Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
Lamaran


__ADS_3

Khusus weekend ini aku cuti. Menyiapkan segala keperluan dan ***** bengeknya acara lamaran. Mulai dari kudapan, cemilan, minuman, hingga oleh-oleh untuk tamu istimewa.


Aku diam melipat dada,bersandar di tembok kamar sambil terus menyunggingkan senyum, kupandangi gamis yang sudah rapi dan wangi menggangtung di sisi lain kamar.


Penasaran bakal seperti apa wajah seorang teesya ameena di balut dengan gamis pemberian Alam itu.


Jam dinding menunjukkan pukul empat sore. Bersamaan dengan kedatangan Novy yang memecah keheningan istanaku.


"Am.. gila ya. Lu kenapa ngomongnya dadakan gini sih. Gue syok ya. Saking kebeletnya kesini sampek lupa nggak bawa apa apa." Novy datang dan langsung berkicau. Persis seperti burung yang datang karena kelaparan dan haus setelah seharian terbang mengelilingi istana awan.


"Dateng tuh salam dulu kenapa sih nov. Main berkokok aja kayak ayam lupa di kasih makan."


"Ya abisnya lu kenapa gini amat sih am.. lo anggap gue apaan.?"


Drama di mulai, novy merengek sambil mengekor langkahku yang riwa riwi menata makanan di meja makan.


"Duh!.. ngeremnya juga dadakan ih.. sakit!"


Novy menggosok pelan keningnya yang terantuk kepalaku. Sengaja berhenti mendadak karena lelah mendengar ocehan novy bak antrean pertalite yang tak ada hentinya.


"Daripada ngomel terus unfaedah gitu. kenapa nggak inisiatif bantuan gue aja sih nov. Lo mendadak be go ya! Cuman gegara telat gue kasih info aja."


"Cuman lu bilang!. TEGA ami.. lo tega banget tau nggak!?"


"Enggak. Gue nggak tahu!. Asal lo tau aja. Ibuk baru kasih info lamaran ini tadi malam. Alam juga baru kesini kasih taunya kemaren sore, pas gue barung pulang."


Novy mengerjap. Nah.. rasain kan, malu nggak tuh. Dari tadi ngedumel nggak ada jeda. Nyesel nggak tuh, udah buang tenaga nggak ada guna sama sekali.


"Jadi ini beneran dadakan. Kok lo nggak bilang. Kan gue malu jadinya sama ibuk. Dateng nangis heboh gini kek korban penipuan."

__ADS_1


"Nah. Kan gue udah bilang sih tadi.! Dateng tuh salam.. salim. Baru deh tuh lo ngedumel."


"Ya maaf.. ibuk, Assalamu'alaikum.. maafin novy ya.. main gegaduh aja tadi..."


Ami memelas, meraih tangan ibuk dan di kecupnya beberapa kali. Ibu terkekeh geli. Mengusap lembut kepalanya.


"Nggak apa apa toh nov. Ibuk jadi bisa ketawa, dari tadi bawaannya kudu mellow aja. Nggak kerasa ya. Ami sudah sampai tahap ini, abis ini dia udah ada yang jagain nov. Ibuk lega banget."


Ibuk mewek. Sedaru tadi kami memang hanya bicara seperlunya. Sama sama memendam perasaan ganjil. Aku yang senang tapi juga sedih. Bingung juga iku serta membumbui rasaku sedari tadi. Sampai tak tahu, bahwa ibu pun sama bingungnya dengan perasaan ini.. genap dua puluh tahun sudah ibuk merawatku seorang diri. Pasti banyak yang ia pendam. Ibuk tak pernah benar benar meluapkan perasaan. Sikap ibuk yang suka bercanda membuatku lupa, bahwa ibuk juga manusia yang butuh sandaran.


"Buk.. " aku mendekat. Mengusap punggungnya.


"Maafin Ami ya.. ami kurang perhatian banget ya selama ini. Ami terlalu sibuk di toko. Nggak pernah mencoba meluangkan waktu untuk dengerin ibuk berkeluh kesah. Ibuk pasti kesepian ya selama ini.?"


Air mataku taknlagi bisa di bendung, suasana mellow tak lagi bisa di hadang. Air mata berdatangan tanpa permisi.


Semoga bisa jaga kamu lebih baik dari ibuk ya Am.. ".


Aku menggangguk. Paham sekali apa yang di katakan ibuk. Sejak usia dua puluh lima tahun, ibu tak berhenti menasihati tentang istri yang harus tunduk pada suami. Seperti apapun perlakuan mereka. Selagi tidak memyimpang dari agama. Kita, istri harus tunduk atas perintah suami. Tapi karena hal ini pun, aku pernah menodong ibuk. Berpikir karena peraturan satu ini yang membuat ibuk menderita dan tidak bahagia bersama ayah dulu. Tapi ibuk memungkiri. Bukan begitu katanya,nanti ada saatnya ibuk akan menceritakan sosok ayah yang telah lama hilang, bahkan tak secuilpun mangkir di memory otakku.


🍁🍁🍁


Malam tiba. Aku diam seribu bahasa. Masih dengan segudang perasaan tak karuan yang hinggap di kepala. Tak sekalipun mengalihkan fokus dari benda pipih yang setia menempel di tangan.


Tring.


Senyumku terukir sempurna, secepat kilat melangkah ke kamar.


"Assalamu'alaikum. " Alam mengawali salam di panggilan vidoe kali ini. Layarku terpenuhi wajahnya yang terlihat segar malam ini.

__ADS_1


"Waalikumsalam mas." Balasku di iringi senyum paling manis.


"Terimaksih sudah menyuguhkan senyum manis kamu ami, aku sangat butuh amunisi. Gugupnya setengah idup." Candanya menggemaskan.


Aku tersipu setengah tertawa. Memalingkan pandangan ke sisi lain.


"Butuh amunisi?. Hemm?"


Aku bertanya padanya dengan menaikkan satu alis.


Dia mengangguk. Gemas sekali melihatnya gugup seperti itu, dia yang biasanya selalu memegang kendali di obrolan kami. Kali ini melempem bagai kerupuk disiram air panas.


"Ku tunggu kamu pangeranku, berjanjilah datang tepatku agar aku tak berjibaku dengan kekhawatiran atas kedatanganmu. Janji?" Senyumku terbingkai apik di layar. Kupersembahkan senyum termanis untuk si calon pendamping hidup.


Alam bergeming, semenit kemudian pipinya merona, dia menoleh ke kiri. Menangkupkan mukanya pada kaca mobil sambil mengetuk keningnya pelan mengguakan tangan kirinya yang mengepal. Aku tertawa, berhasil mengerjainya. Lalu kututup sambungan telpon dan bergegas keluar, mengabari ibu bahwa Alam akan sampai lima belas menit lagi.


🍁🍁🍁


Suara deru mobil menghentakkan detak jantungku. Tanganku mengerat. Saling bertaut dan meremas pelan. Aku gugup sekali.


"Assalamu'alaikum"


Suara salam berbarengan terdengar olehku. Hanya satu suara yang tak asing di telinga akhir akhir ini. Namun, suara yang lain benar benar tak terbaca oleh radar pemdengaranku. Apakah Alam bersama keluraganya yang lain atau...


"Am.. keluar gih. Tamunya udah dateng."


Novy menjemputku di ruang tengah. Menggamitku erat seperti bisa merasakan kegundahan hatiku.


Aku terpaku, di antara empat tamu yang duduk di sofa, hanya satu orang yang ku kenal. Alam bersama siapa malam ini.? Kenapa tak ada tante dan om yang menemani? Mereka siapa?.. dan dua anaka kecil iti siapa.?.. apa jangan jangan..?.

__ADS_1


__ADS_2