
Masih lekat di ingatan bagaiman raut Alam saat berpamitan pulang malam itu, dia menatapku seakan memintaku bersabar untuk menunggu sebuah penjelasan teruarai darinya.
Ku hadiahkan senyum manis saat mengantar kepulangannya, berharap agar senyumku sedikit menjelaskan bahwa aku akn bersabar untuknya.
Kalimat umi sangatlah cukup untuk memantapkan hatiku, dari situ aku tahu, bahwa Alam benar benar menginginkanku.
Aku harus mencoba mengerti dan lebih bersabar demi Alam. Dia sudah berjuang untuk hubungan kami. Sekarang, tinggal aku yang harus mamantaskan diri menjadi pendampingnya. Bukankah dalam setiap langkah kita selalu menemukan kerikil, batu terjal, bahkan lubang yang bisa saja membuat kita jatuh?.
Tepat pukul sembilan tiga puluh Novy berpamit pulang, kehadirannya sangat membantuku hari ini.
"Makasih ya Nov, aku nggak tahu lagi gimana acara ini tanpa adanya kamu."
Aku mengucapkannya setulus hati.
"Gila ya. Alam ngapain lu sih tadi, di ajak ngomong bentaran doang lu udah jadi kalem gini"
"Nggak bisa di ajak mellow dikit lo emang, dah pulang sana deh. Empek gue liat lo.!"
"Gini gini istri tersayang saya lo dek Ami, paling cantik lagi di rumah."
Mas Abi, suami Novy menimpali.
"Kenapa bisa sih mas kamu naksir Novy, cewek nggak ada akhlak gini."
"Eh., Itu language bisa bagusan dikit nggak sih."
"Enggak, khusus buat lo, kamusnya beda, nggak ada kata sopan, bisa bisa pingsan lo kalo gue sopanin."
"Waaaaah ngelunjak nih cewek. Buk, segerain deh nikahnya ini anak, cuma Alam yang bisa mangkas tanduknya dia."
__ADS_1
"Siap Nov, ibu mah oke. Keburu Alam sadar jeleknya dia."
"Ampun deh! Anak ibuk nih siapa? Kenapa aku nggak di belain.."
Aku beranjak pergi tanpa menunggu kepergian Novy.
Selesai membersihkan diri, kusempatkan membuka ponsel untuk mengirim pesan pada Alam.
"Aku akan sabar tunggu penjelasan kamu Mas, satu yang harus kamu tahu, Aku pasti percaya kamu."
Kuletakkan ponsel tanpa menunggu balasan darinya, kurebahkan diri di kasur.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Aku mengerjap menyadari hari sudah pagi,
Tak pernah tidurku terasa senyaman malam ini. Apa karena kelegaanku atas calon imam yang tuhan beri?, Atau karena aku telah membuka hati untuk Alam singgahi?.
Meski keluarga kami bukan tergolong hamba religius, tapi ibadah sunnah seperti dhuha dan mengaji setelah sholat subuh adalah hal rutin yang tak boleh di tinggalkan. Rutinitas ini ibuk terapkan sejak aku mengerti apa itu sholat. Ibuk bilang, hari yang kita awali dengan sunnah akan berjalan lebih mudah dan berkah.
"Astaghfuirullohal'adzim!!"
"Ya Allah Ami, mas kaget nih!" Alam muncul bersamaan dengan pintu kamar yang kubuka.
"Eh, harusnya aku kan yang bilang gitu!"
"Mas baru mau ketok pintu, mau ajak kamu sarapan, mas masakin spesial loh buat kamu." Tampangnya sudah berubah mode pemirsa.
"Ck, kamu nggak capek? Pagi gini udah nyampek sini aja. Sempet sempetnya masakin aku pula."
__ADS_1
"Ini kamu lagi perhatian apa enek liat aku sepagi ini sih?." Alam berlalu dengan ekspresi sebalnya. Aku mengekorinya sampai dapur.
"Ibuk dulu ngidam apa sih pas hamil Ami." Tanya Alam dengan muka melas yang di topang dua telapak tangannya di atas meja makan.
"Duh, kenapa Lam.? Kamu tahu jeleknya Ami ya.? Am, kan udah ibuk bilang, jeleknya di simpen dulu. Minimal sampek Alam halalin kamu deh. Kalo Alam nggak jadi ngawinin kamu gimana.?"
"Hwahahahahaha"
Kusumpal mulut Alam dengan bakwan goreng yang masih panas.
"Swayahng twegha banghet sih.. huffh hah.."
"Siapa suruh ketawa nggak sopan di rumah orang pagi pagi begini.!"
"Emang bener ini rumah orang Lam, bukan sarang medusa.?" Wah, ibuk ngajak perang rupanya.
"Tapi kalo medusanya cantik begini boleh lah buk ikut ngurusin makannya tiap pagi."
Tawa Alam dan ibuk menggema, wooo, mereka kompak sekali untuk urusan yang satu ini.
"Besok ibuk urusin aja itu KK.nya, buang aja namaku."
"Waah.. nggak sabar dia buk mau se-KK sama Alam."
Lagi-lagi Alam dan ibuk tertawa, sial! Ini sih namanya senjata makan tuan.
"Eh, tapi sayang. KK itu kepanjangan versi kamu apa,? Se-Kartu Keluarga atau Se-Kamar kamu?"
"Alaaaaaam...."
__ADS_1
Ibuk tertawa lepas kali ini, sampai bersandar pada dinding dapur sambil mengelus perutnya yabg kegelian.
Rumah ini jarang sekali tercipta canda tawa, disela kekesalanku, aku melihat ibu begitu semringah. Tak pernah kulihat raut ibu secerah pagi ini, senyumku tersungging, dalam hatiku tercatat pengharapan, semoga Alam diciptakan tuhan menjadi lentera di sisa umur kami.