Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
tiga puluh tiga


__ADS_3

" Ameena teesya, di sepuluh menit sebelum adzan ku kumandangkan, akan kutunaikan janjiku di bawah izin Rabbku dan orang tuamu."


Degg!!. Aku sontak mengangkat muka. Dari tempatku duduk, Aku bisa melihat Alam yang tengah duduk di kursi mimbar dalam masjid. Bagaimana ini?, Kalimat Alam bukanlah pertanyaan, Melainkan pernyataan. Itu artinya, tidak ada kesempatan untukku menjawab apalagi menolak. Kulihat Alam melangkah menuruni mimbar, bersamaan dengan rengkuhan hangat yang kurasakan di sisi kanan-kiriku. Aku menoleh bergantian, ternyata ibu yang mendekapku disisi kanan dengan uraian air mata, beliau menciumi pipiku berulang kali. Sedang disisi kiri kudapati maryam mengusap lembut lenganku dengan isakannya yang tertahan.


Bagaimana bisa mereka berdua ada disini. Baru tadi pagi aku berpamit pergi bersama Alam dan bang Amar, Alam bilang ibu dan maryam akan menyusul beberapa hari lagi karena masih banyak agenda yang akan kami lakukan di perjalanan nanti. Dan kukira, tujuan kami di jogja adalah untuk membalas lamaran sekaligus menentukan hari pernikahan. Ternyata aku salah besar, apa, sih, maksudnya ini semua. Aku sama sekali tidak dilibatkan atas apapun. Apa mereka kira, karena aku adalah perawan tua, jadi mereka mengira aku buru-buru ingin menikah.


Kegelisahanku yang berkelindan di bawah kucuran air mata yang tak berhenti menganak sungai, tidak bisa kubiarkan berlarut-larut. Aku menegakkan tubuh saat Maryam menyodorkan lembaran tissue untuk menyeka air mata dan ingus, yang membuat mukaku makin berantakan.


"Pakai ini ya, kubantu." Maryam menyodorkan sehelai kain, yang kutahu berfungsi untuk menutup wajah.


"Bang Alam ingin kamu memakai niqob setelah sah jadi istrinya." Maryam memberi penjelasan setelah melihat ekpresi kebingunganku. Aku hanya mengangguk menanggapinya, karena suara seseorang dari mikrofon membuat dadaku bergemuruh, dan hanya bisa memusatkan fokus pada satu titik suara. Kubiarkan Maryam memasang niqob untuk menutup wajahku, lalu di lanjutkannya memasang kaos kaki untukku.


" Ananda Muhammad Alamsyah, sebelum detik ijab qobul kau gaungkan, putriku Ameena teesya telah di jaga dengan sepenuh jiwa raga oleh ibunya, dari sholatnya, pakaiannya, makanannya, juga tindak tanduknya. Dan dengan izin ibunya, kujabat tanganmu di saksikan oleh ratusan ummat di dalam masjid. Berjanjilah wahai anakku, semengerikan apapun badai yang akan kau hadapi, genggamlah tangan putriku. Jangan biarkan dia ter-ombang ambing oleh badai yang tengah singgah. Lanjutkan tugas ibunya, untuk mengantar putri kami dengan selamat menuju syurgaNya."


Tanganku mengepal kuat di atas paha, mengeluarkan keringat dingin yang menyebabkannya tremor, ku tundukkan kepala dalam, memejamkan mata, marasai gemuruh dalam dada yang kian menyesak. Suara itu, yang tak lain adalah waliku, suami ibuku, yang pernah kusebut bapak dengan bangganya dulu. Bertahun-tahun kami tidak bertemu. Lagi, Alam memberi kejutan yang jauh di luar nalarku. Bagaimana bisa dia menghadirkan ayah dalam acara ini. Aku saja tidak pernah tahu keberadaannya selama ini.


"Bismillahirrohmanirrohim, dengan izin serta ridlo bapak dan ibuk. Saya, muhammad Alamsyah berjanji akan mencintai dan menjaga Ameena teesya sesuai yang telah di ajarkan Rosululloh kepada ummatnya."

__ADS_1


Alhamdulillah 'ala kulli hal


"Bisillahirrohmanirrohim, yaa muhammad Alamsyah ankahtuka wa zawwajtuka makhthubataka bintii Ameena teesya


'alal mahri suroti rrohman, wa tsamaniyah wa sab'iina dinariin haalan."


"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha 'alal mahril madzkur wa rodlitu bihi wallohu waliyyut taufiq"


"Sah?"


"SAH!!!"


Runtuh sudah, gemuruh di dadaku menguar seiring pelukan erat ibuk, Satu kata "sah" sempurna merubah statusku dari seorang gadis milik orangtua. Menjadi seorang istri milik suami. Dimana sejak status istri aku sandang, maka urutan baktiku pun ikut berganti. Dari semula Allah, rosululloh, ibu lalu ayah. Berganti menjadi Allah, rosululloh, suami, ibu, lalu ayah.


Siapkah aku ya Allah, rasa ini mirip tahu bulat, momentumnya dadakan.


Tangisku berganti menjadi lengkungan senyum di balik cadar yang aku kenakan. Ujung cadar yang basah menjadi saksi betapa harunya momen sakral ini. Ibuk tak berhenti melafazkan hamdalah sejak kata SAH di gaungkan. Meski kemelut hati dan rasa penasaran oleh latar belakang terjadinya semua kejutan ini, nyatanya senyum tetap terukir tanpa izin.

__ADS_1


Lantunan merdu suara adzan yang dikumandangkan Alam, berhasil menyulap ruangan ini menjadi senyap, desas desus ratusan bibir yang sarat akan tanda tanya atas terselenggaranya momen sakral ini, berganti dengan suara gemericik air kran yang bersahutan.


Aku tidak berpindah dari tempatku sejak semula aku menempatinya. Karena hanya dari sinilah aku bisa melihat Alam yang sedang menjadi imam sholat ashar. Jelas tertangkap oleh ekor mata, seorang lelaki paruh baya berdiri tepat di belakang Alam, yang masih sangat lekat dalam ingatan, bagaimana hangatnya tidur dalam dekapannya. Ya, beliau adalah suami ibuku, yang tak lain dan tak bukan adalah bapakku. Ibu berpesan padaku untuk menyimpan ribuan pertanyaan yang berjejalan dalam benak, beliau menyuruhku menunggu sampai Alam sendiri yang menceritakannya.


Memang tak pantas jika aku menanyakannya disini, apalagi soal bapak. Tak akan cukup menjelaskannya dalam waktu satu jam. Maka aku menuruti saran ibuk untuk menanti Alam sendiri yang menjelaskannya.


Kulihat maryam melangkah mendekatiku, dia sudah menanggalkan mukenanya, aku baru sadar jika hari ini maryam menggunakan gamis dan hijab. Dia terlihat lebih elegan dengan gamis lylac yang membungkus apik tubuh indahnya, dengan hijab pashmina warna soft pink yang dikaitkan asal namun justru terlihat cute.


"Ke masjid yuk, waktunya ketemu suami." Aku hanya mengangguk dan melangkahkan kaki ke arah masjid dengan Maryam yang menggandengku di sisi kanan.


Aku merasa seperti kambing congek yang di ikat di bagian leher dan menurut kemanapun si empunya pergi. Mungkin jika kali ini maryam menyuruhku berjoget di teras masjid, aku akan dengan senang hati menurutinya.


Alam tengah berdiri di samping bang Amar, menungguku dengan senyum merekah di tengah bangunan masjid yang sangat megah. kucium tangannya takdzim, ini kali pertama aku melakukan kontak fisik dengan Alam. telapak tangannya begitu lembut untuk ukuran laki-laki. Tangan kiri Alam menyentuh puncak kepalaku sambil menggumamkan do'a. sedang tangan kanannya masih berada dalam genggaman tanganku.


Bismillahirrohmanirrohim, Allohumma inni as aluka min khoiriha wa khoiri ma jabaltaha 'alaihi. wa a'udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha 'alaihi.


isakan tangis kembali menghampiriku saat mendengar Alam membaca do'a. Bahuku terguncang pelan menahan tangis agar bisa terkendali. Alam menarik tanganku agar mengangkat wajah, lalu kedua tangannga berpindah ke bahuku. Dikecupnya keningku lama, kurasai setetes airmata menetes dikeningku, menangiskah ia?, apakah ini tangisan haru?. Ya Allah begitu indah caraMu menyatukan kami.

__ADS_1


Robbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrota a'yun waj'alna lil muttaqina imama


__ADS_2