
Di sela acara makan siangku bersama mas Alam di teras toko. Novy terlihat berjalan tergesa ke arahku. Lalu berbisik dengan raut khawatir.
"Izin kenapa?" Tanyaku heran setelah mendengar penjelasan novy bahwa Hesti tiba-tiba meminta izin untuk pulang lebih awal.
"Gue nggak tau. Matanya sembab kek abis nangis. Aduh Am sorry, gue nggak maksut ganggu acara makan lo. Tapi gue beneran khawatir, lo tolong antar dia ya. Gue yang akan handle toko hari ini. Bahaya kalo dia harus pulang pakek motor dengan keadaan begini."
"Oke deh kalo ..." Perkataanku terpotong oleh kegaduhan bang Amar dan Hesti yang baru keluar dari toko.
"Nduk! Jangan tergesa begitu, bahaya berkendara dengan keadaan kamu seperti ini." Bang Amar mengejar Hesti yang melangkah tergesa dengan air mata bercucuran.
"Sampun Mas, tolong. Mas Amar jangan berasumsi apapun atas apa yang barusan Mas dengar" hesti mengangkat telapak tangannya menegaskan bahwa dia tak ingin bang Amar ikut campur urusannya.
"Mas nggak dengar apapun!. Tapi kondisi kamu yang seperti ini, sangat tidak memungkinkan berkendara sendiri. Tolong, dengarkan Mas nduk, Mas nggak akan mencampuri urusanmu, apapun itu. Mas hanya mau antar kamu." Bang Amar terlihat frustasi membujuk Hesti, dia sampai menahan motor Hesti agar tidak pergi. Aku yang sedari tadi terpaku oleh drama mereka, segera tersadar saat Alam mengajakku mendekati mereka.
"Mas Amar minggir!!, Ini bukan waktunya untuk mengulur waktu."
"Kalau kamu tahu itu kenapa harus tolak bantuan Mas!" Suara bang Amar mulai meninggi.
"Hesti, bang Amar bener. Kita bisa antar kamu dengan mobil, mau ya?," Aku mulai turun tangan membujuk Hesti.
"Ndak mbak. Ndak usah. Ndak ada yang boleh tahu urusan hesti." Hesti tetap kekeh pada penderiannya.
__ADS_1
"Kita hanya akan antar kamu nduk, nanti di titik mana kamu bilang stop. Kita akan turunkan kamu disitu, lalu pergi, gimana?, Mau ya nduk?." bang Amar melembutkan suaranya. Mereka terlihat akrab sekali. Panggilannya pada Hesti begitu manis di dengar. Aku tidak tahu kapan mereka berkenalan, atau memang sudah lama saling kenal?.
"Janji?. Mas ndak akan ngikuti kemana hesti melangkah setelah di titik Mas Amar menurunkan hesti?." Tanya hesti meyakinkan.
"Iya nduk mas janji. Mas hanya ingin antar kamu dengan selamat sampai tujuan."
Mas Amar meyakinkan hesti dengan kata-katanya yang super lembut.
Hesti mengangguk tanda menyetujui permintaan kami, dia melepas helm yang sudah dipasangnya tadi. Lalu menyerahkan kunci motornya pada Novy yang sudah memintanya terlebih dulu. Kami bergegas masuk mobil dan mengantarnya ke tujuan. Ya, kami tidak tahu kemana tujuan wanita muda ini. Aku memang akrab pada semua karyawan. Tapi hanya sebatas interaksi dalam toko. Di luar toko, aku tak pernah berinteraksi dengan mereka. Lebih tepatnya, aku tak pernah bertemu mereka meski hanya sekedar janjian untuk makan siang. Jadi, aku tidak tahu menahu dimana rumah hesti, dia ngontrak,ngekos,atau justru tinggal di rumah mertuanya. Aku tidak tahu.
"Nduk, " suara bang Amar memecah kesunyian, bahkan Alam yang biasanya akan melawak santai tanpa peduli situasi dan kodisipun, sekarang anteng tak berulah di balik kemudi.
" Nggeh Mas?," Suara hesti begitu kalem dan bergetar. Aku tahu dia menahan tangisnya agar tak terdengar. Aku beringsut mendekatinya, lalu memeluknya. Dia tidak membutuhkan pertanyaan atau bahkan kalimat motivasi. Dia hanya butuh di rengkuh kali ini.
Hesti semakin tergugu mendengar ucapan bang Amar. Dia tak lagi menahan tangisannya. Kubiarkan dia menumpahkan semua gundahnya saat ini, aku tidak tahu masalah apa yang akan dia hadapi setelah ini. Tugasku kali ini hanyalah menenangkannya. Sedikit kejernihan otaknya akan beroengaruh besar dalam menuntaskan masalahnya, Semoga.
Pelukanku mengendur saat Hesti mengurai tangannya yang mencengkeram kuat lenganku. Dia menghapus sisa titik air matanya lalu mengerjap beberapa kali untuk memeprjelas pandangannya.
"Berhenti di perempatan kedua ya Mas" tutur hesti lemah. Aku jadi tak tega melihat kondisinya sekarang. Hesti yang biasa bekerja keras tanpa menanggalkan senyumnya yang menawan. Kini senyum itu hilang entah siapa yang tega membuang.
Mobil Alam berhenti di titik dimana hesti memintanya. Ia membuka pintu mobil dan bersiap turun. Namun, sedetik kemudian dia urung keluar dan menahan pintu agar tidak menutup sempurna.
__ADS_1
"Mas Amar, trimakasih karena masih bersedia mengkhawatirkan hesti. Tapi ngapunten Mas, Hesti ndak bisa cerita apapun pada Mas. Dan tolong, apapun yang Mas dengar tadi jangan pernah menyimpulkannya sendiri, atau bahkan menceritakan pada orang lain."
"Kamu tentu tahu aku tidak pernah merubah porsiku untuk kamu nduk. Dan untuk tadi, sudah kukatakan dengan jelas kan?, Bahwa Mas tidak mendengar apapun"
Hesti tak menanggapi ucapan bang Amar, dia justru beralih menatapku.
"Mbak Ami, terimakasih untuk semuanya."
"Iya Hes, sama-sama. Kamu boleh meminta bantuan kapanpun kamu mau. Oke?"
Dia hanya menanggapiku dengan senyuman tipis. Lalu melangkah keluar. Hesti mempersilahkan kami untuk meninggalkannya lebih dulu. Sesuai janji, kami menurut untuk pergi dan tidak mencampuri segala urusannya.
Bang Amar terlihat gelisah dan tak memalingkan pandangannya pada spion. Dia menyugar rambutnya beberapa kali lalu menyuruh Alam menghentikan laju mobil.
"Kenapa bang?" Tanya Alam setelah mobil menepi.
"Gue pesen gojek, gue mau liat kondisi dia dari jauh" jelas Bang Amar yang masih tampak gusar.
"Nggak bisa Bang, lo udah janji sama itu cewek." Bang Amar justru memicing mendengar kalimat bernada penolakan dari Alam.
"Lo lupa, dia siapa?" Tanya bang Amar curiga, sedang aku hanya diam membisu menyimak perdebatan mereka. Aku yakin Hesti bukanlah tokoh baru untuk mereka. Bahkan, mereka terlihat lebih mengenal hesti daripada aku. Apalagi dilihat dari cara bang Amar memperlakukannya, orang sebodoh apapun tahu bahwa mereka bukanlah sepasang manusia yang baru bertukar nama atau nomer ponsel.
__ADS_1
"Nggak bang, aku jelas tahu dia siapa. Makanya aku larang abang mengamatinya.
Hesti wanita bersuami bang, dia punya marwah yang harus dia jaga. Tolong abang hargai. Kalau dia tidak meminta bantuan kita, abang nggak boleh bertindak sesuka hati dengan alibi melindungi" Alam berkata tegas pada bang Amar, ini pengalaman baruku melihatnya bersitegang dengan bang Amar. Dan aku belum memiliki penawar apapun untuk meredakannya. Aku hanya menghela nafas panjang dan menyenderken punggungku agar lebih rileks, tak bisa menyimpulkan apapun saat ini. kulihat Alam hanya diam menunggu reaksi bang Amar. Sedang yang di tunggu hanya diam mengepalkan tangan untuk menyalurkan emosi yang sempat menyulutnya beberapa saat lalu.