
Kami tiba di Semarang setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih lima belas jam. Aku duduk di sebuah sofa single dekat cendela, belum sempat berganti baju karena koper kami masih dalam mobil, ingin mengambilnya tanpa harus menunggu Alam, tapi tidak tahu dimana dia meletakkan kunci mobil, lagipula aku tidak mungkin keluar tanpa niqob, selembar kain yang berfungsi menutup wajahku itu jatuh saat sedang mandi tadi.
Aku menunggu Alam yang sedang sholat ashar di masjid. komplek ini tidak jauh beda dengan tempat yang kami kunjungi kemarin, tempat bersejarah yang menjadi saksi bagaimana Alam dengan lantangnya mengikrarkan ijab qobul untukku. Masjid yang tidak terlalu besar dan sederhana itu terletak di tengah-tengah komplek ini. Dari sekian aktifitas dan lalu lalang manusia di luar rumah yang kutempati, aku memusatkan titik fokus pandanganku pada segerombol muda-mudi bercelana belel dan kaos oblong lusuh yang sedang memegang mushaf dan sesekali membenarkan bacaan teman yang di simaknya.
Aku mencondongkan tubuh agar lebih jelas melihatnya. Aku merutuki diri sendiri, akibat kecerobohanku saat di kamar mandi tadi, Aku jadi tidak bisa keluar untuk sekedar menuntaskan rasa penasaranku pada segerombolan anak muda itu.
Mereka bergantian menyimak satu sama lain, meski begitu mereka tak terlihat seperti anak-anak yang tertekan dengan tugas hafalannya, mereka justru terlihat santai dan sesekali melempar tawa.
Aku terus mengamati mereka. Sesekali senyumku tersungging melihat salah satu dari mereka usil mengerjai temannya, bahkan ada yang membentuk formasi untuk membuat video tok tok bertema jokes ala santri.
"Nduk, bangun sayang, kok tiduran disini,?" Kurasakan usapan lembut di pipi, dan aroma parfum menggelitik indra penciuman yang sudah kuhafal siapa pemiliknya.
"Hmmm.. Mas lama banget, sih, aku sampek ketiduran nunggunya." Jawabku manja dengan suara serak khas orang bangun tidur, kedua tangan kugunakan munutup muka sambil mengingat bagaimana rupa tidurku tadi. Kurabai pipi sebelah bibir, kering, aman dwh kayaknya. Itu artinya aku tak sempat membuat pulau dadakan di wajah manisku.
"Udah aku bersihin tadi, sebelum bangunin kamu. Nih,!" Alam menunjukkan telunjuknya yang sedikit basah, mataku mendelik ke arahnya dan reflek menarik telunjuk Alam untuk kihidu demi memastikan ucapan Alam.
"Ih, Mas ini jorok banget, sih. Lagian kenapa harus pakek tangan, sih, Mas. Pakai tissue kan bisa." Aku tak berhenti mengomel sambil membersihkan tangan Alam di bawah kucuran air dari wastafel.
"Tissuenya nggak bisa jalan sendiri sayang, lemes katanya."
Aku mendelik mendengar jawaban yang terlontar dari bibir seksi Alam, bisa-bisanya dia bercanda saat mukaku sebelas dua belas dengan kepiting rebus.
__ADS_1
Bukannya takut dengan delikan mataku, Alam justru melingkarkan tangan kanannya di perutku. Sedang tangan kirinya dia tarik untuk mengusap pipiku yang kotor.
"Nanti malam udah boleh unboxing belum?,"
Dia bertanya sambil mengeles perut rataku dan menyurukkan wajahnya ke leherku yang masih belum terbungkus hijab.
"Nggak bisa dong, walau Mas udah ngelunasin maharnya tadi malem, tapi kan aku belum suci." Aku berani menjawab karena merasa masih dalam titik aman.
"Emangnya yang harus di unboxing cuma satu tempat?," Aku bergeming demi menangkap maksud perkataan Alam. Lalu dengan gerakan tergesa, aku memutar tubuh agar berhadapan dengannya.
"Dari belakang itu kan haram mas!, Eh,..." Secepat kilat kubekap mulutku yang telah tak tahu diri mempermalukan tuannya.
Aku jadi salah tingkah karena Alam yang tak kunjung menyudahi tawanya, dia sampai harus duduk di kursi meja makan dengan terus mengelus perutnya.
"Nggak mau ah, Mas. Kamu nyebelin!"
Aku menghentakkan kaki pelan agar dia tahu kalau aku sedang merajuk.
"Sini deh, Mas kasih tahu kamu, step-step unboxing."
"Nggak perlu ya Mas, aku udah hafal di luar kepala. Tinggal buka bungkusnya pakek cutter, lalu terawang deh isinya. Jangan lupa dividio!, Kalau ada kesalahan tinggal return."
__ADS_1
"Pinter banget, sih, anak sebijinya bu Alma. Sini deh, khusus unboxing kamu tuh cukup pakai tangan aku sayang, nggak perlu bantuan cutter segala. Sini deh."
Kicep!, Niat hati ingin mengalihkan topik pembicaraan, jadinya malah makin ke inti.
"Mas Alam!, Assalamu'alaikum." Kami saling melempar tatap satu sama lain. Aku tidak tahu berapa lama Alam menempati rumah ini, jadi aku berniat menuntut sedikit penjelasannya terlebih dulu, agar tak terlihat cengo di depan tamu.
"Tamunya cewek kok, cukup pakai hijab aja, terus susulin aku ke ruang tamu ya." Alam mengakhiri kalimatnya dengan mengacak pelan rambutku yang masih tergerai tanpa penutup kepala.
"Nggak mau briefing dulu?." Aku menghalangi langkah Alam dengan mencekal pergelangan tangannya.
"Nggak ah, kayak mau meeting penting aja. Ini cuman tetangga sebelah kok. Buruan gih, tamunya nggak sabaran tuh!." Alam mengedikkan dagu ke arah pintu yang berisik karena gedoran keras dari arah luar.
Terpaksa kuanggukkan kepala dan berjalan menuju kamar mandi untuk memakain hijab.
Aku sama sekali tak bisa tenang selama berada di kamar mandi. Suara tangis wanita yang sedang berada di ruang tamu bersama Alam begitu mengusikku. Aku segera menuntaskan kegiatan bebersihku di kamar mandi, Alam pasti sudah menungguku karena aku tak memberi tahunya akan mengganti pembalutku terlebih dulu.
meski terburu, otakku seakan reflek menyambangi kompor sebelum beranjak ke depan untuk membuat teh, aku mengeram kesal saat melihat gasnya habis. Kulangkahkan kaki ke lemari pendingin di sudut ruangan, mataku memendar mencari sesuatu yang bisa kusuguhkan. Alhamdulillah, aku menghela nafas lega saat menemukan botol air mineral berukuran sedang yang masih tersegel.
Segera kulangkahkan kaki menuju ruang tamu dengan membawa nampan berisi tiga botol air mineral dingin. Aku tercenung melihat Alam begitu santai menghadapi tamu yang sedang menangis meraung-raung di hadapannya. Aku hanya menggeleng menyaksikan tingkah Alam, lalu mengambil satu botol air mineral yang sebelumnya sudah kuletakan di meja, dan menyodorkan pada tamu yang tak kutahu identitasnya.
"minum dulu mbak, agar lebih rileks" aku tersenyum dengan maksud bersimpati dengan kondisinya, walau tak kutahu apa yang menyebabkannya menangis sepilu itu.
__ADS_1
"Dasar nggak peka!!"
"what!!"