Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
tiga puluh lima


__ADS_3

Aku melirik jam yang melingakar indah di pergelangan tanganku, jam tangan berhias mutiara asli lombok berwarna abu-abu itu menampilkan pukul sepuluh malam. Aku mengerjap dan sesekali menguap, meregangkan otot sembari mengumpulkan nyawa yang berceceran bak puzzle. Kutegakkan posisi jok mobil yang semula kupakai merebah. Kusapu pandangan ke arah luar mobil, suasana gelap dan sepi membuatku sedikit merinding, kenapa Alam meninggalkan aku sendiri disini.


Aku melihat Alam yang baru keluar dari warung tenda dengan lampu redup yang berada di pinggir jalan. Aku mengamati Alam yang baru masuk mobil dan memberikan tentengan kereseknya padaku.


"Makan dulu ya, aku laper." Aku hanya mengangguk dan mengeluarkan satu kotak sterofoam sedang, lalu membukanya dan mengangsurkannya pada Alam.


"Trimakasih.. loh, mau ngapain?" Tanyanya saat tanganku akan meraih keresek untuk mengambil makanan untukku sendiri.


"Mau ambil makanan" jawabku datar, jujur aku masih sangat mengantuk saat ini. Jadi, aku hanya menanggapi Alam dengan nada datar dan cuek.


"Eh, jangan. ini, kan, pertama kali kita makan bersama. Dan ini adalah nafkah lahir pertamaku untuk kamu. Jadi, biarkan aku mengambil pahala yang tersemat di suapan pertamaku untuk kamu yang sudah sah jadi istriku." Alam berkata sambil menyendok Nasi goreng yang masih mengepul, mendiamkannya menggantung beberapa saat di udara, lalu menyuapkannya padaku. Asli, ini adalah moment manis yang belum pernah kubayangkan. Tapi apalah daya jika tubuh bereaksi menghianati hati. Di balik hatiku yang jumpalitan karena perlakuan Alam. Tubuhku justru bereaksi sebaliknya, senyum pun tak sudi bertandang di bibir ranum yang tak berhias warna bibir karena kantuk yang belum sempurna menyingkir.


"Masih ngantuk ya, Nduk?," Ini kali kedua Alam memanggilku dengan sebutan baru itu.


"Kenapa tiba-tiba manggil aku kayak gitu?" Aku bertanya setelah sukses menelan satu suapan dari Alam.


"Kenapa?, Nggak suka?"


"Suka, tapi mau tau alasannya aja"


"Satu panggilan sayang ini, spesial aja menurutku, kesannya tuh kamu manja dan manis gitu."


"Emang aku begitu?"


"Manisnya udah, tapi manjanya belum"

__ADS_1


Alam mengatakannya sambil tersenyum, aku berani bersumpah kalau kali ini senyum Alam begitu berbahaya. Hanya senyuman simpul saja membuat dadaku berdetak tak karuan. Perutku juga terasa seperti ada gelitikan halus di dalam sana. Aku berdehem sebelum akhirnya meneruskan perbincangan kami.


"Ya, kan, aku nggak mau ngerepotin kamu mas,?"


"Kalau dulu prinsip kamu begitu, aku nggak masalah. Tapi, kalau sekarang kamu tetep mau mandiri, aku keberatan."


"Kenapa gitu?, Bukannya enak ya, kalau nggak di repotin,"


"Kalau direpotin istri orang sih petaka. Tapi kalau direpotin istri sendiri itu cinta." Aku memukul pelan bahu Alam, dia justru cekikikan mendapati pipiku memerah karena malu.


"Hati-hati mas, gombalin cewek jam segini tuh, rawan di samperin wewe gombal loh." Aku menunjuknya dengan mata menyipit, bermaksud menakuti. Alih-alih takut, Alam justru menarik tanganku dan mengecup jari telunjukku.


"Ih, mas curang!" Aku memberengut dan memalingkan muka dengan tangan bersedekap.


"Kok curang, sih, sayang. Hanya tautan tangan pasangan suami istri saja bisa menggugurkan dosa. Apalagi dengan menciumnya."


"Maaf Nduk, tadi tidurmu nyenyak banget. Jadi Mas nggak tega mau bangunin kamu."


"Tapi, kalau cuma pegang nggak apa-apa. Kita kan sudah mahrom, yang nggak boleh itu, aku minta hak aku sebagai suami sah kamu, sebelum kutunaikan maharku." Alam melanjutkan penjelasannya. Sungguh ingin kugetok kepalanya, andai tidak dosa. Bagaimana bisa dia mengakhiri kalimatnya dengan mengecup bibirku sekilas. Meski berdurasi se-kedipan mata, tapi efeknya kayak lagi nyolokin kabel rice cooker dengan tangan basah, errr.


"Gemesin banget, sih, kalau lagi serius gini,"


Alam tak gentar meski mataku mendelik hingga hampir kabur dari tempatnya bersemayam. Saat ini, dengan santainya dia mengelus pipiku. Dan bodohnya, lagi-lagi reaksi tubuh menghianati hati dan pikiran. Dengan tidak sopannya mataku justru terpejam menikmati elusan lembut Alam.


Lembut jemari Alam yang semula kurasai di pipiku kini beralih ke bibir. Dadaku kian bergemuruh, kepakan sayap kupu-kupu menggelitik perutku. Aku hanya bisa merapal doa dalam hati, agar konser orkestra tak di undang dalam dadaku tak sampai terdengar olehnya.

__ADS_1


"Kira-kira, sampai kapan aku harus puasa sayang,?" Pertanyaan Alam hanya kujawab dengan kernyitan di dahi. Entah karena pertanyaannya yang ambigu, atau pikiranku yang masih kacau oleh sentuhan-sentuhan kecil Alam.


"Biasa mens berapa hari?, Hmm?"


"Oh, seminggu, sih, mas. Kenapa?, Harus nunggu aku suci dulu ya, kalau mau nunaikan maharnya."


"Nggak juga. kalau itu, sih, harus disegerakan. Nggak apa-apa deh, besok aku beli es yang banyak buat kamu." Alam berucap sambil menoel ujung hidungku sebelum akhirnya keluar dari mobil dengan membawa botol air mineral berukuran besar. Aku yang tak mengerti dengan ucapan Alam, lantas mengikutinya keluar. Belum sempat kulontarkan pertanyaan, Alam lebih dulu menghampiriku dengan langkah tergesa lalu meletakkan botol air mineral asal, dan mengarahkan dua telapaknya yang terbuka tepat di depan mukaku dengan menoleh kanan-kiri, memastikan jika tak ada seorang pun yang melihat ke-arah kami.


"Eh, harus ya. Kupikir cuman buat acara tadi." Aku melangkah mundur sesuai interuksi Alam. Alam mengambil alih niqob yang telah berhasil kuambil dari dasbor, lalu memakaikannya untukku.


"Menutup wajah memang bukan perkara yang diwajibkan Nduk. Tapi ini, bagian tubuh antara leher dan dagu, juga termasuk aurat yang harus ditutupi." Alam dengan telatennya, memasang niqob sambil menjelaskan sesuatu yang benar-benar baru untukku. Dulu, ibuk hanya menyuruhku memakai hijab ketika mengalami mens pertama kali. Itupun aku tanggalkan jika sekolah, karena seragamku yang pendek.


"Makasih ya, mas. Udah mau jaga auratku,"


"Sama-sama, aku juga mau ucapin


terimakasih. Karena udah jadi istri yang nurut apa kata suami."


"Karena cuma itu yang bisa aku persembahkan buat kamu mas. Aku nggak se-kaya khodijah, nggak se-pintar aisyah, nggak se-tekun maryam dalam beribadah. Sedang kamu, nyaris sempurna untuk menjadi sumiku." Ungkapan ini bukan bualan. Aku sungguh-sungguh mengatakannya, ini fakta yang orang gila-pun akan meng-iyakan tanpa pikir panjang.


"Nanti, seiring berjalannya waktu. Kamu akan tahu, sesempurna apa peranmu dalam hidupku."


Aku tersenyum di balik cadar yang sudah terpasang sempurna.


"Tadi kamu mau apa mas, bawa air minelar keluar." Aku bertanya tentang kegiatan Alam yang semoat tertunda.

__ADS_1


"Mau wudlu, bantuin yuk. Abis ini aku tunaikan maharku, sekalian lanjutin perjalanan."


"Oke."


__ADS_2