiya, selain cantik, dia juga masih muda sayang, istri Rosululloh itu memang kebanyakan janda, tapi masih muda. Jadi waktu itu, Nabi sedang berada di rumah shofiya karena ada acara, kebetulan waktu itu acaranya di belakang rumah. Kalo sekarang, sih, bahasanya garden party gitu. Dan Aisyah diam-diam datang dengan menggunakan cadar, dia tutup seluruh mukanya kecuali mata, dia berdiri di pojokan paling belakang agar tidak menarik perhatian orang-orang. Aisyah terus memantau gerak-gerik Asyah, dar situ dia tahu kalau Shofia itu pribadi yang humble, asyik diajak ngobrol, dan lagi shofia pengoleksi madu. Di saat perhatiannya tertuju pada Shofia, Aisyah tidak sadar jika Nabi memperhatikannya dari jauh, saat tahu Nabi meliriknya, Aisyah melangkah pergi dan berlari menjauh."


"Terus, reaksi Rosululloh gimana Mas, marah nggak, sih. Aisyah stalking sampek segitunya?"


"Ya enggak dong, Rosululloh itu punya seribu satu cara memenangkan hati istrinya. Saking sayangnya, Beliau tidak mudah dikelabuhi hanya dengan Aisyah menutupi wajahnya. Tahu jika wanita yang berada di pojokan itu Aisyah, beliau langsung mengejarnya, beliau panggil dia, Aisyah tersanjung dengan perlakuan Nabi, wanita kan emang gitu ya, dikejar sama dengan prioritas." Mas Alam menaik turunkan alisnya, menggodaku.


"Ya iya, lah. Itu artinya si cowok peduli. Apalagi pas banget di rumah si madu, pasti tersanjung banget lah, merasa di jaga perasaannya."


"Nah, itu dia. Rosululloh pandai sekali menjaga perasaan para istrinya."


"Terus, setelah di kejar gimana?" Tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Aisyah berhenti saat Rosululloh memanggilnya, lalu Nabi mengajaknya pulang bersama dengan menggandeng tangan Aisyah selama perjalanan." Mas Alam melanjutkan cerita dengan jarinya yang tak berhenti menjelajahi mukaku, merapikam rambutku yang menjubel kemana-mana, mengusap lembut alisku, dan mengusap ujung hidungku dengan jari jempolnya.


"Sweet banget, ya, Mas, padahal jarak usia Rosululloh dengan Aisyah itu jauh banget, kan."


"Tau nggak, dalam perjalanan Aisyah menanyakan apa?"


"Apa?"


"Aisyah bertanya pada Nabi, Nabi, jika engkau menjadi seorang penggembala, dan ada dua padang rumput, yang satu sudah pernah dipakai penggembala lain, yang satu belum pernah di pakai, Nabi mau pilih yang mana?."


"Wah, pertanyaannya bermakna sekligus menjebak ya Mas,"


"Tapi Nabi langsung tahu arah bicaranya Aisyah, jadi Nabi menjawab. Ya, aku akan memilih yang belum tersentuh tentunya. Mendengar itu Aisyah girang sendiri, pikirnya dia akan lebih di prioritaskan di banding yang lain karena hanya dia yang diperistri Nabi dalam keadaan masih perawan."


"Lucu ya, Mas. Itu artinya, siapapun lelaki yang akan mempraktikkan poligami, harus belajar bagaimana Nabi menyelasaikan prahara yang terjadi diantara istri-istrinya"


"Betul sekali, pinter banget, sih. Istriku satu ini." Mas Alam mengatakannya dengan mengikis jarak diantara kita, dan tersenyum menyeringai.


Dia justru meledakkan tawa, kucubit keras pinggangnya hingga dia mengaduh.


Cup!


"Unboxing ini dulu, ya. Untuk yang lain bisa nyusul kapan-kapan"


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Aku tersentak dan buru-buru keluar menuju kamar mandi saat mendengar suara langkah kaki Mas Alam di teras rumah. Setidaknya, aku masih memiliki waktu setengah jam untuk menghindarinya pagi ini. Jiwa gadisku meronta, memintaku melindungi diri dari rasa malu yang menderanya. Ciuman panas tadi malam belum juga berhasil kutepikan dari memori. Tanpa di cari, dia akan melintas di pikiranku seakan menarikku kembali pada moment itu dan membuat pipiku lagi-lagi memanas. Ini benar-benar gila. Bagaimana dia bisa menciumku sebegitu lihainya, padahal pacaran saja dia tidak pernah.


Tok tok tok..


"Nduk, kamu di dalam?"

__ADS_1


"Iya, Mas. Aku baru mau mandi, masih lama."


"Buka sebentar dong."


"Eh. Mau ngapain."


"Ya, mau masuk lah."


"Ih, aku masih mandi, Mas."


"Justru itu, biar kubantu,"


"Enggak, enggak, enggak!. Mas tidur aja kalau gabut! Ami bisa sendiri."


"Beneran? Yang tadi malem itu nggak nagih ya?"


"Mas Alam........!!"


aku mengeram tertahan mendengar ucapan Mas Alam. tawanya mendera di balik pintu kamar mandi, menyebalkan sekali.


"ayolah Nduk, Mas pingin menikmati rona mukamu."


"Ami nggak akan keluar kalo Mas Alam nggak berhenti godain Ami,"


"eh, eh. jangan gitu dong Nduk. rencananya, kan, kita mau jalan-jalan pagi ini, Nduk. jangan ngambek dong"


kudengar nada jahilnya sudah memudar. Rasain, emang enak dikerjain balik.


"makanya Mas Alam jangan gangguin, Mas Alam tunggu aja disitu, atau di kamar. Ami masih lama, biar pas keluar nggak kalah saing sama bidadari."


"oke sayang, tapi janji jangan ngunci di kamar mandi, ya. soalnya sebelum kita kesini, aku sempet mandiin mayat di dalem. takutnya roh mayat itu masih nongkrong asyik disitu."

__ADS_1


"Mas Alam..... !!" Mana bisa, sih, mayat dimandikan di kamar mandi kecil begini. Tapi, kalau mayatnya anak-anak, kan, bisa. errrrr. ini, sih, namanya senjata makan tuan!


__ADS_2