Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
Dani, bocah masalalu.


__ADS_3

"Dani ya Allah... Kamu ganteng banget, sih,"


Aku gemas bukan main saat melihat penampilan Dani sekarang. Dia memakai hem panjang warna navy dengan peci hitam dan sarung hitam, kulitnya bersih, wajahnya berseri. Sungguh berbeda dengan terakhir kali aku melihatnya. Si bocah SMP yang selalu terlihat kumal sepulang sekolah, karena harus berjalan begitu jauh sambil menjajakkan tissue untuk menambal kebutuhan hariannya. Di rumah kost kecil dalam gang, dia tinggal bersama neneknya, sebutlah dia wak ijah. Mereka bukan asli orang jakarta. Mereka datang dari malang dengan tujuan agar lebih dekat dengan anak wak ijah atau ibu si Dani.


Sore itu, kucing liar yang biasa kuberi makan di depan pagar rumah, terciduk mengambil ikan mujaer goreng favoritku tanpa izin. Dia berlari ke sebuah gang kecil dengan mulut yang menjepit ikan mujaer gorengku yang tinggal separuh. Aku mengejarnya bukan karena ingin mengambil sisa makanan favoritku di mulut si mpus, melainkan ingin memberi pelajaran pada si kucing liar ini agar tidak berani mencuri lagi.


Alih-alih menemukan si kucing liar, aku justru tak sengaja melihat kerumunan ibu-ibu yang menjepit hidungnya sambil mengumpat dan mengomel.


"Gitu tuh, kalo punya anak kerjaannya nggak bener, mana bisa ngerawat ibunya yang penyakitan. Bisanya cuma ngelayanin hidung belang."


"Ya iya, lah. Lha ibu penyakitan gitu mana ada duitnya. Beda, lah, sama hidung belang. Duitnya segepok, melek sampek pagi-pun dia jabanin" lontaran menyakitkan itu terdengar bersautan. Usiaku yang baru menginjak angka tujuh belas ini, sama sekali tak mengerti arah pembicaraan mereka. Aku yang tidak terbiasa menyapa kerumunan memilih bersembunyi di balik tong besar berisi sampah.


Aku baru akan melangkah keluar dari tempat persembunyianku, setelah kupastikan gerombolan ibu-ibu itu pergi.


Aku menghela nafas panjang. Selama berjongkok di balik tong sampah, aku meminimalisir pengambilan udara untuk stok nyawa pada paru-paruku. Ini semua gara-gara kucing liar yang sudah di beri hati justru serakah meminta jantung.


Saat kuputuskan untuk berhenti mencri si kucing liar dan memilih pulang, langkahku terhenti saat ekor mataku menangkap keganjilan di rumah kost kecil yang aku lewati.


Seorang wanita tua berusaha meraih gelas plastik di atas meja dengan susah payah. Tubuhnya yang berada di atas lantai tidak leluasa bergerak, mulutnya tertarik ke kanan dan bergetar.


"Sebentar Nek, biar kuambilkan." Aku berlari mendekatinya saat tahu pintu rumah kost tidak terkunci. Aku membantunya minum lalu memapahnya untuk merebahkan beliau di kursi.

__ADS_1


"Nenek tinggal sendiri disini?" Beliau menggeleng, itu berarti ada anggota keluarga lain yang tinggal disini. Aku menyapu pandangan, tidak ada tanda-tanda penghuni lain di rumah ini. Apa mereka sedang bekerja dan meninggalkan wanita tua ini sendiri?, Kenapa tidak menitipkannya pada tetangga atau menyewa pengasuh manula untuk menunggui beliau selama mereka bekerja.


Dan dimana letak empati ibu-ibu nyiyir tadi, bukannya menolong, mereka justru beragantian melontarkan hujatan.


"Hei, segitu gantengnya ya. Sampai bengong gitu, liatin Dani" aku membalas teguran Alam dengan cengiran.


"Kamu mau ikut aku meeting atau mau makan dulu?" Alam bertanya lagi padaku.


"Meeting?, Sama siapa?, Dimana?"


Alam tak lantas menjawab, justru tersenyum manis menanggapi rentetan pertanyaanku.


Aku yang tak di beri tahu apapun misi perjalanan ini semakin jengkel. Ternyata banyak sekali yang tak kutahu dari seorang Muhammad Alamsyah.


"Gaya banget, sih, bahasanya" aku meliriknya sinis.


"Gimana?, Mau ikut nggak?. Deket aja sih, jalan kaki."


Aku menggeleng.


"Aku disini aja ya, aku belum laper juga. Makan-nya nunggu kamu selesai... Oke, sebut saja meeting." Aku memutar bola mata malas saat mengucapkan kalimat terakhir. Alam justru tertawa melihat ekspresiku. Yakin deh, isi ulag dimana, sih, ketawanya. Bisa unlimited gitu.

__ADS_1


"Oke kalau gitu. Dani, titip calon istriku ya,"


Alam melempar tatapan jahil padaku sambil menepuk pelan bahu Dani.


"Oke Bang Alam, Siap" dia merapatkan lima jari di kening tanda hormat.


🌻🌻🌻🌻🌻


Dani bercerita padaku, bagaimana dia bisa sampai di tempat ini. Tapi dia tidak mau menjawab, sejak kapan dan bagaimana bisa tempat prostitusi ini menjadi kampung ngaji lengkap denga masjid yang begitu megah.


Dani juga bercerita bahwa, ibunya sudah berhenti dari pekerjaan haramnya. Yang membuatku haru dari panjangnya cerita Dani adalah, dimana dia berhasil merengkuh jati dirinya yang hampir hanyut oleh derasnya arus keputus asaan. Dia sempat terombang-ambing sepeninggalnya Wak ijah. Dia merasa tak memiliki tujuan hidup.


"Mungkin, selama merawat uwak, aku terlalu sibuk. Sekolah, jualan tissue, ngurus pekerjaan rumah, dari masak, nyuci dan ***** bengek lainnya. Hingga tak pernah mendengar kasak kusuk orang-orang tentang ibu. Seminggu setelah kepergian uwak, aku bertekad akan menemui ibu. Aku ingin mengajaknya keluar dari tempat haram itu. Tapi, sekuat apapun aku meyakinkan, bahwa hidup ini akan baik-baik saja tanpa uang haramnya. Ibu tak sedikitpun gentar. Dia sudah terlanjur menikmati gemerlap haramnya. Akhirnya aku menyerah, melanjutkan hidupku sendiri dan terus berikhtiar mendoakan ibu agar tersentuh hidayah. Tapi, omongan tetangga yang dulu tak pernah bisa menyapa telingaku sewaktu masih ada uwak, semuanya jadi terdengar jelas, betapa mereka jijik padaku dan uwak, karena mereka tahu pekerjaan ibu. Padahal semejak wafatnya uwak. Aku tak lagi menerima uang dari ibu. Tapi mereka dengan santainya mengatakan bahwa, apa yang ada pada diriku, semuanya haram. Bahkan, barang yang tak sengaja kusentuh akan di cuci ulang oleh mereka"


Hatiku mencelos mendengarnya. Apa hak mereka menghakimi Dani seperti itu. Andai Dani diberi pilihan, ingin di lahirkan oleh siapa, dan ingin memiliki rangkaian cerita hidup seperti apa. Dia pasti akan memilih kehidupan yang sempurna tiada celah, di lahirkan oleh ibu yang istimewa, dan memiliki ayah yang hebat. Tapi, dunia ini bukanlah dunia dongeng. Takdir yang hadir tidak pernah memberi penawaran, bahkan mereka tak berminat menyapa. Takdir akan datang menemui kita yang dirasa mampu menjalaninya, mau kita terima atau tidak, dia tidak peduli. Jadi, siapapun itu, dengan takdir baik maupun buruknya. Mereka tidak patut kita hakimi. Karena bukan mereka yang memilih, melainkan takdir itu sendiri.


"Jadi karena itu, kamu pergi dari rumah kost itu?" Aku bertanya pada Dani yang tak kunjung melanjutkan cerita. Pandangannya lurus kedepa, melihat anak-anak kecil yang sedang asyik bermain petak umpet.


"Lebih tepatnya, karena ibu. Jadi,... "


Kalimat Dani terpotong begitu saja, oleh kedatangan bag Amar yang tampak gusar dan terburu-buru.

__ADS_1


"Amenaa, Abang harus balik sekarang, kamu baik-baik ya, sama Alam. Abang nggak bisa jelasin apa-apa sekarang. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam" Aku hanya melihat punggung bang Amar yang semakin menjauh. Meninggalkan segudang tanya yang bercokol di kepalaku. Ada apa sebenarnya?.


__ADS_2