
Aslinya aku malu melakukan hal ini, tapi iming-iming hesti di telpon barusan, sukses membuatku tergiur.
"Mbak Ami tau ndak. Satu-satunya wali perempuan?, Amalan apa yang dia lakukan sehingga di nobatkan menjadi wali perempuan satu-satunya?."
"Apa Hes?, Mbak kan nggak terlalu paham agama."
"Setiap malam, Beliau selalu menawarkan diri pada suaminya mbak Am,"
"Menawarkan apa?, Gimana, sih. Mbak nggak paham."
"Ya menawari suami Mbak, sebelum tidur, Beliau selalu tanya suaminya dulu, malam ini si suami membutuhkan dia apa ndak?, Kalau ndak, ya dia ibadah sepanjang malam."
"Lah, ibadah apa aku sepanjang malam. Wiridku aja mentok itu-itu aja. Belum nambah."
Hesti justru tertawa di seberang sana.
"Ya ndak gitu juga mbak Ami. Garis besarnya itu pada tawar menawarnya. Ada pahalanya disitu. intinya, laki-laki itu lebih seneng di tawari daripada minta sendiri. Dan menyenangkan suami itu pahalanya besar mbak Ami."
"Oh, gitu ya. Emang gimana, sih, caranya?"
"Buahahahahah... Masa iya bagian itu harus kuajari juga mbak?"
"Iya lah, kalo ngajari, tuh, jangan setengah-setengah. Sekalian."
"Oke, oke. Kalau aku, sih, dulu gini mbak. Ekhem.. "
"Halah!, Buruan. Kebanyakan dehem, pulsanya abis!"
"Slow dong, manten anyar ki ancen ndak sabaran yo...."
"Nggak usah pakek bahasa jawa. Geli aku!"
__ADS_1
"Iya, iya, maaf. Gini mbak. "Mmm.." ini masih mode malu-malu ya mbak, kan malam-malam pertama."
"Iya... Buruan ih. Keburu Mas Alam dateng."
"Oh, oke oke. "A' malam ini, Aa' inginkan Hesti ndak?," Gitu aja, sih, mbak. Nanti juga lanjut sendiri. Yakin deh."
"Geli gue..... Nggak ah! Nggak mau!"
"Ye... Beneran ndak mau?, ndak eman sama pahalanya?"
"Ya,, yang lain kan bisa deh Hes, jangan yang itu...."
"Yang itu apa?.. " aku tersentak, tiba-tiba saja suara serak nan lembut itu menyapa telingaku. Seperti ada ribuan kupu-kupu mengepak sayapnya tanpa izin di perutku, saat si pemilik suara melingkarkan kedua tangannya disana.
"Lanjut besok ya, mbak hesti." Tiba-tiba saja ponselku sudah berganti tuan, aku tak tahu persisnya, kapan Mas Alam mengambilnya dari tanganku. Yang kutahu, leher jenjangku meremang dan dadaku berdegup kencang.
"Oh, oke Lam. Lanjut aja. Monggo."
Mas Alam meletakkan ponselku di meja rias, lalu menyingkirkan rambutku yang tergerai menjadi satu dibagian kiri, embusan nafasnya menyapu leher jenjangku.
"Nggak. Dia cuman bilang selamat aja, kok." Aku tergagap menjawabnya. Apa dia mendengar percakapan kami lewat telpon tadi.
"Masa, sih. Tadi kayaknya kamu tanya, gimana cara nawari suami?"
"Hah?! Enggak ah. Mas salah denger kali." Aku berusaha mengurai pelukannya, tapi Mas Alam justru mengeratkan pelukannya dan menyurukkan hidungnya pada leherku untuk sekedar menghidu. Aku memejamkan mata sesaat, menikmati gelenyar aneh dalam dada.
"Aku berdiri di ambang pintu lima menit lalu, hampir semuanya aku dengar." Aku seakan terpaku di tempat. Mati aku!, Bagaimana jika Mas Alam menyuruhku praktek, bisa banjir peluh dingin aku malam ini.
"Katanya mau petualang. Aku kan nungguin kamu untuk agenda itu."
Aku mencoba mengalihkan topik. Namun sedetik kemudian, saat aku berhasil membalikkan badan menghadapnya, beberapa umpatan berhasil lolos dalam hatiku. Mati kuadrat!.
__ADS_1
"Hmmm,, ayo. Kamu dah siap banget untuk dipetualangin." Alam mengerling jahil dan menowel ujung hidungku pelan.
Aku masih terpaku di tempat, belum apa-apa lututku sudah lemas bagai tak bertulang.
"Sini, Nduk. " Mas Alam menepuk-nepuk kasur di sampingnya,
"Mas nggak pengen nge-teh dulu?, Kubuatin ya." Aku mencoba mengulur waktu.
"Gula sama gasnya udah beli?" Lagi. Kenapa aku bisa lupa, sih. Ami please. Jangan malu-maluin di depan suami sendiri. Dia bahkan lebih muda dari aku. Tapi kenapa justru aku yang terlihat sangat gugup.
"Mas!!" Aku reflek mengalungkan tanganku pada leher Mas Alam saat dia menggendongku tanpa aba-aba. Lalu membaringkankundi kasur dengan gerakan halus.
"Manis banget, sih. Khumairoh gini." Dia sudah berbaring disampingku dengan kepala miring bertopang tangan.
"Ngeledek!. Mana ada orang item kayak aku khumairoh. Yang ada juga gosong Mas!" Aku membalikkan badan karena kesal.
"Kok ngadep sana, sih. Kan masih belum puas liatin manianya kamu." Alam menusukkan telunjuknya pada pundakku berulang-ulang.
"Jaga kesehatan Mas, kurangi yang manis-manis! Biar nggak kena diabet dini." Alam menggelakkan tawa dan memelukku dari belakang, damai sekali rasanya. Entah sudah berapa tahun lamanya, tubuh ini tak ada yang merengkuh, sekedar menyalurkan rasa hangat untuk melawan dinginnya takdir.
Rengkuhan Mas Alam seperti oase di padang pasir. Dalam keadaan sakit pun aku tak pernah meminta ibuk memelukku. Sengaja, karena hal itu akan mengingatkanku pada kenangan Bapak. Sesibuk apapun, Beliau tetap meluangkan waktu untuk memelukku sebelum mata ini terlelap dalam gelap. Dan kali ini, suamiku memberi rengkuhan yang telah lama kurindu, dia kecupnya keningku berulang kali. Aku berbaring demi menatap sosok jodoh kiriman tuhan, kusuguhkan senyum paling indah untuknya, lalu kukecup pelan punggung tangannya.
"Maaf karena belum bisa memberi hakmu sebagai suamiku Mas."
"Aku menikahimu bukan sekedar untuk menuntas nafsuku sebagai seorang lelaki Nduk, tapi kunikahi kamu demi untuk menyempurnakan ibadah dan jiwaku. Maaf ya, sejak dulu aku selalu bikin kamu gondok saban ketemu."
Aku melirik Mas Alam sinis dan memukul pelan dadanya.
"Makasih udah ajak aku naik roller coaster gratisan dari kemaren" Mas Alam menggelakkan tawa, di cubitnya hidungku sampai aku mengaduh kesakitan.
"Assalamu'alaikum, Mas Alam!"
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam,"
"Kalau ngantuk tidur dulu aja ya, aku ada tamu. Kita tunda dulu petualangannya." Dia mengakhiri kalimatnya dengan kecupan singkat di bibirku. Butuh bermenit-menit untuk menetralkan degup jantung yang jauh dari kata normal. Dasar Mas Alam, kenapa bisa dia menampilkan ekspresi begitu tenang, padahal saat memelukku tadi, irama jantungnya tak kalah heboh dariku.