Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
42


__ADS_3

Sesuai rencana, kami melanjutkan perjalanan menuju jogja pagi ini. Karena Mas Alam mengajak sarapan di Salatiga, aku hanya menyiapkan kopi dan roti bakar untuk sekadar mengganjal perut kami. Jika perjalanan kemarin aku selalu membunuh waktu dengan memejamkan mata dan merajut mimpi. Kali ini beda, moment malam tadi membuat hatiku layaknya taman gersang yang disapa segarnya rintik hujan. Semangatku terwakili oleh lengkungan senyum yang terpatri indah dibibir. Kata-kata Mas Alam sebelum mengecupku lama dan tertidur, seakan terkunci di ujung memori ingatanku.


"Menikahimu adalah segala-galanya. Segala-galanya tanpa dirimu adalah kehilangan yang nyata. Bukan, bukan ucapannya saja yang membuatku merona bak daging jambu merah. Tetapi, latar tercetusnya ucapan itu yang membuatku merona sekaligus haru. Iya, ucapan itu adalah jawabannya ketika umi terang-terangan menolak niat Mas Alam yang akan melamarku dan justru menyodorkan wanita pilihannya yang kata Mas Alam, dia gadis dengan masa depan yang cerah, memiliki harta yang katanya tak akan habis dibagi tujuh turunannya. Wow sekali bukan, tapi Mas Alam dengan tegas menjawabnya dengan kata-kata tadi. Mungkin karena itu, Umi dan Abi tidak berkenan menghadiri pernikahan kami tempo hati.


Kenyataan ini membuat senyumku memudar perlahan, harus berlagak seperti apa aku saat di hadapkan keluarganya nanti? Apesnya, yang tidak merestui hubungan kami justru keluarga kandung Mas Alam, bukan dari pihak bunda. Itu artinya, yang harus kululuhkan hatinya adalah wanita yang telah melahirkan suamiku.


Bisakah aku meluluhkan hatinya? Aku terbiasa mengalah dan mengikhlaskam sesuatu yang sulit kugapai, atau sesuatu yang nyata akan menyakitiku jika terus kulanjutkan. Tapi, ini suami. Seseorang yang sudah kutunggu kehadirannya selama ini, bisakah aku merelakannya jika restu umi tak kunjung kurengkuh?.


"Nduk... " Usapan lembut Mas Alam di bahuku membuyarkan lamunan. Aku tersenyum sebagai balasan panggilannya padaku.


"Kenapa?, Hmm?" Aku menggeleng, nada lembutnya membuatku meneguhkan hati yang sedang dilanda kebimbangan, aku tak akan mengalah kali ini. Dia, lelaki yang telah sah jadi suamiku, seorang lelaki yang begitu tulus menyayangiku, yang kuyakin akan menjadi imam yang baik untukku, pun untuk anak-anakku nanti. Dia tidak pantas untuk di relakan, dia harus kuperjuangkan.


"Aku nggak akan maksa kamu bertemu keluargaku Nduk, santai saja. Kita nginep dulu di salatiga, ya. sampai kamu siap." Kali ini aku mengangguk, selain karena aku memang perlu waktu untuk menyiapkan sikapku, aku juga akan mencari tahu sendiri soal bapak. Yang kudengar, Bapak sudah lama tinggal di salatiga, dan aku akan mencari informasi tentangnya. Apakah Bapak tinggal sendiri disana?, atau justru dengan keluarga barunya?.

__ADS_1


"Tanyakan apapun yang mengganggu kamu Nduk, insyaAllah Mas siap menjawabnya." Mas Alam⁶ mengatakannya sambil terus mengusap lembut punggung tanganku, sesekali dia mengecupnya dengan pandangan tetap lurus ke jalanan.


"Mas, yakin?" Dia menoleh padaku, mengangguk dan mengukir senyum sekilas, lalu fokus lagi menyetir.


"Pertama. Kenapa Mas memilih Ami untuk menjadi penyempurna Agama kamu?"


"Ya karena itu kamu,"


"Mas nggak usah muter-muter deh jawabnya"


"Ish, kamu nih, emang ya! Kalau jawaban kamu begitu terus, aku jadi ogah tanya-tanya."


"Kamu, adalah alasan dari semua yang aku lakukan beberapa tahun ini." Dia menoleh dan tersenyum, dikecupnya punggung tanganku yang masih setia dalam genggamannya.

__ADS_1


"Kamu adalah tujuan dan tumpuan hidupku, sejak aku melihatmu merawat Nenek Dani sepulang sekolah."


"Mas, kamu...."


"Iya, Nduk. Mas ngikutin kamu setiap hari. Awalnya hanya penasaran sama kamu, juga khawatir setiap kamu turun dari bis. Kamu turun dengan beberapa siswa, tapi tak sekalipun aku tahu kamu bergabung dengan mereka untuk sampai rumah. Kamu selalu berjalan paling belakan. Suatu hari Mas memutuskan untuk ikut turun dan melihatmu dari jauh, hanya untuk memastikan bahwa kamu aman sampai rumah. Tapi, saat kamu mampir ke rumah Dani dan memyempatkan diri merawat Nenek Dani, disitu Mas sadar. Bahwa, kasih sayang dan bakti kita nggak harus di limpahkan pada orang tua kandung kita. Kita bisa mempraktikkannya pada siapapun itu, yang memang pantas mendapatkannya. Saat itu Mas kecewa sekali pada Umi dan Abi yang tidak pernah menyanggupi kehadiran Mas saat libur sekolah. Padahal, Mas selalu mengatakan bahwa Mas nggak akan rewel dan akan menjadi anak manut disana. Tapi, tetap mereka menolak, biar mereka saja yang berkunjung ke rumah bunda katanya, itupun jika sempat. Mas merasa nggak berguna di dunia ini, buat apa Mas hidup kalau tidak bisa mencurahkan kasih sayang dan bakti Mas pada orang tua?. Dan dari kamu, Mas bisa perlakukan bunda seperti ibu kandung Mas sendiri, Mas juga tekat akan membantu setiap orang tua yang membutuhkan limpahan kasih sayang dan bakti seorang anak."


"Lalu, tentang janji Mas waktu acara itu, apa?"


"Waktu itu, saat sarang kupu-kupu malam akan di gusur dan di bangun masjid, aku melihat beberapa dari mereka menangis di pinggir jalan. Bukan mengumpat, atau marah-marah karena karena tempat kerja mereka di rampas. Aku bertanya pada salah satu dari mereka yang terlihat lebih bisa mengendalikan diri, aku tanya kenapa mereka mereka bersedih, cari tempat lain, atau buka jasa sendiri, kan, bisa. Apalagi bagi yang sudah punya pelanggan tetap. Tapi jawaban mereka sungguh jauh dari praduga Mas, Nduk. Mereka bilang, kalau mereka pergi mencari tempat lain, sedangkan tempat kotor itu seakan disucikan oleh Allah. Lantas apa bedanya mereka dengan setan-setan yang dikutuk tuhannya?. Ternyata mereka ingin seperti tempat itu, disucikan dari masalalu yang kotor. Akhirnya, aku bersama teman kampusku menggalang dana, mencari donatur siang malam, untuk membuka lahan pekerjaan halal untuk mereka, karena merasa pekerjaan itu mulia, maka kugunakan peluang itu untuk memintamu jadi jodoh dunia akhiratku. Mas melamar kamu langsung pada Robb yang telah menciptakan kamu, Nduk. Maka jangan heran kalau hatimu seakan di setel untuk hanya menerima kehadiranku, bukan pria selain diriku."


Sumpah! Hari ini juga aku ingin menjambret kantong ajaib milik doraemon dan mengambil pintu kemana saja untuk lari dari hadapan suamiku, aku yakin sekali jika pipiku saat ini sebelas dua belas dengan tomat yang membusuk. Aku menyembunyikan rona wajahku ke samping kiri, kabin mobil yang seharusnya lapag ini terasa menyempit karena sesaknya dada akibat deguban jantung yang bertalu keras tak tahu malu.


"Uluh... Uluh... Manisnya istriku... Sini dong sayang.. memalingkan muka dari suami dosa, loh."

__ADS_1


"Cowok mah gitu. Ngancemnya otoriter!"


Dia tertawa dan mengusap kasar pucuk kepalaku karena gemas dengan tingkahku.


__ADS_2